Selasa, 12 Januari 2016

Cerpen Linda Al-Husna 2008




MAY
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 18 Mei 2008


                Sore itu May datang lagi ketempat kostku.Wajahnya murung syarat dengan kesedihan.May sudah duduk disamping rak buku sambil membuka halaman sebuah majalah.Aku baru saja selesai mandi ketika kutemui May. “Hai, maaf ya lama menunggunya!“ kataku sambil masuk kedalam kamarku dengan perlengkapan mandi.Kutaruh gayung dan handuk dibelakang pintu.Kuambil sisir dan merapikan rambutku yang tebal.Rambut ala salah satu icon produk shampoo.Kemudian aku duduk didepan May yang sedang asyik membaca majalah. “Baru pulang ya, Sih?” Tanya May masih menunduk membolak balikkan tiap halaman majalah.May adalah teman sekelasku dikampus.May orang terpandai dikelas namun tak jarang setiap ada kesulitan selalu datang menemuiku. Tapi kadang-kadang menjaga jarak denganku seolah tidak ingin berteman denganku.Teman-teman sekelasku menilai May dan aku adalah kawan bersaing dalam mendapatkan nilai terbaik dalam setiap mata kuliah.Tapi kali ini aku tak tega melihat wajah May yang demikian ‘pasti sedang butuh sesuatu!’ batinku.”Iya, seger rasanya sudah mandi, capeknya jadi hilang! Oya, kenapa lagi? Kayaknya habis menangis ya?” aku coba menebak apa yang sedang terjadi pada May.Matanya sembab, ujung hidungnya memerah.Tidak salah lagi May pasti baru menangis.
                “Sih, apa kamu mau menolongku?” May memelas sambil meletakkan majalah disampingnya. “Menolong apa?” tanyaku penasaran “Aku belum mengerjakan PR Psycologiku.Padahal PR itu harus selesai besok.Aku tak sempat mengerjakannya.Waktuku habis untuk mengerjakan tugas yang lain.Sementara untuk mencari buku sumber itu aku sudah tak punya waktu.Sih, kamu mau bantu aku kan? Kalau kamu punya referensinya bolehkan aku pinjam barang sehari ini saja? Besok aku kembalikan lagi.Aku janji!” May menjelaskan maksud kedatangannya.
                May memang rajin dan pintar.Sebetulnya May selalu ingin mendapatkan nilai sempurna dalam setiap mata pelajaran.Makanya belajarnya sangat tekun.Usahanya sangat keras.Yang membuatnya tak pernah mau menggabungkan diri dengan teman yang lain kecuali jika ada kemauannya.Tapi jika harus belajar kelompok, sebagian teman-teman memilih dengan May sebab enak sih, semua tugasnya dikerjakan sendiri oleh May sementara yang lain,hanya tahu beres.Buatku May bisa menjadi teman yang membanggakan sekaligus menyebalkan jika keinginannya tidak terpenuhi.Seperti kali ini, selalu begini.Jika ada kemauannya May selalu pasang wajah mengiba yang membuat siapa pun jadi jatuh kasihan padanya.
                Setelah berpikir beberapa menit, aku mengambil buku Psycologiku dan memberikannya pada May “Sebenarnya, aku sudah mengerjakan tugasku tapi aku masih membaca buku ini.Ada bagian yang belum kufahami benar.Tapi kalau kamu sangat membutuhkannya, ambil sajalah.Aku bisa membacanya setelah kau kembalikan!” Kusimpan buku Psycologiku didepan May.May langsung meraih buku itu wajahnya berubah sumringah. “Asih, terimakasih! Kali ini kamu benar-benar menolongku, sekali lagi terimakasih….!” May mendekap buku kemudian pamit padaku sambil mencium kedua pipiku.Seperti biasa aku hanya tertegun, sampai May menghilang dari ruanganku.
                “Apa? May? Mau apa lagi dia datang ketempat kamu?” Seloroh Raya malam itu dikamarku.Aku mengerti betul kenapa nada pertanyaan Raya seperti itu.Raya sangat tahu apa yang sudah pernah dilakukan May padaku “Sih, bukannya si May itu suka menyakiti kamu?” Raya meminta penjelasanku.Kuanggukkan kepalaku “May mau pinjam buku Psycologi, katanya dia mau mengerjakan tugasnya.Wajahnya mengiba.Aku jadi kasihan padanya….” Aku tidak melanjutkan kalimatku.Kupegang buku PSycologi yang kemarin dipinjam May dan tadi sudah dikembalikan sesuai janjinya. “Kasihan apanya,Sih? Bukankah dia pernah menghianati kamu? Menjelek-jelekkan kamu kepada teman-teman yang lain kalau giliran kamu yang dapat nilai bagus? Bahkan si Mina saja pernah didekatinya.May mengatakan kepadanya kalau kau ingin mencari perhatian dosen.Terus si Jeni juga pernah mengatakan suatu hari si May pernah marah-marah, pas ditanya rupanya dia sedang kesal sama kamu dan bla bla bla…!” Raya mengingatkanku pada kejadian-kejadian yang membuatku sering menangis karenanya. Entah mungkin karena aku yang cengeng, entah sikap May yang terlalu berambisi ingin menjadi yang terbaik dikelas hingga harus melumpuhkan yang lain yang dianggap rivalnya!
