Minggu, 30 Maret 2014

Cerpen Linda Novlinda 2010



LELAKI HIKMAH ( 1 )
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 24 Desember 2009

                Aku menatap wajahku dicermin.Rautnya sudah menampakkan usia yang tak muda lagi.Kutatap lekat-lekat sampai aku benar-benar sadar bahwa aku bukan anak kecil lagi dengan seribu satu kisah petualangan bersama teman-teman.Kisah-kisah itu sudah lama berlalu. 20 tahun bukan waktu yang sedikit untuk merubah keadaan.Termasuk jasadku! Aku harus menyadari itu.Tanpa terasa air mataku meleleh begitu saja tanpa diperintah tanpa diminta.Kubiarkan ia mengalir membelah kedua pipiku.Apa yang kutangisi? Aku tak tahu! Hanya dengan melihat garis wajahku, perasaanku jadi tak menentu atau barangkali karena beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Lino,temanku di Madrasah Ibtidaiyyah yang juga terlihat sudah tak muda lagi seperti dulu. Kenangan manis itu kembali bermunculan sepenggal-sepenggal yang ceritanya seperti minta disusun kembali. Bertemu Lino disebuah tempat yang dijanjikan, meski sebentar, aku merasakan ingatan masa laluku kembali terbangkitkan.Lino dan pengalaman hidupnya pun dapat berubah menjadi seorang pemuda anggun dengan hikmah-hikmah yang sudah didapatinya.Kalimat-kalimatnya jadi bijaksana.Tidak seperti dulu, waktu masih duduk di Madrasah ibtidaiyyah.Lino sudah sangat berubah!

