Rabu, 02 Juli 2014

Cerpen Linda Novlinda 1 2010



MADING
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 14 Juli 2010

                Naik kelas dua disekolah menengah atas, aku lebih memilih jurusan bahasa dan sastra ketimbang jurusan sience atau social. Bukan karena aku tidak mampu memasuki kekedua jurusan itu.Melainkan minat dan perhatianku besar pada bidang bahasa dan sastra.Aku suka membaca dan menulis.Dengan harapan memasuki jurusan ini, kemampuan membaca dan menulisku dapat diasah lebih tajam lagi. Benar saja, melalui buku panduan yang digunakan guru sastraku, karya Zaidan Hendi, aku jadi lebih memahami bagaimana cara membuat puisi yang baik, pantun yang baik dan naskah drama yang baik.Selebihnya siswa dilatih untuk mengembangkan sendiri pokok pikiran melalui kerangka karangan yang dibuat sendiri.Entahlah, aku semangat sekali dalam pelajaran yang satu ini.Adrenalinku merasa tertantang untuk terus menggali dan menggali kemampuanku. Melalui diskusi kelompok atau bicara sembarang bersama teman-teman adalah cara asyik mendapatkan bahan tulisan.Yang jika sudah mendapatkan tulisan baik berupa artikel,puisi, cerpen atau karikatur dapat dipasang di majalah dinding khas ‘anak bahasa’
                Sejak hari pertama aku duduk dikelas ini.Aku merasa tidak ada masalah dengan teman-temanku baik laki-laki maupun perempuan.Tapi setelah sebulan berlangsung, setiap siswa mulai menunjukkan karakternya masing-masing.’Pantas saja mereka memilih jurusan bahasa’ batinku merana.Bagaimana tidak, setiap anak selalu ingin bicara dan pembicaraannya itu harus yang paling didengarkan.Dalam satu ruang yang berjumlah 36 siswa itu, siapa yang mau jadi bagian pendengar? Ali, bicaranya sangat puitis, Fadil, bicaranya formal maka tak heran jika ia didaulat menjadi sang ketua kelas.Dodo yang bicaranya seperti seorang demonstran, Ela yang bicaranya tajam tapi tak beraturan, Ina, sikutu buku yang bicaranya seperti kalimat-kalimat yang ada didalam buku.Bicara dengannya seperti membaca sebuah buku saja.Yuni, gadis pendiam yang jika bicara menggunakan suara rendah tapi cukup menukik.Dan Fay, yang selalu sibuk dengan gurat-gurat karikaturnya, jika bicara cukup efektif, menyakitkan! Semua berkumpul dalam satu ruang kelas bahasa.
                Kadang aku merasa bersyukur, aku dikaruniai teman-teman yang banyak pengetahuan dan pengalaman untuk seukuran anak sekolah menengah.Tapi, aku merasa ada sesuatu yang ganjal dalam berinteraksi ditengah-tengahnya.Sebenarnya, aku bukan perempuan yang pandai bergaul.Atau suka bicara.Aku hanya suka memperhatikan apa yang dibicarakan orang-orang kemudian kukemas pembicaran mereka kedalam tulisanku.
                Ela,ditunjuk mengelola Majalah Dinding didepan kelasku.Dimana beberapa artikel, puisi, karikatur, opini dan kolom salam antara teman sudah terpampang.Siapa pun diantara kami boleh mengisi kolom-kolom itu melalui Ela dan krunya. Aku tidak termasuk kru tapi aku suka menulis dan pernah memasukkan sebuah artikel yang kini masih terpajang.
                Tiga bulan berjalan kegiatan belajar, perlahan-lahan mulai terasa riak-riak gairah pembelajaran dengan menggunakan kalimat-kalimat seadanya.Keakraban mulai tericpta.Entah bagaimana pula, Fay, yang lebih sibuk dengan goresan pensilnya, mulai melirikku.Padahal, aku tidak pernah menunjukkan perhatian apa pun kepadanya.Hanya karena Fay, suka melempariku dengan kertas-kertas kecil kerambutku.Sikapnya jadi berubah.Yang menurut teman-teman Fay menyukaiku! Tidak ada yang salah dengan Fay, ia unik, asyik dan menarik! Tapi, kenapa ia lebih memilihku ketimbang Ela,Uni, Diah atau Yuni yang penampilannya lebih cantik dariku? Dari belakang bangku, Fay, selalu membuat keributan kecil.Kalau bukan melempar kertas, mengoyang-goyangkan ujung kursiku atau bicara yang suaranya terdengar keseluruh ruang kelas. Ada-ada saja yang dilakukan Fay.Aku masih tak bergeming.
