MENGHADANG BADAI
Cianjur, 11
Oktober 2008
Oleh: Linda
Al-Husna
Gemblung berdiri mematung
dibibir pantai.Matahari didepannya setengah terbit menyemaikan warna kuning
kemerah-merahan.Gemblung tak bergeming.Meskipun hentakkan-hentakkan gelombang
kecil menerpa kedua kakinya yang telanjang.Burung-burung berterbangan diatas
hamparan laut yang bergelombang.Gemblung menunggu bapakknya kembali dari
pelayarannya mencari ikan.
Setelah keberangkatan bapaknya
dan beberapa nelayan yang lain kemarin sore.Hati ibu Gemblung diliputi
kecemasan, entah mengapa perasaannya tidak menentu, ditambah angin besar dan
hujan yang tak tertahankan diluar.”Bagaimana keadaan bapak dengan cuaca buruk
begini?” sahut ibu Gemblung menjelang tengah malam.Hujan masih turun deras,
sesekali terdengar gelegar Guntur memecah kesunyian malam.
Gemblung jadi ikut cemas,
melihat cuaca seperti ini, air laut akan cepat mengalami pasang dan membuat
gelombang ombak yang besar-besar karena dorongan angin yang besar. Gemblum
berusaha memejamkan kedua matanya meskipun perasaannya sama seperti ibunya
khawatir akan kepergian bapaknya.Dari mulut ibunya, Gemblung tahu bahwa ibunya
sedang memanjatkan do’a untuk keselamatan bapaknya dan nelayan yang lainnya.Pelan-pelan
Gemblung pun mengucapkan sebaris do’a untuk keselamatan mereka.”Ya Allah,
lindungilah bapaku dan semua nelayan yang sedang mencari ikan dilaut!”
Berulang-ulang baris kalimat itu dibacanya sampai Gemblung tertidur lelap.
Pagi-pagi sekali, usai sholat
subuh Gemblung pergi kepantai, dimana perahu-perahu selalu ditambatkan sepulan
mencari ikan.Pantai masih besih.Belum ada satu perahupun yang bertengger
dibibir pantai.Gemblung berjalan bolak-balik menghitung setiap langkah.Sampai
hitungan ke 50 Gemblung balik lagi ketempat semula.Begitulah yang dilakukannya
beberapa saat, sampai akhirnya ia berdiri mematung menatap matahari didepannya.
Cuaca pagi ini kembali
normal.Hujan sudah tumpah kemarin malam tanpa meninggalkan bekas.Langit cerah
tanpa sedikit pun awan melapisinya.Perlahan matahari mulai naik tapi Gemblung
masih berdiri ditempatnya.Orang-orang mulai berdatangan satu persatu.Sama
seperti Gemblung yang menantikan bapaknya mengail ikan dilaut.
“Hei,
Gemblung! Kamu sudah berapa lama berdiri disini?” sapa seorang anak lelaki
sebayanya.”Dari pagi sekali, selepas bedug subuh!” jawab Gemblung menoleh
kearah suara.
“Semalam cuaca amat buruk, aku
khawatir dengan mereka!” sahut sianak lelaki tadi yang bernama Somad, teman
sepermainan Gemblung.Gemblung mengangguk setuju. “Itulah,Mad, kenapa pagi
sekali aku datang kesini! Aku ingin segera mengetahui keadaan mereka!” Gemblung
kembali menikmati pemandangan didepannya, hamparan laut yang luas, diujungnya
matahari menampakkan diri setengah lingkaran dengan warna kuning
kemerah-merahan.
Somad berdiri disampingnya.Turut
menyaksikan pemandangan laut dipagi hari.Dalam hati keduanya mengakui ‘betapa
indahnya ciptaan Tuhan!’ Matahari mulai bergerak, pantai semakin ramai dipenuhi
anak-anak dan ibu-ibu mereka untuk menyambut kedatangan bapak dan suami
mereka.Suasan pantai mulai hiruk pikuk.Ada anak yang turun langsung kepantai,
berenang hingga beberapa meter dari bibir pantai.Setelah itu kembali kepantai.Begitulah
yang mereka lakukan berulang-ulang.Sementara para ibu hanya menunggu
didaratan.Gemblung belum ingin mandi, ia lebih suka menunggu bapaknya dan hasil
tangkapannya.Biasanya ikan-ikan yang ditangkap bapaknya dan teman-temannya
besar-besar.Tapi entah dengan sekarang, setelah semalaman hujan angin begitu
besar Gemblung sama sekali tidak dapat membayangkan beberpa perahu yang berisi
puluhan nelayan menghadapi hujan dan angin seperti semalam.Apa yang terjadi?
