Senin, 10 November 2014

Cerpen 2 Linda Novlinda



CERITA WAWA
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 22 Juli 2010


                Wawa sumringah, ketika ia menceritakan pengalamannya bersama teman kencannya.Aku hanya diam mendengar setiap kejadian yang diceritakannya padaku.Diusianya yang semuda itu, yang hanya terpaut lima tahun dibawahku.Wawa menjelma sebagai lelaki idaman dikampusnya.Wawa menyenangkan, memiliki banyak pengalaman untuk diceritakannya kepada siapa pun yang ditemuinya.Termasuk pengalamannya bersama Arimbi-teman kencannya yang baru.Ya, ini memang bukan pengalaman pertamanya ia mengencani perempuan.Aku sudah mendengarnya beberapa kali.Setiap cerita selalu beda tokoh yang diceritakannya.Kendati dalam cerita-ceritanya itu Wawa selalu tampil sebagai lelaki yang mengayomi perempuan yang sedang dipacarinya.
                Dalam hal tertentu aku menyukainya, menyukai sifat-sifat kelaki-lakiannya yang terbuka.Barangkali karena itu pula beberapa perempuan bersedia menjadi pacarnya.Ada yang dalam satu waktu beberapa pacar, ada pula yang mengalami bongkar pasang alias putus dengan yang satu, nyambung dengan yang lain.Cepat sekali Wawa mendapatkan teman perempuan.Yang kulihat teman laki-lakinya pun tak sedikit.Itulah hebatnya Wawa tidak pandang bulu dalam memilih teman.
                Hari ini, Wawa datang ketempat tinggalku.Seperti biasa setiap kedatangannya selalu membawa cerita. “ Teh, apa saya tidak mengganggu teteh? Hari ini, saya baru pulang dari dokter, sengaja mampir dulu kesini, ingin bertemu teteh!” katanya seraya mengeluarkan obat tablet yang dibungkus plastik khas dokter.Aku melihatnya satu bungkus plastik dari dokter dan satu lagi tanpa merek.” Oya, memangnya kamu sakit apa?” tanyaku baru tahu bahwa selama ini Wawa tengah mengidap penyakit dalam.” Kata dokter sih, radang paru-paru, tapi belum kronis koq!” katanya.Aku mengerti. Wawa masih memegang kedua bungkus plastic ditangannya.”Nah, ini obat dari dokter dan yang ini obat penenang!!!” katanya menunjukkan bungkus plastic yang kedua.Aku curiga, Wawa termasuk pemuda pengguna obat terlarang.Dan bungkus yang tanpa merek itu adalah obat penenang yang dimaksudnya.” Memangnya, obat itu dapat dari mana,Wa?” tanyaku, rasa ingin tahuku tiba-tiba muncul begitu saja.Wawa tampak terkesiap, demi mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba.Aku dapat menangkap rasa keterkejutannya tanpa dibuat-buat.” Dari teman!” suaranya dingin sekali “Aku sangat membutuhkannya teh, untuk mengatasi depresiku menghadapi banyak masalah!” jelasnya.” Masalah apa lagi?” tanyaku.Bukankah setiap Wawa punya masalah selalu diceritakannya padaku? Sedikit banyaknya aku selalu memberi saran buat mengatasi masalahnya.Jika saranku ini dilaksanakan, tentu Wawa tak perlu menggunakan obat itu untuk mengatasi masalahnya.Aku bersedia menemaninya, memecahkan masalah-masalahnya seputar pergaulannya yang sedikit bebas.Kecuali jika Wawa tidak melaksanakn saranku dan melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku.Maksudku tidak semua kejadian diceritakannya padaku.Sehingga dengan mudah kuberi saran yang kukira cukup mudah jika benar-benar mau keluar dari lingkaran masalah itu! Itulah yang sedikit kusayangkan dari Wawa.Pandai berkelit dan bicaranya kadang asal saja.
