Kamis, 11 Januari 2018

Cerpen Linda Al-Husna 2010

GHIROH
( KERJA SEORANG PEMBEBAS )
Cianjur, 04 Oktober 2008
Oleh: Linda Al-Husna



 
“Mar, apakah kau pernah merasakan seperti aku sekarang ini?” Fifi duduk sambil memeluk kedua lututnya, wajahnya tertunduk diantara lutut dan tubuhnya “Memangnya kau merasakan apa?” Marni duduk didepannya sambil menggenggam sebuah buku.”Aku merasa pikiranku buntu.Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan? Perasaanku selalu cepat berubah.Aku jadi bingung sendiri.Mana yang harus kulakukan lebih dulu?” Masih dengan wajah tertunduk Fifi mencurahkan perasaannya kepada Marni. “Apa kau sedang menghadapi masalah?” Tanya Marni.Fifi mengangkat kepalanya dan kedua bahunya.”Entahlah, aku merasa sedang tidak punya masalah, aku…aku….!” Fifi tidak melanjutkan kalimatnya.Gurat-gurat kebingungan masih nyata terlintas diwajahnya “Barangkali kau hanya sedang merasa bosan?” Marni menebak inti masalahnya. Tak ada jawaban.Fifi tenggelam dalam lamunannya. “Fi, istirahatlah, kau sedang membutuhkan waktu untuk meresapi perasaanmu! Nanti kalau sudah mulai jernih, kau bisa ceritakan semuanya padaku, aku siap mendengarnya!” Marni berusaha meyakinkan Fifi bahwa ia bersedia menyediakan waktu baginya. Sebab dengan siapa lagi Fifi mau mencurahkan perasaannya selain dengannya, teman dekatnya ditempat kost ini.
          Pukul 10 malam Fifi terbangun dari tempat tidurnya, ia menarik nafas panjang kemudian membuangnya seketika. Dilihatnya Marni masih membaca buku yang dari tadi dipegangnya.Fifi bangkit, mengucek-ngucek kedua matanya dan merapikan rambutnya yang acak-acakan dengan jari-jari tangannya. Marni melirik kearah Fifi “Sudah bangunFi? Apa kau sudah merasa lebih baik?” Tanya Marni .Fifi menganggukkan kepala “Ya!” jawab Fifi masih duduk diatas tempat tidurnya. “Bagaimana apa kau masih merasa seperti tadi? Atau kau sudah menemukan apa masalahmu? Ceritakanlah?” Marni menutup bukunya setelah diberi tanda pada halaman terakhir yang dibacanya.Kemudian bersiap mendengar cerita Fifi.
          “Mar, aku kehilangan ghiroh ( semangat )!” Fifi memandang kearah Marni “Kau benar, kehilangan ghiroh membuatku jadi merasa bosan! Sementara kau tahu, kita ini harus melakukan ini dan itu, begitu banyak pekerjaan yang harus kita lakukan, tiba-tiba ghiroh itu lenyap entah kemana?” Fifi terdiam sejenak.Pikirannya berputar-putar kemasa-masa sebelum kehilangan ghirohnya “Aku jadi tidak ingin memikirkan pekerjaan itu!” Fifi memeluk kedua lututnya “Hidup ini jadi seperti robot, harus melakukan ini dan itu terus menerus, begitu danbegitu saja hampir setiap hari! Awalnya aku semangat tapi entahlah sekarang!” Fifi menjatuhkan kepalanya diatas kedua lututnya. “Kau hanya butuh waktu untuk menyenangkan dirimu sendiri!” usul Marni, Fifi mendongak menatap wajah Marni lekat-lekat. “Memangnya kau tahu, apa yang bisa membuatku senang?” tukas Fifi “Ya, tidak tahu, tapi kebanyakan orang akan mengalihkan perhatian dulu untuk sementara sebelum akhirnya kembali kepekerjaan rutinnya! Dan biasanya pula itu bisa mengembalikan semangatnya!” Kata Marni dengan tenang tanpa dibuat-buat. “O, begitu ya??” Fifi menopang dagunya diatas kedua lututnya. “ Siapa pun yang melakukan aktivitas dakwah, sebisa mungkin harus dapat menjaga ghiroh itu, agar tetap stabil.Kalaupun harus terjatuh tidak lama-lama.Segera bangkit dan mengembalikan semangat seperti sebelumnya!”
          “ Mar, apa kau juga pernah merasakan seperti ini? Merasa lelah, bosan dan buntu yang kata orang ini disebut sebagai ‘Futhur’(kehilangan semangat).Apa kau juga pernah merasakannya Mar?” Tanya Fifi kemudian “Ya, aku juga pernah merasakan seperti itu, dulu bahkan mungkin sering! Sekarang aku sudah tahu bagaimana cara mensiasatinya, kalau perasaan-perasaan seperti itu datang menghampiri!” Marni diam sejenak kemudian melanjutkan “ Apa kau ingin tahu apa yang kulakukan?” Tanya Marni.Fifi segera menganggukkan kepalanya “Kau suka melihat aku membaca atau menulis kan? Nah itu salah satu cara untuk membunuh rasa bosan.Membaca buku-buku menarik, kemudian menuliskannya kembali.Perlahan-lahan itu memberi pupuk kepada perasaan kita yang sedang hampa.Kekosongan perasaan itu harus diisi dengan pupuk yang baik,jika tidak, tidak akan merubah rasa kebosanan itu atau bahkan memperburuk keadaannya.Lintasan-lintasan pikiran yang datang dan pergi dari mana dan entah kemana, kadang-kadang kedengaran tidak rasional, diluar jangkauan batas akal sehat kita.Jika iman kita tidak kuat, kecenderungan depresi itu kemungkinan besar akan terjadi!”