                Aku masih menatap wajahku dicermin.Kuamati dua garis dipipiku.Mungkin aku menangisi Lino yang sudah bergelut dengan kehidupan kerasnya sampai menjadikannya sedemikian rupa.Atau mungkin karena aku pernah menyukai Lino tapi tak pernah terungkapkan? Entah mana yang kutangisi? Yang jelas kerut-kerut wajahku  menampakkan, betapa wajah ini telah menua, seharusnya pengalaman-pengalaman itu pun mampu merubah pola pikir dan pola sikap. Air mataku semakin deras membanjiri seluruh permukaan wajahku.Lino hebat! Lino sudah mampu merubah dirinya.Sedangkan aku? Apa yang sudah berubah kecuali wajah yang tak muda lagi? Lino, apa kau tahu, dulu aku pernah menyukaimu? Dasar anak nakal!!!!
                                                                                                                                                                                                                                                ******
                24 tahun yang lalu aku masih sangat kecil.Usiaku 9 taun duduk dibangku kelas 3 Madrasah ibtidaiyyah.Wajahku tidak cantik tapi juga tidak terlalu jelek.Kulitku sawo matang tinggiku 127 cm.Aku baru tahu tinggi badanku karena hari ini pada jam olah raga semua murid dimintakan untuk mengukur tinggi dan berat badan.Bersama teman-teman secara bergiliran pak guru menuliskan berapa tinggi dan berat badan kami.Setelah itu kami boleh bermain apa saja ditanah lapang didepan kelas.Dengan perasan membuncah kami bersorak sambil berhamburan memenuhi tanah lapang.
                “Woooiii, kita main galah pepe yuk?” teriak Lino anak ternakal dikelasku.Sebagian anak lelaki menyambut ajakan Lino.Igun, Zeni,Yuan,Wawan,Deni siap membentuk kelompoknya. “Kita melawan siapa?” Tanya Igun “Bagaimana kalau kita lawan anak perempuan saja?” jawab Lino seolah keputusannya itu terpenting yang harus diikuti semua orang. “Baiklah…hei, anak perempuan ayo kita main galah pepe! Cari kelompoknya!” teriak Igun yang kemudian berbalik mengahdap kearah Rida, teman sebangkuku. Rida langsung mencari teman kelompoknya.Aku, Kina, Sefi,Emi, dan Anti siap membentuk kelompok melawan kelompok laki-laki. Permainan dimulai.Kelompok perempuan yang punya kesempatan bermain-menerjang setiap garis yang dijaga oleh kelompok lawan-kelompok laki-laki. Aku dengan semangat siap mengarungi lapang.Entah perasaan apa ini namanya, ketika aku berdiri digaris star dan melihat ke ujung garis sana melewati bahu para penjaga,terlintas dalam pikiranku ‘Aku harus menaklukkannya.Tak peduli siapa pun yang menghalangi jalanku!’
                Aku terhenyak, sebuah suara membuyarkan pikiranku.”Salma, ayo,maju!” teriak Emi.Aku melihat teman-teman yang lain sudah berhambur masuk kedalam dua kotak lapang badminton.Rida, Kina dan Sefi berada dikotak kanan.Didepannya Lino siap menghantam.Aku,Emi dan Anti berada dikotak kiri, Wawan yang berada didepan kami. Usaha meloloskan diri dari cengkraman lawan,beberapa kali dicoba.Namun kejelian dan ketangkasan kedua lawan didepan kami lebih berbahaya.Tak urung keadaannya jadi mundur maju,mundur maju.Sampai akhirnya Lino berteriak “Wan, gentian, biar aku yang jaga si Salma! Kamu pindah kesini!” Wawan menurut.Maka terjadilah perpindahan tempat.
                Sebenarnya aku lebih suka Wawan yang berada didepanku ketimbang Lino. Soalnya Lino lebih garang dan punya gerak cepat untuk menaklukkan lawan.Tapi mungkin itu strateginya agar kami tak satu pun berhasil lolos melewati garis hambatan pertama.Lino sudah berdiri didepan. Aku,Emi dan anti saling berpegang tangan.Takut disambar tangan Lino.Gerakannya cepat sekali.Jadi kami harus berhati-hati. Lino membiarkan garis hambatan kosong, sementara ia berdiri digaris samping.Kupikir lebih baik aku mencoba melewati garis itu.Tapi gerakan Lino memang cepat.Sekali lagi aku mundur, menghindari tangan Lino yang siap menyentuh menggapai tubuhku. “Eit,tidak kena!” hampir saja tangan itu menyentuh lenganku. Lino meneruskan larinya mengelilingi garis.Sementara Wawan berlari kekiri dan kekanan membayang-bayangi usaha kami.Sampai akhirnya, tanpa kusadari aku berdiri terlalu merapat kegaris hingga sebuah tangan menepuk pundakku “ Woooiii, si Salma dapat pundaknya! Kita menang!!!” teriak Lino dari arah belakangku.Semua temannya bersorak kegirangan.Sementara Rida, Kina dan sefi hanya menatap kosong kearahku.Ya sudah, permainan berubah posisi.Kali ini kelompok perempuan menjaga garis hambatan.Setiap garis dijaga oleh dua orang. Rida dan aku bagian garis depan, Kina dan Sefi bagian garis tengah,Emi dan Anti bagian garis belakang. 6 anak lelaki berhambur memasuki dua tempat.Masing-masing diisi oleh 3 orang.Lino berdiri didepanku.Ia berusha melewati garis yang kujaga.Aku tidak mau kalah, aku mencoba memenangkan tubuh Lino.Baru akan menyentuh, Lino membentakku dengan suara garangnya. “Eeeee, kamu curang Salma, kamu tidak boleh menginjak garis ini!” teriaknya sambil menunjuk kaki kananku.Dibentak demikian aku jadi mengkerutsementara Lino berhasil melewati garis hambatan pertama.Aku dan Rida sibuk menjaga yang lainnya hingga beberapa saat, sebuah tubuh menggelinding dari belakang melewati garis pertama dan…gooooolll!! “wooiii kita menang!!” suara Lino begitu nyaring terdengar sambil berlari menuju garis star. Rida dan aku merasa kecolongan.Kecepatan gerakan Lino tak dapat dielakkan.
                Akhirnya, kelompok perempuan harus mengakui kemenangan kelompok anak lelaki.Meski dalam hatiku, aku tidak suka dengan cara main Lino.Gara-gara membentakku, aku kehilangan kesempatan untuk mengalahkannya.Ya, mungkin itu strateginya.Sebel!!!!!
