Selasa, 22 Desember 2015

Cerpen Linda Al-Husna 2010



MENEBUS KESALAHAN
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 27 Juli 2010


                Dalam masa-masa pengasinganku, aku dituntut untuk mencari tahu, bagaimana cara mengisi waktu dengan baik.Dari pada banyak menyesali diri tapi tak berapa lama melakukan hal yang sama.Sungguh, aku tak mau! Kesalahan itu sudah menamparku sedemikiannya.Hingga aku dibuat jera oleh keterhinaan yang dilemparkan kearahku.Lagi pula aku sudah tidak ingin memikirkan siapa yang melakukan kesalahan itu padaku, sekarang nasibnya bagimana? Untuk mengusir pikiran-pikiran itu kupelajari beberapa buku yang berkenaan dengan pengembalian diri pada fitrah! Bukan aku mau menafikan kejadian yang telah membuatku putus asa dari rahmat Allah.Tapi aku harus mengumpulkan kekuatanku untuk berani mengakui setiap kesalahan yang pernah kulakukan.Baik kesalahan kecil maupun kesalahan besar! Dan itu butuh keberanian dan kejujuran yang objektif.
                Aku kembali kedunia imaginasiku yang menyenangkan.Menulis.Kutuliskan semua kegalauan yang berkecamuk didalam perasaan.Satu persatu tidak ada yang terlewat, dalam bentuk puisi atau prosa.Kuharap suatu saat tulisanku ini akan mengingatkanku pada masa-masa dimana aku pernah melakukan kesalahan yang membuatku merasa tidak berdaya,lemah dan ketergantungan! Semuanya kutulisakan dengan bahasaku sendiri. Khayalanku tentang seorang pasangan hidup, tentang gaya hidup dan tentang bagaimana cara mengisi hidup yang seharusnya.Barulah aku merasa, sedikit demi sediit pikiranku terbuka kembali.Aku tidak perlu merasa minder lagi seperti ketika aku melakukan kesalahan.
Seorang teman menawarkanku  mengisi acara untuk program Sastra disebuah station Radio dikotaku.Kuterima tawarannya dan jadilah aku seorang penyiar, membacakan puisi-puisi yang kubuat sendiri dan ada pula puisi orang lain.Sebuah kegiatan baru yang menyenangkan sekaligus menantang kwalitas tulisanku.Kukakui, tulisanku belum bagus.Tapi aku bertekad untuk terus menyempurnakan setiap kekurangannya.Dengan mencari pengetahuan tentang banyak hal, utamanya yang berkaitan dengan persoalan-persoalan hidup manusia.

Bagai debu pasir dipantai,
Berhamburan mengikuti angin,
Angin kebarat ikut kebarat,
Angin ketimur, ikut ketimur!

Tak ada tempat berpijak,
Terombang-ambing dihantam gelombang,
Aku terdampar diayun ombak,
Aku berdiri letih,
Melawan arus kemunafikan,
Kini, tinggallah aku,
Bersahabat dengan dosa-dosa!!!

( Puisi: Bersahabat dengan dosa 2005 )
Seperti anai-anai,
Aku terbang kian kemari,
Tak ada yang kuinginkan,
Selain mengawasimu dari jauh!

Kubidik engkau dengan getir,
Kuharap engkau dengan nanar,
Engkau tetap berjalan melenggang,
Bagai tak ada suara yang memanggil!

Kau acuh,
Kau tak bergeming,
Aku tahu,
Kau tak akan berpaling,
Walau tubuhku bermandikan darah!!!!

( Puisi: Anai-anai 2005 )

Ternyata,
Aku mampu,
Meninggalkan firman-firman Tuhan
Tentang manusia,
Yang harus selalu berbuat kebaikan!
Tentang manusia,
Yang harus mencegah kejahatan!
Tentang manusia,
Yang harus patuh pada perintah-perintah Tuhan!
Ternyata,
Aku mampu,
Membantah firman-firman Tuhan!!!