                “ Teteh kan tahu, aku baru putus dari si Emi, dia pacaran lagi sama temanku! Bayangkan Teh, temanku sendiri yang dijadikan pacarnya, kenapa bukan yang lain???”
Wawa mulai menceritakan masalahnya.” Terus si Wati sudah dua bulan ini menghilang, katanya disuruh orang tuanya kerja ke Batam! Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya!” Kubiarkan Wawa menceritakan masalahnya, sesekali wajahnya terlihat seperti mau mencurahkan air mata.Kudengarkan saja ceritanya.” Si Meta sedang ngambek kerena melihat aku sedang berjalan bersama Si Dena.Padahal itukan hanya teman sekampus.Waktu itu kita mau beli buku Mall, sampai sekarang si Meta belum mau bicara denganku…Bayangkan teh,kepalaku jadi pusing….!!!!” Wawa memegang kepalanya dengan kedua tangannya.Matanya terpejam membayangkan masalah yang ada didalam kepalanya.Aku jadi kasihan padanya.Seandainya aku dapat membantunya menyelesaikan masalah-masalahnya…Tapi itu tak mungkin, Wawa sendirilah yang seharusnya dapat menyelesaikan hubungan pertemannya dengan semua orang yang pernah menjadi teman-teman dekatnya! “Terus dengan Arimbi itu?” tanyaku masih bingung.”Nah, untunglah aku bertemu dengannya baru-baru ini.Dia yang menolongku untuk saat ini! Aku sedang ingin diperlakukan dengan baik oleh seseorang!” katanya.Aku menyimak kisahnya dan mencoba menghubungkannya dengan cerita-cerita lain sebelumnya.”Lho, memangnya teteh tidak memperlakukanmu dengan baik ya?” godaku mencairkan kebingungan Wawa yang semakin terlihat.”Itulah, makanya aku datang kemari teh…ingin mengeluarkan beban dikepalaku!!!” suaranya melemah.
                Itulah hari terakhir aku bertemu Wawa.Cerita-cerita yang sebenarnya membingungkan diri sendiri dan dibuat oleh sendiri.Beberapa kali kukatakan padanya.Coba kamu hadapi satu demi satu persoalanmu.Selesaikan sampai tuntas, sampai dirasa tak ada urusan lagi antara dia dan orang yang terlibat dalam masalahnya itu.Wawa memang selalu mengiyakan dan bersedia mau melaksanakan saran-saranku.Walau kenyataannya aku tidak tahu.Apakah Wawa benar-benar mengerti dengan masalah yang dibuatnya sendiri? Kalau tidak mengerti, bagaimana dia mau menyelesaikan masalahnya dengan baik? Sementara informasi yang kudapatkan barangkali tidak selengkapnya.Ya, itulah masalahnya, ada satu atau dua kejadian yang tak diceritakannya padaku.Dan itu sangat menentukan bagaimana caraku mengatasi masalah tersebut.Yang diketahui Wawa, berteman itu bersenang-senang versi pemuda sekarang pada umumnya.Jalan-jalan, nongkrong sampai pagi sambil disuguhi minuman-minuman keras atau obat-obat terlarang.Sungguh, sebuah kebiasaan yang menghambur-hamburkan waktu! Seandainya waktunya digunakan untuk yang lebih bermanfaat selain duduk-duduk tanpa ada artinya? Mungkin masalah itu tak seharusnya dihadapi pada usianya yang semuda itu. Kemampuannya berpoligami-walau pada level pacar, sudah diarunginya tanpa pengetahuan yang mumpuni.Sayang, sangat disayangkan! Ya, seandainya aku diberi kesempatan untuk dapat meluruskan kerangka berpikirnya…???