                                                                ***********
                Permainan berakhir bersamaan dengan lonceng tanda masuk kelas berbunyi.Permainan itu begitu serunya.Hingga kami melewati jam istirahat.Tidak peduli peluh bercucuran, berlari kesana kemari, teriyaki satu sama lain.Sedikit main curang seru juga. Walau kemenangan itu ada dipihak kelompok anak lelaki. Semua pemain meninggalkan tanah lapang.Demikian pun teman lainnya yang tidak ikut main galah pepe.Sebelum masuk kelas, aku dan kelompok anak perempuan mampir dulu dikantin.Ternyata kelompok anak lelaki juga mengikuti.Sebuah bangku bertengger didepan warung yang sudah ditinggalkan oleh siswa yang lainnya.Pendeknya kantin telah kosong waktu kami memasukinya.Kami sibuk mengambil satu persatu makanan yang diinginkan.Sambil duduk berjajar kami membicarakan kembali laju permainan tadi.Rida, duduk disamping kiriku.Disamping kananku Wawan dan Lino.Lino duduk menghadap kearah wawan.Otomatis juga menghadap kearahku. Aku tenggelam dengan makananku. Tanpa disadari, Wawan bangkit dari tempat duduknya mengambil makanan dan tak kembali duduk ditempat semula.Tempat itu jadi kosong.Tinggallah Lino duduk masih menghadap kearahku. Sambil mengunyah makanan, aku merasa ada sesuatu yang aneh datang dari sebelah kananku.Kulirik kesebelah kanan dan eeiittss!!! Sambil mengunyah makanan mata Lino tertuju padaku, lama sekali.Tak terbayangkan betapa malunya aku.Rupanya sejak aku mengunyah makanan sampai habisnya, Lino memandangku terus.Apa menariknya? Entah karena kaget atau malu, Lino bangkit membayar semua makanan yang diambilnya lalu berjalan melewatiku sambil mengepalkan sebelah tangannya dan ditonjokkannya hampir mengenai kepalaku.Tidak kena memang, tapi itu cukup mengagetkan!
                                                                **********
                Kelas mulai penuh.Semua teman kelasku sudah duduk ditempatnya masing-masing.Aku siap menerima pelajaran berikutnya.Ruang kelas 3 berada diantara kelas 2 dan kelas 4 ruangnya masih sangat sederhana.Setiap ruang terhalang oleh setengah bata dan setengah papan..Sekolahku bernaung disebuah yayasan pendidikan yang masih sangat sederhana.Siswanya pun tidak terlalu banyak.Masing-masing kelas tidak lebih dari 30 siswa. Namun begitu aku bersyukur, aku dan temanku selalu menjaga kebersamaan.Sesekali bertengkar tak apalah, yang penting kami masih tinggal bersama tanpa masalah yang berarti.
                Sebenarnya, Igun dan Kina siswa yang paling pandai dikelasku.Tapi teman-teman menunjuk aku sebagai ketua kelas.Dibantu Rida, aku mengatasi kenakalan teman-temanku.Kata guru kelasku, kalau sedang belajar ada anak yang keluar dari bangku, catat saja namanya nanti dilaporkan kepadanya.Terutama jika sedang tidak ada guru.Sebagai ketua kelas yang harus bertanggung jawab.Aku turuti perkataan guruku.Kusiapkan kertas untuk kucatat nama-nama yang perlu dicatat.Setengah jam pelajaran semua berjalan sebagai mestinya.Rida mencatat materi pelajaran dipapan tulis.Semua siswa mencatatnya.Lama kelamaan suasannya berubah, satu persatu anak lelaki keluar dari bangkunya.Aku ingat pesan guru kelasku.Setelah kuperingati tak juga mau menurut, kutuliskan beberapa nama.Wawan,Yuan,Deni dan Zeni adalah orang pertama yang kutulis.Alasan mereka tidak kelihatan melihat hurup-hurup yang ditulis Rida dipapan tulis. Baiklah kucatat saja tanpa banyak bicara.Sesaat suasana hening.
                Tiba-tiba dari belakang kudengar suara gedebak gedebuk beberapa kali.Aku sedang asyik menulis materi pelajaran.Sedikit menoleh kearah sumber suara.Ya ampun.Lino,Inu,Zeni dan Yuan tengah berjibaku saling memukul dan menendang.Rupanya ada perkelahian dibangku bagian belakang.Aku mengambil penggaris yang menggantung disisi papan tulis, kupukul-pukulkan keatas meja guru yang kosong “Tak..tak…tak…!!!!” semua mata memandang kearahku.”Jangan berisik, nanti aku catat namanya!” teriakku maksudku kepada sumber keberisikkan. Rupanya teriakanku tak membuat mereka berhenti.Kuhampiri mereka mencoba memisahkan perkelahian ke-4 anak itu.Tapi Lino malah balik memelototi aku sambil mendengus mengucapkan kalimat sinis “Apa lihat-lihat?” Lino memandangku dengan sorot mata tajam seolah siap memukulkan tinjunya.
                Lagi, Lino membuat nyaliku menciut.Meski ketua kelas, aku tidak berdaya menghadapi sikapnya yang begitu.Aku hanya menelan ludah dan kembali ketempat dudukku dengan kemarahan yang tertahan.Kutulis nama Lino dengan hurup besar.kemudian Inu,Wawan dan Zeni “Dasar anak nakal, awas kulaporkan keguru kelas.Rasakan!” tekadku dalam hati.
                Rida menyudahi tulisannya.Ia kembali ketempat duduk sambil menenteng buku paket. “Kenapa Sal?” tanyanya melihat kearahku.Sadar atau tidak bibirku sedikit maju, mataku tertunduk menulis pun mau tak mau. “Sebel!!!” gerutuku “Sama siapa?” Rida penasaran “Nih!” aku menunjukkandaftar catatanku hari ini.Rida membacanya kemudian melihat kearah ke-4 anak yang ada dalam catatanku.”Keluar bangku lagi ya?” tanyanya sambil tersenyum.Entah senang entah mengejek ketidak berdayaanku “Ya sudah, biarkan saja.Lagi pula sebentar lagi kita pulang!” katanya menenangkanku.Aku selesai menulis, kukemasi semua alat tulisku.Anak-anak belum boleh meninggalkan kelas sebelum lonceng berbunyi.Begitu pesan guruku.Begitu pula aku menyampaikan pesan itu kepada teman sekelasku!!!!
                                                                                **********

