Minggu, 04 Oktober 2015

Cerpen Linda Al-Husna 2010



ANAK JALANAN
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 26 Juli 2010


                Aku sedang berada disebuah Mall dikotaku.Hanya berjalan-jalan mencari sesuatu yang terbaru yang dipamerkan disetiap toko.Sebuah keasyikan tersendiri, aku tidak ketinggalan informasi barang yang tengah hangat dibicarakan.Sekedar mengetahuinya saja sudah membuatku mengerti.Untuk apa barang itu dibuat? Dan bagaimana cara penggunaanya yang tepat.Karena itulah, aku sering mengunjungi tempat ini, tempat sejumlah barang dipamerkan dan dijual! Terutama toko buku.Aku bisa berlama-lama tinggal didalamnya, mendata semua buku yang yang terpajang.Sampai mataku merasa lelah.
                Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 11.10 wib, perutku sudah mulai berbunyi.Kurasa, ada baiknya kuikuti kemauan perutku.Mengisinya dengan semangkok bakso atau apa saja! Aku berjalan keluar menuju kantin diluar Mallku ini dan berhenti disebuah kafe tenda yang bertuliskan ‘Bakso Ojo lali!’ dengan senang hati kumasuki kiosnya dan memesan semangkok bakso.Sambil makan, sesekali mataku kulayangkan keluar tenda.Disudut sana, aku melihat beberapa anak lelaki sedang berkumpul.Ada yang membawa kecerek, ada yang membawa botol air mineral yang diisi pasir.Ada juga yang memainkan gitar kecil! Yang lainnya bertangan kosong. Kuperhatikan mereka dari jauh.Nampak mereka sedang asyik membicarakan sesuatu atau berlatih melagukan sebuah syair. Rupanya, mereka anak-anak kecil yang sedang berusaha mencari nafkah!!
                Usai makan bakso, dan membayar tagihannya.Aku langsung berjalan keluar tenda.Kali ini langkahku pasti, menuju tempat dimana anak-anak itu duduk berkumpul.Aku ingin tahu, apa yang sedang mereka kerjakan? Kusapa mereka dan bergabung kedalam kumpulannya. “ Hai, adik-adik…boleh ibu ikut bergabung??? “ tanyaku sambil membelai tengkuk anak yang paling kecil.Mereka langsung melihat kearahku sambil mengangguk dengan bingung. “Boleh!” kata anak lelaki yang sedang main gitar kecil.Kusunggingkan seulas senyum, bahagianya aku bisa diterima dalam himpunan mereka. “Sedang apa kalian?” Tanyaku kemudian “ Sedang latihan main musik bu, kami mau mengamen!” jawab seorang anak lelaki yang memegang botol air mineral yang berisi pasir.Aku mengangguk, sebenarnya tanpa dijawab pun aku sudah tahu.” Ngamen dimana?” tanyaku lagi “Ngamen disini saja, dikios-kios tenda yang ada didepan Mall ini!” kali ini, anak lelaki yang memegang kecrek yang menjawab.”Oooo…eh, boleh tidak ibu tahu nama kalian?” kuharap mereka bersedia menyebutkan namanya.Sejenak mereka saling berpandangan.Barangkali untuk apa aku mengetahui nama-nama mereka.”Ayolah, jangan takut! Ibu hanya ingin berteman dengan kalian saja koq!” kataku meyakinkan.” Kamu,siapa namanya?” tanyaku kepada anak lelaki yang sedang main gitar yang paling tua diantaranya. Anak lelaki itu melihat kearahku “ Ocad, bu!” katanya acuh tak acuh.Kepalanya ditundukkan lagi melihat kearah gitar kesayangannya.”Berapa usiamu?” Tanyaku lagi “ 13 bu!” jawabnya lagi.Lalu kutanya satu persatu anak yang sedang duduk disekitar Ocad.Ada Nano yang usianya 10 tahun, ada Uli yang usianya 11 tahun, ada Momo yang usianya 9 tahun dan Dede anak yang paling kecil diantara