Jumat, 03 Januari 2014

Cerpen 1 Linda Novlinda 2010



ORANG ASING
Oleh: Linda Al-Husna
Cianjur, 04 Juli 2010

               
                Awalnya, kita bertemu disebuah café.Cafe yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil.Sore itu aku datang kesana untuk mengisi perutku yang kosong sejak siang tadi.Membeli sedikit makanan dan minuman tentu akan dapat menyegarkan tubuhku yang nyaris layu.Aku memesan menu kesukaanku, sambil menunggu makanan datang, aku memandang kesekeliling tempat ini.Sebuah tempat yang kondusif untuk mengajak pasangan berkencan.Kurang lebih luas 100m, beberapa kursi dan meja tertata rapi dari depan sampai belakang.Sebuah meja recepsionis berada didepan pintu keluar masuk dan sebuah piano bertengger disalah satu sudut ruang ini. Seorang lelaki setengah baya sedang memainkan sebuah lagu asing, yang belum pernah kudengar sebelumnya.Nada-nadanya begitu harmonis lembut memanja.Selembut jari-jarinya memainkan tuts-tuts diatas piano.Aku mendengar musiknya mengalun sementara itu AC menguasai ruang membuat suasana terasa romantic.Baru kali ini, aku datang ketempat ini dengan pengetahuan yang sangat terbatas .Hanya karena perutku keroncongan, kusengajakan diri mampir disini, yang menurut orang-orang café tempat bertemunya orang-orang terkenal.
                Waktu itu, tidak terlintas sedikit pun bahwa akan ada seseorang yang menghampiri mejaku.Dan memintaku untuk membiarkannya makan dimejaku.Makanan sudah terhidang dan aku bersiap untuk makan sebelum akhirnya seorang lelaki berusia 30an berdiri didepanku.”Maaf, boleh saya duduk disini?” katanya sambil menenteng satu piring dan satu gelas dikedua tangannya.Aku mendongak, melihat kewajah lelaki didepanku.Kuturunkan tangan kananku yang akan memasukkan makanan kedalam mulut.Tanpa dapat mengelak,kupersilahkan lelaki itu duduk didepanku.”Terimakasih, saya merasa bosan makan sendiri, barangkali nona mau menemani saya makan sambil sedikit berbincang!” katanya sambil mengorek-orek makanannya.Kukunyah makananku seraya menganggukkan kepala.”Oya, tidak apa-apa!” jawabku sedikit gerogi.Kalau mau tahu, baru kali ini aku menemukan kejadian seperti ini.Ini kali pertama aku dihampiri seorang lelaki tampan dengan gaya eksekutif muda mau menyapa dan duduk makan bersamaku.Aku tidak tahu, apakah ini sebuah penghormatan atau penghinaan? Yang jelas, konsentrasi makanku jadi pecah karena harus menjawab beberapa pertanyaan darinya.
                Lelaki itu menceritakan tentang dirinya dan pekerjaannya saat ini.Dan beberapa hal yang disukainya.Aku hanya mendengar saja, tidak punya pembendaharaan kisah atau apa untuk diceritakan kepadanya.Maka jadilah aku seorang pendengar yang gerogi.Barangkali keadaan itu dapat tertangkap olehnya, ia menyunggingkan senyum tipis yang luwes.Yang tanpa sengaja dapat kutangkap sekilas saja.Sungguh, aku tidak berani! Tetapi lelaki itu terus memberondongku dengan cerita-cerita aneh.Sesekali mengajakku bercanda dan berhasil menyunggingkan senyum dibibirku yang kaku.Perlahan tapi pasti lelaki itu sudah membuatku dapat menguasai diri dan sedikit berani.
                Cara ia memperkenalkan diri, cara ia menceritakan pendapat-pendapatnya tentang fenomena yang terjadi saat ini, cara ia memilihkan kata yang tepat bagi perempuan asing seperti aku.Sedikitnya dapat mencairkan kekakuanku selama aku duduk disini.Aku jadi berani membantah pendapatnya, atau menegaskan kalimat candanya.Sedikit banyaknya aku tahu dari buku yang pernah ku baca! Akhirnya mencairlah suasana antara aku dengannya.Obrolan kami jadi nyambung.Meski itu hanya debat kusir saja.Tapi lelaki itu selalu dapat menangkis semua pendapatku yang menurutnya agak menyudutkan komunitas tertentu.Aku terima komentarnya tentang pendapatku.
