Minggu, 01 Juni 2014

Cerpen 1 Linda Novlinda 2010



GEJOLAK CINTA PERTAMA
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 13 Maret 2009

                Waktu itu, aku baru masuk SMP, usiaku kira-kira 13 tahun.Seperti kebanyakan siswa lainnya, aku mengikuti semua aturan yang berlaku.Mengikuti penataran sampai selesai.Yang pada akhirnya seragamku berubah warna menjadi putih biru.
                Aku mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya.Kelas yang kutempati adalah bangunan baru.Kaca jendelanya masih bersih tanpa layar.Sehingga kami bisa melihat keluar kelas dengan jelasnya, siapa saja yang lewat didepannya.Jika pelajaran sedang membosankan, melihat keluar adalah solusi menghibur diri.Menambah semangat membicarakan orang yang lewat didepan kelasku.Satu persatu temanku memiliki kecengannya.Dan selalu menunggu kecengan mereka lewat didepan kelas.Lela menaksir kakak kelas 3 Ma’mun namanya.Dia selalu berjalan bersama kelompoknya lewat didepan kelasku setiap menjelang istirahat.Lela dengan semangat menepuk bahuku dan menunjuk keluar kepada orang yang dimaksudnya.Aku turut melihat keluar dan melihat sosok kak Ma’mun sejenak.Namun dibarisan paling belakang, seseorang berjalan dengan acuhnya sambil menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. ‘Taff!’ ada hentakan lain berdebum dalam perasaanku.’Kenapa eh, siapa dia? Boleh juga!’ aku belum menceritakan penemuan ini kepada Lela sebelum aku merasa yakin dengan perasaanku ini.
                Hampir satu semester masa kegiatan belajar mengajar berlangsung.Aku perhatikan kak Ma’mun dan teman-temannya setiap hari lewat didepan kelasku.Baik kedatangan, waktu istirah atau kepulangannya. Aku jadi lebih sering memperhatikan gelagat ‘seseorang’ yang selalu berjalan paling belakang.Baiklah, kusebut saja dia ‘lelaki dibarisan paling belakang’.Yang semakin hari semakin mengganggu perasaanku. Lama-lama ‘seseorang’ ini memasuki wilayah pribadiku-pikiran dan perasaanku.Sedangkan aku anak baru disekolah ini, mana ada keberanian untuk menanyakan siapa dia, dimana rumahnya dan bagaimana reaksinya menilai sikapku ini?
                Semester pertama, kunikmati saja hari-hari sebagaimana mestinya.Sedangkan Lela, semakin menunjukkan hasratnya untuk mengenal lebih jauh tentang ‘kecengannya’.Awalnya kupikir, itu urusannya, bukan urusanku.Yang semakin hari semakin tak terkendali.Sama seperti aku yang mulai memikirkan lelaki yang selalu berjalan dibarisan paling belakang, seseorang yang tak salah lagi, pasti teman sekelasnya kak Ma’mun.Kali ini, agak sedikit berbeda.Setiap dia lewat didepan kelasku, seperti dengan sengaja memperlambat langkahnya atau sesekali bercermin dikaca jendela yang membuat aku semakin jelas melihat kesempurnaan bentuk wajahnya.’Stay cool!!’ rasanya ingin berlari keluar kelas dan menanyakan ‘apa maksudnya bercermin dijendala kelasku?’ tapi keinginan itu hanya tinggal keinginan.Aku hanya diam terpaku melihatnya berbuat begitu.Lagi pula apa hakku melarang orang lain untuk tidak berbuat begini dan begitu?
                Sampai beberapa waktu, aku masih dapat menyembunyikan perasaan ini kepada Lela.Tapi tidak lama.Lalu kuberanikan diri menanyakan siapa lelaki yang selalu berjalan dibarisan paling belakang itu? Lela, memang tidak tahu.Tapi dia mau mencarikan informasi tentang lelaki itu untukku.Tentu saja aku sangat senang, sesuatu yang sangat ingin kuketahui saat ini.Lelaki yang selalu berjalan dibarisan paling belakang itu, selalu muncul dalam dunia khayalku, setiap malam, setiap aku mau memejamkan mata.Puh!
                Pagi-pagi, ketika aku baru datang dipekan bebas pasca ulangan umum.Lela menyambar lenganku dan menariknya menuju samping kelas.” Sekarang aku tahu, siapa teman kak Ma’mun yang kamu maksud itu, aku sudah dapat informasinya!” kata Lela sambil setengah terengah.”Dapat informasi dari siapa?” tanyaku terbawa emosi Lela “Dari siapa lagi, kalau bukan dari kak Ma’mun!” jawabnya.”Namanya Pepy, rumahnya di komplek Rose dibelakang sekolah ini!” ujarnya lagi.O,Tuhan, aku seperti mendapatkan bintang jatuh.Baru mendapat informasinya saja sudah menyenangkan, apa lagi dapat berkenalan langsung? Seandainya, aku punya sedikit saja keberanian!
                Berbeda dengan Lela yang sudah menjalin hubungan pertemanan dengan kak Ma’mun.Aku sama sekali tidak ada bayangan untuk berbuat seperti Lela.Yang kulihat Lela supel,mudah bergaul, banyak bahan pembicaraan.Sedangkan aku, datang kesekolah seperlunya saja.Tak ada acara untuk begini dan begitu.Pulang sekolah ya pulang saja langsung kerumah.Dan istirahat dirumah.Tapi sekarang aku merasa sedang jatuh hati padanya: kak Pepy. Barangkali karena terlalu seringnya aku memperhatikan dan reaksi sikap darinya pun seperti mau memberiku kesempatan untuk sekedar menyapa.Aku, dengan nyaliku yang menciut, selalu berhasil meninggalkan kak Pepy didepan kelas berdiri mematung.Entahlah, aku merasa belum siap, tapi aku masih suka kepadanya! Hanya itu tak lebih.
                Rupanya Lela dapat membaca kebingunganku ini, sampai dia menanyakan aku ingin menyampaikan apa untuk kak Pepy? Aku tidak tahu.Ini pengalaman pertamaku seorang perempuan seperti aku disuruh menembak seorang lelaki yang usianya minimal dua tahun diatasku.Kukatakan saja pada Lela ‘sampaikan salamku padanya!’ kupikir, salamku ini, hanya salam biasa saja.Salam perkenalan pertemanan biasa, tidak lebih! Tapi aku tidak tahu, apa yang disampaikan Lela kepada teman kak Ma’mun itu-kak Pepy.Yang jelas disemester kedua ia jadi lebih sering lewat didepan kelas atau berpapasan dimana pun aku berjalan. Apa ini unsur kebetulan? Atau kesengajaan? Entahlah….
                Disemester kedua waktu berjalan begitu cepatnya.Ujian bagi kelas tiga sudah diambang.Bermain petak umpet bersama kak Pepy menyenangkan juga.Sesekali aku melihatnya tersenyum dengan kejadian-kejadian kecil ini.Ya, walau dari kejauhan saja kunikmati senyumnya.Tapi aku sudah sangat bahagia.Semoga,suatu hari nanti aku tidak seperti ini menghadapi seseorang yang kucintai!
                                                            ******