                “Ray, kemarin May hampir menangis didepanku.Aku jadi tidak tega melihatnya!” walaupun setelah ujian semester yang lalu, ada beberapa nilai mata kuliah yang aku lebih baik dari nilainya. May tampaknya tidak bisa menerima keadaan ini. May mendatangi dosen bersangkutan dan mempersoalkan nilaiku dibandingkan dengan nilai yang didapatinya. Didepanku dan May, dosen itu menjelaskan bagian-bagian mana yang aku lebih unggul dari jawabannya.May menyatakan mengerti, tapi sikapnya padaku tak ramah.Aku hanya bisa menelan ludah melihat sikap May demikian.Itulah May yang selalu ingin tampil sempurna.
                “Ray, aku jadi kasihan pada May!” kataku sambil melirik Raya yang sedari tadi mendengar ceritaku tentang May “Kasihan bagaimana?” Tanya Raya penasaran “Minggu yang lalu, aku kerumahnya.Tidur ditempatnya.Disana May menceritakan padaku kenapa ia harus melakukan ini.Kamu mau tahu kenapa?” tanyaku.Raya menganggukkan kepalanya.”Ayahnya seorang tokoh masyarakat dilingkungannya ia seorang yang terhormat sekaligus gila hormat.Makanya ayahnya menginginkan May untuk selalu menjadi menjadi orang yang dibanggakan, sebab terhadap kakak May ayahnya sudah kehilangan harapan itu.May adalah putri bungsunya yang sangat diharapkan menjadi kebanggaannya dalam bidang apa pun!” Aku menarik nafas dalam, sebelum akhirnya kehembuskan lagi perlahan-lahan. “Tapi, tidak harus pakai cara kotor begitu kan Sih?” Tanya Raya.Aku hanya memagut.Beruntung memiliki sahabat yang sudah dapat menilai cara mana yang harus ditempuh untuk mendapatkan kesempurnaan bagi diri sendiri maupun bagi orang lain dan pandangannya. “May sedang berusaha menyenangkan hati ayahnya.May tampaknya belum tahu cara menyenangkan yang dibenarkan agama.Barangkali kita harus lebih bisa memakluminya!” jawabku lirih.Raya menganggukkan kepalanya.”Ya, walaupun kadang sikapnya keterlaluan!” Raya mendengus sambil membuka majalah Islami langgananku edisi terbaru.Tiba-tiba Raya menunjuk sebuah tulisan “Hei Sih, lihat artikel ini, sepertinya menarik sesuai dengan pembicaraan kita baru saja ‘Menjadi Pribadi Yang Menyenangkan’” Raya membaca kalimat demi kalimat dalam artikel itu.Aku melongok sebentar. Oya, aku sudah baca artikel itu! Ya, memang sesuai dengan pembicaraanku dengan Raya baru saja.Dari artikel itu dijelaskan kiat-kiat memiliki pribadi yang menyenangkan tanpa harus ada yang dikorbankan!
                Usai membaca artikel itu Raya langsung memberi usul “Sih, bagaimana kalau majalah ini dipinjamkan saja pada May, biar dia baca isi artikel ini.Siapa tahu usai baca artikel ini dia mendapatkan petunjuk.Menjadi Pribadi Yang Menyenangkan!” Raya masih memegang majalah itu.Aku hanya menganggukkan kepala.Setuju!
                Dan sore itu, May datang lagi ketempat kostku.Aku baru saja menyelesaikan sholat asharku diakhiri dengan beberepa potong do’a yang kupanjatkan pada Tuhanku.Ketika May mengetuk pintu beberapa kali.Masih menggunakan mukena, kubuka pintu depan.Kulihat May sedang berdiri didepannya menghadap kearahku. “Apa aku mengganggumu, Sih?” May masuk keruang kostku dan duduk disamping rak bukuku. “Tidak, aku baru selesai sholat!” kataku sambil membuka mukena dan merapikannya.May mengamati wajahku yang sembab “ Sih, kamu habis menangis ya?” May mulai menyelidikiku.Kuusap wajahku dengan kedua telapak tanganku.Tangis dalam doa ini tak bisa kuhindarkan dari pengamatan May.Aku hanya mesem sedikit “Ya, barusan habis berdoa!” jawabku “Sih, kamu berdoa apa saja? Sampai harus menangis begitu?” Tanya May datar. “Ya, apa saja yang membuat resah atau sakit perasaanku, semuanya kulaporkan pada Tuhanku.Allah kan maha mendengar dan selalu bersedia mendengar rintihan hamba-hamaba-Nya yang merintih kepada-Nya.Itu saja!”