                Lonceng berbunyi.Tanpa komando anak-anak lansung bersorak, berhamburan menuju pintu keluar.Dipintu jadi sesak semua orang ingin cepat keluar meninggalkan kelas.Aku satu diantara kerumunan itu.Aksi dorong mendorong pun terjadi.Selalu begitu jika bukan guru terakhir yang menertibkan jalur menuju pintu keluar.
                Karena jam terakhir tidak ada guru.Kebiasaan itu pun terjadi lagi.Kesulitan keluar kelas dengan segera.Dalam hitungan detik semua sudah berkumpul dilubang pintu. Kendati begitu satu persatu dapat keluar melewati gulungan manusia-manusia kecil yang tak sabar ingin cepat pulang.Tapi selalu saja ada anak yang menghambat, dengan sengaja berdiri dilubang pintu menghalangi jalan keluar.Entah itu Lino, Inu, Zeni,Deni atau siapa saja yang usilnya sedang kambuh.Kami, kaum perempuan hanya bisa ikut bergulung sampai akhirnya bobol juga penghalang jalan.Semua keluar dengan penampilan yang tak beraturan.Ada yang kena siku, kena tendang, kena pukul dsb.Hal itu sudah dianggap biasa dikelasku.Rupanya hanya dikelasku yang berlaku demikian.Sebab dikelas yang lain tak pernah terdengar kekacauan serupa.Tapi semua itu masih berjalan dalam batas kewajaran.Makanya dianggap hal biasa oleh guru atau kepala sekolah.
                Aku bersama sebagian teman perempuan bergerak berarak menuju pintu belakang.Dimana Lino dan teman-temannya menggunakan pintu itu.Baik datang atau pun pulang.Kami seperti segerombolan semut yang berjalan sambil berbicara sekencang-kencangnya.Suara anak lelaki terdengar saling bersahutan.Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.Aku hanya berjalan diantara teman perempuan.Rida berjalan disampingku.
                Tiba dipersimpangan yang dibawahnya terdapat sungai dekat pos hansip.Aku mendengar Lino menyebut namaku.”Salma, awas ya, nanti kutiduri kamu!” sambil berkata begitu Lino berjalan anggun bersama teman-temannya berbelok menuju arah rumahnya.Tak tertangkap olehku raut wajahnya.Aku hanya melihat dari jauh wajahnya membelakangiku.Tapi suaranya sangat jelas terdengar.Lino sedang bicara denganku!
                Aku hanya bisa memandangnya sedikit jauh.Sebab Lino bergerak meninggalkanku.Aku mencerna kalimatnya yang tak kumengerti.’Kenapa Lino ingin meniduriku? Kenapa aku mau tidur bersamanya? Kita kan masih anak-anak,bukankah urusan tidur dengan lawan jenis itu urusan orang dewasa? Kenapa Lino punya pikiran begitu? Lagi pula selama ini, sikap yang ditunjukkannya padaku sebuah sikap permusuhan? Sikap yang selalu ingin mengajak perang atau bertarung apa saja? Ya kecuali tadi dikantin. Itu sesuatu yang baru saja kutangkap dari Lino.Caranya memandangku, caranya duduk menghadapku seperti tengah menaksir keberadaanku,sang ketua kelas yang kerap bertengkar dengannya.Sekarang Lino mengatakan kalimat itu. Apakah itu kalimat pinangan atau sekedar bunyi saja? Ah, entahlah aku tak mengerti!
                Sambil berjalan aku memikirkan Lino yang sudah tak terlihat lagi.Tanpa senagja aku melirik kearah Rida.Entah bagaimana pula aku jadi merasa tidak enak dengan raut yang kulihat saat itu.Wajahnya berubah dingin seperti es.Tapi aku tak berani menanyakan kenapa wajahnya jadi berubah? Semoga bukan kalimat tadi yang membuatnya berubah.Rida memang jadi tak banyak bicara sampai kami berpisah menuju rumah masing-masing.Kalimatnya sedikit sekali.Tidak seperti biasanya.Ada apa dengan Rida? Masa bodo ah….