Buat:  Almarhum Aquwa dalam kenangan!!!! Semoga taubatnya diterima disisiNya!!! Amien.




Rabu, 08 Oktober 2014

Cerpen 2 Linda Al-Husna 201



PONDOK HIJAU
Oleh : Linda al-Husna
Cianjur, 22 Juli 2010


                Menurut ilmu psycologi perkembangan, usia 20 tahun termasuk kedalam usia produktif. Dari mulai tenaga, pikiran dan gairah untuk menemukan sesuatu yang baru masih mendukung. Gairah itulah yang seharusnya kugunakan sebaik-baiknya. Hanya karena aku gagal masuk perguruan tinggi negeri, gairah itu lenyap, pikiran buntu dan putus asa! Aku ingin berteriak menyalahkan teman-teman yang tega meninggalkan aku.Atau bapak dan ibuku yang tidak mampu membiayai pendidikanku disekolah swasta! Tapi, haruskah itu kulakukan? Menyalahkan orang-orang yang jelas tak bersalah dengan keadaan ini? Kendati aku berusaha menguatkan diri, dalam beberapa bulan setelah pengumuman ujian masuk perguruan tinggi negeri diumuman.Aku benar-benar lumpuh! Tak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk melakukan kegiatan rutinku sendiri.
                Sudah tiga bulan aku mengurung diri dikamar.Bisa keluar rumah kalau ada keperluan yang sangat mendesak.Jika tidak aku tidak terlalu memaksakan diri untuk berkeliling-keliling kota seperti sebelumnya.Kesedihanku mulai berkurang.Ibu memberiku beberapa buku yang harus kupelajari.Buku-buku sejarah peninggalan kakekku.Buku tarikh Muhammad saw karya H Munawar Kholil, meski bukunya sudah usang tapi aku masih dapat membacanya dengan jelas.Betapa perjalanan seorang nabi terakhir itu tidak mulus. Dari caranya menganalisa sosio-antopologi dan bagaimana cara berkawan yang baik, kepada orang yang sebaya, orang yang usianya diatas dan dibawahnya.Bagaimana cara Muhammad saw mendapatkan kalimat petunjuk untuk disebarkan kepada masyarakatnya yang kental dengan keyakinan dan penyembahannya kepada Dewa Latta dan Uzza. Dan bagaimana pula kepribadiannya untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat.Dalam hal ini, sebuah kepribadian yang terbentuk dari sejak dilahirkannya sampai meninggalnya.Meski demikian, tidak semua masyarakat dapat menerima keyakinannya, yang diturunkan malaikat Jibril dari Tuhannya.
                Aku sangat tersentuh oleh kisahnya.Oleh perjalanan hidupnya yang bergelombang.Sebelum mendapat petunjuk,Muhammad adalah seorang pemuda biasa yang pandai bergaul.Setelah mendapat petunjuk, ia berubah menjadi seorang yang penyabar,pemaaf dan rendah hati.Dimana sifat-sifat itu didapatinya dari kejadian-kejadian kecil sampai besar yang tidak menyenangkan hatinya.Muhammad orang yang baik, semua mengakuinya.Tapi tidak semua orang dapat menyikapi seruannya dengan baik.Aneka kemarahan ditunjukkan mereka kepadanya.Hal itulah yang sangat menggugah kembali semangatku saat ini.
                Aku masih bersyukur, aku belum sepahit penderitaan Nabi Muhammad saw.Yang tiba-tiba banyak menginspirasi pikiran buntuku.Aku jadi memikirkan kenyataan saat ini.Tentang aku, keberadaanku dan lingkungan sekitarku.Kepedulianku hidup kembali.Memang masih sulit untuk memikirkan hal ini seorang diri.Aku harus mencari kelompok pengkajian masalah ini.Aku ingin yang lebih realistis dengan pesan yang tersirat dan yang tersurat dalam kisah-kisahnya.Seseorang harus memberitahuku, dimana tempat orang-orang sedang menjalankan prinsip-prinsip ini.Aku ingin menjadi bagian dari mereka, menjadi bagian dari pengusung jalan kebaikan.Sebagai amal sholeh yang seharusnya dilakukan ketika kita mulai masuk usia baligh yang guruku menyebutnya Mukallaf ( Orang yang terkena hukuman jika melakukan kesalahan )
