MADING
Oleh
: Linda Al-Husna
Cianjur,
14 Juli 2010
Naik kelas
dua disekolah menengah atas, aku lebih memilih jurusan bahasa dan sastra
ketimbang jurusan sience atau social. Bukan karena aku tidak mampu memasuki
kekedua jurusan itu.Melainkan minat dan perhatianku besar pada bidang bahasa
dan sastra.Aku suka membaca dan menulis.Dengan harapan memasuki jurusan ini,
kemampuan membaca dan menulisku dapat diasah lebih tajam lagi. Benar saja,
melalui buku panduan yang digunakan guru sastraku, karya Zaidan Hendi, aku jadi
lebih memahami bagaimana cara membuat puisi yang baik, pantun yang baik dan
naskah drama yang baik.Selebihnya siswa dilatih untuk mengembangkan sendiri
pokok pikiran melalui kerangka karangan yang dibuat sendiri.Entahlah, aku
semangat sekali dalam pelajaran yang satu ini.Adrenalinku merasa tertantang
untuk terus menggali dan menggali kemampuanku. Melalui diskusi kelompok atau
bicara sembarang bersama teman-teman adalah cara asyik mendapatkan bahan
tulisan.Yang jika sudah mendapatkan tulisan baik berupa artikel,puisi, cerpen
atau karikatur dapat dipasang di majalah dinding khas ‘anak bahasa’
Sejak hari pertama
aku duduk dikelas ini.Aku merasa tidak ada masalah dengan teman-temanku baik
laki-laki maupun perempuan.Tapi setelah sebulan berlangsung, setiap siswa mulai
menunjukkan karakternya masing-masing.’Pantas saja mereka memilih jurusan
bahasa’ batinku merana.Bagaimana tidak, setiap anak selalu ingin bicara dan pembicaraannya
itu harus yang paling didengarkan.Dalam satu ruang yang berjumlah 36 siswa itu,
siapa yang mau jadi bagian pendengar? Ali, bicaranya sangat puitis, Fadil,
bicaranya formal maka tak heran jika ia didaulat menjadi sang ketua kelas.Dodo
yang bicaranya seperti seorang demonstran, Ela yang bicaranya tajam tapi tak
beraturan, Ina, sikutu buku yang bicaranya seperti kalimat-kalimat yang ada
didalam buku.Bicara dengannya seperti membaca sebuah buku saja.Yuni, gadis
pendiam yang jika bicara menggunakan suara rendah tapi cukup menukik.Dan Fay,
yang selalu sibuk dengan gurat-gurat karikaturnya, jika bicara cukup efektif,
menyakitkan! Semua berkumpul dalam satu ruang kelas bahasa.
Kadang aku merasa
bersyukur, aku dikaruniai teman-teman yang banyak pengetahuan dan pengalaman
untuk seukuran anak sekolah menengah.Tapi, aku merasa ada sesuatu yang ganjal
dalam berinteraksi ditengah-tengahnya.Sebenarnya, aku bukan perempuan yang
pandai bergaul.Atau suka bicara.Aku hanya suka memperhatikan apa yang
dibicarakan orang-orang kemudian kukemas pembicaran mereka kedalam tulisanku.
Ela,ditunjuk
mengelola Majalah Dinding didepan kelasku.Dimana beberapa artikel, puisi,
karikatur, opini dan kolom salam antara teman sudah terpampang.Siapa pun
diantara kami boleh mengisi kolom-kolom itu melalui Ela dan krunya. Aku tidak
termasuk kru tapi aku suka menulis dan pernah memasukkan sebuah artikel yang
kini masih terpajang.
Tiga bulan
berjalan kegiatan belajar, perlahan-lahan mulai terasa riak-riak gairah
pembelajaran dengan menggunakan kalimat-kalimat seadanya.Keakraban mulai
tericpta.Entah bagaimana pula, Fay, yang lebih sibuk dengan goresan pensilnya,
mulai melirikku.Padahal, aku tidak pernah menunjukkan perhatian apa pun
kepadanya.Hanya karena Fay, suka melempariku dengan kertas-kertas kecil
kerambutku.Sikapnya jadi berubah.Yang menurut teman-teman Fay menyukaiku! Tidak
ada yang salah dengan Fay, ia unik, asyik dan menarik! Tapi, kenapa ia lebih
memilihku ketimbang Ela,Uni, Diah atau Yuni yang penampilannya lebih cantik
dariku? Dari belakang bangku, Fay, selalu membuat keributan kecil.Kalau bukan
melempar kertas, mengoyang-goyangkan ujung kursiku atau bicara yang suaranya
terdengar keseluruh ruang kelas. Ada-ada saja yang dilakukan Fay.Aku masih tak
bergeming.
