LELAKI HIKMAH ( 1 )
Oleh
: Linda Al-Husna
Cianjur,
24 Desember 2009
Aku menatap wajahku dicermin.Rautnya sudah menampakkan
usia yang tak muda lagi.Kutatap lekat-lekat sampai aku benar-benar sadar bahwa
aku bukan anak kecil lagi dengan seribu satu kisah petualangan bersama
teman-teman.Kisah-kisah itu sudah lama berlalu. 20 tahun bukan waktu yang
sedikit untuk merubah keadaan.Termasuk jasadku! Aku harus menyadari itu.Tanpa
terasa air mataku meleleh begitu saja tanpa diperintah tanpa diminta.Kubiarkan
ia mengalir membelah kedua pipiku.Apa yang kutangisi? Aku tak tahu! Hanya
dengan melihat garis wajahku, perasaanku jadi tak menentu atau barangkali
karena beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Lino,temanku di Madrasah
Ibtidaiyyah yang juga terlihat sudah tak muda lagi seperti dulu. Kenangan manis
itu kembali bermunculan sepenggal-sepenggal yang ceritanya seperti minta
disusun kembali. Bertemu Lino disebuah tempat yang dijanjikan, meski sebentar,
aku merasakan ingatan masa laluku kembali terbangkitkan.Lino dan pengalaman
hidupnya pun dapat berubah menjadi seorang pemuda anggun dengan hikmah-hikmah
yang sudah didapatinya.Kalimat-kalimatnya jadi bijaksana.Tidak seperti dulu,
waktu masih duduk di Madrasah ibtidaiyyah.Lino sudah sangat berubah!
Aku masih menatap wajahku dicermin.Kuamati dua garis
dipipiku.Mungkin aku menangisi Lino yang sudah bergelut dengan kehidupan kerasnya
sampai menjadikannya sedemikian rupa.Atau mungkin karena aku pernah menyukai
Lino tapi tak pernah terungkapkan? Entah mana yang kutangisi? Yang jelas
kerut-kerut wajahku menampakkan, betapa
wajah ini telah menua, seharusnya pengalaman-pengalaman itu pun mampu merubah
pola pikir dan pola sikap. Air mataku semakin deras membanjiri seluruh
permukaan wajahku.Lino hebat! Lino sudah mampu merubah dirinya.Sedangkan aku?
Apa yang sudah berubah kecuali wajah yang tak muda lagi? Lino, apa kau tahu,
dulu aku pernah menyukaimu? Dasar anak nakal!!!!
******
24 tahun yang lalu aku masih sangat kecil.Usiaku 9
taun duduk dibangku kelas 3 Madrasah ibtidaiyyah.Wajahku tidak cantik tapi juga
tidak terlalu jelek.Kulitku sawo matang tinggiku 127 cm.Aku baru tahu tinggi
badanku karena hari ini pada jam olah raga semua murid dimintakan untuk
mengukur tinggi dan berat badan.Bersama teman-teman secara bergiliran pak guru
menuliskan berapa tinggi dan berat badan kami.Setelah itu kami boleh bermain
apa saja ditanah lapang didepan kelas.Dengan perasan membuncah kami bersorak
sambil berhamburan memenuhi tanah lapang.
“Woooiii, kita main galah pepe yuk?” teriak Lino anak
ternakal dikelasku.Sebagian anak lelaki menyambut ajakan Lino.Igun,
Zeni,Yuan,Wawan,Deni siap membentuk kelompoknya. “Kita melawan siapa?” Tanya
Igun “Bagaimana kalau kita lawan anak perempuan saja?” jawab Lino seolah
keputusannya itu terpenting yang harus diikuti semua orang. “Baiklah…hei, anak
perempuan ayo kita main galah pepe! Cari kelompoknya!” teriak Igun yang kemudian
berbalik mengahdap kearah Rida, teman sebangkuku. Rida langsung mencari teman
kelompoknya.Aku, Kina, Sefi,Emi, dan Anti siap membentuk kelompok melawan
kelompok laki-laki. Permainan dimulai.Kelompok perempuan yang punya kesempatan
bermain-menerjang setiap garis yang dijaga oleh kelompok lawan-kelompok
laki-laki. Aku dengan semangat siap mengarungi lapang.Entah perasaan apa ini
namanya, ketika aku berdiri digaris star dan melihat ke ujung garis sana
melewati bahu para penjaga,terlintas dalam pikiranku ‘Aku harus
menaklukkannya.Tak peduli siapa pun yang menghalangi jalanku!’