( Puisi: Antara aku dan Tuhanku 2005 )
               
                Sampai beberapa waktu, aku menjalani kegiatanku sebagai seorang penyiar radio.Aku menikmatinya sambil terus menggali dan menggali kemampuan menulisku.Perlahan-lahan, rasa bersalah itu hilang dan kini aku hadir kembali dengan rasa percaya diriku yang pernah terendap didasar perasaanku.Aku memohon kepada Tuhan, semoga  Dia memberiku ampunan dengan semua kebaikan yang telah kulakukan.Amien.****

Jumat, 06 November 2015

Cerpen Linda Al-Husna 2010



JANJI SUNYI
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 27 Juli 2010


                Entah apa yang ada dalam pikiran kang Dery, sehingga ia menjatuhkan pilihannya kepadaku untuk menjadi pendamping dalam hidupnya.Beberapa kali dalam perbincangan selalu itu yang dikatakannya.Bahwa ia siap menjalani hubungan ini bersamaku, syukur-syukur sampai nanti masuk kepelaminan.Aku sangat senang mendengar janjinya yang penuh dengan keyakinan.Sepertinya, kang Dery benar-benar sangat berminat padaku untuk dijadikannya sebagai istrinya.Baik, aku menerima perkataannya dengan antusias.Mulai sekarang aku memperlakukan kang Dery bukan sebagai orang lain melainkan sebagai calon pasangan hidupku. Meski kang Dery meminta waktu untuk melihat apakah aku bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaannya atau tidak, tetap janji itu selalu diucapkannya dengan pasti.Lalu, aku harus mengkhawatirkan apa?
                Pertemuan pertama dengan kang Dery setelah menyatakan minatnya untuk menjadi pacarku, agak sedikit gerogi.Binar-binar cinta terlihat dari matanya yang sendu, aku pun demikian.Setiap pembicaraan selalu diselingi tawa yang menyenangkan.Kang Dery hari ini lebih menarik dibanding hari-hari sebelumnya.Yang sedikit serius dan sinis dalam mengomentari fenomena-fenomena yang terjadi disekitar lingkungan.Tapi itulah kang Dery dengan kekuatan analisanya yang selalu tepat menjadikan aku menaruh perhatian padanya.Aku seperti dihipnotis untuk mengikuti semua inginnya.Dan dengan kesadaranku, aku bersedia melakukan hal itu untuknya!
                Dari seringnya melakukan perbincangan itulah, kang Dery hari ini menjadi lebih berani, mencubit pipiku dan menggenggam tanganku.Biasanya aku tidak suka diperlakukan seperti ini oleh lelaki manapun.Rasa terhina selalu membayangiku.Tapi kali ini tidak! Aku membiarkan tangan kang Dery menggenggam tanganku dan meremas jari-jarinya.Sesekali kang Dery mengatakan kalimat pujian kepadaku ‘Betapa cantiknya aku, atau hari ini kamu baik sekali!’ adalah kalimat-kalimat yang membuncahkan perasaanku.Aku sangat senang dibuatnya.Kang Dery barangkali benar-benar mencintaiku!
                Tanpa terasa waktu terus berjalan, sebulan sudah aku menjalin hubungan dengan Kang Dery. Setiap kali aku bertemu dengannya, tak ada kekuasaanku untuk menolak kemauannya.Menghabiskan waktu bersamanya menjadi kegiatan yang menyenangkan.Berbicara panjang lebar sambil melakukan ini dan itu.Pandai sekali kang Dery memainkan perasaanku yang saat itu sangat mengharapkan seorang lelaki segera menikahiku.Prilaku kang Dery menunjukkan itu.Aku sangat senang dan mulai percaya padanya, bahwa kang Dery akan segera menikahiku!
