Rabu, 20 November 2013

Cerpen 1 Linda Novlinda 2010



REMAJA BINGUNG
Oleh: Linda Al-Husna
Cianjur 13 Juni 2010

                Hal yang paling aku suka melakukannya setiap sore adalah duduk ditepi lapang sambil mengamati  pemandangan sekitar atau membaca buku.Kegiatan ini sudah sering kulakukan yang akhirnya menjadi kebiasaan.Jika dalam seminggu aku tidak duduk ditepi lapang  didekat rumahku, aku merasa ada sesuatu yang hilang.Ya, kegiatan ini telah berubah menjadi kebutuhan.Setiap sore setiap anak keluar rumah dan bermain bersama dilapang.Bermacam-macam permainan dilakukan.Sampai lapang yang seluas ini mendadak menjadi terasa sempit!
                Seperti sore ini, aku duduk ditepi lapang, disampingku pohon setengah badan berdiri menopang badanku.Seperti biasa pula, kali ini aku membaca buku kesukaanku, yang baru kupinjam dari perpustakaan daerah ditempatku.Kunikmati suasana sore yang semarak, bersama anak-anak semua umur, dan cuaca yang mendukung.Sesekali terdengar teriakan beberapa anak-anak lelaki, atau suara ketawa ketiwi dari anak perempuan.Semua mengalun begitu saja.Anehnya suara-suara itu sama sekali tidak mengganggu kegiatan membacaku.Aku larut dalam cerita yang sedang kunikmati.
                Sedang asyik membaca, seorang anak lelaki remaja duduk disampingku.Keringat mengucur dari wajah dan sekujur tubuhnya.Ia nampak lelah sekali.Sambil kedua tangannya menyapu kedua siku tangannya.Aku melihatnya sebentar.Anak itu dari kampung sebelah.Ia sering sekali bemain bola ditanah lapang ini setiap sore.Bahkan kalau mungkin sudah jadi pemain inti dalam grupnya.Sesekali ia meneriaki temannya yang masih main di tengah lapang.Teriakannya keras dan kencang.Telingaku hampir pecah.Sekali lagi aku melihat kepadanya.”Kenapa berhenti main bolanya?” tanyaku, seolah tak tertanggu oleh teriakannya.”Gantian teh!” katanya.Rupanya ia sedang kebagian ganti pemain.Aku mengangguk.Mau kubaca lagi buku yang kupegang ini, rasanya terlanjur malas.Aku jadi ikut memperhatikan permainan bola, yang kali ini diisi oleh anak-anak kampung sebelah.
                Permainan berlangsung seru sekali.Aku turut meneriaki para pemain bola yang lincah dan semangat.Anak disebelahku pun demikian.Sampai beberapa saat tak ada suara,khusuk dengan permainan didepan kami.Sesekali anak itu mengepalkan tinjunya dan mengutuk dirinya sendiri.Aku terharu melihat kesungguhannya menikmati pertandingan sore ini.Semangat perjuangannya yang tak seperti aku ketika seusianya.Semangat untuk memenangkan pertandingan,semangat untuk maju kedepan dan bertarung.Terlintas dalam hati kekagumanku kepadanya.Kekaguman seorang yang lebih tua kepada yang lebih muda.Aku ingin bertanya sesuatu tapi kekhusukanya mengurungku melakukannya.” Ayo, bud, hajar terus!!!! “ teriaknya sekali lagi.Semangatnya tak lentur oleh kelelahan para pemain yang dijagokannya.” Lempar kekiri terus…terus..terus!!!! “ Anak itu berdiri memberi semangat.Aku melihat kearah wajahnya dengan mengangkat kepala.Anak ini, tipe remaja yang menggairahkan dalam hidupnya.Anak yang tak pernah merasa bosan dengan waktu yang dimilikinya.Diusianya yang masih belia ini, seharusnya ada orang yang membantu membimbingnya menemukan diri dan kemampuannya.Aku tidak meragukan perhatiannya kepada bidang ini, sepak bola! Begitu sangat antusias dan punya potensi untuk menjadi seorang pemain professional.Tapi aku tidak tahu nasibnya akan seperti apa, jika potensi ini tidak dikelola dengan baik secara proporsional.
                Anak itu duduk kembali, tinggi kami jadi sejajar.” Berapa usiamu dik?” tanyaku setelah kesempatan itu kudapatkan.”19 tahun teh !” jawabnya.”Baru lulus sekolah ya?” tanyaku kemudian.Anak itu menoleh padaku dan mengangguk.”Dilanjutkan?” aku menatap wajahnya.Ia mengeleng.”Kerja?” sekali lagi ia menggelengkan kepalanya.”Lalu?” tanyaku semakin penasaran.” Mungkin nganggur!!!” jawabnya datar.Aku menganggukkan kepalaku.Mengerti kemana arah kalimatnya.Kampung disebelahku memang bukan komplek elit atau komplek pemikir.Mereka penduduk dengan pendapatan standard.Yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer saja.”Kamu suka sepak bola ya?” tanyaku “ wah, kalau itu sih jangan ditanya lagi teh!!!!” katanya sumringah.”Berapa kali latihan dalam seminggu?” “ Dua kali teh, hari jumat dan minggu!” jawabnya lagi.” Ada minat sekolah sepak bola?” tanyaku ingin tahu “Kalau ada yang membiayai sih saya mau teh!” jawabnya singkat dan polos.” Katanya kalau sekolah sepak bola harus punya pengetahuan keterampilan dasar tentang sepak bola ya?” kucoba berspekulasi dengan dunia persepak bolaan         “ Katanya sih begitu, makanya kami sering main bola dan mengikuti setiap pertandingan tiap tahun di Kabupaten.Itu salah satu cara kami untuk menunjukkan bahwa kami ada!!!” kali ini dia yang menjelaskan.”Begitu ya? Kalau gitu kamu tidak nganggur dong…maksudku kamu punya sesuatu untuk dikerjakan? Menjadi pemain sepak bola misalnya?” tanyaku.Anak itu tersenyum sedikit barangkali mau mengakui begitulah adanya.Selepas keluar dari sekolah menengah atas ia dan teman-temannya melakukan latihan-latihan.Meskipun tidak formal.Ya,seperti sore ini disini,dilapang yang tak pernah sepi ini.