                Aku sedang berada disebuah rumah diperbukitan.Orang-orang menyebut rumah ini dengan sebutan ‘Pondok Hijau’ sebuah rumah yang digunakan sekelompok orang untuk mengadakan pengkajian rutin keagamaan.Aku diajak oleh seseorang yang baru kukenal.Melalui orang ini, aku terlibat didalamnya. Kelompok kecilku hanya terdiri dari perempuan saja.Namun sesekali pengkajian dilakukan secara umum, kaum laki-laki dan perempuan disatukan.Menyenangkan sekali, ketika dapat dipertemukan dengan orang-orang yang sefaham denganku.Pikiranku mulai terbuka.Aku tidak menjadi diriku yang tiga bulan yang lalu merasa putus asa dan tersisih. Kesadaranku untuk berbuat sesuatu  bangkit lagi.Terutama setelah aku bertemu dengan saudara laki-laki yang dengan pemahamannya turut juga menguatkan anggapan pribadiku tentang cara menerapkan dan menyebarkan prinsip.Aku mulai menemukan kembali gairah pencarian rasa ingin tahu yang makin hari makin menggila.
                Dia bernama Abdul Ghani, pemilik pondok ini yang memfasilitasi semua kebutuhan kegiatan kajian rutin.Dari peralatan pengajaran sampai konsumsi.Dia orangnya menyenangkan, supel dan cerdas dalam mengkritisi suatu masalah.Baik masalah prinsip maupun masalah teknis.Aku suka berbincang dengannya. Walau usianya sebaya denganku tapi wawasannya jauh lebih luas dariku.Aku sering dibuat termangu oleh istilah-istilah yang diusungnya.Menakjubkan! karena itulah, aku jadi banyak menemukan pengetahuan baru lengkap dengan definisinya.
                Entah bagaimana pula dengan seringnya melakukan perbincangan itu, jujur saja menimbulkan rasa aneh melintas dalam perasaanku.Pikiranku mulai kacau.Konsentrasiku menjadi buyar.Aku dengan pengetahuan keagamaanku yang merasa yakin dengan batas-batas antara yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan.Tentu saja merasa bimbang dengan keadaan ini.Niatku datangan ke pondok hijau kini sedikit demi sedikit mulai tercemari virus-virus syahwat.Aku jadi lebih merindukan Abdul Ghani ketimbang merindukan hal lainnya.Kukira bukan hanya aku saja merasakan hal ini, beberapa jamaah perempuan lainnya pun, kudengar mengalami perasaan seperti ini. Tadinya, aku tidak terlalu menanggapi kejadian-kejadian kecil seperti ini.Yang menurut logikaku, justru hal-hal seperti inilah yang akan melumpuhkan semangat kita untuk terus mempertahankan kegiatan-kegiatan keagamaan kita.Kita jadi membicarakan masalah-masalah cengeng, yang sering kita dengar dari remaja pada umumnya.Tapi ini kenyataan.Aku mengalami sendiri.Dan anehnya, aku merasa harus bertarung dengan perasaan ini.Mengendalikannya sedemikian rupa agar tidak merusak niatku berkunjung ke pondok hijau tempat kita berkumpul.
                Dia, Abdul Ghani memang tidak pernah membicarakan yang mengarah pada hubungan istimewa.Tapi perhatiannya, sungguh, sanggup membuat beberapa saudara perempuan menjadi GR ( gede rasa ) termasuk aku.Kali ini, aku sedang teruji menyikapi perasaan yang membuncah begitu bertemu denganya.Haruskah itu terjadi? Haruskah aku mengatakannya  bahwa aku mulai menyukainya? Haruskah kuputuskan rasa ini kemudian meninggalkan Abdul Ghani begitu saja?
                Tuhan, apa yang harus kulakukan dengan keyakinanku ini? Aku merasa sedang menghadapi sebuah benturan yang dahsyat! Antara bergelut dengan pengetahuan dan bergelut dengan perasaan. Abdul Ghani menjadi batu sandunganku saat ini! Tuhan, bukakanlah kepadaku petunjukMu!*****