                Lama-lama, kesabaranku sampai pada puncaknya.Aku ingin menunjukkan bahwa sikapnya itu sudah membuatku tidak nyaman.Ya, Fay, pernah menyatakan hasratnya padaku untuk menjadikanku teman dekatnya.Tapi aku belum siap, bukan karena tidak suka! Fay memiliki daya pikat yang berbeda dengan teman yang lain.Apalagi, ia pernah membawa kamus electric yang masih jarang pada saat itu.Namun hal itu tak membuatku bersedia menjadi teman dekatnya.Bagiku teman ya teman.Agak canggung rasanya jika teman sekelas yang menjadi teman dekat ( baca: pacar )
                Untuk kenyamanan belajarku, kutuliskan sebuah pernyataan dalam secarik kertas.Tentang Fay, yang suka usil, jail dan centil! ‘Fay itu baik hati dan tidak sombong. Tapi dia suka usil, jail dan blablabla,Maaf kata-kata diatas saya ralat…’ ttd. Nn. Sepulang sekolah, kusimpan secarik kertas ini kedalam kotak saran.Lalu aku pulang melenggang, seolah baru melepaskan beban yang paling berat.Kulihat kebelakang.Ela dan kru sedang membuka kotak saran, membawa semua kertas-keratas yang ada untuk ditulis ulang  dirumahnya. ‘Rasakan Fay!’ kutinggalkan ruang kelas bahasa dengan kebahagiaan.
                Esoknya, Sebagian besar anak-anak bahasa sedang berdiri didepan kelas.Mereka berkerumun didepan mading ( majalah dinding ) tepatnya dikolom salam dari teman.Memang segmen itulah yang selalu ditunggu-tunggu pemirsanya.Semantara, aku lupa bahwa aku pernah menyimpan secarik kertas didalam kotak saran itu.”Ada apa?” tanyaku pada Ina. “Si Fay, ada yang mengkritik dia! Tidak tahu siapa, kamu tahu tidak?” Ina balik bertanya. Sebelum kujawab, aku langsung memburu majalah dinding.Dan kutemui sebuah kalimat yang kutulis kemarin.Kalimat singkat yang effektif untuk menunjukkan kepada semua orang yang membaca majalah dinding ini bahwa Fay demikianlah adanya….
                Sebuah senyum muncul begitu saja dibibirku.Ya, aku ingat,itu tulisanku! Dan Fay sudah kubuat gerah karenanya. Pantas saja ribut sekali kedengarannya.Beberapa anak lelaki masih membicarakannya.Kulirik wajah Fay, yang sedang berbicara didepan sekawanan anak lelaki.Wajahnya nampak senang tapi bingung. Barangkali penasaran siapa yang menuliskan satu kalimat untuknya di majalah dinding kesayangan kelas kami itu. Kubiarkan saja ia berbuat begitu.Sampai bel masuk berbunyi.
                Empat jam pelajaran sudah dilalui.Sesekali terdengar pembahasan tentang siapa orang yang menulis dimajalah dinding tentang Fay. Aku memang jarang bicara.Jadi tak ada alasan aku membicarkan ini.Aku sedang menikmati betapa gelisahnya Fay dengan tulisan itu.Rasa geli melintas dalam perasaanku.Sampai bel istirahat berbunyi.Semua anak-anak bahasa keluar menuju tempat kesukaannya masing masing.Lalu kembali kekelas.Sambil menunggu bel masuk, Fay masih meributkan siapa yang menulis kalimat itu.Awalnya aku tidak mau mengakui itu. Tapi, entah dari mana rasa iba menyelimuti perasaanku. Keributan Fay membuatku banyak memperhatikan sikapnya.Bicara kesana sini tentang seseorang yang menuliskan dirinya. Fay, berdiri didepanku.Sambil menghadap kearah Ina yang berdiri disampingku.Fay, masih menceracau.
                “ Fay, kamu mau tahu yang menulis kalimat itu? ” tanyaku sedikit bimbang antara ingin mengatakan dan melarang.Fay, yang sedang menghadap kearah Ina, langsung menatapku.”Ya, siapa?” tanyanya. Suaranya tajam begitu pula pandangannya.Aku menarik nafas berharap Fay tidak akan marah kalau aku mengatakannya.Kemudian kuberanikan diri mengatakannya “Aku!” jawabku datar. Fay, diam sesaat.Tatapannya masih tajam.Tapi segera kutinggalkan Fay dengan kebingungannya.Marah atau tidak masa bodoh, aku sudah mengakuinya! Aku duduk dibangkuku, aku tidak mau menatap wajah Fay yang tadi terlihat memerah.Kukeluarkan buku tulis dan penaku.Aku mulai menulis sesuatu.Asal tidak sedang mengangkat wajah.Sebab, Fay akan segera melawati barisan bangkuku.’Rasakan Fay, kena kau!!!!!’ batinku bersorak.
                                                                *********