REMAJA BINGUNG
Oleh: Linda Al-Husna
Cianjur 13 Juni 2010
Hal yang paling aku suka melakukannya setiap sore
adalah duduk ditepi lapang sambil mengamati
pemandangan sekitar atau membaca buku.Kegiatan ini sudah sering kulakukan
yang akhirnya menjadi kebiasaan.Jika dalam seminggu aku tidak duduk ditepi
lapang didekat rumahku, aku merasa ada
sesuatu yang hilang.Ya, kegiatan ini telah berubah menjadi kebutuhan.Setiap
sore setiap anak keluar rumah dan bermain bersama dilapang.Bermacam-macam
permainan dilakukan.Sampai lapang yang seluas ini mendadak menjadi terasa
sempit!
Seperti sore ini, aku duduk ditepi lapang,
disampingku pohon setengah badan berdiri menopang badanku.Seperti biasa pula,
kali ini aku membaca buku kesukaanku, yang baru kupinjam dari perpustakaan
daerah ditempatku.Kunikmati suasana sore yang semarak, bersama anak-anak semua
umur, dan cuaca yang mendukung.Sesekali terdengar teriakan beberapa anak-anak
lelaki, atau suara ketawa ketiwi dari anak perempuan.Semua mengalun begitu
saja.Anehnya suara-suara itu sama sekali tidak mengganggu kegiatan
membacaku.Aku larut dalam cerita yang sedang kunikmati.
Sedang asyik membaca, seorang anak lelaki remaja
duduk disampingku.Keringat mengucur dari wajah dan sekujur tubuhnya.Ia nampak
lelah sekali.Sambil kedua tangannya menyapu kedua siku tangannya.Aku melihatnya
sebentar.Anak itu dari kampung sebelah.Ia sering sekali bemain bola ditanah
lapang ini setiap sore.Bahkan kalau mungkin sudah jadi pemain inti dalam
grupnya.Sesekali ia meneriaki temannya yang masih main di tengah
lapang.Teriakannya keras dan kencang.Telingaku hampir pecah.Sekali lagi aku
melihat kepadanya.”Kenapa berhenti main bolanya?” tanyaku, seolah tak tertanggu
oleh teriakannya.”Gantian teh!” katanya.Rupanya ia sedang kebagian ganti
pemain.Aku mengangguk.Mau kubaca lagi buku yang kupegang ini, rasanya terlanjur
malas.Aku jadi ikut memperhatikan permainan bola, yang kali ini diisi oleh
anak-anak kampung sebelah.
Permainan berlangsung seru sekali.Aku turut meneriaki
para pemain bola yang lincah dan semangat.Anak disebelahku pun demikian.Sampai
beberapa saat tak ada suara,khusuk dengan permainan didepan kami.Sesekali anak
itu mengepalkan tinjunya dan mengutuk dirinya sendiri.Aku terharu melihat
kesungguhannya menikmati pertandingan sore ini.Semangat perjuangannya yang tak
seperti aku ketika seusianya.Semangat untuk memenangkan pertandingan,semangat
untuk maju kedepan dan bertarung.Terlintas dalam hati kekagumanku
kepadanya.Kekaguman seorang yang lebih tua kepada yang lebih muda.Aku ingin
bertanya sesuatu tapi kekhusukanya mengurungku melakukannya.” Ayo, bud, hajar
terus!!!! “ teriaknya sekali lagi.Semangatnya tak lentur oleh kelelahan para
pemain yang dijagokannya.” Lempar kekiri terus…terus..terus!!!! “ Anak itu
berdiri memberi semangat.Aku melihat kearah wajahnya dengan mengangkat
kepala.Anak ini, tipe remaja yang menggairahkan dalam hidupnya.Anak yang tak
pernah merasa bosan dengan waktu yang dimilikinya.Diusianya yang masih belia
ini, seharusnya ada orang yang membantu membimbingnya menemukan diri dan
kemampuannya.Aku tidak meragukan perhatiannya kepada bidang ini, sepak bola!
Begitu sangat antusias dan punya potensi untuk menjadi seorang pemain
professional.Tapi aku tidak tahu nasibnya akan seperti apa, jika potensi ini
tidak dikelola dengan baik secara proporsional.