Minggu, 14 September 2014

Cerpen Linda Al-Husna 2010



MAWAR TERCEMAR
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 17 Juli 2010

                Naik kekelas tiga sekolah menengah atas.Pakaian seragamku,kusempurnakan.Jika tahun lalu aku masih menggunakan rok pendek, sekarang dengan kain putih menutup kepalaku, kemeja lengan panjang dan rok panjang pula. Dengan pakaian seperti ini, aku merasa menjadi pribadiku sendiri.Tanpa harus mengikuti sebuah mode yang sedang trendy.Aku menjadi tampil lebih apa adanya, seperti seorang pembelajar yang ingin tahu dan percaya diri. Ditahun ini, menurut wali kelas, majalah dinding harus diserahkan kepada kelas dua.Sedangkan kelas tiga diorientasikan pada ujian akhir nasional. Meskipun baru seminggu duduk dikelas tiga, namun ada rasa bahwa aku-mungkin juga yang lainnya, merasa menjadi senior yang cukup berpengalaman.Dengan mengelola majalah dinding setahun itu, telah memberi pelajaran tentang bagaimana mengelola sebuah media massa.Meskipun masih dilingkungan sekolah.Kelas bahasa memang terkenal dengan majalah dindingnya!
                Waktu terus berjalan sampai minggu kedua,sebagian besar guru belum masuk kekelas.Dengan berita ada yang sedang penataran, sedang sakit atau kesibukan lainnya.Suasana dikelas menjadi tak beraturan.Anak lelaki memilih duduk-duduk diteras kelas sambil menyanyikan beberapa lagu Iwan fals. Dedy yang memainkan gitarnya. Sementara anak perempuan lebih suka duduk-duduk dibangku sambil membicarakan aneka bahan pembicaraan.Atau menuliskan sesuatu.
                Aku sudah tidak bicara dengan Fay, entahlah, sejak peristiwa mading tahun lalu.Dan pembicaraan yang tak menyenangkan dibelakang kelas itu.Fay, tak pernah menggodaku lagi.Bahkan menyapa pun tidak.Syukurlah, barangkali Fay sudah kena getahnya.Sekarang aku bisa berteman dengan leluasa, dengan siapa saja baik anak lelaki atau pun anak perempuan.Tanpa harus ada ikatan apa pun.Teman tetap teman!
                Kali ini, Iwan yang sedang melakukan pendekatan.Iwan selalu ada setiap aku membutuhkan teman bicara.Membicarakan ini dan itu yang tak ada ujungnya.Iwan memang menyenangkan! Sesekali aku duduk dibangku belakang bersamanya.Menjadi bagian dari kelompok belajar pelajaran antropologi, berdiskusi dsb.Dalam masa kebosanan ini, dimana beberapa guru tidak masuk dan beberapa jam pelajaran kosong begitu saja.Iwan mengisi waktuku dengan asyik.Tidak hanya denganku, dengan beberapa teman yang lain pun demikian.Aku memilih Iwan ketika dengan tidak sengaja aku memasuki ruang kepala sekolah dan melaporkan beberapa guru tidak masuk selama dua minggu ini.Bapak kepala sekolah menanggapi laporanku.Beberapa guru yang dimaksud dihadirkan keruangannya.Pak Dudi, guru geografi, Pak Nanang guru agama, dan Pak Dudun guru sastraku yang baru.Ketiga guru itu diminta jawabannya atas laporanku.Mereka menjawab dengan alasannya masing-masing.Sambil sesekali menatap kearahku.Aku tak berani mengangkat muka.Demi Tuhan, bukan aku ingin menghancurkan reputasi mereka didepan kepala sekolah.Aku hanya bertanya, mengapa di kelas kami guru-guru ini tak masuk? Sedangkan menurut kelas lain, mereka ada dan mengajar seperti biasanya.Hal inilah yang kupertanyakan pada bapak kepala sekolah.Apa aku salah?