          Fifi mendengarkan tiap-tiap kata yang disampaikan Marni kepadanya.Kata-katanya tepat sasaran.Tepat menuju wilayah yang menjadi kebimbangannya. “Begitu ya caramu membunuh rasa bosan!” guman Fifi seolah bicara pada dirinya sendiri.”Kalau dengan membaca dan menulis masih belum hilang juga rasa bosanku, aku berjalan-jalan kepasar.Entahlah, aku merasa pasar memberiku banyak pelajaran ya banyak hal yang menarik dan unik disana.Aku senang berada didalamnya, ada kesenangan tersendiri dan itu cukup ampuh untuk membunuh rasa bosan!” Fifi manggut-manggut tanpa bicara merenungkan apa yang dikatakan Marni,karena dihatinya pengalaman Marni sedikit demi sedikit memberi inspirasi baru baginya yang sedang menghadapi jalan buntu. “Fi, kalau kita mengerti betul hakikat dakwah dan orang yang berdakwah, kau bisa saksikan sendiri kisah-kisah orang-orang sebelum kita ketika menjalankan kegiatan dakwahnya.Hanya bedanya, dulu fasilitas hidup mereka sangat sederhana,sekarang segalanya serba mudah, bahkan kata orang dunia bisa ada dalam genggaman! Ponsel misalnya atau internet, semua dapat dijangkau dengan mudah! Nah kemudahan-kemudahan seperti ini, cenderung membuat orang menjadi malas, tidak mengandalkan potensi dirinya secara efektif dan optimal, setidaknya begitulah penilaianku!”
“Lantas, apakah ada hal lain selain menghilangkan rasa bosan?” Tanya Fifi kali Fifi menunjukkan kesungguhannya.”Ya,  tidak langsung dirasakan sih, tapi setidaknya aku sudah memulai suatu pekerjaan dan aku belajar mencintai pekerjaan itu.Jika tidak ada rasa cinta, pekerjaan itu jadi terasa membosankan.Aku juga tidak tahu kenapa?”
“Kamu benar Marni, itulah yangsedang kurasakan saat ini!” guman Fifi.”Hey, apa kau tidak mencintai pekerjaan dakwah?” tiba-tiba Marni mengajukan pertanyaan.Fifi terkesiap “Bukan begitu, aku merasa terlalu banyak orang yang harus kudakwahi sementara pengetahuanku masih terbatas!” ujar Fifi yang hampir dibuat kaget oleh pertanyaan Marni.
          “Kalau begitu, cara berdakwahnya dirubah, bukan dengan menggurui tapi dengan member contoh.Kau menuntut apa dari orang lain.Maka hadirkan dulu pada prilakumu! Selama ini,yang ada dalam benak kita tentang dakwah adalah memperbaiki orang lain, sementara diri kita sendiri terabaikan! Dari sinilah kita sering terjebak rasa bosan, menganggap diri lebih baik dari orang lain.Hanya karena kita mendapat informasi agama lebih dulu dan itu sangat-sangat membosankan!” Marni menggelengkan kepalanya “Ternyata hal itu tidak berlaku dalam menerapkan ilmu agama.Dalam ilmu yang lain mungkin masih bisa terjadi.Siapa yang lebih dulu menemukan sebuah teori dia dapat berbangga dengan dirinya sendiri.Tapi dalam berdakwah kerendahan hati itu benar-benar harus dijaga sebaik-baiknya.Jika tidak, mudah saja bagi allah menguji keihklasan si Pendakwah terhadap apa yang dikatakannya.Jika si pendakwah selalu protes dengan kenyataan ini maka disanalah Allah dapat menilai seberapa besar keihklasan kita menjalankan kegiatan itu?” Suasana menjadi hening, hanya terdengar detak jarum jam berjalan dari satu titik ketitik yang lain.Marni membiarkan Fifi mencerna apa yang dikatakannya dalam keheningan dan kejernihan pikirannya.”Jadi, jika kita tersenyum dalam menghadapi kelapangan, apakah kita masih mampu tersenyum dalam menghadapi kesulitan?” Fifi melongo.Kata-kata Marni mengalir  bagai pedang yang menghujam pikirannya.
          “Subhanallah Marni, kau sudah mendapatkan ilmunya! Dari mana kau mendapatkannya?” Fifi tak tahan dengan rasa ingin tahunya “Kau kan tahu, aku suka baca buku!” kilah Marni “Tapi, cara kau menceritakannya kembali berbeda dengan yang lain!” timpal Fifi “Ah, kurasa banyak orang yang melakukan seperti ini, membaca dan menulis itu biasa kan?” Marni berusaha menangkis sanjungan Fifi, jika dimasukkan kedalam hati, maka hatinya akan merasa dan berbunga-bunga, tidak mustahil si Riya akan datang menyelip kelubuk hatinya “Marni,tapi kamu beda!” Fifi menegaskan “Sudah ah, jangan berlebihan.Aku hanya belajar dari pengalaman orang lain yang disesuaikan dengan pengetahuan dan pengalamanku,hasilnya seperti apa, aku sendiri belum tahu!” Jelas Marni.Seandainya lampu dikamarnya menyala penuh, pasti Fifi akan melihat wajahnya merona kemerah-merahan.”Marni, kamu berbakat jadi penulis!”
“Aku sedang merancangnya!”
“Marni, terimakasih, sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan besok! Kau memang seorang penulis sekaligus seorang pembebas! Terimakasih Marni!!!”