                Adzan maghrib berkumandang, aku harus meninggalkan tanah lapang yang menyenangkan.Senang sekali, sore ini aku mendapatkan sedikit informasi tentang dunia sepak bola.Ternyata anak-anak kampung sebelah cukup kreatif, dengan latihan yang dilakukan secara terus menerus tanpa berpikir apakah mereka dibayar atau tidak.Pembelajaran mereka tetap berlangsung. Ya, walau pada akhirnya mereka harus memikirkan dari mana mereka mendapatkan makan? Atau keahlian apa yang harus mereka dapatkan selain sepak bola?
                Usai sholat maghrib, kurenungkan kembali perkataan anak lelaki yang kutemui dilapang tadi.Diusianya yang belia, dia tahu harus berbuat apa? Walau pun awalnya hanya sebagai kesenangan.Lalu beberapa pertandingan diikutinya.Semangat bermain bola semakin terlihat dan dikondisikan menjadi sebuah profesi yang menyenangkan dan berpeluang.Apa pun bisa dilakukan.Jadi, tidak ada alasan untuk menganggur.Dibayar atau tidak pekerjaan itu sangat banyak.Dari yang terkecil sampai yang terbesar.Dari yang bersifat pribadi sampai bersifat umum.Apa pun bisa dilakukan jika ada kemauan yang kuat.’Benar juga apa yang dikatakan anak lelaki itu.Dia tidak ada minat melanjutkan sekolahnya dengan alasan keuangan atau tak ada perhatian.Yang disukainya hanya bermain sepak bola dimana-mana.Perlahan-lahan timnya mendapat undangan persahabatan dilain tempat, itu artinya, ia sudah menjadi bagian dari tim dan terbawa oleh timnya kedunia sepak bola yang disukainya.Jadi, apa yang harus dipusingkan dengan masa depan yang sudah dimulai sedini mungkin? Harus merisaukan apa?’
Ya, itu masalahku diusiaku 19 tahun.Usai lepas dari sekolah menengah aku tidak tahu harus berbuat apa.Bahkan profesi yang ingin kugeluti saja aku tak tahu.Jujur saja aku kalah memulai dari anak itu.Kalah menempatkan diri pada porsi seharusnya.Kupikir, tamat dari sekolah ini aku bisa bekerja tapi rupanya kenyataannya tidak demikian.Entah pola pikirku yang keliru entah apa yang dipelajari berbeda dengan kenyataannya.Ijazahku hanya kusimpan saja sebagai kenangan.Sampai akhirnya baru kuketahui apa yang ingin kulakukan dan kenyamananku melakukan sebuah profesi.Menulis juga sebuah profesi,jadi seperti anak itu aku mulai menerjuni profesi ini dengan sunguh-sungguh.Hanya bedanya, aku baru memulai sementara anak itu jauh sebelum mengenal bahwa sepak bola juga bisa menjadi sebuah profesi yang berpeluang.Makanya, diusia yang belia nampak sekali penguasaan diri dan aturan permainannya.Hal itulah yang kukagumi darinya.Dari pembawaan dirinya memimpin pasukannya.Pasukan sepak bola yang awalnya tak beruang.
Esoknya, habis mandi sore aku duduk lagi ditanah lapang.Kuharap anak yang kemarin berbicara denganku datang lagi.Dan bisa bicara lebih dalam tentang sepak bola dan angan-angannya,tepatnya prospeknya.Kugenggam buku yang kemarin belum selesai kubaca.Pukul 16.00 wib,lapang masih sepi, biasanya orang-orang mulai berdatangan.Kali ini tidak! Hanya beberapa anak kecil bermain sepeda mengelilingi lapang. ‘Barangkali belum datang, biar kutunggu saja!’ batinku berharap sambil melihat kesekitar lapang yang masih luas.
Lima halaman buku sudah kubaca namun orang-orang atau anak-anak remaja itu belum juga bertambah.Yang bermain masih anak-anak disekitar rumahku.Sementara orang yang kuharapkan belum nampak.’Kemana mereka? Apa hari ini tidak latihan main bola?’ hatiku sedikit gusar.Khawatir anak-anak dari kampung sebelah itu benar-benar tidak datang,artinya aku tidak akan bertemu dengan anak lelaki itu.Anak yang menyenangkan!
Pukul 17.00 wib, seorang anak lelaki tanggung masuk ketanah lapang,ia menerbangkan layang-layang ditengah-tengah lapang.Sampai layangan itu melayang diudara dengan keseimbangan yang mapan.Dengan rasa penasaran yang tinggi,kuhampiri anak lelaki tanggung itu.Yang sedang asik memperhatikan layangannya.”Hai dik, kamu tahu tidak anak-anak kampung sebelah koq tidak main bola lagi disini ya?” tanyaku yang kemudian ikut memperhatikan keseimbangan layangannya.” Ya tahu teh, mereka sekarang sedang bertanding di kecamatan memperebutkan piala bupati.Melawan para pemain bola dari kecamatan lainnya.Doakan mereka ya teh, semoga dapat piala bergilir!!!” katanya seraya tangannya tak lepas memegang tali yang tersambung ke layangannya.Ehmmm, aku memanggut “Terimakasih ya dik!” kutinggalkan anak lelaki tanggung itu.Aku kembali ketempat asalku menghabiskan beberapa halaman yang tersisa.
Sambil membaca, pikiranku melayang ke rombongan pasukan anak-anak kampung sebelah.Dengan semangatnya yang membara, sedang mempertontonkan dirinya di arena pertandingan.Itu yang terpenting dalam sebuah pencarian jati diri.’Memperlihatkan kemampuan diri didepan umum,kemudian orang lain menilai apakah seseorang itu termasuk orang yang berbakat atau tidak!’ Aku mengagumi usaha mereka, tanpa rasa yang berlebihan mereka terus bermain,bermain dan bermain.
                                                                **********