                Ternyata, apa yang ada dalam pikiranku berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran kang Dery.Lain dulu lain sekarang! Kang Dery mulai melunturkan keyakinannya.Janji akan segera menikahiku yang kutangkap begitu pastinya, sekarang mulai pupus.Kang Dery mulai mengajukan beberapa alasan agar aku tidak selalu membahas soal pernikahan yang menurutnya mulai membosankannya.Lagi pula, menurutnya, saat ini masih ada proyek yang harus dikerjakannya.Sebelum proyek itu selesai ia belum akan memiliki uang untuk meminang siapa pun yang akan dijadikan istrinya, yaitu aku!
                Awalnya, aku memaklumi alasan kang Dery dengan perkataannya yang demikian. Namun, setelah berkali-kali ia mengatakannya, bahkan terakhir dengan intonasi yang terhentak seolah-olah ia hendak lebih menegaskan lagi perkataanya.Aku jadi termangu! Betapa kang Dery tega memperlakukan aku begitu! Memberi janji akan menikahiku lalu melakukan hubungan seperti yang dilakukan pasangan suami istri dan sekarang menarik kembali semua janji-janjinya! Ya, ampun….Apa yang harus kulakukan? Diusia yang transisi ini, usia seharusnya aku sudah menikah dan memiliki anak, sebuah tragedi malah menimpaku, menghancurkan harga diri dan harapanku! Mau dikemanakan wajah ini? Siapa yang mau menolongku dari rasa Maluku? Kepada Tuhan yang selalu melihat perbuatanku, kepada orang tua yang tidak tahu aku sudah tercemar oleh seorang lelaki yang tak pernah dikenalinya! Lalu aku harus bagaimana???
                Sejak itu, aku tidak mau lagi bertemu dengan kang Dery! Kang Dery sudah menghancurkan harapanku dan membohongiku dengan kejamnya.Sudah jelas ia berjanji akan menikahiku, tapi secepat itu janjinya terlupakan.Teganya kang Dery! Ya sudah, kuputuskan saja hubungannya, perasaannya dan angan-angannya untuk masuk kepelaminan.Sekarang aku mau membersihkan diri dari semua kotoran yang diberikannya padaku.Barangkali ini salahku juga, terlalu mudah mempercayai perkataannya.Janji-janjinya dan bayangan yang diberikannya padaku.Kang Dery,,,huh!!!
                Aku jadi banyak memohon kepada Tuhan agar diberi petunjuk yang benar dalam memilih pasangan hidup.Berharap tidak ada lagi tipu menipu dalam usaha menuju kepelaminan.Bersama siapa pun dan dimana pun.Aku tidak ingin mengalami hal ini lagi, cukuplah kang Dery saja yang menipuku dan mengecewakanku dengan sebenar-benar kekecewaan! Untuk itulah, aku mau memperbaiki diri, baik prilaku dan cara berpikirku yang ingin mudah mendapatkan sesuatu.Kendati itu harus mengorbankan diri sampai menuju kehancuran.Aku tidak mau itu terjadi lagi!
                Sekarang aku sudah tidak berhubungan dengan kang Dery lagi, setelah kejadian itu aku jadi lebih banyak menghitung kesalahanku dari pada kebaikanku.Aku jadi takut, seandainya aku meninggalkan dunia ini dalam keadaan menghinakan diri dihadapan-Nya? Dengan penyesalan-penyesalan yang tak seharusnya kutanggung! Satu demi satu kuhitung kesalahanku dan waktuku habis karenanya.Sebuah kegiatan yang jarang kulakukan dimasa sebelum terjadinya kesalahan itu.Aku jadi banyak melihat diri dari pada melihat kesalahan orang lain.Sebuah kejadian yang berhasil mengalihkan perhatianku pada ‘gajah’ yang ada dipelupuk mataku dan kulupakan kuman yang ada disebrang pulau.Itu lebih menentramkan perasaanku saat ini.Aku baru mengerti, bahwa tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan orang lain jika kesalahan-kesalahan itu masih melekat pada diri kita.Siapa yang lebih baik diantara kita????



