ORANG ASING
Oleh:
Linda Al-Husna
Cianjur,
04 Juli 2010
Awalnya, kita bertemu disebuah café.Cafe yang tidak
terlalu besar juga tidak terlalu kecil.Sore itu aku datang kesana untuk mengisi
perutku yang kosong sejak siang tadi.Membeli sedikit makanan dan minuman tentu
akan dapat menyegarkan tubuhku yang nyaris layu.Aku memesan menu kesukaanku,
sambil menunggu makanan datang, aku memandang kesekeliling tempat ini.Sebuah
tempat yang kondusif untuk mengajak pasangan berkencan.Kurang lebih luas 100m,
beberapa kursi dan meja tertata rapi dari depan sampai belakang.Sebuah meja
recepsionis berada didepan pintu keluar masuk dan sebuah piano bertengger
disalah satu sudut ruang ini. Seorang lelaki setengah baya sedang memainkan
sebuah lagu asing, yang belum pernah kudengar sebelumnya.Nada-nadanya begitu
harmonis lembut memanja.Selembut jari-jarinya memainkan tuts-tuts diatas
piano.Aku mendengar musiknya mengalun sementara itu AC menguasai ruang membuat
suasana terasa romantic.Baru kali ini, aku datang ketempat ini dengan
pengetahuan yang sangat terbatas .Hanya karena perutku keroncongan, kusengajakan
diri mampir disini, yang menurut orang-orang café tempat bertemunya orang-orang
terkenal.
Waktu itu, tidak terlintas sedikit pun bahwa akan ada
seseorang yang menghampiri mejaku.Dan memintaku untuk membiarkannya makan
dimejaku.Makanan sudah terhidang dan aku bersiap untuk makan sebelum akhirnya
seorang lelaki berusia 30an berdiri didepanku.”Maaf, boleh saya duduk disini?”
katanya sambil menenteng satu piring dan satu gelas dikedua tangannya.Aku
mendongak, melihat kewajah lelaki didepanku.Kuturunkan tangan kananku yang akan
memasukkan makanan kedalam mulut.Tanpa dapat mengelak,kupersilahkan lelaki itu
duduk didepanku.”Terimakasih, saya merasa bosan makan sendiri, barangkali nona
mau menemani saya makan sambil sedikit berbincang!” katanya sambil mengorek-orek
makanannya.Kukunyah makananku seraya menganggukkan kepala.”Oya, tidak apa-apa!”
jawabku sedikit gerogi.Kalau mau tahu, baru kali ini aku menemukan kejadian
seperti ini.Ini kali pertama aku dihampiri seorang lelaki tampan dengan gaya
eksekutif muda mau menyapa dan duduk makan bersamaku.Aku tidak tahu, apakah ini
sebuah penghormatan atau penghinaan? Yang jelas, konsentrasi makanku jadi pecah
karena harus menjawab beberapa pertanyaan darinya.
Lelaki itu menceritakan tentang dirinya dan
pekerjaannya saat ini.Dan beberapa hal yang disukainya.Aku hanya mendengar
saja, tidak punya pembendaharaan kisah atau apa untuk diceritakan
kepadanya.Maka jadilah aku seorang pendengar yang gerogi.Barangkali keadaan itu
dapat tertangkap olehnya, ia menyunggingkan senyum tipis yang luwes.Yang tanpa
sengaja dapat kutangkap sekilas saja.Sungguh, aku tidak berani! Tetapi lelaki
itu terus memberondongku dengan cerita-cerita aneh.Sesekali mengajakku bercanda
dan berhasil menyunggingkan senyum dibibirku yang kaku.Perlahan tapi pasti
lelaki itu sudah membuatku dapat menguasai diri dan sedikit berani.
Cara ia memperkenalkan diri, cara ia menceritakan
pendapat-pendapatnya tentang fenomena yang terjadi saat ini, cara ia memilihkan
kata yang tepat bagi perempuan asing seperti aku.Sedikitnya dapat mencairkan kekakuanku
selama aku duduk disini.Aku jadi berani membantah pendapatnya, atau menegaskan
kalimat candanya.Sedikit banyaknya aku tahu dari buku yang pernah ku baca!
Akhirnya mencairlah suasana antara aku dengannya.Obrolan kami jadi nyambung.Meski
itu hanya debat kusir saja.Tapi lelaki itu selalu dapat menangkis semua
pendapatku yang menurutnya agak menyudutkan komunitas tertentu.Aku terima
komentarnya tentang pendapatku.
Makanan diatas meja sudah habis, aku sudah harus
membayar semua tagihannya.Sekaligus pamit pada lelaki yang baru saja kukenal
yang entah dari mana datangnya. Tapi lelaki itu menahanku dan memintaku untuk
menunggunya barang sebentar.Kulihat ia menghabiskan makanannya dan membersihkan
kedua telapak tangannya dengan tissue yang sudah tersedia.Aku hanya diam sampai
lelaki itu selesai dengan urusannya.Ia bangkit dan membimbingku kearah meja
kasir.”Berapa semuanya dengan yang punya nona ini?” tanyanya pada sang
kasir.Perempuan itu melihatku kemudian melihat pada catatan pesanan makananku.”