          

Senin, 09 Oktober 2017

Cerpen Linda Al-Husna 2010


AKU INGIN MEMANGGILNYA ‘DEDE’
Cianjur, 12 September 2010
Oleh: Linda Al-Husna

                Seharusnya aku tidak usah ‘gede rasa’ waktu dia menyapaku, menyebut namaku begitu jelasnya terdengar ditelingaku.Bukankah hal  itu sudah menjadi kebiasaannya, jika mau berkenalan dengan seseorang dia melakukan hal itu, menyebut nama lawan bicaranya dengan jelas.Terus kenapa aku yang kebingungan sendiri? Seharusnya rasaku tak sebuncah ini,bukankah aku juga sering berkenalan dengan lelaki tampan dan baik hati.Tapi rasaku tak semelambung ini? Ada apa dengannya?
                Tadi, aku hanya sedikit mewawancarainya, tentang perkembangan karirnya didunia hiburan.Sebagai seorang pewarta,aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan umum yang ingin diketahui publik. Tapi dia malah menyebut namaku dan menatapku begitu lama.Seolah-olah dia sedang berusaha mengingatkan sesuatu yang berkaitan denganku.Apa mungkin aku mirip seseorang yang pernah dicintainya? Atau …Seperti dia waktu itu, aku segera menepiskan bayang-bayang yang belum jelas kebenarannya.Hanya soal kekahawatiran yang masih tersamar.
                Yang membuatku bingung,adalah dia langsung menyebut namaku begitu mantap dan seperti ingin mengatakan sesuatu yang segera ditepisnya sendiri.Barangkali dia masih ragu dengan apa yang ingin dikatakannya padaku.Dia seperti sudah mengenalku dengan baik.Tapi, keadaan tidak memungkinkan baginya untuk mengatakan sesuatu yang membuatnya segera mengalihkan pembicaraan kepada yang lain.Aku hanya satu diantara para pencari berita yang ingin meliput sisi lain kehidupannya.Disampingku beberapa orang yang mempunyai profesi sama denganku tengah berebut mencari kesempatan yang lebih baik untuk menyempurnakan bahan tulisannya.Suasana berebutan seperti itu tak memungkinkannya untuk bertanya balik kepada pewarta seperti aku.Untunglah, dia masih sempat mengajukan permintaannya untuk bertemu denganku besok sore.Ditempat yang sudah dijanjikan.Di Café miliknya diselatan kota Jakarta.
                Tidak sulit baginya untuk meminta jadwal pertemuan dengan para pencari berita yang sangat berminat pada intrik-intrik kehidupannya sebagai seorang selebritis.Termasuk aku, yang membutuhkan informasi lengkap tentang kehidupannya untuk kutuliskan dalam catatan harianku disebuah situs diinternet.Aku merasa tersanjung ketika dia meminta waktu khusus untuk bertemu denganku.Kesempatan ini akan kugunakan sebaik-baiknya agar aku mendapatkan apa yang harus kudapatkan darinya.Barangkali dia pun menginginkan hal yang sama.Ingin membicarakan sesuatu denganku secara pribadi.Dan malam ini , aku akan mempersiapkan beberapa pertanyaan yang akan kuajukan padanya besok sore.Sungguh, seperti kejatuhan durian runtuh! Karena itulah rasaku menjadi buncah dan melambung, seperti melayang-layang diudara bertemu dengan seorang selebritis yang sedang menjadi idola anak muda saat ini. Aku jadi tidak sabar menunggu peristiwa itu, peristiwa yang tidak semua pewarta mendapatkan kesempatan yang sama denganku.Maksudku, saat ini adalah bagianku mendapatkan kesempatan emas dari seorang selebritis.Dan aku harus mampu menguasai perasaanku, jika tidak, bagaimana jadinya, caraku mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan perasaan demikian? Ah, sudahlah, baiknya aku istritahat, beberapa pertanyaan sudah kusiapkan dan aku harus menenangkan pikiran dan perasaanku.Sebelum bertempur mengahadapi serangan balik darinya.Memangnya dia mau membicarakan apa denganku ya? Kita lihat saja besok sore!
                Waktu yang sudah dijanjikan pun tiba.Aku berangkat ke tempat itu sesuai kesepakatan.Baru kali ini aku memasuki sebuah café yang didalamnya sangat berisik bagi telingaku.Barangkali karena aku lebih suka suasana hening dan damai.Yang menyebabkan aku merasa tidak nyaman lama-lama berada ditempat seperti ini.Tapi, aku sudah terlanjur janji padanya untuk datang dan bertemu ditempat ini.Aku duduk disebuah kursi, seorang karyawan mengatakan sebentar lagi dia akan datang, dia masih berada dalam perjalanan menuju ketempat ini.Untuk profesiku, aku rela menunggunya sampai dia datang.
                Satu jam aku menunggu, dia baru menampakkan batang hidungnya. Dan menghampiriku seraya mengulurkan sebelah tangannya, menyalamiku “Hai, Mira sudah lama menunggu Ya?” Tanyanya dengan nada sedikit merasa bersalah.Aku menyambut uluran tangannya.”Baru satu jam koq!” jawabku dengan tenang.Dia mempersilahkanku duduk kembali dan dia duduk dihadapanku.Tangan kanannya menjatuhkan sebungkus rokok dari saku kemejanya, dari saku celananya dia mengeluarkan korek api.Dia lalu menyalakan satu batang rokok yang langsung dihisapnya didepanku tanpa rasa bersalah.Meskipun sebelumnya dia meminta izin padaku untuk melakukannya.Aku tidak keberatan, apa hakku melarang kebiasaan orang lain?
                “Mira, rasanya aku sudah mengenalmu.Entah dengan kamu yang masih ingat aku atau tidak?” katanya mengawali pembicaraan.”Kamu masih tinggal dikota kecil itu kan?” tanyanya membuyarkan pikiranku yang sedang berusaha mencerna perkataannya.”Ya, aku masih tinggal disana, tapi apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya?” aku masih bingung dengan pernyataannya.”Tentu saja aku sangat mengenalmu! Meskipun waktu itu usia kita masih sangat muda!” Dia menceritakan kisah dirinya yang pernah tinggal dikota tempat tinggalku saat ini. Dia juga menyebutkan nama bapak, ibu dan kakak-kakakku.Dia seperti dukun saja yang mengenal keluargaku dengan lengkapnya.Padahal selama ini, yang kutahu kehidupannya terlihat sangat ekslusif.Dan sebagian masyarakat dinegeri ini sudah mengenalnya sebagai selebritis.
                “Coba Mira, tolong diingat lagi waktu kamu masih duduk diTaman Kanak-kanak.Kita selalu bermain bersama setiap hari.Ditanah lapang yang kita cintai.Atau dipinggir danau dibelakan rumahmu.Aku tidak pernah melupakannya sampai saat ini!” Dia menarik nafasnya dalam-dalam dan aku mengingat-ingat masa yang ditunjukkannya padaku.”Ya, waktu itu aku punya teman dekat, usianya beberapa tahun diatasku.Selain sebagai teman dia juga sudah seperti pengasuhku saja.Dan aku sudah kehilangan kabar tentang dia.Berada dimana sekarang dan keadaannya seperti apa? Aku sama sekali tidak tahu? Aku selalu memanggilnya dengan nama’DEDE’ nama kesayangannya untuk kusebutkan setiap aku ingin bermain dengannya! Ya, waktu itu sangat menyenangkan!”aku mencoba mengomentari suasana yang dipintanya untuk kuingat sedetil-detilnya.”Ya, itulah aku, Dede yang sering kau ajak bermain ditanah lapang atau dipinggir danau dibelakang rumahmu! Dede itu namaku waktu aku masih duduk dibangku SD, dan aku sangat senang kau menyebutnya begitu!” dia menyudahi perkataannya.Dan tinggallah aku yang termangu menyimak pengakuannya.Apa benar, selebritis didepanku ini adalah teman dekatku waktu masih kecil? Kenapa dia mau mengakui itu?Atau mengaku-ngaku seorang yang paling mengenalku dengan baik melebihi ibu bapakku sendiri.Bukankah aku wartawan yang belum terkenal? Apa keuntungannya dengan pengakuan yang dilakukannya? Tapi, jika benar dia adalah “Dede’ yang kukenal dulu….Ya Tuhan, aku bertemu lagi dengan Dede!!!!!*****
               