Minggu, 04 Oktober 2015

Cerpen Linda Al-Husna 2010



ANAK JALANAN
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 26 Juli 2010


                Aku sedang berada disebuah Mall dikotaku.Hanya berjalan-jalan mencari sesuatu yang terbaru yang dipamerkan disetiap toko.Sebuah keasyikan tersendiri, aku tidak ketinggalan informasi barang yang tengah hangat dibicarakan.Sekedar mengetahuinya saja sudah membuatku mengerti.Untuk apa barang itu dibuat? Dan bagaimana cara penggunaanya yang tepat.Karena itulah, aku sering mengunjungi tempat ini, tempat sejumlah barang dipamerkan dan dijual! Terutama toko buku.Aku bisa berlama-lama tinggal didalamnya, mendata semua buku yang yang terpajang.Sampai mataku merasa lelah.
                Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 11.10 wib, perutku sudah mulai berbunyi.Kurasa, ada baiknya kuikuti kemauan perutku.Mengisinya dengan semangkok bakso atau apa saja! Aku berjalan keluar menuju kantin diluar Mallku ini dan berhenti disebuah kafe tenda yang bertuliskan ‘Bakso Ojo lali!’ dengan senang hati kumasuki kiosnya dan memesan semangkok bakso.Sambil makan, sesekali mataku kulayangkan keluar tenda.Disudut sana, aku melihat beberapa anak lelaki sedang berkumpul.Ada yang membawa kecerek, ada yang membawa botol air mineral yang diisi pasir.Ada juga yang memainkan gitar kecil! Yang lainnya bertangan kosong. Kuperhatikan mereka dari jauh.Nampak mereka sedang asyik membicarakan sesuatu atau berlatih melagukan sebuah syair. Rupanya, mereka anak-anak kecil yang sedang berusaha mencari nafkah!!
                Usai makan bakso, dan membayar tagihannya.Aku langsung berjalan keluar tenda.Kali ini langkahku pasti, menuju tempat dimana anak-anak itu duduk berkumpul.Aku ingin tahu, apa yang sedang mereka kerjakan? Kusapa mereka dan bergabung kedalam kumpulannya. “ Hai, adik-adik…boleh ibu ikut bergabung??? “ tanyaku sambil membelai tengkuk anak yang paling kecil.Mereka langsung melihat kearahku sambil mengangguk dengan bingung. “Boleh!” kata anak lelaki yang sedang main gitar kecil.Kusunggingkan seulas senyum, bahagianya aku bisa diterima dalam himpunan mereka. “Sedang apa kalian?” Tanyaku kemudian “ Sedang latihan main musik bu, kami mau mengamen!” jawab seorang anak lelaki yang memegang botol air mineral yang berisi pasir.Aku mengangguk, sebenarnya tanpa dijawab pun aku sudah tahu.” Ngamen dimana?” tanyaku lagi “Ngamen disini saja, dikios-kios tenda yang ada didepan Mall ini!” kali ini, anak lelaki yang memegang kecrek yang menjawab.”Oooo…eh, boleh tidak ibu tahu nama kalian?” kuharap mereka bersedia menyebutkan namanya.Sejenak mereka saling berpandangan.Barangkali untuk apa aku mengetahui nama-nama mereka.”Ayolah, jangan takut! Ibu hanya ingin berteman dengan kalian saja koq!” kataku meyakinkan.” Kamu,siapa namanya?” tanyaku kepada anak lelaki yang sedang main gitar yang paling tua diantaranya. Anak lelaki itu melihat kearahku “ Ocad, bu!” katanya acuh tak acuh.Kepalanya ditundukkan lagi melihat kearah gitar kesayangannya.”Berapa usiamu?” Tanyaku lagi “ 13 bu!” jawabnya lagi.Lalu kutanya satu persatu anak yang sedang duduk disekitar Ocad.Ada Nano yang usianya 10 tahun, ada Uli yang usianya 11 tahun, ada Momo yang usianya 