Semuanya berjumlah 120ribu! “ jawab sang kasir.Lelaki itu mengeluarkan sejumlah
uang dari dompetnya.Menghitungnya dan memberikannya pada sang kasir.” Yuk!”
lelaki itu mengajakku keluar dari café.Aku mengikutinya dari belakang.”Pulang
kemana?” tanyanya setelah sampai dipinggir jalan.”Kearah selatan!” kataku ingin
sekali cepat meninggalkan lelaki ini.”Aku antar ya?” pintanya.Untuk kedua
kalinya aku tidak dapat mengelak dari permintaanya yang tiba-tiba itu.Aku
menyerah!
Tiba dirumahku yang sederhana, lelaki itu belum juga
mau menunjukkan sikap ingin pulang.Malah ia minta istirahat sejenak sambil
melanjutkan obrolannya yang tadi.Yang menurutnya, pendapat-pendapatku cukup
menarik perhatiannya.Aku menyerah lagi.Kupersilahkan lelaki itu duduk diruang
tamu yang berukuran 3x4m persegi.Kutinggalkan ia sendiri dan masuk kekamarku
menyimpan barang bawaanku sebentar.Kemudian keluar lagi sambil membawa
secangkir teh dingin untuknya.”Silahkan diminum mas!” kataku sambil duduk
didepannya.Lelaki itu memanggut dan menyatakan terimakasihnya untuk sambutannya
yang ramah! “Aku mau mendengar tentang keadaanmu disini! Bolehkah?” Tanya
lelaki itu kemudian.”Tentang apa?” tanyaku sedikit hati-hati.”Aku mau tahu
status kamu dan ya semuanya! Senang sekali dapat bicara dengan orang yang
pengetahuannya luas seperti kamu!” katanya setengah merayu.
Aku menceritakan seadanya.Tentang statusku yang masih
sendiri dan pekerjaanku sebagai sales
marketing produk kecantikan dengan gaji pas-pasan untuk tinggal ibu kota.Aku
ceritakan semua kegiatanku sehari-hari menawarkan produk-produk kecantikan dari
sebuah perusahaan.Dan pulang pada jam makan siang.Lelaki itu mendengarkan
ceritaku dengan seksama.Nampak sekali bahwa ia sangat berminat dengan kisahku
ini.Semoga aku tidak keliru menafsirkan sikapnya yang penuh perhatian.
“ Jadi ke café itu kamu baru pertama kalinya?”
tanyanya setengah menyindirku.Aku menganggukkan kepala sedikit malu.Jujur saja
kalau bukan karena keterdesakkan aku tidak akan masuk ke café itu.Mungkin pilih
café yang lain yang lebih hemat! Lagi-lagi ia tersenyum tipis yang kali ini
senyumnya meninggalkan bekas di hatiku.Ada desir lirih melintasi perasaanku dan
berharap aku dapat menguasainya.Anehnya, ia malah menyengajakan diri
berlama-lama dengan senyumnya.Seolah mengharapkan lebih banyak kalimat yang
kukeluarkan tentang pertemuan kita tadi.Tapi aku tidak bisa, pikiranku jadi
kacau dan perasanku jadi bimbang.Otakku sudah mulai tak mampu memilihkan
kata-kata yang lebih banyak dari sekedarnya saja.Kutundukkan pandangan
menghindari tatapannya yang mulai menajam.Seperti tatapan polisi yang sedang
menyelidiki kasus pencurian.Konon, hanya melalui mata saja seseorang dapat
diketahui bahwa ia sedang berkata benar atau tidak! Aku melihat tatapan itu
darinya.Tatapan seorang penyidik!
Untunglah tidak lama kemudian,lelaki itu pamit dan
minta diiri untuk kembali ketempat asalnya.Aku sedikit lega berakhirlah masa
kesempitanku selama duduk bersama lelaki itu.Kuijinkan ia pulang dan menutup
kembali pintu rumah kosku yang mungil.Aku masuk kekamar untuk
beristirahat.Besok aku harus bekerja lagi seperti biasa!!!
Seminggu sudah berlalu.Aku mengerjakan apa harus
kukerjakan setiap harinya dengan baik.Menawarkan produk-produk kecantikan
kebeberapa pelanggan sampai waktu lewat duhur.Dan siang ini, aku sedang berada
dikawasan café yang minggu lalu kukunjungi.Tiba-tiba aku merasa ingin memasuki
café itu lagi, kali ini bukan karena hanya untuk makan tapi ingin mengetahui,
siapa sebenarnya lelaki yang pernah duduk makan bersamaku becerita tentang ini
dan itu sampai berani mengantarkanku pulang? Kebetulan ini saatnya makan siang,
aku coba makan siang dicafe itu lagi, siapa tahu mendapatkan informasi tentang
lelaki yang bersamaku minggu yang lalu!