Lama-lama, kesabaranku
sampai pada puncaknya.Aku ingin menunjukkan bahwa sikapnya itu sudah membuatku
tidak nyaman.Ya, Fay, pernah menyatakan hasratnya padaku untuk menjadikanku
teman dekatnya.Tapi aku belum siap, bukan karena tidak suka! Fay memiliki daya
pikat yang berbeda dengan teman yang lain.Apalagi, ia pernah membawa kamus
electric yang masih jarang pada saat itu.Namun hal itu tak membuatku bersedia
menjadi teman dekatnya.Bagiku teman ya teman.Agak canggung rasanya jika teman
sekelas yang menjadi teman dekat ( baca: pacar )
Untuk kenyamanan
belajarku, kutuliskan sebuah pernyataan dalam secarik kertas.Tentang Fay, yang
suka usil, jail dan centil! ‘Fay itu baik hati dan tidak sombong. Tapi dia suka
usil, jail dan blablabla,Maaf kata-kata diatas saya ralat…’ ttd. Nn. Sepulang
sekolah, kusimpan secarik kertas ini kedalam kotak saran.Lalu aku pulang
melenggang, seolah baru melepaskan beban yang paling berat.Kulihat
kebelakang.Ela dan kru sedang membuka kotak saran, membawa semua kertas-keratas
yang ada untuk ditulis ulang dirumahnya.
‘Rasakan Fay!’ kutinggalkan ruang kelas bahasa dengan kebahagiaan.
Esoknya, Sebagian
besar anak-anak bahasa sedang berdiri didepan kelas.Mereka berkerumun didepan
mading ( majalah dinding ) tepatnya dikolom salam dari teman.Memang segmen
itulah yang selalu ditunggu-tunggu pemirsanya.Semantara, aku lupa bahwa aku
pernah menyimpan secarik kertas didalam kotak saran itu.”Ada apa?” tanyaku pada
Ina. “Si Fay, ada yang mengkritik dia! Tidak tahu siapa, kamu tahu tidak?” Ina
balik bertanya. Sebelum kujawab, aku langsung memburu majalah dinding.Dan
kutemui sebuah kalimat yang kutulis kemarin.Kalimat singkat yang effektif untuk
menunjukkan kepada semua orang yang membaca majalah dinding ini bahwa Fay
demikianlah adanya….
Sebuah senyum
muncul begitu saja dibibirku.Ya, aku ingat,itu tulisanku! Dan Fay sudah kubuat
gerah karenanya. Pantas saja ribut sekali kedengarannya.Beberapa anak lelaki
masih membicarakannya.Kulirik wajah Fay, yang sedang berbicara didepan sekawanan
anak lelaki.Wajahnya nampak senang tapi bingung. Barangkali penasaran siapa
yang menuliskan satu kalimat untuknya di majalah dinding kesayangan kelas kami
itu. Kubiarkan saja ia berbuat begitu.Sampai bel masuk berbunyi.
Empat jam
pelajaran sudah dilalui.Sesekali terdengar pembahasan tentang siapa orang yang
menulis dimajalah dinding tentang Fay. Aku memang jarang bicara.Jadi tak ada
alasan aku membicarkan ini.Aku sedang menikmati betapa gelisahnya Fay dengan
tulisan itu.Rasa geli melintas dalam perasaanku.Sampai bel istirahat
berbunyi.Semua anak-anak bahasa keluar menuju tempat kesukaannya masing
masing.Lalu kembali kekelas.Sambil menunggu bel masuk, Fay masih meributkan
siapa yang menulis kalimat itu.Awalnya aku tidak mau mengakui itu. Tapi, entah dari
mana rasa iba menyelimuti perasaanku. Keributan Fay membuatku banyak
memperhatikan sikapnya.Bicara kesana sini tentang seseorang yang menuliskan
dirinya. Fay, berdiri didepanku.Sambil menghadap kearah Ina yang berdiri
disampingku.Fay, masih menceracau.
“ Fay, kamu mau
tahu yang menulis kalimat itu? ” tanyaku sedikit bimbang antara ingin
mengatakan dan melarang.Fay, yang sedang menghadap kearah Ina, langsung
menatapku.”Ya, siapa?” tanyanya. Suaranya tajam begitu pula pandangannya.Aku
menarik nafas berharap Fay tidak akan marah kalau aku mengatakannya.Kemudian
kuberanikan diri mengatakannya “Aku!” jawabku datar. Fay, diam
sesaat.Tatapannya masih tajam.Tapi segera kutinggalkan Fay dengan
kebingungannya.Marah atau tidak masa bodoh, aku sudah mengakuinya! Aku duduk
dibangkuku, aku tidak mau menatap wajah Fay yang tadi terlihat memerah.Kukeluarkan
buku tulis dan penaku.Aku mulai menulis sesuatu.Asal tidak sedang mengangkat
wajah.Sebab, Fay akan segera melawati barisan bangkuku.’Rasakan Fay, kena
kau!!!!!’ batinku bersorak.
*********