9 tahun dan Dede anak yang paling kecil diantara mereka berusia 7 tahun.Menurut mereka, berkumpul disini, dibawah pohon disalah satu sudut tempat parkir Mall ini, sudah dilakukannya dalam waktu hampir satu tahun. Mereka bermaksud mencari uang dengan menyanyikan lagu-lagu yang sudah dihapalnya.Kemudian uang hasil mengamen bersama itu dibagi-bagi setelah mereka membeli makanan untuk mengisi perut mereka.Aku mendengarkan kisah mereka sampai selesai.Mereka lebih memilih melakukan ini, ketimbang pergi kesekolah.Untuk anak-anak seperti mereka, berpikir rasional adalah lebih utama ketimbang menghambur-hamburkan waktu dengan duduk berjam-jam dibangku sekolah.Aku berusaha mengerti persoalan ini dari sudut pandang mereka.Aku tidak bisa menyalahkannya.Itu yang mereka ingin lakukan dan butuhkan!
                Hanya kemudian, masalah ini menjadi masalah nasional. Ketika anak-anak ini, berkeliaran ditengah jalan menjadi bunga-bunga trotar yang tak menyenangkan hati dan pandangan. Dengan meminta sedikit uang dari para pengguna jalan, dari para pengendara dan para pejalan kaki. Memang ada yang dibuat jengkel dengan kenyataan ini.Tapi jika ditinjau dari kebutuhan mereka, ini adalah cara cepat mengatasi masalah mereka memenuhi kebutuhan hidup mereka.Sebelum ada orang yang peduli dengan nasib mereka.Memperlakukan mereka sebagaimana seharusnya. Sekali lagi aku tidak bisa menyalahkan!
                Setelah ngobrol kesana-kemari, tentu saja aku sangat berterimakasih atas waktu dan kesempatannya bahwa mereka mau mengungkapkan satu sisi kenyataan anak manusia ditengah kota.Kukeluarkan sedikit uang, untuk dibagikan kepada mereka.Momo langsung menyambut uluran tanganku.Hanya lima lembar uang seribuan yang kusediakan untuk mereka.”Seorang satu ya!” pintaku pada mereka.Momo membagikan uang itu kepada teman-temannya.Wajahnya sumringah dan senyum yang mengembang saat selembar uang seribuan sudah berada ditangannya.Demikian pula dengan Ocad, Nano, Uli dan Dede.”Terimakasih bu!” Ocad menerima uangku yang langsung dimasukkannya kedalam sakunya.Disusul Nano, Uli,Momo dan Dede.Aku hanya tersenyum melihat Dede mengipas-ngipaskan bagiannya.Barangkali, dalam bayangannya, ‘aku sudah punya jatah untuk makan nanti!’ terlihat sekali dari kedipan matanya yang lincah dan menyenangkan.Entah mengapa aku juga jadi ikut merasakan kebahagiaan mereka, dapat tertawa bersama mereka tanpa merasa ada beban yang berarti.Kendati kami hanya duduk-duduk saja disalah satu sudut parkir Mall ini.Melihat lalu lalang kendaraan didepan kami, yang kadang melihat kami kadang juga melenggang dengan angkuhnya.Tapi itu tak menjadi masalah yang berarti, ketika kebahagiaan itu sudah menjadi milik anak-anak ini dan aku turut ikut didalamnya.
                Aku juga merasa ada kebahagiaan lain yang menyertai perbincangan kami.Mungkin juga kami menertawakan sesuatu yang berbeda.Aku dan anak-anak itu! Jika anak-anak itu bahagia sudah mendapatkan jatah makannya.Aku, merasa bahagia telah terbuka satu katup yang selama ini membentengi cara berpikirku.Sebuah hal yang sulit untuk disebutkan secara definisi.Tapi bersama anak-anak ini, senyumku menjadi seadanya.Tanpa rekayasa, tanpa dibuat-buat! Sungguh, aku sangat bahagia!!!!

