GEJOLAK CINTA PERTAMA
Oleh
: Linda Al-Husna
Cianjur,
13 Maret 2009
Waktu itu, aku baru masuk SMP, usiaku kira-kira 13
tahun.Seperti kebanyakan siswa lainnya, aku mengikuti semua aturan yang
berlaku.Mengikuti penataran sampai selesai.Yang pada akhirnya seragamku berubah
warna menjadi putih biru.
Aku mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya.Kelas
yang kutempati adalah bangunan baru.Kaca jendelanya masih bersih tanpa
layar.Sehingga kami bisa melihat keluar kelas dengan jelasnya, siapa saja yang
lewat didepannya.Jika pelajaran sedang membosankan, melihat keluar adalah solusi
menghibur diri.Menambah semangat membicarakan orang yang lewat didepan
kelasku.Satu persatu temanku memiliki kecengannya.Dan selalu menunggu kecengan
mereka lewat didepan kelas.Lela menaksir kakak kelas 3 Ma’mun namanya.Dia
selalu berjalan bersama kelompoknya lewat didepan kelasku setiap menjelang
istirahat.Lela dengan semangat menepuk bahuku dan menunjuk keluar kepada orang
yang dimaksudnya.Aku turut melihat keluar dan melihat sosok kak Ma’mun
sejenak.Namun dibarisan paling belakang, seseorang berjalan dengan acuhnya
sambil menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. ‘Taff!’ ada hentakan lain
berdebum dalam perasaanku.’Kenapa eh, siapa dia? Boleh juga!’ aku belum menceritakan
penemuan ini kepada Lela sebelum aku merasa yakin dengan perasaanku ini.
Hampir satu semester masa kegiatan belajar mengajar
berlangsung.Aku perhatikan kak Ma’mun dan teman-temannya setiap hari lewat
didepan kelasku.Baik kedatangan, waktu istirah atau kepulangannya. Aku jadi
lebih sering memperhatikan gelagat ‘seseorang’ yang selalu berjalan paling
belakang.Baiklah, kusebut saja dia ‘lelaki dibarisan paling belakang’.Yang
semakin hari semakin mengganggu perasaanku. Lama-lama ‘seseorang’ ini memasuki
wilayah pribadiku-pikiran dan perasaanku.Sedangkan aku anak baru disekolah ini,
mana ada keberanian untuk menanyakan siapa dia, dimana rumahnya dan bagaimana
reaksinya menilai sikapku ini?
Semester pertama, kunikmati saja hari-hari
sebagaimana mestinya.Sedangkan Lela, semakin menunjukkan hasratnya untuk
mengenal lebih jauh tentang ‘kecengannya’.Awalnya kupikir, itu urusannya, bukan
urusanku.Yang semakin hari semakin tak terkendali.Sama seperti aku yang mulai
memikirkan lelaki yang selalu berjalan dibarisan paling belakang, seseorang
yang tak salah lagi, pasti teman sekelasnya kak Ma’mun.Kali ini, agak sedikit
berbeda.Setiap dia lewat didepan kelasku, seperti dengan sengaja memperlambat
langkahnya atau sesekali bercermin dikaca jendela yang membuat aku semakin
jelas melihat kesempurnaan bentuk wajahnya.’Stay cool!!’ rasanya ingin berlari keluar
kelas dan menanyakan ‘apa maksudnya bercermin dijendala kelasku?’ tapi
keinginan itu hanya tinggal keinginan.Aku hanya diam terpaku melihatnya berbuat
begitu.Lagi pula apa hakku melarang orang lain untuk tidak berbuat begini dan
begitu?
Sampai beberapa waktu, aku masih dapat menyembunyikan
perasaan ini kepada Lela.Tapi tidak lama.Lalu kuberanikan diri menanyakan siapa
lelaki yang selalu berjalan dibarisan paling belakang itu? Lela, memang tidak
tahu.Tapi dia mau mencarikan informasi tentang lelaki itu untukku.Tentu saja
aku sangat senang, sesuatu yang sangat ingin kuketahui saat ini.Lelaki yang
selalu berjalan dibarisan paling belakang itu, selalu muncul dalam dunia
khayalku, setiap malam, setiap aku mau memejamkan mata.Puh!
Pagi-pagi, ketika aku baru datang dipekan bebas pasca
ulangan umum.Lela menyambar lenganku dan menariknya menuju samping kelas.”
Sekarang aku tahu, siapa teman kak Ma’mun yang kamu maksud itu, aku sudah dapat
informasinya!” kata Lela sambil setengah terengah.”Dapat informasi dari siapa?”
tanyaku terbawa emosi Lela “Dari siapa lagi, kalau bukan dari kak Ma’mun!”
jawabnya.”Namanya Pepy, rumahnya di komplek Rose dibelakang sekolah ini!”
ujarnya lagi.O,Tuhan, aku seperti mendapatkan bintang jatuh.Baru mendapat
informasinya saja sudah menyenangkan, apa lagi dapat berkenalan langsung?
Seandainya, aku punya sedikit saja keberanian!
Berbeda dengan Lela yang sudah menjalin hubungan
pertemanan dengan kak Ma’mun.Aku sama sekali tidak ada bayangan untuk berbuat
seperti Lela.Yang kulihat Lela supel,mudah bergaul, banyak bahan
pembicaraan.Sedangkan aku, datang kesekolah seperlunya saja.Tak ada acara untuk
begini dan begitu.Pulang sekolah ya pulang saja langsung kerumah.Dan istirahat
dirumah.Tapi sekarang aku merasa sedang jatuh hati padanya: kak Pepy.
Barangkali karena terlalu seringnya aku memperhatikan dan reaksi sikap darinya
pun seperti mau memberiku kesempatan untuk sekedar menyapa.Aku, dengan nyaliku
yang menciut, selalu berhasil meninggalkan kak Pepy didepan kelas berdiri
mematung.Entahlah, aku merasa belum siap, tapi aku masih suka kepadanya! Hanya
itu tak lebih.
Rupanya Lela dapat membaca kebingunganku ini, sampai
dia menanyakan aku ingin menyampaikan apa untuk kak Pepy? Aku tidak tahu.Ini
pengalaman pertamaku seorang perempuan seperti aku disuruh menembak seorang
lelaki yang usianya minimal dua tahun diatasku.Kukatakan saja pada Lela
‘sampaikan salamku padanya!’ kupikir, salamku ini, hanya salam biasa saja.Salam
perkenalan pertemanan biasa, tidak lebih! Tapi aku tidak tahu, apa yang disampaikan
Lela kepada teman kak Ma’mun itu-kak Pepy.Yang jelas disemester kedua ia jadi
lebih sering lewat didepan kelas atau berpapasan dimana pun aku berjalan. Apa
ini unsur kebetulan? Atau kesengajaan? Entahlah….
Disemester kedua waktu berjalan begitu cepatnya.Ujian
bagi kelas tiga sudah diambang.Bermain petak umpet bersama kak Pepy
menyenangkan juga.Sesekali aku melihatnya tersenyum dengan kejadian-kejadian
kecil ini.Ya, walau dari kejauhan saja kunikmati senyumnya.Tapi aku sudah
sangat bahagia.Semoga,suatu hari nanti aku tidak seperti ini menghadapi
seseorang yang kucintai!
******