Bagaimana keadaan mereka?
Tidak hanay Gemblung yang
mencemaskan mereka.Semua tetangga yang bapak atau abangnya berangkat melaut
mencemaskan mereka.Sebab angin semalam benar-benar besar!!!
“Blung, ayo balap renang!”
teriak Wowo diantara anak-anak lain.Gemblung menggelengkan kepala,kerisauannya
mengalahkan kesenangannya balap renang seperti yang biasa dilakukan bersama
teman-temannya.Somad juga bertahan.Ia pun tak menunjukkan minatnya untuk
berenang.Disamping kirinya sudah berdiri Eko, Gani dan Lastri.Mereka berdiri
berjajar membentuk pagar betis.Tujuan mereka sama, menunggu kepulangan
bapak-bapaknya!
Pukul 10.00 wib pagi menjelang
siang, belum ada tanda-tanda kepulangan barang satu sampanpun.Orang-orang yang
menunggu mulai gelisah.Yang ditunggu belum datang juga.Anak-anak yang berenang
sudah naik kedaratan dilanjutkan dengan bermain kucing-kucingan diatas daratan.Suasan
pantai masih ramai dalam kegelisahan.Gemblung tenggelam dalam pikirannya
sendiri.Ia naik kedarat dan diikuti Somad, Eko, Gani dan Lastri.Yang duduk
membentuk setengah lingkaran.Tidak ada yang banyak bicara, pandangan mereka
terpaku kearah laut sejauh mata memandang.Berharap dari ujung pandangan mereka
muncul yang selama ini mereka tunggu.
Pukul 12.00
wib tengah hari, matahari tepat berada diatas kepala.Sebagian orang sudah
meninggalkan pantai kembali kerumahnya masing-masing.Gemblung dan teman-temannya
masih duduk dibawah sebatang pohon besar yang rindang.Air laut mulai surut,
gelombang-gelombang kecil menerpa batu-batu karang dipinggir pantai.
“Gemblung, pulang dulu nak!”
teriak ibu Gemblung dari balik punggung Gemblung.Gemblung menoleh kearah suara
ibunya “Makan dulu nak!” sahut ibunya sambil melambaikan sebelah
tangannya.Gemblung nampak enggan meninggalkan tempat duduknya namun bersama
kawannya mereka sepakat akan kembali
lagi ketempat itu setelah makan dan sholat dhuhur. Kelima anak itu berhamburan
menuju rumahnya masing-masing.Gemblung masuk kerumah panggung berdinding bilik
dan beratap serabut.Ibunya sedang berada didapur ketika Gemblung
menghampirinya.
“Makan sama apa bu?” Tanya
Gemblung sambil duduk bersila dihadapannya sebakul nasi dan lauk pauk yang sudah siap saji “Wow, ada
sambal!” teriak Gemblung, air liurnya hampir saja meleleh kalau tak segera
ditahan lidahnya.
“Ayo, makan dulu, dari tadi kamu
belum makan!” ujar ibunya seraya menyiduk sesendok nasi dari bakul dan
diberikannya kepada Gemblung “Iya, bu! Karena menunggu bapak, aku hampir lupa
makan!” jawab Gemblung “Semoga tidak terjadi apa-apa dengan bapakmu!” ibu
Gemblung menyiduk nasi untuknya.Makanlah kedua anak beranak itu dengan perasaan
harap-harap cemas.
