GHIROH
( KERJA SEORANG PEMBEBAS )
Cianjur, 04 Oktober 2008
Oleh: Linda Al-Husna
|
“Mar, apakah kau pernah merasakan seperti aku
sekarang ini?” Fifi duduk sambil memeluk kedua lututnya, wajahnya tertunduk
diantara lutut dan tubuhnya “Memangnya kau merasakan apa?” Marni duduk
didepannya sambil menggenggam sebuah buku.”Aku merasa pikiranku buntu.Aku tidak
tahu apa yang harus kulakukan? Perasaanku selalu cepat berubah.Aku jadi bingung
sendiri.Mana yang harus kulakukan lebih dulu?” Masih dengan wajah tertunduk
Fifi mencurahkan perasaannya kepada Marni. “Apa kau sedang menghadapi masalah?”
Tanya Marni.Fifi mengangkat kepalanya dan kedua bahunya.”Entahlah, aku merasa
sedang tidak punya masalah, aku…aku….!” Fifi tidak melanjutkan
kalimatnya.Gurat-gurat kebingungan masih nyata terlintas diwajahnya “Barangkali
kau hanya sedang merasa bosan?” Marni menebak inti masalahnya. Tak ada
jawaban.Fifi tenggelam dalam lamunannya. “Fi, istirahatlah, kau sedang
membutuhkan waktu untuk meresapi perasaanmu! Nanti kalau sudah mulai jernih,
kau bisa ceritakan semuanya padaku, aku siap mendengarnya!” Marni berusaha
meyakinkan Fifi bahwa ia bersedia menyediakan waktu baginya. Sebab dengan siapa
lagi Fifi mau mencurahkan perasaannya selain dengannya, teman dekatnya ditempat
kost ini.
Pukul 10 malam Fifi terbangun dari tempat tidurnya, ia
menarik nafas panjang kemudian membuangnya seketika. Dilihatnya Marni masih
membaca buku yang dari tadi dipegangnya.Fifi bangkit, mengucek-ngucek kedua
matanya dan merapikan rambutnya yang acak-acakan dengan jari-jari tangannya.
Marni melirik kearah Fifi “Sudah bangunFi? Apa kau sudah merasa lebih baik?”
Tanya Marni .Fifi menganggukkan kepala “Ya!” jawab Fifi masih duduk diatas
tempat tidurnya. “Bagaimana apa kau masih merasa seperti tadi? Atau kau sudah
menemukan apa masalahmu? Ceritakanlah?” Marni menutup bukunya setelah diberi
tanda pada halaman terakhir yang dibacanya.Kemudian bersiap mendengar cerita
Fifi.
“Mar, aku kehilangan ghiroh ( semangat )!” Fifi memandang
kearah Marni “Kau benar, kehilangan ghiroh membuatku jadi merasa bosan! Sementara
kau tahu, kita ini harus melakukan ini dan itu, begitu banyak pekerjaan yang
harus kita lakukan, tiba-tiba ghiroh itu lenyap entah kemana?” Fifi terdiam
sejenak.Pikirannya berputar-putar kemasa-masa sebelum kehilangan ghirohnya “Aku
jadi tidak ingin memikirkan pekerjaan itu!” Fifi memeluk kedua lututnya “Hidup
ini jadi seperti robot, harus melakukan ini dan itu terus menerus, begitu
danbegitu saja hampir setiap hari! Awalnya aku semangat tapi entahlah
sekarang!” Fifi menjatuhkan kepalanya diatas kedua lututnya. “Kau hanya butuh
waktu untuk menyenangkan dirimu sendiri!” usul Marni, Fifi mendongak menatap
wajah Marni lekat-lekat. “Memangnya kau tahu, apa yang bisa membuatku senang?”
tukas Fifi “Ya, tidak tahu, tapi kebanyakan orang akan mengalihkan perhatian
dulu untuk sementara sebelum akhirnya kembali kepekerjaan rutinnya! Dan
biasanya pula itu bisa mengembalikan semangatnya!” Kata Marni dengan tenang
tanpa dibuat-buat. “O, begitu ya??” Fifi menopang dagunya diatas kedua
lututnya. “ Siapa pun yang melakukan aktivitas dakwah, sebisa mungkin harus
dapat menjaga ghiroh itu, agar tetap stabil.Kalaupun harus terjatuh tidak
lama-lama.Segera bangkit dan mengembalikan semangat seperti sebelumnya!”
“ Mar, apa kau juga pernah merasakan seperti ini? Merasa
lelah, bosan dan buntu yang kata orang ini disebut sebagai ‘Futhur’(kehilangan
semangat).Apa kau juga pernah merasakannya Mar?” Tanya Fifi kemudian “Ya, aku
juga pernah merasakan seperti itu, dulu bahkan mungkin sering! Sekarang aku
sudah tahu bagaimana cara mensiasatinya, kalau perasaan-perasaan seperti itu
datang menghampiri!” Marni diam sejenak kemudian melanjutkan “ Apa kau ingin
tahu apa yang kulakukan?” Tanya Marni.Fifi segera menganggukkan kepalanya “Kau
suka melihat aku membaca atau menulis kan? Nah itu salah satu cara untuk
membunuh rasa bosan.Membaca buku-buku menarik, kemudian menuliskannya
kembali.Perlahan-lahan itu memberi pupuk kepada perasaan kita yang sedang
hampa.Kekosongan perasaan itu harus diisi dengan pupuk yang baik,jika tidak,
tidak akan merubah rasa kebosanan itu atau bahkan memperburuk
keadaannya.Lintasan-lintasan pikiran yang datang dan pergi dari mana dan entah
kemana, kadang-kadang kedengaran tidak rasional, diluar jangkauan batas akal
sehat kita.Jika iman kita tidak kuat, kecenderungan depresi itu kemungkinan
besar akan terjadi!”