                                                                ***********


Minggu, 17 April 2016

Cerpen 2 Linda Al-Husna



MENGHADANG BADAI
Cianjur, 11 Oktober 2008
Oleh: Linda Al-Husna

                Gemblung berdiri mematung dibibir pantai.Matahari didepannya setengah terbit menyemaikan warna kuning kemerah-merahan.Gemblung tak bergeming.Meskipun hentakkan-hentakkan gelombang kecil menerpa kedua kakinya yang telanjang.Burung-burung berterbangan diatas hamparan laut yang bergelombang.Gemblung menunggu bapakknya kembali dari pelayarannya mencari ikan.
                Setelah keberangkatan bapaknya dan beberapa nelayan yang lain kemarin sore.Hati ibu Gemblung diliputi kecemasan, entah mengapa perasaannya tidak menentu, ditambah angin besar dan hujan yang tak tertahankan diluar.”Bagaimana keadaan bapak dengan cuaca buruk begini?” sahut ibu Gemblung menjelang tengah malam.Hujan masih turun deras, sesekali terdengar gelegar Guntur memecah kesunyian malam.
                Gemblung jadi ikut cemas, melihat cuaca seperti ini, air laut akan cepat mengalami pasang dan membuat gelombang ombak yang besar-besar karena dorongan angin yang besar. Gemblum berusaha memejamkan kedua matanya meskipun perasaannya sama seperti ibunya khawatir akan kepergian bapaknya.Dari mulut ibunya, Gemblung tahu bahwa ibunya sedang memanjatkan do’a untuk keselamatan bapaknya dan nelayan yang lainnya.Pelan-pelan Gemblung pun mengucapkan sebaris do’a untuk keselamatan mereka.”Ya Allah, lindungilah bapaku dan semua nelayan yang sedang mencari ikan dilaut!” Berulang-ulang baris kalimat itu dibacanya sampai Gemblung tertidur lelap.
                Pagi-pagi sekali, usai sholat subuh Gemblung pergi kepantai, dimana perahu-perahu selalu ditambatkan sepulan mencari ikan.Pantai masih besih.Belum ada satu perahupun yang bertengger dibibir pantai.Gemblung berjalan bolak-balik menghitung setiap langkah.Sampai hitungan ke 50 Gemblung balik lagi ketempat semula.Begitulah yang dilakukannya beberapa saat, sampai akhirnya ia berdiri mematung menatap matahari didepannya.
                Cuaca pagi ini kembali normal.Hujan sudah tumpah kemarin malam tanpa meninggalkan bekas.Langit cerah tanpa sedikit pun awan melapisinya.Perlahan matahari mulai naik tapi Gemblung masih berdiri ditempatnya.Orang-orang mulai berdatangan satu persatu.Sama seperti Gemblung yang menantikan bapaknya mengail ikan dilaut.
“Hei, Gemblung! Kamu sudah berapa lama berdiri disini?” sapa seorang anak lelaki sebayanya.”Dari pagi sekali, selepas bedug subuh!” jawab Gemblung menoleh kearah suara.
                “Semalam cuaca amat buruk, aku khawatir dengan mereka!” sahut sianak lelaki tadi yang bernama Somad, teman sepermainan Gemblung.Gemblung mengangguk setuju. “Itulah,Mad, kenapa pagi sekali aku datang kesini! Aku ingin segera mengetahui keadaan mereka!” Gemblung kembali menikmati pemandangan didepannya, hamparan laut yang luas, diujungnya matahari menampakkan diri setengah lingkaran dengan warna kuning kemerah-merahan.
                Somad berdiri disampingnya.Turut menyaksikan pemandangan laut dipagi hari.Dalam hati keduanya mengakui ‘betapa indahnya ciptaan Tuhan!’ Matahari mulai bergerak, pantai semakin ramai dipenuhi anak-anak dan ibu-ibu mereka untuk menyambut kedatangan bapak dan suami mereka.Suasan pantai mulai hiruk pikuk.Ada anak yang turun langsung kepantai, berenang hingga beberapa meter dari bibir pantai.Setelah itu kembali kepantai.Begitulah yang mereka lakukan berulang-ulang.Sementara para ibu hanya menunggu didaratan.Gemblung belum ingin mandi, ia lebih suka menunggu bapaknya dan hasil tangkapannya.Biasanya ikan-ikan yang ditangkap bapaknya dan teman-temannya besar-besar.Tapi entah dengan sekarang, setelah semalaman hujan angin begitu besar Gemblung sama sekali tidak dapat membayangkan beberpa perahu yang berisi puluhan nelayan menghadapi hujan dan angin seperti semalam.Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan mereka?
                Tidak hanay Gemblung yang mencemaskan mereka.Semua tetangga yang bapak atau abangnya berangkat melaut mencemaskan mereka.Sebab angin semalam benar-benar besar!!!
                “Blung, ayo balap renang!” teriak Wowo diantara anak-anak lain.Gemblung menggelengkan kepala,kerisauannya mengalahkan kesenangannya balap renang seperti yang biasa dilakukan bersama teman-temannya.Somad juga bertahan.Ia pun tak menunjukkan minatnya untuk berenang.Disamping kirinya sudah berdiri Eko, Gani dan Lastri.Mereka berdiri berjajar membentuk pagar betis.Tujuan mereka sama, menunggu kepulangan bapak-bapaknya!
                Pukul 10.00 wib pagi menjelang siang, belum ada tanda-tanda kepulangan barang satu sampanpun.Orang-orang yang menunggu mulai gelisah.Yang ditunggu belum datang juga.Anak-anak yang berenang sudah naik kedaratan dilanjutkan dengan bermain kucing-kucingan diatas daratan.Suasan pantai masih ramai dalam kegelisahan.Gemblung tenggelam dalam pikirannya sendiri.Ia naik kedarat dan diikuti Somad, Eko, Gani dan Lastri.Yang duduk membentuk setengah lingkaran.Tidak ada yang banyak bicara, pandangan mereka terpaku kearah laut sejauh mata memandang.Berharap dari ujung pandangan mereka muncul yang selama ini mereka tunggu.