Buat: Anak-anak pengamen di Harimart tahun 2002, terimakasih sudah memberiku hari yang menyenangkan!!!!



Minggu, 06 September 2015

Cerpen Linda Al-Husna



DALAM SEBUAH HIMPUNAN
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 24 Juli 2010



 
   
        Aku bergabung dalam himpunan ini sekitar bulan agustus 2003.Sebuah lembaga pendidikan non formal yang masih sederhana.Yang baru berdiri belum lama dari semenjak kedatanganku.Aku bertemu orang-orang yang memiliki perhatian pada bidang ini. Bidang pendidikan yang dikemas versi kursus.Meski kami masih mentah dalam mengurusi lembaga ini.Tapi kami memiliki tekad, kemauan dan sedikit pengetahuan untuk diterapkan pada anak didik kami.Selebihnya, kami menyediakan waktu , tenaga, pikiran dan perasaan untuk mengabdi pada lembaga ini.
          Natsir, adalah orang pertama di lembaga ini. Usianya tidak terlalu jauh diatasku.Tapi cara berpikirnya sudah sangat luas, seluas pengalamannya mengembara kenegeri asing. Berbekal pengalaman itulah Natsir berani bespekulasi bersama teman-teman mengelola lembaga pendidikan bahasa asing ini. Karena itu pula Natsir dituakan. Konsep dasar yang digunakannya masih sangat sederhana, namun dapat dimengerti oleh kami sebagai bawahan yang siap bekerja untuk lembaga ini.Kami dibiasakan menggunakan istilah-istilah bahasa asing dalam menyapa seperti Mr. atau Miss, karena dengan begitu menurut Mr.Natsir-begitu aku memanggilnya, akan lebih memudahkan kita dalam melafalkan satu kata atau kalimat.Kami semua sepakat!
          Marwan, mahasiswa tingkat empat jurusan social  yang sebentar lagi menyelesaikan skripsinya.Juga turut menguatkan pertahanan rumah tangga lembaga ini.Cara berpikirnya yang cukup cermat dalam menganalisa satu masalah, membuatnya ditempatkan pada posisi penting sebagai ketua harian lembaga ini.Mr.Marwan, terjun bersama pengetahuan yang baru didapatinya dari kampus yang nyata sekali diterapkan dalam setiap pendekatan yang dilakukannya kepada anak-anak didik.Pembawaannya cukup supel dan berwibawa.Aku yang usianya diatasnya pun jadi iktu menghormati setiap apa yang dikatakannya.Karena itulah yang ditampilkannya kepadaku.
          Idang, seorang guru Sekolah Dasar yang juga turut bergabung dengan senang hati dilembaga ini.Tak dapat dipungkiri, bahwa minat dan hasratnya untuk mendidik dan melatih anak-anak didik sangat terlihat, meski dalam batas waktu yang disediakannya.Kami tidak keberatan, kehadiran Mr.Idang dilembaga ini cukup mewarnai. Berangkat dari suka sama suka kami bekerja dengan suka hati.
          Rama, mahasiswa semester dua jurusan bahasa asing, turut bergabung.Melalui Mr. Natsir, Rama dikenalkan pada kami.Menurutnya, Mr.Rama bersedia bergabung dilembaga ini untuk sekaligus mempelajari bahasa asing yang tengah digelutinya dilembaga formalnya.Kami tidak keberatan!
          Kemudian aku yang bergabung dilembaga ini, sama seperti teman-teman yang lain, maksud kesediaanku bergabung dilembaga ini, ingin menggunakan bahasa asing yang sudah pernah kupelajari.Katanya, dengan cara mengajarkannya akan lebih mudah menerapkan dan menggunakannya seperti seharusnya! Meski kosa kata bahasa asingku tidak terlalu banyak, tapi Mr.Natsir memakluminya.Dan mempersilahkan aku untuk mengajarkan struktur bahasa saja.Selebihnya biar yang lain yang menangani. Tentu saja, aku merasa sangat senang.Bekerja bersama teman-teman yang sama-sama ingin mendapatkan pengalaman baru, pengetahuan baru sekaligus mengelola sebuah lembaga pendidikan yang baru dirintis.Memang bukan hal yang mudah untuk menjalankannya.Jika tanpa tekad, usaha dan semangat kebersamaan.Yang dihadirkan dari kesadaran diri kita masing-masing.Mr. Natsir, mencoba memperkenalkan semua yang telibat dalam roda perjalanan kegiatan belajar mengajar dilembaga ini.