Jumat, 08 November 2013

Cerpen Linda Novlinda 2010



SUAMI BERSAMA
Oeh: Linda Al-Husna
Cianjur, 11 Juni 2010

                Aku bukanlah satu-satunya wanita yang dinikahinya.Masih ada tiga wanita lain yang bernasib sama denganku.Mendapatkan seorang pengusaha muda yang sukses dan terkaya dikotaku.Aku wanita keempat yang dinikahinya.Sebelumnya ada tiga wanita yang usianya tak jauh berbeda denganku.Tentu saja dengan latar belakang yang berbeda.Aku bersedia dinikahinya, karena menurut suamiku dalam ajaran islam seorang lelaki dapat menikahi lebih dari satu wanita, maksimal empat.Ya, aku tahu itu tertera dalam Qur’an Surat Annisa ayat 3 ‘Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap ( hak-hak ) perempuan yatim ( bilamana kamu mengawininya ),maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat! Kemudian jika kamu tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.’Dengan modal pengetahuan inilah, suamiku yang seorang pengusaha muda dan sukses itu bersedia mengamalkan firman Allah yang satu ini.Dengan segala pertimbangan dan pemikiran yang matang, maka aku pun bersedia dinikahinya.
                Aku ditempatkan dikotaku, ketiga wanita lainnya ditempatkan diposisi tempat usahanya.Istri pertama tinggal di Jakarta, istri kedua, tinggal di Bogor, istri ke tiga tinggal di Garut dan aku tinggal di Bandung. Sejak aku menikah sampai saat ini, dikaruniai 2 anak, tidak ada masalah yang berarti, jadwal kunjungan suamiku selalu tepat.Barangkali ia sudah memperhitungkannya secara matang.Usaha suamiku untuk meredakan emosi para istri sangat kentara.Dengan sikapnya yang tenang dan lembut sedikitnya selalu berhasil menggagalkan setiap letupan emosi dari istri-istrinya.Ya, termasuk aku.Bukan aku tak pernah merasa cemburu, ketika suamiku, menghadiri undangan penting dari relasi usahanya, yang diajak adalah wanita yang paling cantik diantara kami.Tak heran jika istri pertamanya yang paling sering merajuk pada suamiku.Kurang adillah, kurang perhatianlah…dsb.Aku tahu hal ini, dari sumbernya langsung,istri pertamanya.Sesekali ia menelponku dan membicarakan kegiatan suami kita bersama dengan istri kedua atau ketiga yang dianggap paling sering diajak ketempat-tempat umum.Aku hanya mendengarkan saja, setiap kemarahan yang dimuntahkannya padaku.Aku juga merasakan hal yang sama,tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.Ini adalah kesepakatan dan kesediaan.Jadi aku tidak bisa menunjukkan emosiku didepan suami.Kecuali memuntahkannya melalui tulisan.
                Istri pertamanya tak kurang cantiknya, hanya saja ia punya pekerjaan yang disukai dan digelutinya.Dimasyarakat ia sudah cukup terkenal melalui pekerjaannya ini. Emosinya cukup stabil, tapi jika sedikit saja dari haknya yang tidak dipenuhi, ia akan datang padaku dan menceritakan kekesalannya pada suami kita bersama.Benar, aku juga pasti akan demikian, sekuat-kuatnya wanita jika tidak ditopang oleh suami akan lemah juga! Sebagai sesama wanita, aku ingin membantu menguatkan tapi posisi kami bersebrangan.Aku hanya bisa berkata ‘ya, sabar mba….’ Kalau sudah begitu, ia menyudahi pembicaraanya.Aku sendiri bingung pada diri sendiri, aku dipilihnya sebagai teman curhatnya ketimbang istri kedua atau ketiga yang lebih sering dikunjungi  suami dari pada aku atau istri pertamanya.Barangkali ini, soal kecocokan saja, dan aku mulai menikmati hal ini.Ya, aku jadi merasa punya teman senasib!
                Istri kedua, cantik dan memikat,kemampuannya merayu membuatnya sering dikunjungi.Malah kadang sesekali suamiku melupakan kunjungannya kepada salah satu istrinya, hanya untuk tinggal dirumah istri keduanya.Aku tidak tahu pelet apa yang digunakannya hingga kecenderungan itu berpihak padanya.Sebagai istri keempat aku tidak berani menanyakan hal ini, kukira ini adalah urusan suamiku yang jika minta dijelaskan khawatir pembicaraan berujung pada perceraian.Terlalu sensitif untuk dibahas.