Pukul 12.00 wib tengah hari, matahari tepat berada diatas kepala.Sebagian orang sudah meninggalkan pantai kembali kerumahnya masing-masing.Gemblung dan teman-temannya masih duduk dibawah sebatang pohon besar yang rindang.Air laut mulai surut, gelombang-gelombang kecil menerpa batu-batu karang dipinggir pantai.
                “Gemblung, pulang dulu nak!” teriak ibu Gemblung dari balik punggung Gemblung.Gemblung menoleh kearah suara ibunya “Makan dulu nak!” sahut ibunya sambil melambaikan sebelah tangannya.Gemblung nampak enggan meninggalkan tempat duduknya namun bersama kawannya mereka sepakat  akan kembali lagi ketempat itu setelah makan dan sholat dhuhur. Kelima anak itu berhamburan menuju rumahnya masing-masing.Gemblung masuk kerumah panggung berdinding bilik dan beratap serabut.Ibunya sedang berada didapur ketika Gemblung menghampirinya.
                “Makan sama apa bu?” Tanya Gemblung sambil duduk bersila dihadapannya sebakul nasi  dan lauk pauk yang sudah siap saji “Wow, ada sambal!” teriak Gemblung, air liurnya hampir saja meleleh kalau tak segera ditahan lidahnya.
                “Ayo, makan dulu, dari tadi kamu belum makan!” ujar ibunya seraya menyiduk sesendok nasi dari bakul dan diberikannya kepada Gemblung “Iya, bu! Karena menunggu bapak, aku hampir lupa makan!” jawab Gemblung “Semoga tidak terjadi apa-apa dengan bapakmu!” ibu Gemblung menyiduk nasi untuknya.Makanlah kedua anak beranak itu dengan perasaan harap-harap cemas.
                Satu jam kemudian Gemblung sudah berlari menuju pohon tempatnya berteduh dipinggir pantai.Ia duduk sendiri sambil menunggu teman-temannya datang.Disebarkannya pandangannya kesetiap sudut ujung laut.Tapi perahu-perahu itu belum tampak juga.Matahari sudah turun sepenggalahan.Panasnya sudah tak terlalu menyengat.Satu persatu teman-teman Gemblung bergabung bersamanya, melanjutkan masa-masa penantiannya.Lama-kelamaan pantai kembali dipenuhi orang-orang yang bermain-main,yang berenang aatau sekedar berdiri menghadap laut.Pantai kembali ramai, tapi perahu belum datang juga.Gemblung semakin gelisah ‘apa yang terjadi dengan bapak? Ya Allah selamatkanlah bapakku!’ pinta Gemblung dalam hati.Kegelisahan juga tampak pada Somad, Eko, Gani dan Lastri serta orang-orang yang berdiri menunggu sanak familinya melaut.
                Pukul 14.30 wib dari kejauhan sebuah titik kecil bergerak perlahan-lahan.Gemblung mengucek-ngucek kedua matanya, inginmemastikan bahwa titik itu sedang bergerak kearahnya.Ternyata orang-orang pun melihatnya.Mereka yakin itu perahu nelayan. Setelah lama menunggu, benarlah bahwa itu adalah salah satu perahu nelayan mereka yang kembali.Orang-orang bersorak kegirangan “Woooi, mereka kembali!” teriak seorang lelaki muda.Tanpa diperintah orang-orang langsung menghampiri bibir pantai untuk menyambut perahu itu.
                Termasuk Gemblung, Somad,Eko,Gani dan Lastri.Merka berlari secepat-cepatnya menuju bibir pantai. “Benar itu mereka!”  Teriak Somad sambil berlari. Merka harus menunggu beberapa saat untuk dapat memastikan perahu siapakah yang datang? Gemblung berharap semoga itu perahu yang ditumpangi bapaknya.Perahu mulai mendarat, sebuah tali dilemparkan kesauh tiang.Satu persatu para nelayan itu turun disambut keluarganya masing-masing.Benar ini perahu yang ditumpangi bapaknya,namun kemana ia? Gemblung bertanya sendiri dalam hatinya.Soalnya bapaknya pergi bersama bapaknya Somad,Eko,Gani dan Lastri dan mereka sudah turun dari perahu.Sementara bapaknya Gemblung belum terlihat.Gemblung lantas menghampiri pak Sulaiman, bapaknya Somad “Pak, bagaimana bapak saya apakah ia selamat?” Tanya Gemblung hampir terbata.”Ya, bapakmu masih ada didalam masih mengurus ikan-ikannya!” sahut pak Sulaiman yang segera memeluk anak dan istrinya.
                Gemblung segera menaiki perahu dengan lincahnya.Didapatinya bapaknya sedang memasukkan ikan-ikan kedalam jaring-jaring.”Bapak!” teriak Gemblung,lelaki setengah baya didepannya mengangkat wajahnya “Untunglah bapak selamat, kami sangat mencemaskan bapak!” Gemblung membantu bapaknya mengurus ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan “Alhamdulillah, bapak masih diselamatkan oleh Allah, badai semalam memang besar, perahu ini pun hampir tenggelam.Untung saja kita cepat-cepat mengeluarkan air laut yang masuk!” cerita bapaknya mengenai kisah semalam ditengah laut menghadapi hujan badai yang cukup besar. “Bapak juga mohon perlindungan kepada Allah, agar bisa pulang dengan selamat!”sahut bapaknya sambil memindahkan satu jarring ikan.”Tapi, apa pun kejadiannya yan terserah kepada Allah saja mau diapakan nasib bapakmu dan semua teman bapak ini, ternyata, kamu lihat sendiri bukan, bapak baik-baik saja!” Tanya bapaknya sambil mendelik kearah Gemblung.Gemblung terpana.Pengalaman bapaknya begitu dahsyat.Namun ia dapat mengatasinya dengan perasaan tenang. “ayo, bawa ikan-ikan ini, kita jual kepada pak Doris, sisanya berikan untuk ibumu!” suara bapak Gemblung mengagetkan lamunannya.Gemblung bergegas membawa satu jarring ikan untuk dijual kepada tengkulak ikan didekat pantai.Gemblung melangkah dengan dengan perasaan lega, bapaknya sudah kembali, bapaknya selamat menghadapi badai, bapaknya memang seorang pelaut!!!! *****

