PONDOK HIJAU
Oleh : Linda al-Husna
Cianjur, 22 Juli 2010
Menurut ilmu psycologi perkembangan, usia 20 tahun
termasuk kedalam usia produktif. Dari mulai tenaga, pikiran dan gairah untuk
menemukan sesuatu yang baru masih mendukung. Gairah itulah yang seharusnya
kugunakan sebaik-baiknya. Hanya karena aku gagal masuk perguruan tinggi negeri,
gairah itu lenyap, pikiran buntu dan putus asa! Aku ingin berteriak menyalahkan
teman-teman yang tega meninggalkan aku.Atau bapak dan ibuku yang tidak mampu
membiayai pendidikanku disekolah swasta! Tapi, haruskah itu kulakukan?
Menyalahkan orang-orang yang jelas tak bersalah dengan keadaan ini? Kendati aku
berusaha menguatkan diri, dalam beberapa bulan setelah pengumuman ujian masuk
perguruan tinggi negeri diumuman.Aku benar-benar lumpuh! Tak bisa berbuat
apa-apa bahkan untuk melakukan kegiatan rutinku sendiri.
Sudah tiga bulan aku mengurung diri dikamar.Bisa keluar
rumah kalau ada keperluan yang sangat mendesak.Jika tidak aku tidak terlalu
memaksakan diri untuk berkeliling-keliling kota seperti sebelumnya.Kesedihanku
mulai berkurang.Ibu memberiku beberapa buku yang harus kupelajari.Buku-buku
sejarah peninggalan kakekku.Buku tarikh Muhammad saw karya H Munawar Kholil,
meski bukunya sudah usang tapi aku masih dapat membacanya dengan jelas.Betapa
perjalanan seorang nabi terakhir itu tidak mulus. Dari caranya menganalisa
sosio-antopologi dan bagaimana cara berkawan yang baik, kepada orang yang
sebaya, orang yang usianya diatas dan dibawahnya.Bagaimana cara Muhammad saw mendapatkan
kalimat petunjuk untuk disebarkan kepada masyarakatnya yang kental dengan
keyakinan dan penyembahannya kepada Dewa Latta dan Uzza. Dan bagaimana pula
kepribadiannya untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat.Dalam hal ini, sebuah
kepribadian yang terbentuk dari sejak dilahirkannya sampai meninggalnya.Meski
demikian, tidak semua masyarakat dapat menerima keyakinannya, yang diturunkan
malaikat Jibril dari Tuhannya.
Aku sangat tersentuh oleh kisahnya.Oleh perjalanan
hidupnya yang bergelombang.Sebelum mendapat petunjuk,Muhammad adalah seorang
pemuda biasa yang pandai bergaul.Setelah mendapat petunjuk, ia berubah menjadi
seorang yang penyabar,pemaaf dan rendah hati.Dimana sifat-sifat itu didapatinya
dari kejadian-kejadian kecil sampai besar yang tidak menyenangkan
hatinya.Muhammad orang yang baik, semua mengakuinya.Tapi tidak semua orang
dapat menyikapi seruannya dengan baik.Aneka kemarahan ditunjukkan mereka
kepadanya.Hal itulah yang sangat menggugah kembali semangatku saat ini.