Anak itu duduk kembali, tinggi kami jadi sejajar.”
Berapa usiamu dik?” tanyaku setelah kesempatan itu kudapatkan.”19 tahun teh !”
jawabnya.”Baru lulus sekolah ya?” tanyaku kemudian.Anak itu menoleh padaku dan
mengangguk.”Dilanjutkan?” aku menatap wajahnya.Ia mengeleng.”Kerja?” sekali
lagi ia menggelengkan kepalanya.”Lalu?” tanyaku semakin penasaran.” Mungkin
nganggur!!!” jawabnya datar.Aku menganggukkan kepalaku.Mengerti kemana arah
kalimatnya.Kampung disebelahku memang bukan komplek elit atau komplek
pemikir.Mereka penduduk dengan pendapatan standard.Yang hanya cukup untuk
memenuhi kebutuhan primer saja.”Kamu suka sepak bola ya?” tanyaku “ wah, kalau
itu sih jangan ditanya lagi teh!!!!” katanya sumringah.”Berapa kali latihan
dalam seminggu?” “ Dua kali teh, hari jumat dan minggu!” jawabnya lagi.” Ada
minat sekolah sepak bola?” tanyaku ingin tahu “Kalau ada yang membiayai sih
saya mau teh!” jawabnya singkat dan polos.” Katanya kalau sekolah sepak bola
harus punya pengetahuan keterampilan dasar tentang sepak bola ya?” kucoba
berspekulasi dengan dunia persepak bolaan
“ Katanya sih begitu, makanya
kami sering main bola dan mengikuti setiap pertandingan tiap tahun di
Kabupaten.Itu salah satu cara kami untuk menunjukkan bahwa kami ada!!!” kali
ini dia yang menjelaskan.”Begitu ya? Kalau gitu kamu tidak nganggur
dong…maksudku kamu punya sesuatu untuk dikerjakan? Menjadi pemain sepak bola
misalnya?” tanyaku.Anak itu tersenyum sedikit barangkali mau mengakui begitulah
adanya.Selepas keluar dari sekolah menengah atas ia dan teman-temannya
melakukan latihan-latihan.Meskipun tidak formal.Ya,seperti sore ini
disini,dilapang yang tak pernah sepi ini.
Adzan maghrib berkumandang, aku harus meninggalkan
tanah lapang yang menyenangkan.Senang sekali, sore ini aku mendapatkan sedikit
informasi tentang dunia sepak bola.Ternyata anak-anak kampung sebelah cukup
kreatif, dengan latihan yang dilakukan secara terus menerus tanpa berpikir
apakah mereka dibayar atau tidak.Pembelajaran mereka tetap berlangsung. Ya,
walau pada akhirnya mereka harus memikirkan dari mana mereka mendapatkan makan?
Atau keahlian apa yang harus mereka dapatkan selain sepak bola?
Usai sholat maghrib, kurenungkan kembali perkataan
anak lelaki yang kutemui dilapang tadi.Diusianya yang belia, dia tahu harus
berbuat apa? Walau pun awalnya hanya sebagai kesenangan.Lalu beberapa
pertandingan diikutinya.Semangat bermain bola semakin terlihat dan dikondisikan
menjadi sebuah profesi yang menyenangkan dan berpeluang.Apa pun bisa
dilakukan.Jadi, tidak ada alasan untuk menganggur.Dibayar atau tidak pekerjaan
itu sangat banyak.Dari yang terkecil sampai yang terbesar.Dari yang bersifat
pribadi sampai bersifat umum.Apa pun bisa dilakukan jika ada kemauan yang kuat.’Benar
juga apa yang dikatakan anak lelaki itu.Dia tidak ada minat melanjutkan
sekolahnya dengan alasan keuangan atau tak ada perhatian.Yang disukainya hanya
bermain sepak bola dimana-mana.Perlahan-lahan timnya mendapat undangan
persahabatan dilain tempat, itu artinya, ia sudah menjadi bagian dari tim dan
terbawa oleh timnya kedunia sepak bola yang disukainya.Jadi, apa yang harus
dipusingkan dengan masa depan yang sudah dimulai sedini mungkin? Harus
merisaukan apa?’