                                                *****************


Buat: Siswa MI Al-Ianah Cianjur
          Angkatan 1989
          I miss you all….

Sabtu, 01 Maret 2014

Cerpen 1 Linda Novlinda 2010



LELAKI KE 2
Oleh: Linda Al-Husna
Cianjur, 04 Juli 2010


                Diary, hari ini aku sedang merasa bingung! Pikiranku seperti mau pecah,mau meledak! Sebab aku….apakah salah jika aku merasakan cinta yang lain selain kekasihku? Aku memang merasa sedang tidak ada masalah dengan kekasihku tapi kebersamaanku dengannya semakin terasa berjarak.Aku harus menunggu dia sampai dia selesai menjalankan tugasnya dan itu butuh kesabaran yang luar biasa! Lama-lama ry, aku jadi bosan sendiri! Lalu datang seseorang lain menawarkan kebaikannya padaku, menemaniku, berbicara apa saja membantuku mencairkan kebosanan ini.Ya, awalnya, aku tidak ada minat untuk berselingkuh atau apalah itu namanya.Aku hanya menikmati apa yang ada dihadapanku.

                Diary, orang itu bernama Marcus, lelaki berkulit sawo matang tinggi dan elegan.Penampilannya enak dipandang, tidak sombong dan baik hati pula.Semua yang dekat dengannya menyatakan begitu.Ya, kupikir dia memang begitu, meski pun aku baru bertemu beberapa kali ditempat kerjaku. Dia anak baru yang ditempatkan oleh generalmanager dibagian pemasaran,bersamaku.Pertemuanku dengannya masih dapat dihitung dengan jari,tidak seperti dengan karyawan lainnya.Yang telah lebih dulu bertemu dan berteman secara pribadi.Kata orang dia memiliki keahlian dalam memasarkan produk perusahaan dan dia cukup berpengalaman dibidang ini.Ya, aku tahu, dia jenis lelaki yang memiliki pesona dan dengan pesonanya itu dia menebarkan produk perusahaan.Setali dua uang, sekali mendayung  dua pulau terlampaui!