                Usai pembicaraan yang tak kuduga itu, aku langsung lari kekelasku dengan perasaan berkecamuk.Antara bingung, senang dan bimbang.Bagaimana nanti guru-guru itu menegurku? Telah berani melaporkan mereka ke kepala sekolah? Masuk keruang kelas,aku melihat Iwan duduk dibangkunya, bangku sebelahnya kebetulan sedang kosong. Aku lari menghampirinya. “Iwan!” jeritku sambil duduk disebelahnya.Kedua tangan kuletakkan diwajahku.Iwan menyambutku sebelah tangannyya meraih pundakku.”Ada apa?” tanyanya sambil menepuk-nepuk punggungku berusaha menenangkanku yang sedang gelisah.Aku menelungkupkan wajah beralaskan kedua tanganku.Aku mengatur nafas sejenak dan Iwan masih menunggu jawabanku.” Aku baru masuk ruang kepala sekolah, aku melaporkan beberapa guru yang tidak hadir selama dua minggu ini, Iwan, tolong aku, aku melihat pak Dudun marah padaku!” kuangkatkan wajahku dan kutundukkan lagi.Air mata bercucuran dari kedua mataku.Betapa takutnya aku, bagaimana jika aku mendapatkan skor dari pak Dudun? Beberapa anak lelaki menyorakiku.Menuduhku so, ideal, so aktif dan mencaciku dengan kata-kata mereka. Untunglah Iwan menenangkanku.Meyakinkanku, bahwa ia akan mendampingiku selama jam pelajaran pak Dudun yang setelah istirah ini bagian jam pelajarannya.”Ya, sudah, tenang saja.Aku disini untukmu! Kalau ada apa-apa kita hadapi bersama, ok?” katanya. Dengan senyumnya yang menyenangkan.Aku mengangguk, berterimakasih padanya telah bersedia menemaniku dalam kebingungan ini.Perasaanku sedikit tenang dan lebih siap menghadapi pak Dudun yang tadi terlihat marah.
                Sejak kejadian itulah, Iwan jadi sering mendekatiku.Diwaktu bersama ataupun diwaktu sendiri.Jika Fay, memiliki daya pikat melalui gurauan-gurauannya.Iwan berbeda, ia lebih tenang, kalem dan dituakan dikelas.Jika ada masalah, baik mengenai perorangan atau tentang keadaan kelas.Iwanlah yang menjadi tokoh yang dimintai pendapatnya.Semua, seolah mengakui dan menuruti setiap himbauannya.Ya, Iwan memang lebih dewasa dari yang lainnya.Aku mengakuinya!
                Hari ini, kegiatan belajar berjalan sebagaimana biasanya. Berdiskusi dan tukar pikiran adalah hal yang sudah biasa.Sampai bel istirahat berbunyi.Semua bersorak, dengan sendirinya berhambur keluar bangku dan menghilang.Beberapa diantaranya masih tinggal didalam kelas.Aku, Ina, Pepey, Maman, dan Dayat pergi kekantin belakang kelas, mencari makanan yang layak dimakan. Sudah selelsai mengurusi urusan perut, kami kembali lagi kekelas. Sambil menunggu bel berikutnya, ada yang duduk di bangku depan kelas dibawah pohon, ada yang duduk diteras sambil memainkan gitar dan bernyanyi bersama.Ada juga yang berjalan hilir mudik kesana kemari.Aku duduk disamping pintu, sambil mendengarkan para artis kelas menyanyikan lagu-lagu protesnya.Lagu-lagi Iwan Fals, kesukaan mereka!
                Tiba-tiba Iwan datang dan duduk dihadapanku.Tidak bicara apa pun hanya duduk sambil memegang setangkai bunga mawar yang entah dipetiknya dari mana? Karena Iwan tak bicara, aku pun demikian.Perhatianku sedang focus pada syair-syair yang sedang dinyanyikan dengan semangatnya.Sesekali tersenyum mendengar tempo dan notasinya yang tak beraturan.Tapi, syair itu memang hebat! Dinyanyikan oleh siapa pun, tetap tak mengurangi keindahan isi syairnya.Beberapa menit kemudian, Iwan seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.Mungkin ingin mengatakan sesuatu? Kuberanikan diri menanyakannya “ Wan, kamu kenapa?” tanyaku datar.Iwan tak menjawab pertanyaanku.Telapak tangannya menggiling setangkai bunga mawar. Kemudian diberikannya padaku dan berlari meninggalkanku yang tambah bingung.’Kenapa dia?’ batinku bertanya.Kuterima setangkai bunga mawar darinya, sekilas bunga itu memang cantik, dengan warna merah muda yang masih segar.Kucium bunga itu dan… “OOOOeeekkkk!!!” Bunga mawar yang telah tercemar oleh asap rokok.”puh” aku nyaris muntah, teganya Iwan memberiku bunga seperti ini!!!****