Jumat, 18 Maret 2016

Cerpen Linda Novlinda 2010



AMIEN
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 21 Mei 2010



                Namanya Amien.Anak lelaki berusia 15 tahun.Kilitnya berwarna sawo matang.Tinggi kurus.Wajahnya cukup manis dan pandai bergaul. Amien, siswa pindahan dari SMP Negeri di Bogor.Menurut kabar Amien pindah kesekolah ini disebabkan kasus yang menimpanya.Kasus yang menyebabkannya harus hengkang dari sekolah asalnya.Dan SMP Kenang adalah pilihannya untuk menyelesaikan sisa kelas 3nya.Amien bukan termasuk golongan orang kaya.Tapi pergaulannya menyebabkan gaya hidupnya seperti orang kaya!
                Kasus Amien ini menarik perhatian Sarah.Guru bahasa Inggris yang masih muda dan menaruh perhatian khusus pada kasus-kasus pergaulan anak muda saat ini. Sarah berniat mempelajari latar belakang Amien dengan caranya sendiri.Pertama datang kesekolah ini, Amien datang bersama orang tuanya.Didepan bapak kepala sekoah Amien tampak seperti anak pendiam dan penurut.Sebelum pak kepala sekolah menerima Amien sebagai salah satu siswanya di SMP Kenanga yang dipimpinnya.Terlebih dulu pak kepala sekolah mewanti-wanti agar Amien bersedia mengikuti tata tertib disekolahnya.Jika tidak, ia terancam dikeluarkan lagi dari sekolah ini.
                Bagi Sarah ini tugas baru yang menyenangkan, yang akan mengasah kemampuannya dalam hal membantu orang lain dalam mengeluarkan yang terbaik dari dalam dirinya.Dengan mengandalkan pengetahuan Psycologi yang pernah dipelajarinya dari buku-buku para ahli Psicologi terkenal baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.Serta tentu saja dengan memohon pertolongan Allah swt.
                Sarah mulai membuka data-data tentang Amien, latar belakang keluarganya dan kasus yang telah menimpanya.Narkoba! Amien sudah terjerumus dalam pergaulan yang merugikan dirinya sendiri.Bahkan lambat laun tingkah lakunya telah merugikan orang lain.Menurut teman sekelasnya,Amien telah menjual beberapa celana jeansnya bahkan milik temannya sendiri hanya untuk mendapatkan beberapa butir tablet ectasy yang akan membawanya terbang kealam mimpi.Kemarahan teman-temannya membuat Amien dikeroyok sampai babak belur.Mau tak mau ia harus angkat kaki dari sekolahnya. Sebab teman-temannya mengancam, jika Amien masih bersekolah disana keselamatannya tidak akan terjamin. Dan disekolah ini, dihadapan bapak kepala sekolah Amien berjanji akan mengikuti tata tertib sekolah dan melaksanakan kegiatan belajar sebagaimana seharusnya seperti siswa yang lainnya.’Semoga janji itu tulus eluar dari hati, jika kamu benar-benar ingin berubah’ batin Saran berharap.
                “Bu, Amien tidur!” teriak Yudi yang duduk dibangku paling belakan disamping Amien.Sarah sedang menerangkan Present Continous Tense lansung berpaling ketempat duduk Amien.Yudi benar, dilihatnya Amien sedang menelungkupkan kepalanya.Kedua tangannya menjadi alas kepalanya.Sebetulnya Sarah tahu dari tadi Amien sedang tidur.Tapi ia berniat menegurnya nanti setelah pelajaran usai.Teriakan Yudilah yang membuat ia harus menegur Amien saat itu juga.
                “Min, banguuuun! Teriak Duyeh, sang ketua kelas diikuti suara yang lain. Yudi mengguncang-guncang tubuh Amien.Amien mengangkat kepalanya, dikucek-kuceknya kedua matanya yang merah “Ngantuk Bu!” suara Amien berat sekali “Huuuuu…!!!” sambut suara seisi kelas “Kamu gadang lagi Min?” Tanya Sarah dengan lembut.Amien menganggukkan kepalanya “Ibu kan sudah bilang, anak seusia kamu jangan terlalu banyak bergadang.Akibatnya jadi seperti ini.Kamu jadi tidak konsentrasi belajar “ Sarah menegaskan suaranya.Amien mengedip-ngedipkan kedua matanya menahan rasa kantuknya.”Sekarang kamu datang kesekolah mau apa?” lanjut Sarah “Mau tidur,Bu!” jawab Amien acuh tak acuh “Huuu…kalau mau tidur mah tidak usah pakai seragam dong jang!” sungut Nani siswi terpandai dikelas ini “Kalau mau tidur dirumah saja!” timpal Iwan “Yee…sekarang kan ada pelajaran Bu Sarah!” Balas Amien.Serentak anak-anak yang lain memonyongkan mulutnya.Sebel.”Ya sudah,Amien, nanti ibu mau bicara sekarang kita lanjutkan pelajaran!” Sarah kembali menerangkan.
                “Coba sekarang ceritakan pada ibu, apa yang sudah kamu lakukan tadi malam?” Tanya Sarah diruang kantor sewaktu istirahat. “Eueu, anu bu, teman-teman kost saya tadi malam ngajak main catur.Lagi pula waktu itu saya tidak bisa tidur bu!” Amien meremas-remas kedua tangannya “Kenapa?” Tanya Sarah penasaran “Eueu itu bu, ingat terus kepada ibu!” snyum tipis tersungging dari bibir tipisnya. Sarah mendongak kaget.Tidak disangka Amien akan mengatakan kalimat seperti itu.
                Beberapa minggu ini, setelah kedatangan Amien.Sarah memang memberi perhatian khusus kepadanya.Tidak lain untuk mengorek dan mempelajari latar belakang kasus yang menimpanya.Sarah sering mengajak Amien ngobrol saat istirahat atau pulang sekolah sesekali bercanda dengannya layaknya seorang teman.Amien memang pandai bergaul.Bahkan terhadap gurunya sendiri pun Amien dapat menyesuaikan diri dan menyenangkan.Sarah sangat menikmati pergaulannya dengan AmienSekaligus, sedikit demi sedikit Sarah dapat memahami kenapa Amien dapat berlaku demikian.
                “Bu, perhatian yang ibu berikan kepada saya sungguh, sangat berarti bagi saya.Maukah ibu terus memberikannya kepada saya?” pinta Amien,kedua matanya mulai berkaca “Sebetulnya saya sudah ingin lepas dari obat-obat terlarang itu.Tapi setiap saya gelisah, saya tidak dapat menahannya! Teman sekost saya memiliki beberapa butir.Saya minta kepadanya dengan jaminan jam tangan saya.Habis mau bagaimana lagi, saya tidak tahan,Bu…!” Tangis pilu pun membuncah.Sarah mendengarkan cerita Amien dengan seksama ‘Duh, sakit rasanya hati ini, Ya Allah, apa yang harus saya lakukan?’ batin Sarah menggiris “Kamu suka sholat?” Sarah menatap wajah Amien dengan lekat.Amien menggelengkan kepalanya.”Kalau begitu, cobalah kamu belajar sholat.Mintalah pada Allah agar kamu diberi kekuatan untuk berhenti dari obat-obat terlarang itu!” tutur Sarah member saran dengan hati-hati dan berharap Amien dapat mengerti dan melakukan sarannya.Amien manggut-manggut “Baik Bu…Bu, I love you!” Amien menatap wajah Sarah tak berkedip.Setelah memanggutkan kepalanya Amien berlalu dari hadapannya.
                Sudah hampir sebulan Amien tidak kelihatan.Tidak hadir dikelas, ditempat kostnya pun tak ada.Duyeh sang ketua kelas, mencari informasi tentang amien atas permintaan Sarah.Dengan siapa saja selama ini Amien bergaul, dan apa yang sudah terjadi pada diri Amien hingga ia menghilang begitu saja???
                Sampai suatu hari,Duyeh dan Yudi menghadap sarah diruang kantor pada waktu jam pertama akan dimulai.”Bu, kemarin kami datang ketempat kostnya Amien dan menanyakan perihal Amien kepada ibu kostnya.Katanya Amien pulang kerumah orang tuanya di Bogor.Sampai sekarang belum pulang juga!” Duyeh berhenti sejenakKemudian mengambil nafas dalam-dalam ‘Yud, kamu saja yang cerita!” serunya kemudian.Yudi menggelengkan kepalanya “Kamu saja!” jawab Yudi “Ada apa?” Sarah semakin penasaran “Apa yang terjadi pada diri Amien?” tiba-tiba rasa khawatir merayapi perasaannya.
                “Begini bu, menurut Andi, teman sekostnya Amin kabur dari tempat itu!” Duyeh menghela nafasnya “ Katanya Amien menjual jaket dan sepatu milik Bono, anak SMK yang kost disana juga.Terus celana jeans milik Ramli dan jam tangan milik Encep tentu saja mereka marah karena barang-barang itu sudah ada ditangan Akoy, Akoy itu anak yang suka mengedarkan dan menjual obat-obatan terlarang itu” Duyeh mengatur nafasnya Sementara dada Sarah berdebar-debar semakin kencang “Anak-anak dikostnya itu mengeroyok Amien sampai babak belur.Setelah itu Amien pergi bilang ke ibu kostnya sih mau pulang ke Bogor, tapi sampai sekarang dia belum pulang juga!” Duyeh menghempaskan nafasnya.Kening Sarah mengkerut.Dibayangkannya wajah manis milik Amien yang tengah babak belur seperti yang diceritakan Duyeh baru saja.Astaghfirullah….Ugh! Sarah merasakan nyeri didadanya dan merasa tidak kuat lagi membayangkan keadaan Amien yang memprihatinkan “Amien, semoga Allah mengampunimu!” pekik Sarah dalam hati.Ada sesal menggumpal didadanya karena apa yang sedang dipelajarinya belum usai.Tugasnya masih setengah berjalan.Tapi Amien sudah meninggalkannya…..****
               