Aku terhenyak, sebuah suara membuyarkan
pikiranku.”Salma, ayo,maju!” teriak Emi.Aku melihat teman-teman yang lain sudah
berhambur masuk kedalam dua kotak lapang badminton.Rida, Kina dan Sefi berada
dikotak kanan.Didepannya Lino siap menghantam.Aku,Emi dan Anti berada dikotak
kiri, Wawan yang berada didepan kami. Usaha meloloskan diri dari cengkraman
lawan,beberapa kali dicoba.Namun kejelian dan ketangkasan kedua lawan didepan
kami lebih berbahaya.Tak urung keadaannya jadi mundur maju,mundur maju.Sampai
akhirnya Lino berteriak “Wan, gentian, biar aku yang jaga si Salma! Kamu pindah
kesini!” Wawan menurut.Maka terjadilah perpindahan tempat.
Sebenarnya aku lebih suka Wawan yang berada didepanku
ketimbang Lino. Soalnya Lino lebih garang dan punya gerak cepat untuk
menaklukkan lawan.Tapi mungkin itu strateginya agar kami tak satu pun berhasil
lolos melewati garis hambatan pertama.Lino sudah berdiri didepan. Aku,Emi dan anti
saling berpegang tangan.Takut disambar tangan Lino.Gerakannya cepat sekali.Jadi
kami harus berhati-hati. Lino membiarkan garis hambatan kosong, sementara ia
berdiri digaris samping.Kupikir lebih baik aku mencoba melewati garis itu.Tapi
gerakan Lino memang cepat.Sekali lagi aku mundur, menghindari tangan Lino yang
siap menyentuh menggapai tubuhku. “Eit,tidak kena!” hampir saja tangan itu
menyentuh lenganku. Lino meneruskan larinya mengelilingi garis.Sementara Wawan
berlari kekiri dan kekanan membayang-bayangi usaha kami.Sampai akhirnya, tanpa
kusadari aku berdiri terlalu merapat kegaris hingga sebuah tangan menepuk
pundakku “ Woooiii, si Salma dapat pundaknya! Kita menang!!!” teriak Lino dari
arah belakangku.Semua temannya bersorak kegirangan.Sementara Rida, Kina dan
sefi hanya menatap kosong kearahku.Ya sudah, permainan berubah posisi.Kali ini
kelompok perempuan menjaga garis hambatan.Setiap garis dijaga oleh dua orang.
Rida dan aku bagian garis depan, Kina dan Sefi bagian garis tengah,Emi dan Anti
bagian garis belakang. 6 anak lelaki berhambur memasuki dua
tempat.Masing-masing diisi oleh 3 orang.Lino berdiri didepanku.Ia berusha
melewati garis yang kujaga.Aku tidak mau kalah, aku mencoba memenangkan tubuh
Lino.Baru akan menyentuh, Lino membentakku dengan suara garangnya. “Eeeee, kamu
curang Salma, kamu tidak boleh menginjak garis ini!” teriaknya sambil menunjuk
kaki kananku.Dibentak demikian aku jadi mengkerutsementara Lino berhasil
melewati garis hambatan pertama.Aku dan Rida sibuk menjaga yang lainnya hingga
beberapa saat, sebuah tubuh menggelinding dari belakang melewati garis pertama
dan…gooooolll!! “wooiii kita menang!!” suara Lino begitu nyaring terdengar
sambil berlari menuju garis star. Rida dan aku merasa kecolongan.Kecepatan
gerakan Lino tak dapat dielakkan.
Akhirnya, kelompok perempuan harus mengakui
kemenangan kelompok anak lelaki.Meski dalam hatiku, aku tidak suka dengan cara
main Lino.Gara-gara membentakku, aku kehilangan kesempatan untuk
mengalahkannya.Ya, mungkin itu strateginya.Sebel!!!!!
***********
Permainan berakhir bersamaan dengan lonceng tanda
masuk kelas berbunyi.Permainan itu begitu serunya.Hingga kami melewati jam
istirahat.Tidak peduli peluh bercucuran, berlari kesana kemari, teriyaki satu
sama lain.Sedikit main curang seru juga. Walau kemenangan itu ada dipihak
kelompok anak lelaki. Semua pemain meninggalkan tanah lapang.Demikian pun teman
lainnya yang tidak ikut main galah pepe.Sebelum masuk kelas, aku dan kelompok
anak perempuan mampir dulu dikantin.Ternyata kelompok anak lelaki juga
mengikuti.Sebuah bangku bertengger didepan warung yang sudah ditinggalkan oleh
siswa yang lainnya.Pendeknya kantin telah kosong waktu kami memasukinya.Kami
sibuk mengambil satu persatu makanan yang diinginkan.Sambil duduk berjajar kami
membicarakan kembali laju permainan tadi.Rida, duduk disamping kiriku.Disamping
kananku Wawan dan Lino.Lino duduk menghadap kearah wawan.Otomatis juga
menghadap kearahku. Aku tenggelam dengan makananku. Tanpa disadari, Wawan
bangkit dari tempat duduknya mengambil makanan dan tak kembali duduk ditempat
semula.Tempat itu jadi kosong.Tinggallah Lino duduk masih menghadap kearahku.