Rabu, 02 Juli 2014

Cerpen Linda Novlinda 1 2010



MADING
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 14 Juli 2010

                Naik kelas dua disekolah menengah atas, aku lebih memilih jurusan bahasa dan sastra ketimbang jurusan sience atau social. Bukan karena aku tidak mampu memasuki kekedua jurusan itu.Melainkan minat dan perhatianku besar pada bidang bahasa dan sastra.Aku suka membaca dan menulis.Dengan harapan memasuki jurusan ini, kemampuan membaca dan menulisku dapat diasah lebih tajam lagi. Benar saja, melalui buku panduan yang digunakan guru sastraku, karya Zaidan Hendi, aku jadi lebih memahami bagaimana cara membuat puisi yang baik, pantun yang baik dan naskah drama yang baik.Selebihnya siswa dilatih untuk mengembangkan sendiri pokok pikiran melalui kerangka karangan yang dibuat sendiri.Entahlah, aku semangat sekali dalam pelajaran yang satu ini.Adrenalinku merasa tertantang untuk terus menggali dan menggali kemampuanku. Melalui diskusi kelompok atau bicara sembarang bersama teman-teman adalah cara asyik mendapatkan bahan tulisan.Yang jika sudah mendapatkan tulisan baik berupa artikel,puisi, cerpen atau karikatur dapat dipasang di majalah dinding khas ‘anak bahasa’
                Sejak hari pertama aku duduk dikelas ini.Aku merasa tidak ada masalah dengan teman-temanku baik laki-laki maupun perempuan.Tapi setelah sebulan berlangsung, setiap siswa mulai menunjukkan karakternya masing-masing.’Pantas saja mereka memilih jurusan bahasa’ batinku merana.Bagaimana tidak, setiap anak selalu ingin bicara dan pembicaraannya itu harus yang paling didengarkan.Dalam satu ruang yang berjumlah 36 siswa itu, siapa yang mau jadi bagian pendengar? Ali, bicaranya sangat puitis, Fadil, bicaranya formal maka tak heran jika ia didaulat menjadi sang ketua kelas.Dodo yang bicaranya seperti seorang demonstran, Ela yang bicaranya tajam tapi tak beraturan, Ina, sikutu buku yang bicaranya seperti kalimat-kalimat yang ada didalam buku.Bicara dengannya seperti membaca sebuah buku saja.Yuni, gadis pendiam yang jika bicara menggunakan suara rendah tapi cukup menukik.Dan Fay, yang selalu sibuk dengan gurat-gurat karikaturnya, jika bicara cukup efektif, menyakitkan! Semua berkumpul dalam satu ruang kelas bahasa.
                Kadang aku merasa bersyukur, aku dikaruniai teman-teman yang banyak pengetahuan dan pengalaman untuk seukuran anak sekolah menengah.Tapi, aku merasa ada sesuatu yang ganjal dalam berinteraksi ditengah-tengahnya.Sebenarnya, aku bukan perempuan yang pandai bergaul.Atau suka bicara.Aku hanya suka memperhatikan apa yang dibicarakan orang-orang kemudian kukemas pembicaran mereka kedalam tulisanku.
                Ela,ditunjuk mengelola Majalah Dinding didepan kelasku.Dimana beberapa artikel, puisi, karikatur, opini dan kolom salam antara teman sudah terpampang.Siapa pun diantara kami boleh mengisi kolom-kolom itu melalui Ela dan krunya. Aku tidak termasuk kru tapi aku suka menulis dan pernah memasukkan sebuah artikel yang kini masih terpajang.
                Tiga bulan berjalan kegiatan belajar, perlahan-lahan mulai terasa riak-riak gairah pembelajaran dengan menggunakan kalimat-kalimat seadanya.Keakraban mulai tericpta.Entah bagaimana pula, Fay, yang lebih sibuk dengan goresan pensilnya, mulai melirikku.Padahal, aku tidak pernah menunjukkan perhatian apa pun kepadanya.Hanya karena Fay, suka melempariku dengan kertas-kertas kecil kerambutku.Sikapnya jadi berubah.Yang menurut teman-teman Fay menyukaiku! Tidak ada yang salah dengan Fay, ia unik, asyik dan menarik! Tapi, kenapa ia lebih memilihku ketimbang Ela,Uni, Diah atau Yuni yang penampilannya lebih cantik dariku? Dari belakang bangku, Fay, selalu membuat keributan kecil.Kalau bukan melempar kertas, mengoyang-goyangkan ujung kursiku atau bicara yang suaranya terdengar keseluruh ruang kelas. Ada-ada saja yang dilakukan Fay.Aku masih tak bergeming.