Aku masih bersyukur, aku belum sepahit penderitaan
Nabi Muhammad saw.Yang tiba-tiba banyak menginspirasi pikiran buntuku.Aku jadi
memikirkan kenyataan saat ini.Tentang aku, keberadaanku dan lingkungan
sekitarku.Kepedulianku hidup kembali.Memang masih sulit untuk memikirkan hal
ini seorang diri.Aku harus mencari kelompok pengkajian masalah ini.Aku ingin
yang lebih realistis dengan pesan yang tersirat dan yang tersurat dalam
kisah-kisahnya.Seseorang harus memberitahuku, dimana tempat orang-orang sedang
menjalankan prinsip-prinsip ini.Aku ingin menjadi bagian dari mereka, menjadi
bagian dari pengusung jalan kebaikan.Sebagai amal sholeh yang seharusnya
dilakukan ketika kita mulai masuk usia baligh yang guruku menyebutnya Mukallaf
( Orang yang terkena hukuman jika melakukan kesalahan )
Aku sedang berada disebuah rumah
diperbukitan.Orang-orang menyebut rumah ini dengan sebutan ‘Pondok Hijau’
sebuah rumah yang digunakan sekelompok orang untuk mengadakan pengkajian rutin
keagamaan.Aku diajak oleh seseorang yang baru kukenal.Melalui orang ini, aku
terlibat didalamnya. Kelompok kecilku hanya terdiri dari perempuan saja.Namun sesekali
pengkajian dilakukan secara umum, kaum laki-laki dan perempuan disatukan.Menyenangkan
sekali, ketika dapat dipertemukan dengan orang-orang yang sefaham
denganku.Pikiranku mulai terbuka.Aku tidak menjadi diriku yang tiga bulan yang
lalu merasa putus asa dan tersisih. Kesadaranku untuk berbuat sesuatu bangkit lagi.Terutama setelah aku bertemu
dengan saudara laki-laki yang dengan pemahamannya turut juga menguatkan
anggapan pribadiku tentang cara menerapkan dan menyebarkan prinsip.Aku mulai
menemukan kembali gairah pencarian rasa ingin tahu yang makin hari makin
menggila.
Dia bernama Abdul Ghani, pemilik pondok ini yang
memfasilitasi semua kebutuhan kegiatan kajian rutin.Dari peralatan pengajaran
sampai konsumsi.Dia orangnya menyenangkan, supel dan cerdas dalam mengkritisi
suatu masalah.Baik masalah prinsip maupun masalah teknis.Aku suka berbincang
dengannya. Walau usianya sebaya denganku tapi wawasannya jauh lebih luas
dariku.Aku sering dibuat termangu oleh istilah-istilah yang
diusungnya.Menakjubkan! karena itulah, aku jadi banyak menemukan pengetahuan
baru lengkap dengan definisinya.
Entah bagaimana pula dengan seringnya melakukan perbincangan
itu, jujur saja menimbulkan rasa aneh melintas dalam perasaanku.Pikiranku mulai
kacau.Konsentrasiku menjadi buyar.Aku dengan pengetahuan keagamaanku yang
merasa yakin dengan batas-batas antara yang harus dilakukan dan tidak boleh
dilakukan.Tentu saja merasa bimbang dengan keadaan ini.Niatku datangan ke
pondok hijau kini sedikit demi sedikit mulai tercemari virus-virus syahwat.Aku
jadi lebih merindukan Abdul Ghani ketimbang merindukan hal lainnya.Kukira bukan
hanya aku saja merasakan hal ini, beberapa jamaah perempuan lainnya pun,
kudengar mengalami perasaan seperti ini. Tadinya, aku tidak terlalu menanggapi
kejadian-kejadian kecil seperti ini.Yang menurut logikaku, justru hal-hal
seperti inilah yang akan melumpuhkan semangat kita untuk terus mempertahankan
kegiatan-kegiatan keagamaan kita.Kita jadi membicarakan masalah-masalah
cengeng, yang sering kita dengar dari remaja pada umumnya.Tapi ini
kenyataan.Aku mengalami sendiri.Dan anehnya, aku merasa harus bertarung dengan
perasaan ini.Mengendalikannya sedemikian rupa agar tidak merusak niatku
berkunjung ke pondok hijau tempat kita berkumpul.
Dia, Abdul Ghani memang tidak pernah membicarakan
yang mengarah pada hubungan istimewa.Tapi perhatiannya, sungguh, sanggup
membuat beberapa saudara perempuan menjadi GR ( gede rasa ) termasuk aku.Kali
ini, aku sedang teruji menyikapi perasaan yang membuncah begitu bertemu
denganya.Haruskah itu terjadi? Haruskah aku mengatakannya bahwa aku mulai menyukainya? Haruskah
kuputuskan rasa ini kemudian meninggalkan Abdul Ghani begitu saja?
Tuhan, apa yang harus kulakukan dengan keyakinanku
ini? Aku merasa sedang menghadapi sebuah benturan yang dahsyat! Antara bergelut
dengan pengetahuan dan bergelut dengan perasaan. Abdul Ghani menjadi batu
sandunganku saat ini! Tuhan, bukakanlah kepadaku petunjukMu!*****