Sambil mengunyah makanan, aku merasa ada sesuatu yang aneh datang dari sebelah
kananku.Kulirik kesebelah kanan dan eeiittss!!! Sambil mengunyah makanan mata
Lino tertuju padaku, lama sekali.Tak terbayangkan betapa malunya aku.Rupanya
sejak aku mengunyah makanan sampai habisnya, Lino memandangku terus.Apa
menariknya? Entah karena kaget atau malu, Lino bangkit membayar semua makanan
yang diambilnya lalu berjalan melewatiku sambil mengepalkan sebelah tangannya
dan ditonjokkannya hampir mengenai kepalaku.Tidak kena memang, tapi itu cukup
mengagetkan!
**********
Kelas mulai penuh.Semua teman kelasku sudah duduk
ditempatnya masing-masing.Aku siap menerima pelajaran berikutnya.Ruang kelas 3
berada diantara kelas 2 dan kelas 4 ruangnya masih sangat sederhana.Setiap
ruang terhalang oleh setengah bata dan setengah papan..Sekolahku bernaung
disebuah yayasan pendidikan yang masih sangat sederhana.Siswanya pun tidak
terlalu banyak.Masing-masing kelas tidak lebih dari 30 siswa. Namun begitu aku
bersyukur, aku dan temanku selalu menjaga kebersamaan.Sesekali bertengkar tak
apalah, yang penting kami masih tinggal bersama tanpa masalah yang berarti.
Sebenarnya, Igun dan Kina siswa yang paling pandai
dikelasku.Tapi teman-teman menunjuk aku sebagai ketua kelas.Dibantu Rida, aku
mengatasi kenakalan teman-temanku.Kata guru kelasku, kalau sedang belajar ada
anak yang keluar dari bangku, catat saja namanya nanti dilaporkan
kepadanya.Terutama jika sedang tidak ada guru.Sebagai ketua kelas yang harus
bertanggung jawab.Aku turuti perkataan guruku.Kusiapkan kertas untuk kucatat
nama-nama yang perlu dicatat.Setengah jam pelajaran semua berjalan sebagai
mestinya.Rida mencatat materi pelajaran dipapan tulis.Semua siswa
mencatatnya.Lama kelamaan suasannya berubah, satu persatu anak lelaki keluar
dari bangkunya.Aku ingat pesan guru kelasku.Setelah kuperingati tak juga mau
menurut, kutuliskan beberapa nama.Wawan,Yuan,Deni dan Zeni adalah orang pertama
yang kutulis.Alasan mereka tidak kelihatan melihat hurup-hurup yang ditulis
Rida dipapan tulis. Baiklah kucatat saja tanpa banyak bicara.Sesaat suasana
hening.
Tiba-tiba dari belakang kudengar suara gedebak
gedebuk beberapa kali.Aku sedang asyik menulis materi pelajaran.Sedikit menoleh
kearah sumber suara.Ya ampun.Lino,Inu,Zeni dan Yuan tengah berjibaku saling
memukul dan menendang.Rupanya ada perkelahian dibangku bagian belakang.Aku
mengambil penggaris yang menggantung disisi papan tulis, kupukul-pukulkan
keatas meja guru yang kosong “Tak..tak…tak…!!!!” semua mata memandang
kearahku.”Jangan berisik, nanti aku catat namanya!” teriakku maksudku kepada
sumber keberisikkan. Rupanya teriakanku tak membuat mereka berhenti.Kuhampiri
mereka mencoba memisahkan perkelahian ke-4 anak itu.Tapi Lino malah balik
memelototi aku sambil mendengus mengucapkan kalimat sinis “Apa lihat-lihat?”
Lino memandangku dengan sorot mata tajam seolah siap memukulkan tinjunya.
Lagi, Lino membuat nyaliku menciut.Meski ketua kelas,
aku tidak berdaya menghadapi sikapnya yang begitu.Aku hanya menelan ludah dan
kembali ketempat dudukku dengan kemarahan yang tertahan.Kutulis nama Lino
dengan hurup besar.kemudian Inu,Wawan dan Zeni “Dasar anak nakal, awas
kulaporkan keguru kelas.Rasakan!” tekadku dalam hati.
Rida menyudahi tulisannya.Ia kembali ketempat duduk
sambil menenteng buku paket. “Kenapa Sal?” tanyanya melihat kearahku.Sadar atau
tidak bibirku sedikit maju, mataku tertunduk menulis pun mau tak mau.