                Makanan diatas meja sudah habis, aku sudah harus membayar semua tagihannya.Sekaligus pamit pada lelaki yang baru saja kukenal yang entah dari mana datangnya. Tapi lelaki itu menahanku dan memintaku untuk menunggunya barang sebentar.Kulihat ia menghabiskan makanannya dan membersihkan kedua telapak tangannya dengan tissue yang sudah tersedia.Aku hanya diam sampai lelaki itu selesai dengan urusannya.Ia bangkit dan membimbingku kearah meja kasir.”Berapa semuanya dengan yang punya nona ini?” tanyanya pada sang kasir.Perempuan itu melihatku kemudian melihat pada catatan pesanan makananku.” Semuanya berjumlah 120ribu! “ jawab sang kasir.Lelaki itu mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya.Menghitungnya dan memberikannya pada sang kasir.” Yuk!” lelaki itu mengajakku keluar dari café.Aku mengikutinya dari belakang.”Pulang kemana?” tanyanya setelah sampai dipinggir jalan.”Kearah selatan!” kataku ingin sekali cepat meninggalkan lelaki ini.”Aku antar ya?” pintanya.Untuk kedua kalinya aku tidak dapat mengelak dari permintaanya yang tiba-tiba itu.Aku menyerah!
                Tiba dirumahku yang sederhana, lelaki itu belum juga mau menunjukkan sikap ingin pulang.Malah ia minta istirahat sejenak sambil melanjutkan obrolannya yang tadi.Yang menurutnya, pendapat-pendapatku cukup menarik perhatiannya.Aku menyerah lagi.Kupersilahkan lelaki itu duduk diruang tamu yang berukuran 3x4m persegi.Kutinggalkan ia sendiri dan masuk kekamarku menyimpan barang bawaanku sebentar.Kemudian keluar lagi sambil membawa secangkir teh dingin untuknya.”Silahkan diminum mas!” kataku sambil duduk didepannya.Lelaki itu memanggut dan menyatakan terimakasihnya untuk sambutannya yang ramah! “Aku mau mendengar tentang keadaanmu disini! Bolehkah?” Tanya lelaki itu kemudian.”Tentang apa?” tanyaku sedikit hati-hati.”Aku mau tahu status kamu dan ya semuanya! Senang sekali dapat bicara dengan orang yang pengetahuannya luas seperti kamu!” katanya setengah merayu.
                Aku menceritakan seadanya.Tentang statusku yang masih sendiri dan pekerjaanku sebagai  sales marketing produk kecantikan dengan gaji pas-pasan untuk tinggal ibu kota.Aku ceritakan semua kegiatanku sehari-hari menawarkan produk-produk kecantikan dari sebuah perusahaan.Dan pulang pada jam makan siang.Lelaki itu mendengarkan ceritaku dengan seksama.Nampak sekali bahwa ia sangat berminat dengan kisahku ini.Semoga aku tidak keliru menafsirkan sikapnya yang penuh perhatian.
                “ Jadi ke café itu kamu baru pertama kalinya?” tanyanya setengah menyindirku.Aku menganggukkan kepala sedikit malu.Jujur saja kalau bukan karena keterdesakkan aku tidak akan masuk ke café itu.Mungkin pilih café yang lain yang lebih hemat! Lagi-lagi ia tersenyum tipis yang kali ini senyumnya meninggalkan bekas di hatiku.Ada desir lirih melintasi perasaanku dan berharap aku dapat menguasainya.Anehnya, ia malah menyengajakan diri berlama-lama dengan senyumnya.Seolah mengharapkan lebih banyak kalimat yang kukeluarkan tentang pertemuan kita tadi.Tapi aku tidak bisa, pikiranku jadi kacau dan perasanku jadi bimbang.Otakku sudah mulai tak mampu memilihkan kata-kata yang lebih banyak dari sekedarnya saja.Kutundukkan pandangan menghindari tatapannya yang mulai menajam.Seperti tatapan polisi yang sedang menyelidiki kasus pencurian.Konon, hanya melalui mata saja seseorang dapat diketahui bahwa ia sedang berkata benar atau tidak! Aku melihat tatapan itu darinya.Tatapan seorang penyidik!
                Untunglah tidak lama kemudian,lelaki itu pamit dan minta diiri untuk kembali ketempat asalnya.Aku sedikit lega berakhirlah masa kesempitanku selama duduk bersama lelaki itu.Kuijinkan ia pulang dan menutup kembali pintu rumah kosku yang mungil.Aku masuk kekamar untuk beristirahat.Besok aku harus bekerja lagi seperti biasa!!!
                Seminggu sudah berlalu.Aku mengerjakan apa harus kukerjakan setiap harinya dengan baik.Menawarkan produk-produk kecantikan kebeberapa pelanggan sampai waktu lewat duhur.Dan siang ini, aku sedang berada dikawasan café yang minggu lalu kukunjungi.Tiba-tiba aku merasa ingin memasuki café itu lagi, kali ini bukan karena hanya untuk makan tapi ingin mengetahui, siapa sebenarnya lelaki yang pernah duduk makan bersamaku becerita tentang ini dan itu sampai berani mengantarkanku pulang? Kebetulan ini saatnya makan siang, aku coba makan siang dicafe itu lagi, siapa tahu mendapatkan informasi tentang lelaki yang bersamaku minggu yang lalu!