Ku buka pintu café dan menyeruaklah aroma romantic dari
dalam ruang itu.Aku masuk dan duduk dimeja yang kosong.Tidak seperti minggu
yang lalu, café ini terasa luas, sedikit pengunjung.Hari ini ada beberapa meja
saja yang kosong. Sebagian besar meja dipenuhi para pengunjung yang ramai
berbicara dan tertawa-tawa meskipun suara piano terus mengalun menyanyikan lagu
symphoni.Aku pesan makanan dan minumannya.Setelah itu, mataku mulai liar
mencari sesuatu yang ingin kudapatkan.Kuedarkan pandanganku keseluruh sudut
ruangan, melihat satu persatu orang-orang yang sedang berbicara dengan
pasangannya masing-masing.Ruang yang romantic membuat para pengunjung jadi
terlihat romantic.Perasaanku mulai tak beraturan, debarannya mulai
mengencang.Entahlah, ada apa didalam café ini sehingga mampu membuat perasaanku
tak menentu.Sampai akhirnya pandanganku jatuh pada satu wajah yang kucari dan
kuharapkan dapat ditemui ditempat ini.Ya, aku mendapatkannya, lelaki yang
minggu lalu minta duduk makan bersamaku.Tapi kali ini…aku melihat orang yang
berada didepannya.Seorang wanita cantik yang sedang mendengarkannya
berbicara.Wanita itu sedang mengunyah makanan dimulutnya dengan
santai,sementara lelaki itu terus berbicara.’Romantis sekali!’ batinku
mengomentari sikap lelaki itu.Ia berbicara serius sekali, berbeda dengan
pembicaraanya denganku seminggu yang lalu.
Makanan sudah ada didepanku, tiba-tiba perutku terasa
mual.Seleraku menurun.Barangkali rasa ingin tahuku yang berlebihan membuatku
kehilangan selera.Tapi bagaimana pun makanan ini sudah kupesan.Dengan sedikit
malas aku makan sedikit demi sedikit makanan kesukaanku.Sambil mataku tak henti
memperhatikan lelaki yang sedang berbicara dengan pasangannya. ‘Dia bicara apa
ya, dengan perempuan itu? Apakah sama seperti yang dibicarakannya denganku?’
aku mencoba menebak aura wajahnya.Kalau dilihat dari raut wajah perempuannya,
mereka seperti baru kenal dan keadaannya persis seperti aku waktu itu.Perempuan
lugu yang disinggahi lelaki tampan.Menyenangkan!
Kunikmati semua makananku dengan perasaan tak
menentu.Kuhabiskan setiap gigitannya dengan pemandangan yang tak
menyenangkan.Sejak aku bertemu dengannya, aku memang tidak berharap banyak,
tapi kepergiannya dari rumahku dengan cara yang sangat anggun dan santun
meninggalkan bekas lain dalam perasaanku.Mulai dua hari yang lalu kutegaskan
perasaanku bahwa aku merindukannya.Rindu berdebat dengannya dan sedikit
bercanda dengan canda-canda yang menguras pikiranku.Aku merindukan suasana itu
lagi.Tapi, apa yang kuharapkan nyatanya tidak sesuai dengan apa yang kulihat
saat ini.Aku harus menekan perasaanku sedemikian rupa.Pemandangan ini terlalu
riskan untuk kuganggu dan memintanya untuk berbicara denganku.Lagi pula
keberanian itu tak ada padaku.Wanita yang berada didepannya jauh lebih menarik
dari penampilanku yang seadanya ini.
Kutarik nafasku dan kuhempaskan seketika.Beberapa
menit aku duduk disini mau mencari tahu, kemudian setelah mendapatkan
pemandangan yang tak menyenangkan ini, perasaanku mulai berubah.Harapan itu
kandas sudah sebelum tumbuh dan berkembang.Kuhabisi makananku lalu aku bangkit
dari mejaku menuju tempat kasir.” Berapa mba?’ tanyaku pada sang
kasir.Perempuan itu menatapku seolah sudah pernah mengenalku sebelumnya.”Maaf
mba, mba pernah datang kesini bersama lelaki itu ya?” Tanya sang kasir sambil
menunjuk lelaki yang dimaksudnya.”Ya, kenapa?” tanyaku ingin tahu “ Kalau tidak
salah lelaki itu pernah membayarkan pesanan mba dan datang kerumah mba sebagai
seorang teman?” Tanya sang kasir setengah berbisik.”Ya, koq tahu?” tanyaku
semakin ingin tahu.”Hati-hati mba, sebaiknya mba pindah rumah saja, dia akan
mendatangkan seseorang kerumah mba untuk dijadikan pekerja komersial di pulau
buru!” katanya lagi-lagi setengah berbisik.”Apa?” mataku terbelalak demi
medengar penuturan sang kasir, aku berharap ia tidak mengada-adakan cerita
ini.”Dari mana adik tahu?” aku semakin ingin tahu “ Semua orang disini tahu,
ditempat inilah ia mencari bakal calon ‘karyawannya’ semoga mba tidak terkena
bujuk rayuannya,percayalah pada saya mba, saya berkata benar!” sang kasir
mengembalikan uang kembaliannya.Aku melangkah keluar café itu dengan perasaan
bergumul.Satu hal yang sedang kupikirkan adalah aku harus mencari tempat kost
yang baru SEGERA!!!!!