                Istri ketiga, juga cantik, lebih suka tinggal dirumah dan pasrah.Sifat menurutnya sangat terlihat dan menyenangkan suami.Tak jarang sikap itu ditunjukkannya kepada kami,wanita-wanita yang usianya diatasnya.Memang memicu kecemburuan kami, tapi menurutku, disinilah letak ujian wanita-wanita beriman.Siapa yang paling pandai mengendalikan dirinya, dia pasti akan berhasil menikmati hidupnya dengan damai! Maka tak heran jika kami pulang dari tempat pertemuan keluarga, kami membawa cerita masing-masing.Istri  kedua dan  ketiga yang paling sering dibicarakan.
                Aku wanita yang terakhir dinikahinya, sebagai istri keempat, aku harus menghormati istri-istri suamiku,yang telah lebih dulu dinikahinya.Itu pesan suamiku, dalam sebuah kesepakatan sebelum kami menikah.Aku bersedia, aku menyanggupi permintaannya.Lagi pula aku sudah mempelajari beberapa kasus seperti ini.Sekarang giliran aku mengalaminya langsung pada persoalan poligami.Dengan pengetahuanku, aku mempelajari perasaanku sendiri, apa yang diinginkannya,apa yang ingin dihindarinya, apa yang ditakuti atau dibencinya.Lima tahun berumah tangga, dikaruniai dua anak, selama ini aku berhasil mengeluarkan gejolak-gejolak emosi diri.Yang tiap hari selalu berkecamuk membisikkan perasaan yang tidak rasional.Untung daya pikirku cukup kuat untuk menentukan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan! Karenanya tidak semua bisikan hati mesti kuturuti seperti adanya.Otak sensorikku berfungsi mensensor semuanya.
                Selama lima tahun ini, jadwal kunjunganku selalu dipenuhi,ya sesekali ada bolosnya juga.Tapi suamiku selalu memberi tahu, jika ia tidak bisa mengunjungiku hari itu.Dengan alasan yang meyakinkan,aku mempercayainya begitu saja.Aku merasa tidak ada masalah diantara kami.Sampai suatu hari, pukul 20.00 wib, aku sedang menulis beberapa artikel yang akan kumasukkan dalam koran lokal, suara telpon berdering.Kuangkat dan….”De, bapak ada? “ Tanya suara disebrang.Aku sudah hapal suara ini, suara istri pertama suamiku.”Tidak, mba! “ jawabku seadanya.” Lho, bukannya ini, jadwal kunjunganmu? “ tanyanya.Oya, aku lupa, seharusnya suamiku datang sore ini.Tapi tidak ada.” Ya, tapi tidak datang mba! Mungkin ada keperluan yang lain? “ sangkaku sedikit bingung. “ Kalau begitu benar….” Suara disebrang terdengar datar.” Benar apa mba? “ tanyaku penasaran. “ Dia pergi sama istri kedua ke pulau Bali, bilangnya mau ada tamu dari luar negeri yang diterima oleh perusahaannya di pulau Bali.” Kata istri pertama setengah memberitakan dengan kemarahan yang tertahan.” Mba tahu dari mana? “ tanyaku. “ Ya, tadi bapak sendiri yang bilang melalui telpon…kupikir ade yang diajak kesana? “ katanya, aku menggelengkan kepala “ Tidak mba “ jawabku.Telpon ditutup.Dengan perasaan bimbang aku kembali kemeja tulisku.Menambahkan beberapa kalimat yang perlu kutambahkan.Tapi beberapa kalimat dalam pikiranku berputar-putar menguncangkan perasaanku.’Jadi bapak ke Bali bersama istri kedua ? ya, hari ini kan giliranku ! Mengapa bukannya mengajak aku?’ belum sempat terjawab pertanyaan dikepalaku seputar suamiku, tiba-tiba suara telepon berdering lagi.Dengan enggan aku bangkit dari tempat dudukku dan mengangkat gagang telepon. “ Ya, hallo ! “ kataku  dengan kepala sedikit pusing. “ Bu, malam ini bapak tidak bisa pulang ke Bandung, malam ini bapak ada pertemuan di Bali jadi maaf ya….Ibu bisa memaafkan bapak kan? “ suara disebrang berbicara