Fifi mendengarkan tiap-tiap kata yang disampaikan Marni
kepadanya.Kata-katanya tepat sasaran.Tepat menuju wilayah yang menjadi
kebimbangannya. “Begitu ya caramu membunuh rasa bosan!” guman Fifi seolah
bicara pada dirinya sendiri.”Kalau dengan membaca dan menulis masih belum
hilang juga rasa bosanku, aku berjalan-jalan kepasar.Entahlah, aku merasa pasar
memberiku banyak pelajaran ya banyak hal yang menarik dan unik disana.Aku
senang berada didalamnya, ada kesenangan tersendiri dan itu cukup ampuh untuk
membunuh rasa bosan!” Fifi manggut-manggut tanpa bicara merenungkan apa yang
dikatakan Marni,karena dihatinya pengalaman Marni sedikit demi sedikit memberi
inspirasi baru baginya yang sedang menghadapi jalan buntu. “Fi, kalau kita
mengerti betul hakikat dakwah dan orang yang berdakwah, kau bisa saksikan
sendiri kisah-kisah orang-orang sebelum kita ketika menjalankan kegiatan
dakwahnya.Hanya bedanya, dulu fasilitas hidup mereka sangat sederhana,sekarang
segalanya serba mudah, bahkan kata orang dunia bisa ada dalam genggaman! Ponsel
misalnya atau internet, semua dapat dijangkau dengan mudah! Nah
kemudahan-kemudahan seperti ini, cenderung membuat orang menjadi malas, tidak
mengandalkan potensi dirinya secara efektif dan optimal, setidaknya begitulah
penilaianku!”
“Lantas, apakah ada hal
lain selain menghilangkan rasa bosan?” Tanya Fifi kali Fifi menunjukkan
kesungguhannya.”Ya, tidak langsung
dirasakan sih, tapi setidaknya aku sudah memulai suatu pekerjaan dan aku belajar
mencintai pekerjaan itu.Jika tidak ada rasa cinta, pekerjaan itu jadi terasa
membosankan.Aku juga tidak tahu kenapa?”
“Kamu benar Marni, itulah
yangsedang kurasakan saat ini!” guman Fifi.”Hey, apa kau tidak mencintai
pekerjaan dakwah?” tiba-tiba Marni mengajukan pertanyaan.Fifi terkesiap “Bukan
begitu, aku merasa terlalu banyak orang yang harus kudakwahi sementara
pengetahuanku masih terbatas!” ujar Fifi yang hampir dibuat kaget oleh
pertanyaan Marni.
“Kalau begitu, cara berdakwahnya dirubah, bukan dengan
menggurui tapi dengan member contoh.Kau menuntut apa dari orang lain.Maka
hadirkan dulu pada prilakumu! Selama ini,yang ada dalam benak kita tentang
dakwah adalah memperbaiki orang lain, sementara diri kita sendiri terabaikan!
Dari sinilah kita sering terjebak rasa bosan, menganggap diri lebih baik dari
orang lain.Hanya karena kita mendapat informasi agama lebih dulu dan itu sangat-sangat membosankan!” Marni
menggelengkan kepalanya “Ternyata hal itu tidak berlaku dalam menerapkan ilmu
agama.Dalam ilmu yang lain mungkin masih bisa terjadi.Siapa yang lebih dulu
menemukan sebuah teori dia dapat berbangga dengan dirinya sendiri.Tapi dalam
berdakwah kerendahan hati itu benar-benar harus dijaga sebaik-baiknya.Jika
tidak, mudah saja bagi allah menguji keihklasan si Pendakwah terhadap apa yang
dikatakannya.Jika si pendakwah selalu protes dengan kenyataan ini maka
disanalah Allah dapat menilai seberapa besar keihklasan kita menjalankan
kegiatan itu?” Suasana menjadi hening, hanya terdengar detak jarum jam berjalan
dari satu titik ketitik yang lain.Marni membiarkan Fifi mencerna apa yang
dikatakannya dalam keheningan dan kejernihan pikirannya.”Jadi, jika kita
tersenyum dalam menghadapi kelapangan, apakah kita masih mampu tersenyum dalam
menghadapi kesulitan?” Fifi melongo.Kata-kata Marni mengalir bagai pedang yang menghujam pikirannya.
“Subhanallah Marni, kau sudah mendapatkan ilmunya! Dari
mana kau mendapatkannya?” Fifi tak tahan dengan rasa ingin tahunya “Kau kan
tahu, aku suka baca buku!” kilah Marni “Tapi, cara kau menceritakannya kembali
berbeda dengan yang lain!” timpal Fifi “Ah, kurasa banyak orang yang melakukan
seperti ini, membaca dan menulis itu biasa kan?” Marni berusaha menangkis
sanjungan Fifi, jika dimasukkan kedalam hati, maka hatinya akan merasa dan berbunga-bunga,
tidak mustahil si Riya akan datang menyelip kelubuk hatinya “Marni,tapi kamu
beda!” Fifi menegaskan “Sudah ah, jangan berlebihan.Aku hanya belajar dari
pengalaman orang lain yang disesuaikan dengan pengetahuan dan
pengalamanku,hasilnya seperti apa, aku sendiri belum tahu!” Jelas
Marni.Seandainya lampu dikamarnya menyala penuh, pasti Fifi akan melihat
wajahnya merona kemerah-merahan.”Marni, kamu berbakat jadi penulis!”
“Aku sedang merancangnya!”
“Marni, terimakasih,
sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan besok! Kau memang seorang penulis
sekaligus seorang pembebas! Terimakasih Marni!!!”