          Mr.Natsir, sangat mengakui bahwa kita memulai pekerjaan ini dari nol.Dengan aset yang sederhana pula. Dua local kelas, dua puluh kursi dan satu meja administrasi.Dengan aset sedemikian itu, kami sepakat, menjalankan lembaga pendidikan non formal ini dengan semangat.Apa pun yang terjadi, akan kami hadapi!
          Satu semester, kegiatan belajar mengajar berlangsung aman, tertib dan lancar. Sesekali terdengar keluhan dari anak didik, kami selalu sigap menghadapinya. Musyawarah adalah jalan keluar dari setiap mengatasi permasalahan yang muncul dalam perjalanannya.Belum masalah dari masing-masing pribadi, yang kadang keluar begitu saja dalam forum problem solving.Namun Mr.Natsir selalu dapat mengendalikan dan memecahkannya dengan baik. Sifat kepemimpinannya memang membanggakan.Karena itulah kami menuruti semua apa yang dikatakannya.Betapa indahnya bekerja bersama dengan senang hati.
          Sampai muncul satu kejadian.Dimana keharmonisan mulai terkikis oleh prasangka dan kesempitan mengambil keputusan. Mr.Natsir yang kita banggakan mulai manampakkan kekuasaannya didepan kami.Awalnya kami memang tidak keberatan mengikuti semua program yang ditawarkannya.Tapi, ketika sebuah program masih dalam proses penguatan, semantara Mr.Natsir setelah berbincang dengan seorang dosen kampus biru.Menjadi berubah berambisi, untuk segera mengembangkan sayap program-program yang baru dijalankan.
          Aku diminta untuk menyepakati pengembangan program ini.Tapi, aku tidak sanggup, aku sedang berkonsentrasi pada satu bidang yang sedang menjadi tanggung jawabku.Bidang publikasi! Dan aku baru saja memikirkan bagaimana cara memperdalam dan memperkaya bidang yang satu ini.Sementara, dengan anggunnya Mr.Natsir memintaku untuk bersedia menerimanya.Terus terang, aku tidak bisa bekerja lebih dari satu bidang. Tapi, aku merasa tidak enak dengan sikap baiknya yang sedikit memohon.
          Kawanku yang lain pun demikian, mempertanyakan, ada apa dengan Mr.Natsir yang tiba-tiba merubah konsep anggaran dasar rumah tangga lembaga ini begitu saja? Apa yang sudah merubah pemikirannya? Dosen itukah? Atau apa? Kami sangat tidak mengerti dengan perubahan ini. Karena ketidak mengertian inilah, kebersamaan yang sudah kami bangun  perlahan tapi pasti mulai menyusut, kami jadi saling mencurigai satu sama lain. Dan pengertian itu agak sulit kami temukan dalam waktu yang cepat dan tepat. Kami jadi memikirkan nasib kami masing-masing, jika didalam lembaga ini, nasib kami tidak menyenangkan, apa lagi yang bisa kami pertahankan?
          Akhirnya, kami membiarkan prasangka itu menguasai pikiran kami dan meninggalkan lembaga pendidikan yang sudah berjalan menginjak tahun kedua.Memang sangat disayangkan!!!!!

Special thank’s to : Anak-anak LPI tahun 2003-2004 Mr.Firmansyah, Mr.Irawan, Mr.Dadang, Mr.Ramdhan dan Almarhum Mr. Aquwa!!!! Miss you all!!!