cepat.Suara-suara dibelakangnya pun nampak sibuk, satu diantaranya suara wanita.” Memangnya bapak bersama siapa sekarang?” tanyaku ingin tahu siapa tahu mendapat jawaban sejujur-jujurnya. “ Oya, maaf, bapak mengajak istri kedua,karena sesuatu dan lain hal….semoga ibu memakluminya! “ jawab suamiku seadanya.” O, ya sudah…silahkan saja! “ jawabku.Suamiku tidak bertanya, apakah aku ikhlas atau tidak, yang dikatakannya hanya permintaan maaf yang menyakitkan! Aku sangat berterimakasih untuk kejujurannya, meminta izin untuk ketidak hadirannya malam ini dirumahku.Sebelum aku menjelaskan betapa rindunya aku padanya.Setelah beberapa hari ini aku tak dapat menemuinya,begitu juga sebaliknya.Kali ini, aku telan lagi rasa rinduku, yang kutuangkan dalam artikel-artikelku.
                Kegiatan menulis artikel kuhentikan, telpon dari suamiku benar-benar membuat buntu pikiranku.Memang, aku tadi tenggelam dengan tulisan-tulisanku yang membuat aku lupa jadwal kunjungan suamiku.Aku menulis, karena aku sedang merasa kosong, rindu pada suamiku.Kukira aku tidak keliru, mengharapkan kehadirannya pada jadwal bagianku.Tapi rupanya suamiku pergi bersama istri yang lain.Yang kian hari makin terasa tohokannya menikam perasaanku.Pantas saja istri pertama begitu berapi-api mengawasi setiap jadwal bapak.Entah apa yang ada dalam benaknya dengan pengawasan sedemikian itu.Dan malam ini, suamiku telah berhasil membuatku cemburu! Aku harus berlatih melawan perasaan ini.Untuk kedua anakku, ketegarannya harus kutunjukkan agar tidak mengacaukan infrasturktur yang sudah kubangun.Aku ingin menangis, melepaskan keresahan yang bergemuruh didadaku.Aku ingin marah, betapa mudahnya bapak menentukan dengan siapa ia pergi.Kendati itu harus mengorbankan jadwal kunjungannya denganku.
                Aku sudah pertimbangkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini, karenanya aku belajar banyak hal dari orang-orang sekitarku.Tapi mengalaminya langsung menjadi berbeda dengan hanya sekedar mempelajarinya saja.Aku merasakan desir halus mengikuti aliran darahku.Bersamaan dengan mengalirnya air mataku.Biarlah kukeluarkan saja kesedihan ini, sampai habis.Sampai tak bersisa, besok, aku harus menyediakan diri menemani anak-anak melakukan kegiatan seperti biasanya.’Bukankah aku sudah terbiasa? Bukankah aku sudah mengatakan kesediaanku dengan segala kemungkinan ini? Bukankah anakku masih butuh perhatian? Terus kenapa aku jadi cengeng begini?’
                Setelah semua air mata kukeluarkan dan kusapukan wajahku dengan sapu tangan suamiku.Tiba-tiba ketegaranku muncul kembali.Aku tidak punya alasan untuk memprotes apa pun keputusan suamiku.Apa lagi mengatakan tidak ikhlas! Bapak sudah tahu apa yang dibutuhkannya, baik bagi dirinya sendiri atau pun bagi perusahaannya.Selagi semua kebutuhan para istri dapat dipenuhinya, seharusnya semua berjalan baik-baik saja.Tapi lain halnya dengan soal perasaan.Bapak memiliki kecenderungan dalam membagi perhatian.Ya, seharusnya aku dapat bersikap seperti istri pertama,yang sibuk dengan pekerjaannya tapi aku masih terlalu dini untuk mengimbanginya.Lagi pula pekerjaanku tidak terlalu memakan banyak waktu, aku masih punya banyak waktu luang untuk anak-anakku dan suamiku, jika ia datang padaku.Aku tidak berani meminta jadwal tambahan dalam waktu kunjungan suamiku.Kesibukan bapak diJakarta dan kota-kota lainnya mengurungku untuk tidak melakukannya.Aku hanya minta diberi kekuatan untuk masalah yang sedang kualami ini, yang kutahu Tuhan sedang menguji imanku dengan masalah ini.Masalah terberat bagi wanita yang dipoligami.Dan aku sedang menerjuninya, menikmati suami bersama !!!!
                                               