                Diary, sungguh, karena aku merasa sudah memiliki kekasih.Kupikir, kenapa aku harus menaruh perhatian yang berlebihan padanya? Dia memang begitu, memiliki pesona yang menyenangkan.Semua orang tahu itu! Tidak ada alasan buatku melirik padanya untuk dibandingkan dengan kekasihku.Bukankah itu sebuah dosa? Itulah sebabnya, kukuatkan pikiran dan perasaanku untuk tidak terlalu banyak berdekatan dengannya.Aku berusaha memelihara diri menjaga perasaan kekasihku! Tapi itu hanya diawalnya saja, pikiran dan perasaanku sekuat itu! Setiap aku dan dia menyudahi pertemuan rutin dibagian pemasaran, entahlah…aku merasa dia telah menanamkan sesuatu yang lain, sesuatu yang mencerahkan, baik pikiran maupun perasaanku.Aku jadi lebih sering tersenyum, menyapa atau tukar pendapat bersama teman-temanku.Dan itu sangat menyenangkan.Gairah kerjaku jadi semangat tanpa beban yang berarti,Kalau pun ada, kita bisa menghadapinya bersama.Ry, suasana itu kudapatkan setelah dia bergabung bersama kami.Menyenangkan bukan?

                Diary, aku sedang merindukan kekasihku.Yang sedang berada jauh dariku.Saat ini, kekasihku sedang menunaikan tugasnya sebagai seorang assisten nakhoda.Dia dan para nakhoda sedang berada disebuah kapal yang mengantarkan ratusan penumpang menuju teluk tanjung karang.Disanalah kini dia berada sampai tugasnya selesai.Tiga bulan lagi dia akan pulang, kembali kesini kekampung halamannya yang juga kampung halamanku. Aku bersedia dinikahinya, setelah dia pulang nanti.Tapi itu masih sekitar tiga bulan lagi, sementara Marcus semakin hari semakin mendekati aku.

                Diary, apa kau bisa membantuku memecahkan kebingunganku ini? Apa yang harus kulakukan pada Marcus atau pada kekasihku jika dia pulang nanti? Kekasihku sudah merencanakan sebuah pesta pernikahan menurut adatnya.Semua keluarganya sudah sepakat.Juga keluargaku.Tinggal menunggu dia pulang maka pernikahan itu akan segera dilangsungkan! Tentu saja aku harus sudah dalam keadaan siap baik secara mental maupun spiritual! Tapi Marcus mengacaukan semuanya.Aku seperti dipaksa untuk memindahkan perhatian padanya! Demi Tuhan, aku mau menunggu kekasihku sampai dia kembali titik.Selebihnya biar semua berjalan seperti yang seharusnya kujalani.

                Diary, apa kau mengerti kebingunganku ini? Merindukan orang yang tiada dan menikmati kebersamaan dengan orang yang tak sewajarnya untuk bersama.Itulah kebingunganku! Semoga kau tidak jengkel,marah atau bahkan benci padaku dengan persoalanku ini.Kukatakan padamu, aku bukan perempuan pemain lelaki, aku perempuan setia yang hanya ingin menjalankan hidup sewajarnya saja.Tidak ingin berlebihan atau memaksa diri mensejajarkan dengan orang lain.Aku menerima semua yang diberikan Tuhan padaku, termasuk kekasihku dan… Marcus? Ya, Tuhan…Marcus, kenapa kau selalu bermain didunia khayalku? Aku ingin membuang wajahmu dibenakku,tapi tak bisa! Siapa yang mengirim bayanganmu kesini? Apa maunya? Katakan padanya aku perempuan baik-baik yang tak ingin mengecewakan kekasihku,calon suamiku!

                Diary, maaf aku sedikit emosional! Kebingunganku ini sudah berada dipuncak.Sedang aku tidak tahu harus berbuat apa? Terlebih jika kekasihku pulang nanti? Bukankah hal yang tak mungkin aku mengatakan hal ini kepada kekasihku sepulangnya nanti? Apa yang akan terjadi? Bagaimana reaksi kekasihku? Sungguh, aku tidak sanggup membayangkan semua itu.Seperti tak punya hati saja kepada sesama manusia harus menyakiti! Aku tak mau, tak mau, tak mau!!!!

                                                                                *******