mereka berusia 7 tahun.Menurut mereka, berkumpul disini, dibawah pohon disalah satu sudut tempat parkir Mall ini, sudah dilakukannya dalam waktu hampir satu tahun. Mereka bermaksud mencari uang dengan menyanyikan lagu-lagu yang sudah dihapalnya.Kemudian uang hasil mengamen bersama itu dibagi-bagi setelah mereka membeli makanan untuk mengisi perut mereka.Aku mendengarkan kisah mereka sampai selesai.Mereka lebih memilih melakukan ini, ketimbang pergi kesekolah.Untuk anak-anak seperti mereka, berpikir rasional adalah lebih utama ketimbang menghambur-hamburkan waktu dengan duduk berjam-jam dibangku sekolah.Aku berusaha mengerti persoalan ini dari sudut pandang mereka.Aku tidak bisa menyalahkannya.Itu yang mereka ingin lakukan dan butuhkan!
                Hanya kemudian, masalah ini menjadi masalah nasional. Ketika anak-anak ini, berkeliaran ditengah jalan menjadi bunga-bunga trotar yang tak menyenangkan hati dan pandangan. Dengan meminta sedikit uang dari para pengguna jalan, dari para pengendara dan para pejalan kaki. Memang ada yang dibuat jengkel dengan kenyataan ini.Tapi jika ditinjau dari kebutuhan mereka, ini adalah cara cepat mengatasi masalah mereka memenuhi kebutuhan hidup mereka.Sebelum ada orang yang peduli dengan nasib mereka.Memperlakukan mereka sebagaimana seharusnya. Sekali lagi aku tidak bisa menyalahkan!
                Setelah ngobrol kesana-kemari, tentu saja aku sangat berterimakasih atas waktu dan kesempatannya bahwa mereka mau mengungkapkan satu sisi kenyataan anak manusia ditengah kota.Kukeluarkan sedikit uang, untuk dibagikan kepada mereka.Momo langsung menyambut uluran tanganku.Hanya lima lembar uang seribuan yang kusediakan untuk mereka.”Seorang satu ya!” pintaku pada mereka.Momo membagikan uang itu kepada teman-temannya.Wajahnya sumringah dan senyum yang mengembang saat selembar uang seribuan sudah berada ditangannya.Demikian pula dengan Ocad, Nano, Uli dan Dede.”Terimakasih bu!” Ocad menerima uangku yang langsung dimasukkannya kedalam sakunya.Disusul Nano, Uli,Momo dan Dede.Aku hanya tersenyum melihat Dede mengipas-ngipaskan bagiannya.Barangkali, dalam bayangannya, ‘aku sudah punya jatah untuk makan nanti!’ terlihat sekali dari kedipan matanya yang lincah dan menyenangkan.Entah mengapa aku juga jadi ikut merasakan kebahagiaan mereka, dapat tertawa bersama mereka tanpa merasa ada beban yang berarti.Kendati kami hanya duduk-duduk saja disalah satu sudut parkir Mall ini.Melihat lalu lalang kendaraan didepan kami, yang kadang melihat kami kadang juga melenggang dengan angkuhnya.Tapi itu tak menjadi masalah yang berarti, ketika kebahagiaan itu sudah menjadi milik anak-anak ini dan aku turut ikut didalamnya.
                Aku juga merasa ada kebahagiaan lain yang menyertai perbincangan kami.Mungkin juga kami menertawakan sesuatu yang berbeda.Aku dan anak-anak itu! Jika anak-anak itu bahagia sudah mendapatkan jatah makannya.Aku, merasa bahagia telah terbuka satu katup yang selama ini membentengi cara berpikirku.Sebuah hal yang sulit untuk disebutkan secara definisi.Tapi bersama anak-anak ini, senyumku menjadi seadanya.Tanpa rekayasa, tanpa dibuat-buat! Sungguh, aku sangat bahagia!!!!

Buat: Anak-anak pengamen di Harimart tahun 2002, terimakasih sudah memberiku hari yang menyenangkan!!!!