                                                ******************

Minggu, 03 November 2013

Cerpen 1 Linda Novlinda 2010

 

SARAN DARI SANG ISTRI
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 10 Juni 2010

Supri memang orang yang sibuk, setiap hari pergi ketempat kerja, pulangnya menjelang magrib.Selalu begitu setiap hari yang dijalaninya.Semua urusan rumah tangganya diserahkan penuh kepada istrinya, yang hanya semata wayang! Rumah tangganya baru berusia 10 tahun.Dikaruniai 2 anak, satu lelaki berusia 9 tahun, satu lagi perempuan berusia 7 tahun. Ibam dan imas kedua anaknya yang disayanginya. Karena itulah, Supri berani banting tulang untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup istri dan kedua anaknya! Semua dijalananinya dengan bahagia tanpa kekurangan suatu apa pun.Jika terjadi sedikit persoalan dalam rumah tangganya, Supri selalu dapat mengatasinya dengan baik.Sehingga roda rumah tangga berjalan segaimana seharusnya!
Tapi sudah seminggu ini, istrinya, Mimin, sedang sakit.Demam tinggi menyerang tubuhnya yang kian hari kian melemah.Otomatis, kegiatan dirumah tangganya mengalami sedikit hambatan! Supri dengan sisa tenaga yang ada berusaha mengatasinya.Pekerjaan yang biasa dilakukan oleh istrinya.Untunglah kedua anaknya sudah dapat diarahkan, hingga Supri tidak terlalu sulit untuk mengurusnya.Kecuali pekerjaan didapur, diruang makan dan ruang tengah! Kali ini Supri harus bangun lebih awal, usai sholat subuh ia langsung turun kedapur, memasak air nasi dan lauknya.Melayani istri dan anaknya, setelah itu baru ia mandi dan pergi kekantor, tempatnya mendulang rupiah!
Hari pertama Supri masih terlihat segar, setelah seminggu istrinya berbaring lemah.Perlahan kekuatannya memudar! Wajahnya jadi terlihat memucat.Kelelahan tersirat dari konsentrasinya yang mulai tak menaruh perhatian penuh pada pekerjaannya.Sampai bossnya menegurnya,karena ada beberapa laporan yang tidak pada tempatnya! Walhasil, Supri mengulang kembali laporan yang sudah dibuatnya dengan susah payah.Sebelum akhirnya diberikan lagi pada bossnya!
“ Kenapa Pak Supri?” Tanya Kawan disebelahnya.Supri melirik, baru menyadari bahwa Anto, rekan kerjanya sedang memperhatikannya.Supri menggelengkan kepalanya,”Mungkin kecapek-an!” desah Supri pandangannya masih menatap layar computer.” Capek kenapa, kita kan biasa kerja begini?” Anton mendesak, seolah tidak mau dikatakan tidak peduli! “Istri saya sakit, saya harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, dua anak saya, dan belum lagi, barusan si boss menegur saya! Katanya ada beberapa laporan yang tidak sesuai dengan catatannya…Huh!!!! “ Supri menghempaskan nafasnya.Jari-jarinya masih memainkan tuts-tuts di atas keyboard.Anton mendegus, manggut-manggut.”Oya, Istri Pak Supri sakit apa?” Tanya Anton lagi yang usianya lebih muda dari usianya.”Sakit demam..tapi sampai sekarang suhu tubuhnya belum turun juga,malah semakin naik! Rencananya hari ini mau dibawa kerumah sakit!”jawab Supri.”Iya dong, takut terjadi apa-apa? Memangnya Pak Supri harus mengerjakan apa oleh si boss? Biar saya yang mengerjakan!” Anton menawarkan bantuannya.Berarti ia sedang tidak terlalu sibuk,begitu pikir Supri “ Benar ton, kamu mau menolong saya?” Supri memalingkan wajahnya kearah anton.Anton mengangguk pasti.Supri menyerahkan urusan pekerjaannya kepada Anton.Dengan sigap Anton menerimanya.
Pukul 12 siang, waktu jam makan siang,Supri minta izin pulang.Dengan uang dikantong untuk membayar rumah sakit, Supri segera membawa istrinya kerumah sakit.Kedua anaknya disuruh menunggu dirumah saja.Sampai dirumah sakit,istrinya terbaring tak berdaya. Supri sangat tidak tega melihat kelelahan diwajah istri yang sangat dicintainya.Ia berusaha meyakinkan istrinya, bahwa istirnya akan segera sembuh! Tak ada jawaban, kecuali suara-suara tak jelas menahan rasa sakit,akibat demam yang terlalu tinggi.Katanya dokter akan datang pukul 19.00 nanti malam.Sementara itu Supri membereskan semua kebutuhan istrinya selama dirumah sakit.