                Ku buka pintu café dan menyeruaklah aroma romantic dari dalam ruang itu.Aku masuk dan duduk dimeja yang kosong.Tidak seperti minggu yang lalu, café ini terasa luas, sedikit pengunjung.Hari ini ada beberapa meja saja yang kosong. Sebagian besar meja dipenuhi para pengunjung yang ramai berbicara dan tertawa-tawa meskipun suara piano terus mengalun menyanyikan lagu symphoni.Aku pesan makanan dan minumannya.Setelah itu, mataku mulai liar mencari sesuatu yang ingin kudapatkan.Kuedarkan pandanganku keseluruh sudut ruangan, melihat satu persatu orang-orang yang sedang berbicara dengan pasangannya masing-masing.Ruang yang romantic membuat para pengunjung jadi terlihat romantic.Perasaanku mulai tak beraturan, debarannya mulai mengencang.Entahlah, ada apa didalam café ini sehingga mampu membuat perasaanku tak menentu.Sampai akhirnya pandanganku jatuh pada satu wajah yang kucari dan kuharapkan dapat ditemui ditempat ini.Ya, aku mendapatkannya, lelaki yang minggu lalu minta duduk makan bersamaku.Tapi kali ini…aku melihat orang yang berada didepannya.Seorang wanita cantik yang sedang mendengarkannya berbicara.Wanita itu sedang mengunyah makanan dimulutnya dengan santai,sementara lelaki itu terus berbicara.’Romantis sekali!’ batinku mengomentari sikap lelaki itu.Ia berbicara serius sekali, berbeda dengan pembicaraanya denganku seminggu yang lalu.
                Makanan sudah ada didepanku, tiba-tiba perutku terasa mual.Seleraku menurun.Barangkali rasa ingin tahuku yang berlebihan membuatku kehilangan selera.Tapi bagaimana pun makanan ini sudah kupesan.Dengan sedikit malas aku makan sedikit demi sedikit makanan kesukaanku.Sambil mataku tak henti memperhatikan lelaki yang sedang berbicara dengan pasangannya. ‘Dia bicara apa ya, dengan perempuan itu? Apakah sama seperti yang dibicarakannya denganku?’ aku mencoba menebak aura wajahnya.Kalau dilihat dari raut wajah perempuannya, mereka seperti baru kenal dan keadaannya persis seperti aku waktu itu.Perempuan lugu yang disinggahi lelaki tampan.Menyenangkan!
                Kunikmati semua makananku dengan perasaan tak menentu.Kuhabiskan setiap gigitannya dengan pemandangan yang tak menyenangkan.Sejak aku bertemu dengannya, aku memang tidak berharap banyak, tapi kepergiannya dari rumahku dengan cara yang sangat anggun dan santun meninggalkan bekas lain dalam perasaanku.Mulai dua hari yang lalu kutegaskan perasaanku bahwa aku merindukannya.Rindu berdebat dengannya dan sedikit bercanda dengan canda-canda yang menguras pikiranku.Aku merindukan suasana itu lagi.Tapi, apa yang kuharapkan nyatanya tidak sesuai dengan apa yang kulihat saat ini.Aku harus menekan perasaanku sedemikian rupa.Pemandangan ini terlalu riskan untuk kuganggu dan memintanya untuk berbicara denganku.Lagi pula keberanian itu tak ada padaku.Wanita yang berada didepannya jauh lebih menarik dari penampilanku yang seadanya ini.
                Kutarik nafasku dan kuhempaskan seketika.Beberapa menit aku duduk disini mau mencari tahu, kemudian setelah mendapatkan pemandangan yang tak menyenangkan ini, perasaanku mulai berubah.Harapan itu kandas sudah sebelum tumbuh dan berkembang.Kuhabisi makananku lalu aku bangkit dari mejaku menuju tempat kasir.” Berapa mba?’ tanyaku pada sang kasir.Perempuan itu menatapku seolah sudah pernah mengenalku sebelumnya.”Maaf mba, mba pernah datang kesini bersama lelaki itu ya?” Tanya sang kasir sambil menunjuk lelaki yang dimaksudnya.”Ya, kenapa?” tanyaku ingin tahu “ Kalau tidak salah lelaki itu pernah membayarkan pesanan mba dan datang kerumah mba sebagai seorang teman?” Tanya sang kasir setengah berbisik.”Ya, koq tahu?” tanyaku semakin ingin tahu.”Hati-hati mba, sebaiknya mba pindah rumah saja, dia akan mendatangkan seseorang kerumah mba untuk dijadikan pekerja komersial di pulau buru!” katanya lagi-lagi setengah berbisik.”Apa?” mataku terbelalak demi medengar penuturan sang kasir, aku berharap ia tidak mengada-adakan cerita ini.”Dari mana adik tahu?” aku semakin ingin tahu “ Semua orang disini tahu, ditempat inilah ia mencari bakal calon ‘karyawannya’ semoga mba tidak terkena bujuk rayuannya,percayalah pada saya mba, saya berkata benar!” sang kasir mengembalikan uang kembaliannya.Aku melangkah keluar café itu dengan perasaan bergumul.Satu hal yang sedang kupikirkan adalah aku harus mencari tempat kost yang baru SEGERA!!!!!