Selasa, 12 Januari 2016

Cerpen Linda Al-Husna 2008




MAY
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 18 Mei 2008


                Sore itu May datang lagi ketempat kostku.Wajahnya murung syarat dengan kesedihan.May sudah duduk disamping rak buku sambil membuka halaman sebuah majalah.Aku baru saja selesai mandi ketika kutemui May. “Hai, maaf ya lama menunggunya!“ kataku sambil masuk kedalam kamarku dengan perlengkapan mandi.Kutaruh gayung dan handuk dibelakang pintu.Kuambil sisir dan merapikan rambutku yang tebal.Rambut ala salah satu icon produk shampoo.Kemudian aku duduk didepan May yang sedang asyik membaca majalah. “Baru pulang ya, Sih?” Tanya May masih menunduk membolak balikkan tiap halaman majalah.May adalah teman sekelasku dikampus.May orang terpandai dikelas namun tak jarang setiap ada kesulitan selalu datang menemuiku. Tapi kadang-kadang menjaga jarak denganku seolah tidak ingin berteman denganku.Teman-teman sekelasku menilai May dan aku adalah kawan bersaing dalam mendapatkan nilai terbaik dalam setiap mata kuliah.Tapi kali ini aku tak tega melihat wajah May yang demikian ‘pasti sedang butuh sesuatu!’ batinku.”Iya, seger rasanya sudah mandi, capeknya jadi hilang! Oya, kenapa lagi? Kayaknya habis menangis ya?” aku coba menebak apa yang sedang terjadi pada May.Matanya sembab, ujung hidungnya memerah.Tidak salah lagi May pasti baru menangis.
                “Sih, apa kamu mau menolongku?” May memelas sambil meletakkan majalah disampingnya. “Menolong apa?” tanyaku penasaran “Aku belum mengerjakan PR Psycologiku.Padahal PR itu harus selesai besok.Aku tak sempat mengerjakannya.Waktuku habis untuk mengerjakan tugas yang lain.Sementara untuk mencari buku sumber itu aku sudah tak punya waktu.Sih, kamu mau bantu aku kan? Kalau kamu punya referensinya bolehkan aku pinjam barang sehari ini saja? Besok aku kembalikan lagi.Aku janji!” May menjelaskan maksud kedatangannya.
                May memang rajin dan pintar.Sebetulnya May selalu ingin mendapatkan nilai sempurna dalam setiap mata pelajaran.Makanya belajarnya sangat tekun.Usahanya sangat keras.Yang membuatnya tak pernah mau menggabungkan diri dengan teman yang lain kecuali jika ada kemauannya.Tapi jika harus belajar kelompok, sebagian teman-teman memilih dengan May sebab enak sih, semua tugasnya dikerjakan sendiri oleh May sementara yang lain,hanya tahu beres.Buatku May bisa menjadi teman yang membanggakan sekaligus menyebalkan jika keinginannya tidak terpenuhi.Seperti kali ini, selalu begini.Jika ada kemauannya May selalu pasang wajah mengiba yang membuat siapa pun jadi jatuh kasihan padanya.
                Setelah berpikir beberapa menit, aku mengambil buku Psycologiku dan memberikannya pada May “Sebenarnya, aku sudah mengerjakan tugasku tapi aku masih membaca buku ini.Ada bagian yang belum kufahami benar.Tapi kalau kamu sangat membutuhkannya, ambil sajalah.Aku bisa membacanya setelah kau kembalikan!” Kusimpan buku Psycologiku didepan May.May langsung meraih buku itu wajahnya berubah sumringah. “Asih, terimakasih! Kali ini kamu benar-benar menolongku, sekali lagi terimakasih….!” May mendekap buku kemudian pamit padaku sambil mencium kedua pipiku.Seperti biasa aku hanya tertegun, sampai May menghilang dari ruanganku.
                “Apa? May? Mau apa lagi dia datang ketempat kamu?” Seloroh Raya malam itu dikamarku.Aku mengerti betul kenapa nada pertanyaan Raya seperti itu.Raya sangat tahu apa yang sudah pernah dilakukan May padaku “Sih, bukannya si May itu suka menyakiti kamu?” Raya meminta penjelasanku.Kuanggukkan kepalaku “May mau pinjam buku Psycologi, katanya dia mau mengerjakan tugasnya.Wajahnya mengiba.Aku jadi kasihan padanya….” Aku tidak melanjutkan kalimatku.Kupegang buku PSycologi yang kemarin dipinjam May dan tadi sudah dikembalikan sesuai janjinya. “Kasihan apanya,Sih? Bukankah dia pernah menghianati kamu? Menjelek-jelekkan kamu kepada teman-teman yang lain kalau giliran kamu yang dapat nilai bagus? Bahkan si Mina saja pernah didekatinya.May mengatakan kepadanya kalau kau ingin mencari perhatian dosen.Terus si Jeni juga pernah mengatakan suatu hari si May pernah marah-marah, pas ditanya rupanya dia sedang kesal sama kamu dan bla bla bla…!” Raya mengingatkanku pada kejadian-kejadian yang membuatku sering menangis karenanya. Entah mungkin karena aku yang cengeng, entah sikap May yang terlalu berambisi ingin menjadi yang terbaik dikelas hingga harus melumpuhkan yang lain yang dianggap rivalnya!
                “Ray, kemarin May hampir menangis didepanku.Aku jadi tidak tega melihatnya!” walaupun setelah ujian semester yang lalu, ada beberapa nilai mata kuliah yang aku lebih baik dari nilainya. May tampaknya tidak bisa menerima keadaan ini. May mendatangi dosen bersangkutan dan mempersoalkan nilaiku dibandingkan dengan nilai yang didapatinya. Didepanku dan May, dosen itu menjelaskan bagian-bagian mana yang aku lebih unggul dari jawabannya.May menyatakan mengerti, tapi sikapnya padaku tak ramah.Aku hanya bisa menelan ludah melihat sikap May demikian.Itulah May yang selalu ingin tampil sempurna.