Pukul 19.00 malam, dokter datang dengan membawa berkas-berkas pasen yang diperiksanya.Dibelakangnya beberapa perawat mengikutinya.Sekarang giliran istri Supri yang diperiksa, dengan lembut dokter memeriksa tubuh istrinya.Tak lama kemudian, dokter mencatat sesuatu dalam kertas yang sedang dipegangnya.”Bapak, suaminya?” Tanya dokter kepada Supri.”Benar,pak!” jawab supri tandas.”Penyakit istri bapak adalah dehidrasi atau kekurangan cairan.Rupanya istri bapak, kurang minum!” kata dokter menjelaskan.Supri mendengarkan dengan seksama,kemudian menerima secarik kertas yang disodorkan dokter padanya.Kemudian dokter itu beranjak ke pasen yang lain disebelahnya.Supri melipat kertas yang tertera beberapa obat yang harus dibelinya diapotek terdekat dirumah sakit saat ini juga.
Supri menunggu istrinya siuman, sampai akhirnya,kedua mata istrinya terbuka dan saatnya Supri minta izin keluar.” Mi, abi beli dulu obat ya, sekalian pulang dulu…anak-anak belum dikasih uang jajan untuk besok! “ Kata Supri sambil menggenggam tangan kanan istrinya.Mimin, mengangguk lemah.”Cepat kembali ya,Bi!” pintanya.
Supri mengangguk, dan langsung berangkat menuju rumahnya.Ke apotek biar nanti saja sepulang dari rumahnya,pikirnya.Rasa rindu kepada kedua anaknya sudah tak tertahankan.Dalam keadaan seperti ini, kenapa ia merasa menyesal, telah lama-lama berada jauh dari anak dan istrinya.Maunya setiap waktu selalu bersama,tapi kalau keadaannya begitu, kita mau makan apa? Bahwa kita harus bisa makan dan memenuhi kebutuhan hidup itu sudah pasti.Karena itu,ia bekerja dari pagi sampai sore.Tak ada masalah, masih bisa bertemu istri dan kedua anaknya setiap usai sholat maghrib dan bercengkrama sekedarnya.Sampai anak-anaknya tertidur.Tapi malam ini, ia tidak bisa menemani mereka, istrinya lebih penting.Lagi pula anak tertuanya,ibam, sudah dapat diandalkan,menjaga adiknya sendiri.
Tiba dirumah, Supri menyerahkan tanggung jawab rumahnya kepada Ibam,walaupun untuk sementara.Besok, Ibam harus mengajak adiknya pergi kesekolah seperti biasanya.Bahwa malam ini, mereka tidak akan ditemani kedua orang tuanya. Ibam dan Imas mengerti apa yang dikatakan Supri,barangkali karena setiap hari uminya selalu memberi nasehat kepada keduanya usai sholat maghrib.Terlintas rasa bangga kepada kedua anaknya, yang begitu mudah diberi pengertian dalam keadaan darurat. Setelah selesai urusan dengan kedua anaknya, Supri berangkat lagi kerumah sakit.
Sebelum sampai diruang istrinya menginap, Supri mampir dulu di sebuah apotek, membeli beberapa botol infus dan beberpa jenis obat.Selesai membayar, ia langsung menuju tempat pembaringan istrinya.Ditemuinya,Mimin,istrinya sedang tidur.Supri tidak berani membangunkannya.Ia menyimpan barang-barang yang dibelinya.Kemudian duduk mengahadap tubuh istrinya.Ditatapnya wajah istrinya lekat-lekat, dengus nafas dan denyut jantungnya.Supri sediit menahan nafasnya, betapa lelahnya wanita yang ada didepannya.Yang terbujur tak berdaya.Dipikirnya kegiatan sehari-harinya, antara kegiatanya dan kegiatan istrinya.Siapa yang lebih capek? Bukankah kita sudah melakukan seperti yang seharusnya? Dan kita merasa tidak ada masalah karenanya.Tapi sekarang Istrinya nampak lelah, lelah yang tak pernah diceritakannya pada suaminya sendiri.Supri mengingat kembali setiap kepulanganya dari kantor, ia selalu minta pada istrinya untuk tidak membicarakan yang aneh-aneh, sebab ia harus mempersiapkan tenaga dan konsentrasi untuk kerja besok.Selalu ia bilang begitu setiap istrinya mulai mengeluh.Supri selalu berhasil, menghiburnya dan menganggap bahwa itu bukan masalah.Bahwa istrinya harus kuat menjalankan roda rumah tangga bersamanya.Tapi rupanya, dalam batas tertentu, kekuatannya ambruk juga.Dan ia harus mengakui kelelahan istrinya melayani suami dan kedua putranya.Sampai ia terbaring disini, disebuah rumah sakit yang tidak disukainya.Supri menundukkan kepalanya.Berusaha memahami setiap perkataan istrinya disetiap pertemuan “Bi, bagaimana kalau kita gunakan jasa pembantu?” ucap istrinya.Namun demi penghematan dan lain sebagainya, Supri menolak dengan anggun.Dan masalah itu tak pernah tertuntaskan dengan baik.Sampai saat ini, sampai istrinya benar-benar lemah!