                “Begitu ya? Terus tadi kamu melaporkan apa?” May tampaknya penasaran dengan tangisanku ini.Dikelas aku memang tak pernah menunjukkan kelemahanku seperti ini.Tapi disini May sudah melihat kelemahanku, menangis! “Cukuplah aku dan Tuhanku yang tahu apa yan sedang kurisaukan saat ini!” jawabku seadanya.Aku tak mau May mengetahui aduanku ini.Bagaimana jika aduanku ini tentang sikapnya yang kadang menyulitkanku?
                “Sih, aku ingin seperti kamu.Bisa mengadukan semua hal kepada Allah.Kamu tahu…selama ini, aku juga bermasalah dengan diriku sendiri.Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan dalam hidupku ini.Kadang merasa putus asa tidak bisa membahagiakan ayahku setiap saat.Aku harus bangun tidur dini hari dan membuka pelajaran agar aku bisa mendapatkan nilai terbaik.Apa kamu pikir ini tidak melelahkan?” May mulai mengadukan masalahnya padaku.Wajah putihnya berubah kemerah-merahan.Dari bola matanya muncul genangan air mata yang berusaha ditahannya agar tak jatuh.Aku hanya bisa diam menyimak kisah dibalik prestasi May.Tiba-tiba aku teringat artikel yang pernah dibaca Raya beberapa hari yang lalu.Aku menghadapkan tubuh kearah rak dan mencari majalah langgananku edisi terbaru.Aku menunjukkan majalah itu pada May “Cob baca majalah ini! Siapa tahu majalah ini akan mengajarkanmu sesuatu yang sedang kamu butuhkan!” ujarku sambil menyodorkan majalah itu.May menerimanya.Satu dau butir air mata jatuh dikedua pipinya.”Sih,aku banyak salah ya sama kamu?” Tanya May tiba-tiba.Aku termangu.Sesaat kugelengkan kepalaku “Kalau pun ada, aku sudah memaafkannya!” jawabku.Seandainya May tahu seberapa sering aku menangis karena sikapnya? Ah, sudahlah…
                Pagi ini,  udara cerah.Arus lalu lintas berjalan seperti biasanya.Tiba digerbang kampus kulangkahkan kakiku menuju kelas.Ada rasa bahagia bersama sejuknya udara pagi ini.Membuat raut muka menjadi mudah menyebarkan seulas senyum kepada semua orang yang kujumpai.Dipintu kelas, Raya langsung menghampiriku.Memberondongku dengan berbagai pertanyaan “Eh, bagaimana dengan si May? Sudah datang ketempat kamu lagi belum? Bagaimana ceritanya?” Raya memboyongku menuju tempat dudukku.Setelah merapikan tas, aku duduk disebelah Raya.Siap menceritakan apa yang terjadi pada May kemarin sore.
                “Kemarin, dia datang lagi ketempatku waktu itu aku baru selesai sholat ashar” kataku mulai bercerita “Dia melihatku habis menangis.Dia jadi cerita macam-macam.Aku dengarkan saja curahan hatinya.Buntutnya, aku berikan dia artikel yang kamu tunjukkan waktu itu” lanjutku.Raya menyimak ceritaku dengan seksama “Hasilnya seperti apa ya?” Tanya Raya penasaran?” Aku menggelengkan kepala ‘Mana aku tahu, aku juga belum bertemu lagi dengan May’
                Tiba-tiba seorang perempuan berbusana muslimah menghampiriku dengan Raya “Hai, Asih, terimakasih ya untuk majalahnya!” kata perempuan itu seraya menyodorkan sebuah majalah.Aku dan Raya terkesima dengan pemandangan baru dihadapan kami.Kuawasi raut wajahnya, suaranya aku kenal.Tapi, siapakah perempuan berbusana muslimah yang berdiri didepan aku dan Raya ini? Sesaat menimbang kemudian hampir bersamaan suaraku dan suara Raya berteriak “May!” May tersenyum, dari kedua matanya muncul cairan bening yang sedang ditahannya.Aku langsung merangkul bahunya dan memeluknya erat-erat “Maafkan aku, Asih!” kata May dalam pelukanku.****