                “Ray, aku jadi kasihan pada May!” kataku sambil melirik Raya yang sedari tadi mendengar ceritaku tentang May “Kasihan bagaimana?” Tanya Raya penasaran “Minggu yang lalu, aku kerumahnya.Tidur ditempatnya.Disana May menceritakan padaku kenapa ia harus melakukan ini.Kamu mau tahu kenapa?” tanyaku.Raya menganggukkan kepalanya.”Ayahnya seorang tokoh masyarakat dilingkungannya ia seorang yang terhormat sekaligus gila hormat.Makanya ayahnya menginginkan May untuk selalu menjadi menjadi orang yang dibanggakan, sebab terhadap kakak May ayahnya sudah kehilangan harapan itu.May adalah putri bungsunya yang sangat diharapkan menjadi kebanggaannya dalam bidang apa pun!” Aku menarik nafas dalam, sebelum akhirnya kehembuskan lagi perlahan-lahan. “Tapi, tidak harus pakai cara kotor begitu kan Sih?” Tanya Raya.Aku hanya memagut.Beruntung memiliki sahabat yang sudah dapat menilai cara mana yang harus ditempuh untuk mendapatkan kesempurnaan bagi diri sendiri maupun bagi orang lain dan pandangannya. “May sedang berusaha menyenangkan hati ayahnya.May tampaknya belum tahu cara menyenangkan yang dibenarkan agama.Barangkali kita harus lebih bisa memakluminya!” jawabku lirih.Raya menganggukkan kepalanya.”Ya, walaupun kadang sikapnya keterlaluan!” Raya mendengus sambil membuka majalah Islami langgananku edisi terbaru.Tiba-tiba Raya menunjuk sebuah tulisan “Hei Sih, lihat artikel ini, sepertinya menarik sesuai dengan pembicaraan kita baru saja ‘Menjadi Pribadi Yang Menyenangkan’” Raya membaca kalimat demi kalimat dalam artikel itu.Aku melongok sebentar. Oya, aku sudah baca artikel itu! Ya, memang sesuai dengan pembicaraanku dengan Raya baru saja.Dari artikel itu dijelaskan kiat-kiat memiliki pribadi yang menyenangkan tanpa harus ada yang dikorbankan!
                Usai membaca artikel itu Raya langsung memberi usul “Sih, bagaimana kalau majalah ini dipinjamkan saja pada May, biar dia baca isi artikel ini.Siapa tahu usai baca artikel ini dia mendapatkan petunjuk.Menjadi Pribadi Yang Menyenangkan!” Raya masih memegang majalah itu.Aku hanya menganggukkan kepala.Setuju!
                Dan sore itu, May datang lagi ketempat kostku.Aku baru saja menyelesaikan sholat asharku diakhiri dengan beberepa potong do’a yang kupanjatkan pada Tuhanku.Ketika May mengetuk pintu beberapa kali.Masih menggunakan mukena, kubuka pintu depan.Kulihat May sedang berdiri didepannya menghadap kearahku. “Apa aku mengganggumu, Sih?” May masuk keruang kostku dan duduk disamping rak bukuku. “Tidak, aku baru selesai sholat!” kataku sambil membuka mukena dan merapikannya.May mengamati wajahku yang sembab “ Sih, kamu habis menangis ya?” May mulai menyelidikiku.Kuusap wajahku dengan kedua telapak tanganku.Tangis dalam doa ini tak bisa kuhindarkan dari pengamatan May.Aku hanya mesem sedikit “Ya, barusan habis berdoa!” jawabku “Sih, kamu berdoa apa saja? Sampai harus menangis begitu?” Tanya May datar. “Ya, apa saja yang membuat resah atau sakit perasaanku, semuanya kulaporkan pada Tuhanku.Allah kan maha mendengar dan selalu bersedia mendengar rintihan hamba-hamaba-Nya yang merintih kepada-Nya.Itu saja!”
                “Begitu ya? Terus tadi kamu melaporkan apa?” May tampaknya penasaran dengan tangisanku ini.Dikelas aku memang tak pernah menunjukkan kelemahanku seperti ini.Tapi disini May sudah melihat kelemahanku, menangis! “Cukuplah aku dan Tuhanku yang tahu apa yan sedang kurisaukan saat ini!” jawabku seadanya.Aku tak mau May mengetahui aduanku ini.Bagaimana jika aduanku ini tentang sikapnya yang kadang menyulitkanku?
                “Sih, aku ingin seperti kamu.Bisa mengadukan semua hal kepada Allah.Kamu tahu…selama ini, aku juga bermasalah dengan diriku sendiri.Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan dalam hidupku ini.Kadang merasa putus asa tidak bisa membahagiakan ayahku setiap saat.Aku harus bangun tidur dini hari dan membuka pelajaran agar aku bisa mendapatkan nilai terbaik.Apa kamu pikir ini tidak melelahkan?” May mulai mengadukan masalahnya padaku.Wajah putihnya berubah kemerah-merahan.Dari bola matanya muncul genangan air mata yang berusaha ditahannya agar tak jatuh.Aku hanya bisa diam menyimak kisah dibalik prestasi May.Tiba-tiba aku teringat artikel yang pernah dibaca Raya beberapa hari yang lalu.Aku menghadapkan tubuh kearah rak dan mencari majalah langgananku edisi terbaru.Aku menunjukkan majalah itu pada May “Cob baca majalah ini! Siapa tahu majalah ini akan mengajarkanmu sesuatu yang sedang kamu butuhkan!” ujarku sambil menyodorkan majalah itu.May menerimanya.Satu dau butir air mata jatuh dikedua pipinya.”Sih,aku banyak salah ya sama kamu?” Tanya May tiba-tiba.Aku termangu.Sesaat kugelengkan kepalaku “Kalau pun ada, aku sudah memaafkannya!” jawabku.Seandainya May tahu seberapa sering aku menangis karena sikapnya? Ah, sudahlah…
                Pagi ini,  udara cerah.Arus lalu lintas berjalan seperti biasanya.Tiba digerbang kampus kulangkahkan kakiku menuju kelas.Ada rasa bahagia bersama sejuknya udara pagi ini.Membuat raut muka menjadi mudah menyebarkan seulas senyum kepada semua orang yang kujumpai.Dipintu kelas, Raya langsung menghampiriku.Memberondongku dengan berbagai pertanyaan “Eh, bagaimana dengan si May? Sudah datang ketempat kamu lagi belum? Bagaimana ceritanya?” Raya memboyongku menuju tempat dudukku.Setelah merapikan tas, aku duduk disebelah Raya.Siap menceritakan apa yang terjadi pada May kemarin sore.
                “Kemarin, dia datang lagi ketempatku waktu itu aku baru selesai sholat ashar” kataku mulai bercerita “Dia melihatku habis menangis.Dia jadi cerita macam-macam.Aku dengarkan saja curahan hatinya.Buntutnya, aku berikan dia artikel yang kamu tunjukkan waktu itu” lanjutku.Raya menyimak ceritaku dengan seksama “Hasilnya seperti apa ya?” Tanya Raya penasaran?” Aku menggelengkan kepala ‘Mana aku tahu, aku juga belum bertemu lagi dengan May’
                Tiba-tiba seorang perempuan berbusana muslimah menghampiriku dengan Raya “Hai, Asih, terimakasih ya untuk majalahnya!” kata perempuan itu seraya menyodorkan sebuah majalah.Aku dan Raya terkesima dengan pemandangan baru dihadapan kami.Kuawasi raut wajahnya, suaranya aku kenal.Tapi, siapakah perempuan berbusana muslimah yang berdiri didepan aku dan Raya ini? Sesaat menimbang kemudian hampir bersamaan suaraku dan suara Raya berteriak “May!” May tersenyum, dari kedua matanya muncul cairan bening yang sedang ditahannya.Aku langsung merangkul bahunya dan memeluknya erat-erat “Maafkan aku, Asih!” kata May dalam pelukanku.****