Mimin, membukakan kedua matanya, ia melihat Supri, suaminya sedang terpekur.Melihat kelelahan diwajah suaminya,yang sudah seminggu ini mengerjakan tugas ganda.Dikantor dan dirumahnya.Ada rasa bersalah melintas dihatinya.Ketidak mampuannya melayani suami saat ini, dalam keadaan seperti ini.Mimin mengusap kepala Supri, beberapa lama disentuhnya dengan penuh kasih sayang.Mungkinkan ada jalan keluar untuk kebuntuan rumah tangga ini.Mimin, merasa sudah lelah,bukan hanya melayani suaminya, tapi juga anak-anaknya yang semakin hari semakin membesar yang selalu minta ditemani belajar.Ia pun harus ikut belajar. Sementara suaminya, pulang dalam keadaan capek, dan mita dilayani.Terlalu banyak tuntuan baginya diposisinya sebagai ibu rumah tangga.Sementara kekekuatan untuk melayaninya sangat terbatas.’Adakah jalan keluarnya, Bi?’ bisik hatinya,Mimin tidak berani membangunkan suaminya.Tapi gerakan jemarinya membuat suaminya terbangun.”Umi, sudah bangun?” Tanya Supri seketika, dilihatnya jam tangannya.Waktu masih pukul 10 malam.Mimin tersenyum jemarinya masih mengusap-usap kepala Supri.”Umi, capek yah?” Tanya Supri,Mimin hanya mengangguk saja.” Bi, ada tidak jalan keluar, supaya rumah tangga kita tetap berjalan seimbang? “ tiba-tiba Mimin melontarkan sebuah pertanyaan yang membuatnya terkejut.”Jalan keluar apa?” Tanya Supri belum mengerti maksud pertanyaan istrinya.”Aku mau berbagi Abi dengan perempuan lain!” desis Mimin lemah tapi terdengar sangat tegas ditelinga Supri.”Apa? Apa maksud Umi?” Tanya Supri seperti disambar petir. “Aku mau berbagi Abi dengan perempuan lain yang halal dalam pandangan agama!” kata Mimin,matanya menerawang keatas.Melihat langit-langit atap rumah sakit yang menyesakkan perasaan Supri.
Tak ada jawaban dari Supri, suasana hening sesaat.”Jangan pikirkan itu dulu, yang penting umi sembuh dulu!” akhirnya Supri bersuara.”Itu masalahku Bi, Abi tak pernah mau mendengarnya!” kata Mimin sambil menyimpan tangannya diatas perutnya.”Belum terpikirkan!” kata Supri dengan ketus.Mimin melihat wajah suaminya, yang sudah tidak asing lagi baginya.Caranya mengungkapkan kebahagiaan,kemarahan,kekecewaan dan hasrat tersembunyi.Saat ini, ia melihatnya diwajah Supri,mengharapkan seseorang melayaninya dengan sempurna setiap kepulanganya dari kantor.Dan Mimin sangat menyadari, hal itu tidak akan didapatkan darinya, yang sudah merasa puas sudah melayani suaminya,selama 10 tahun ini.” Aku tidak apa-apa koq, aku hanya minta waktu jeda saja! Abi tak perlu berpikir macam-macam, aku ikhlas koq.Aku hanya capek saja! Katanya tubuh juga butuh istirahat?? “ Kata Mimin, sambil tersenyum.Supri melihatnya sebagai senyum yang getir.Tapi ini kenyataan yang harus dihadapi rumah tangganya bersama Mimin diusia rumah tangganya yang ke 10 tahun..Mimin capek,itu kenyataan! Bahwa Ia juga ingin dilayani,itu juga kenyataan! Lalu Mimin, istri tercintanya memberi saran yang tidak pernah terlintas dalam bayanganya.Supri tipe lelaki setia pada pasangan.Semua orang tahu dan menghormati itu.Lantas sekarang, apakah Supri harus mengikuti saran dari sang istri? Itulah kegalauan yang selama ini, tidak dianggapnya sesuatu yang penting.Ia lebih suka bekerja dari pada memikirkan hal-hal demikian.Rupanya Tuhan memberi batas pada kesediaan makhlukNya untuk melakukan kebaikan.Setiap batas merupakan ujian iman bagi para pemiliknya.
**********

Sabtu, 02 November 2013

PEMBUKAAN

Ceritaku ini.....berharap bukan rekayasa semata........melainkan kejadian-kejadian kecil yang sering luput dari perhatian kita. Tak jarang kita mengacuhkannya....sampai kejadian-kejadian itu menyimpan kesan tertentu dalam pikiran dan perasaa kita. Dan kita tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan diri kita sendiri dengan sejumlah kenangan didalamnya!!!!!!
Dengan bidikanku ini semoga kita selalu punya alasan untuk dapat hidup sehat, sejahtera dan bahagia selamanya!!!!!