Satu jam kemudian Gemblung sudah
berlari menuju pohon tempatnya berteduh dipinggir pantai.Ia duduk sendiri
sambil menunggu teman-temannya datang.Disebarkannya pandangannya kesetiap sudut
ujung laut.Tapi perahu-perahu itu belum tampak juga.Matahari sudah turun
sepenggalahan.Panasnya sudah tak terlalu menyengat.Satu persatu teman-teman
Gemblung bergabung bersamanya, melanjutkan masa-masa penantiannya.Lama-kelamaan
pantai kembali dipenuhi orang-orang yang bermain-main,yang berenang aatau
sekedar berdiri menghadap laut.Pantai kembali ramai, tapi perahu belum datang
juga.Gemblung semakin gelisah ‘apa yang terjadi dengan bapak? Ya Allah
selamatkanlah bapakku!’ pinta Gemblung dalam hati.Kegelisahan juga tampak pada
Somad, Eko, Gani dan Lastri serta orang-orang yang berdiri menunggu sanak familinya
melaut.
Pukul 14.30 wib dari kejauhan
sebuah titik kecil bergerak perlahan-lahan.Gemblung mengucek-ngucek kedua
matanya, inginmemastikan bahwa titik itu sedang bergerak kearahnya.Ternyata
orang-orang pun melihatnya.Mereka yakin itu perahu nelayan. Setelah lama
menunggu, benarlah bahwa itu adalah salah satu perahu nelayan mereka yang
kembali.Orang-orang bersorak kegirangan “Woooi, mereka kembali!” teriak seorang
lelaki muda.Tanpa diperintah orang-orang langsung menghampiri bibir pantai
untuk menyambut perahu itu.
Termasuk Gemblung,
Somad,Eko,Gani dan Lastri.Merka berlari secepat-cepatnya menuju bibir pantai.
“Benar itu mereka!” Teriak Somad sambil
berlari. Merka harus menunggu beberapa saat untuk dapat memastikan perahu siapakah
yang datang? Gemblung berharap semoga itu perahu yang ditumpangi
bapaknya.Perahu mulai mendarat, sebuah tali dilemparkan kesauh tiang.Satu
persatu para nelayan itu turun disambut keluarganya masing-masing.Benar ini
perahu yang ditumpangi bapaknya,namun kemana ia? Gemblung bertanya sendiri
dalam hatinya.Soalnya bapaknya pergi bersama bapaknya Somad,Eko,Gani dan Lastri
dan mereka sudah turun dari perahu.Sementara bapaknya Gemblung belum
terlihat.Gemblung lantas menghampiri pak Sulaiman, bapaknya Somad “Pak,
bagaimana bapak saya apakah ia selamat?” Tanya Gemblung hampir terbata.”Ya,
bapakmu masih ada didalam masih mengurus ikan-ikannya!” sahut pak Sulaiman yang
segera memeluk anak dan istrinya.
Gemblung segera menaiki perahu
dengan lincahnya.Didapatinya bapaknya sedang memasukkan ikan-ikan kedalam
jaring-jaring.”Bapak!” teriak Gemblung,lelaki setengah baya didepannya
mengangkat wajahnya “Untunglah bapak selamat, kami sangat mencemaskan bapak!”
Gemblung membantu bapaknya mengurus ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan
“Alhamdulillah, bapak masih diselamatkan oleh Allah, badai semalam memang
besar, perahu ini pun hampir tenggelam.Untung saja kita cepat-cepat
mengeluarkan air laut yang masuk!” cerita bapaknya mengenai kisah semalam
ditengah laut menghadapi hujan badai yang cukup besar. “Bapak juga mohon
perlindungan kepada Allah, agar bisa pulang dengan selamat!”sahut bapaknya
sambil memindahkan satu jarring ikan.”Tapi, apa pun kejadiannya yan terserah
kepada Allah saja mau diapakan nasib bapakmu dan semua teman bapak ini,
ternyata, kamu lihat sendiri bukan, bapak baik-baik saja!” Tanya bapaknya
sambil mendelik kearah Gemblung.Gemblung terpana.Pengalaman bapaknya begitu
dahsyat.Namun ia dapat mengatasinya dengan perasaan tenang. “ayo, bawa
ikan-ikan ini, kita jual kepada pak Doris, sisanya berikan untuk ibumu!” suara
bapak Gemblung mengagetkan lamunannya.Gemblung bergegas membawa satu jarring
ikan untuk dijual kepada tengkulak ikan didekat pantai.Gemblung melangkah
dengan dengan perasaan lega, bapaknya sudah kembali, bapaknya selamat menghadapi
badai, bapaknya memang seorang pelaut!!!! *****