                Lama-lama, kesabaranku sampai pada puncaknya.Aku ingin menunjukkan bahwa sikapnya itu sudah membuatku tidak nyaman.Ya, Fay, pernah menyatakan hasratnya padaku untuk menjadikanku teman dekatnya.Tapi aku belum siap, bukan karena tidak suka! Fay memiliki daya pikat yang berbeda dengan teman yang lain.Apalagi, ia pernah membawa kamus electric yang masih jarang pada saat itu.Namun hal itu tak membuatku bersedia menjadi teman dekatnya.Bagiku teman ya teman.Agak canggung rasanya jika teman sekelas yang menjadi teman dekat ( baca: pacar )
                Untuk kenyamanan belajarku, kutuliskan sebuah pernyataan dalam secarik kertas.Tentang Fay, yang suka usil, jail dan centil! ‘Fay itu baik hati dan tidak sombong. Tapi dia suka usil, jail dan blablabla,Maaf kata-kata diatas saya ralat…’ ttd. Nn. Sepulang sekolah, kusimpan secarik kertas ini kedalam kotak saran.Lalu aku pulang melenggang, seolah baru melepaskan beban yang paling berat.Kulihat kebelakang.Ela dan kru sedang membuka kotak saran, membawa semua kertas-keratas yang ada untuk ditulis ulang  dirumahnya. ‘Rasakan Fay!’ kutinggalkan ruang kelas bahasa dengan kebahagiaan.
                Esoknya, Sebagian besar anak-anak bahasa sedang berdiri didepan kelas.Mereka berkerumun didepan mading ( majalah dinding ) tepatnya dikolom salam dari teman.Memang segmen itulah yang selalu ditunggu-tunggu pemirsanya.Semantara, aku lupa bahwa aku pernah menyimpan secarik kertas didalam kotak saran itu.”Ada apa?” tanyaku pada Ina. “Si Fay, ada yang mengkritik dia! Tidak tahu siapa, kamu tahu tidak?” Ina balik bertanya. Sebelum kujawab, aku langsung memburu majalah dinding.Dan kutemui sebuah kalimat yang kutulis kemarin.Kalimat singkat yang effektif untuk menunjukkan kepada semua orang yang membaca majalah dinding ini bahwa Fay demikianlah adanya….
                Sebuah senyum muncul begitu saja dibibirku.Ya, aku ingat,itu tulisanku! Dan Fay sudah kubuat gerah karenanya. Pantas saja ribut sekali kedengarannya.Beberapa anak lelaki masih membicarakannya.Kulirik wajah Fay, yang sedang berbicara didepan sekawanan anak lelaki.Wajahnya nampak senang tapi bingung. Barangkali penasaran siapa yang menuliskan satu kalimat untuknya di majalah dinding kesayangan kelas kami itu. Kubiarkan saja ia berbuat begitu.Sampai bel masuk berbunyi.
                Empat jam pelajaran sudah dilalui.Sesekali terdengar pembahasan tentang siapa orang yang menulis dimajalah dinding tentang Fay. Aku memang jarang bicara.Jadi tak ada alasan aku membicarkan ini.Aku sedang menikmati betapa gelisahnya Fay dengan tulisan itu.Rasa geli melintas dalam perasaanku.Sampai bel istirahat berbunyi.Semua anak-anak bahasa keluar menuju tempat kesukaannya masing masing.Lalu kembali kekelas.Sambil menunggu bel masuk, Fay masih meributkan siapa yang menulis kalimat itu.Awalnya aku tidak mau mengakui itu. Tapi, entah dari mana rasa iba menyelimuti perasaanku. Keributan Fay membuatku banyak memperhatikan sikapnya.Bicara kesana sini tentang seseorang yang menuliskan dirinya. Fay, berdiri didepanku.Sambil menghadap kearah Ina yang berdiri disampingku.Fay, masih menceracau.
                “ Fay, kamu mau tahu yang menulis kalimat itu? ” tanyaku sedikit bimbang antara ingin mengatakan dan melarang.Fay, yang sedang menghadap kearah Ina, langsung menatapku.”Ya, siapa?” tanyanya. Suaranya tajam begitu pula pandangannya.Aku menarik nafas berharap Fay tidak akan marah kalau aku mengatakannya.Kemudian kuberanikan diri mengatakannya “Aku!” jawabku datar. Fay, diam sesaat.Tatapannya masih tajam.Tapi segera kutinggalkan Fay dengan kebingungannya.Marah atau tidak masa bodoh, aku sudah mengakuinya! Aku duduk dibangkuku, aku tidak mau menatap wajah Fay yang tadi terlihat memerah.Kukeluarkan buku tulis dan penaku.Aku mulai menulis sesuatu.Asal tidak sedang mengangkat wajah.Sebab, Fay akan segera melawati barisan bangkuku.’Rasakan Fay, kena kau!!!!!’ batinku bersorak.
                                                                *********