Ya, itu masalahku diusiaku 19
tahun.Usai lepas dari sekolah menengah aku tidak tahu harus berbuat apa.Bahkan
profesi yang ingin kugeluti saja aku tak tahu.Jujur saja aku kalah memulai dari
anak itu.Kalah menempatkan diri pada porsi seharusnya.Kupikir, tamat dari
sekolah ini aku bisa bekerja tapi rupanya kenyataannya tidak demikian.Entah
pola pikirku yang keliru entah apa yang dipelajari berbeda dengan kenyataannya.Ijazahku
hanya kusimpan saja sebagai kenangan.Sampai akhirnya baru kuketahui apa yang
ingin kulakukan dan kenyamananku melakukan sebuah profesi.Menulis juga sebuah
profesi,jadi seperti anak itu aku mulai menerjuni profesi ini dengan
sunguh-sungguh.Hanya bedanya, aku baru memulai sementara anak itu jauh sebelum
mengenal bahwa sepak bola juga bisa menjadi sebuah profesi yang
berpeluang.Makanya, diusia yang belia nampak sekali penguasaan diri dan aturan
permainannya.Hal itulah yang kukagumi darinya.Dari pembawaan dirinya memimpin
pasukannya.Pasukan sepak bola yang awalnya tak beruang.
Esoknya, habis mandi sore aku
duduk lagi ditanah lapang.Kuharap anak yang kemarin berbicara denganku datang
lagi.Dan bisa bicara lebih dalam tentang sepak bola dan angan-angannya,tepatnya
prospeknya.Kugenggam buku yang kemarin belum selesai kubaca.Pukul 16.00
wib,lapang masih sepi, biasanya orang-orang mulai berdatangan.Kali ini tidak!
Hanya beberapa anak kecil bermain sepeda mengelilingi lapang. ‘Barangkali belum
datang, biar kutunggu saja!’ batinku berharap sambil melihat kesekitar lapang
yang masih luas.
Lima halaman buku sudah kubaca
namun orang-orang atau anak-anak remaja itu belum juga bertambah.Yang bermain
masih anak-anak disekitar rumahku.Sementara orang yang kuharapkan belum
nampak.’Kemana mereka? Apa hari ini tidak latihan main bola?’ hatiku sedikit
gusar.Khawatir anak-anak dari kampung sebelah itu benar-benar tidak
datang,artinya aku tidak akan bertemu dengan anak lelaki itu.Anak yang
menyenangkan!
Pukul 17.00 wib, seorang anak
lelaki tanggung masuk ketanah lapang,ia menerbangkan layang-layang
ditengah-tengah lapang.Sampai layangan itu melayang diudara dengan keseimbangan
yang mapan.Dengan rasa penasaran yang tinggi,kuhampiri anak lelaki tanggung
itu.Yang sedang asik memperhatikan layangannya.”Hai dik, kamu tahu tidak
anak-anak kampung sebelah koq tidak main bola lagi disini ya?” tanyaku yang
kemudian ikut memperhatikan keseimbangan layangannya.” Ya tahu teh, mereka
sekarang sedang bertanding di kecamatan memperebutkan piala bupati.Melawan para
pemain bola dari kecamatan lainnya.Doakan mereka ya teh, semoga dapat piala
bergilir!!!” katanya seraya tangannya tak lepas memegang tali yang tersambung
ke layangannya.Ehmmm, aku memanggut “Terimakasih ya dik!” kutinggalkan anak
lelaki tanggung itu.Aku kembali ketempat asalku menghabiskan beberapa halaman
yang tersisa.
Sambil membaca, pikiranku
melayang ke rombongan pasukan anak-anak kampung sebelah.Dengan semangatnya yang
membara, sedang mempertontonkan dirinya di arena pertandingan.Itu yang
terpenting dalam sebuah pencarian jati diri.’Memperlihatkan
kemampuan diri didepan umum,kemudian orang lain menilai apakah seseorang itu
termasuk orang yang berbakat atau
tidak!’ Aku mengagumi usaha mereka, tanpa rasa yang berlebihan mereka terus
bermain,bermain dan bermain.
**********