“Sebel!!!” gerutuku “Sama siapa?” Rida penasaran “Nih!” aku menunjukkandaftar
catatanku hari ini.Rida membacanya kemudian melihat kearah ke-4 anak yang ada
dalam catatanku.”Keluar bangku lagi ya?” tanyanya sambil tersenyum.Entah senang
entah mengejek ketidak berdayaanku “Ya sudah, biarkan saja.Lagi pula sebentar
lagi kita pulang!” katanya menenangkanku.Aku selesai menulis, kukemasi semua
alat tulisku.Anak-anak belum boleh meninggalkan kelas sebelum lonceng
berbunyi.Begitu pesan guruku.Begitu pula aku menyampaikan pesan itu kepada
teman sekelasku!!!!
**********
Lonceng berbunyi.Tanpa komando anak-anak lansung
bersorak, berhamburan menuju pintu keluar.Dipintu jadi sesak semua orang ingin
cepat keluar meninggalkan kelas.Aku satu diantara kerumunan itu.Aksi dorong
mendorong pun terjadi.Selalu begitu jika bukan guru terakhir yang menertibkan
jalur menuju pintu keluar.
Karena jam terakhir tidak ada guru.Kebiasaan itu pun
terjadi lagi.Kesulitan keluar kelas dengan segera.Dalam hitungan detik semua
sudah berkumpul dilubang pintu. Kendati begitu satu persatu dapat keluar
melewati gulungan manusia-manusia kecil yang tak sabar ingin cepat pulang.Tapi
selalu saja ada anak yang menghambat, dengan sengaja berdiri dilubang pintu
menghalangi jalan keluar.Entah itu Lino, Inu, Zeni,Deni atau siapa saja yang
usilnya sedang kambuh.Kami, kaum perempuan hanya bisa ikut bergulung sampai
akhirnya bobol juga penghalang jalan.Semua keluar dengan penampilan yang tak
beraturan.Ada yang kena siku, kena tendang, kena pukul dsb.Hal itu sudah
dianggap biasa dikelasku.Rupanya hanya dikelasku yang berlaku demikian.Sebab
dikelas yang lain tak pernah terdengar kekacauan serupa.Tapi semua itu masih
berjalan dalam batas kewajaran.Makanya dianggap hal biasa oleh guru atau kepala
sekolah.
Aku bersama sebagian teman perempuan bergerak berarak
menuju pintu belakang.Dimana Lino dan teman-temannya menggunakan pintu itu.Baik
datang atau pun pulang.Kami seperti segerombolan semut yang berjalan sambil
berbicara sekencang-kencangnya.Suara anak lelaki terdengar saling bersahutan.Aku
tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.Aku hanya berjalan diantara teman
perempuan.Rida berjalan disampingku.
Tiba dipersimpangan yang dibawahnya terdapat sungai
dekat pos hansip.Aku mendengar Lino menyebut namaku.”Salma, awas ya, nanti kutiduri
kamu!” sambil berkata begitu Lino berjalan anggun bersama teman-temannya
berbelok menuju arah rumahnya.Tak tertangkap olehku raut wajahnya.Aku hanya
melihat dari jauh wajahnya membelakangiku.Tapi suaranya sangat jelas
terdengar.Lino sedang bicara denganku!
Aku hanya bisa memandangnya sedikit jauh.Sebab Lino
bergerak meninggalkanku.Aku mencerna kalimatnya yang tak kumengerti.’Kenapa
Lino ingin meniduriku? Kenapa aku mau tidur bersamanya? Kita kan masih
anak-anak,bukankah urusan tidur dengan lawan jenis itu urusan orang dewasa?
Kenapa Lino punya pikiran begitu? Lagi pula selama ini, sikap yang
ditunjukkannya padaku sebuah sikap permusuhan? Sikap yang selalu ingin mengajak
perang atau bertarung apa saja? Ya kecuali tadi dikantin. Itu sesuatu yang baru
saja kutangkap dari Lino.Caranya memandangku, caranya duduk menghadapku seperti
tengah menaksir keberadaanku,sang ketua kelas yang kerap bertengkar
dengannya.Sekarang Lino mengatakan kalimat itu. Apakah itu kalimat pinangan
atau sekedar bunyi saja? Ah, entahlah aku tak mengerti!
Sambil berjalan aku memikirkan Lino yang sudah tak
terlihat lagi.Tanpa senagja aku melirik kearah Rida.Entah bagaimana pula aku
jadi merasa tidak enak dengan raut yang kulihat saat itu.Wajahnya berubah
dingin seperti es.Tapi aku tak berani menanyakan kenapa wajahnya jadi berubah?
Semoga bukan kalimat tadi yang membuatnya berubah.Rida memang jadi tak banyak
bicara sampai kami berpisah menuju rumah masing-masing.Kalimatnya sedikit
sekali.Tidak seperti biasanya.Ada apa dengan Rida? Masa bodo ah….
*****************
Buat: Siswa MI Al-Ianah
Cianjur
Angkatan 1989
I miss you all….