MAY
Oleh : Linda
Al-Husna
Cianjur, 18
Mei 2008
Sore itu May datang lagi
ketempat kostku.Wajahnya murung syarat dengan kesedihan.May sudah duduk
disamping rak buku sambil membuka halaman sebuah majalah.Aku baru saja selesai
mandi ketika kutemui May. “Hai, maaf ya lama menunggunya!“ kataku sambil masuk
kedalam kamarku dengan perlengkapan mandi.Kutaruh gayung dan handuk dibelakang
pintu.Kuambil sisir dan merapikan rambutku yang tebal.Rambut ala salah satu
icon produk shampoo.Kemudian aku duduk didepan May yang sedang asyik membaca
majalah. “Baru pulang ya, Sih?” Tanya May masih menunduk membolak balikkan tiap
halaman majalah.May adalah teman sekelasku dikampus.May orang terpandai dikelas
namun tak jarang setiap ada kesulitan selalu datang menemuiku. Tapi
kadang-kadang menjaga jarak denganku seolah tidak ingin berteman
denganku.Teman-teman sekelasku menilai May dan aku adalah kawan bersaing dalam
mendapatkan nilai terbaik dalam setiap mata kuliah.Tapi kali ini aku tak tega
melihat wajah May yang demikian ‘pasti sedang butuh sesuatu!’ batinku.”Iya, seger
rasanya sudah mandi, capeknya jadi hilang! Oya, kenapa lagi? Kayaknya habis
menangis ya?” aku coba menebak apa yang sedang terjadi pada May.Matanya sembab,
ujung hidungnya memerah.Tidak salah lagi May pasti baru menangis.
“Sih, apa kamu mau menolongku?”
May memelas sambil meletakkan majalah disampingnya. “Menolong apa?” tanyaku
penasaran “Aku belum mengerjakan PR Psycologiku.Padahal PR itu harus selesai
besok.Aku tak sempat mengerjakannya.Waktuku habis untuk mengerjakan tugas yang
lain.Sementara untuk mencari buku sumber itu aku sudah tak punya waktu.Sih,
kamu mau bantu aku kan? Kalau kamu punya referensinya bolehkan aku pinjam
barang sehari ini saja? Besok aku kembalikan lagi.Aku janji!” May menjelaskan
maksud kedatangannya.
May memang rajin dan pintar.Sebetulnya
May selalu ingin mendapatkan nilai sempurna dalam setiap mata pelajaran.Makanya
belajarnya sangat tekun.Usahanya sangat keras.Yang membuatnya tak pernah mau
menggabungkan diri dengan teman yang lain kecuali jika ada kemauannya.Tapi jika
harus belajar kelompok, sebagian teman-teman memilih dengan May sebab enak sih,
semua tugasnya dikerjakan sendiri oleh May sementara yang lain,hanya tahu
beres.Buatku May bisa menjadi teman yang membanggakan sekaligus menyebalkan
jika keinginannya tidak terpenuhi.Seperti kali ini, selalu begini.Jika ada
kemauannya May selalu pasang wajah mengiba yang membuat siapa pun jadi jatuh
kasihan padanya.
Setelah berpikir beberapa menit,
aku mengambil buku Psycologiku dan memberikannya pada May “Sebenarnya, aku
sudah mengerjakan tugasku tapi aku masih membaca buku ini.Ada bagian yang belum
kufahami benar.Tapi kalau kamu sangat membutuhkannya, ambil sajalah.Aku bisa
membacanya setelah kau kembalikan!” Kusimpan buku Psycologiku didepan May.May
langsung meraih buku itu wajahnya berubah sumringah. “Asih, terimakasih! Kali
ini kamu benar-benar menolongku, sekali lagi terimakasih….!” May mendekap buku
kemudian pamit padaku sambil mencium kedua pipiku.Seperti biasa aku hanya
tertegun, sampai May menghilang dari ruanganku.
“Apa? May? Mau apa lagi dia
datang ketempat kamu?” Seloroh Raya malam itu dikamarku.Aku mengerti betul
kenapa nada pertanyaan Raya seperti itu.Raya sangat tahu apa yang sudah pernah
dilakukan May padaku “Sih, bukannya si May itu suka menyakiti kamu?” Raya
meminta penjelasanku.Kuanggukkan kepalaku “May mau pinjam buku Psycologi,
katanya dia mau mengerjakan tugasnya.Wajahnya mengiba.Aku jadi kasihan
padanya….” Aku tidak melanjutkan kalimatku.Kupegang buku PSycologi yang kemarin
dipinjam May dan tadi sudah dikembalikan sesuai janjinya. “Kasihan apanya,Sih?
Bukankah dia pernah menghianati kamu? Menjelek-jelekkan kamu kepada teman-teman
yang lain kalau giliran kamu yang dapat nilai bagus? Bahkan si Mina saja pernah
didekatinya.May mengatakan kepadanya kalau kau ingin mencari perhatian
dosen.Terus si Jeni juga pernah mengatakan suatu hari si May pernah
marah-marah, pas ditanya rupanya dia sedang kesal sama kamu dan bla bla bla…!”
Raya mengingatkanku pada kejadian-kejadian yang membuatku sering menangis
karenanya. Entah mungkin karena aku yang cengeng, entah sikap May yang terlalu
berambisi ingin menjadi yang terbaik dikelas hingga harus melumpuhkan yang lain
yang dianggap rivalnya!
“Ray, kemarin May hampir
menangis didepanku.Aku jadi tidak tega melihatnya!” walaupun setelah ujian
semester yang lalu, ada beberapa nilai mata kuliah yang aku lebih baik dari
nilainya. May tampaknya tidak bisa menerima keadaan ini. May mendatangi dosen
bersangkutan dan mempersoalkan nilaiku dibandingkan dengan nilai yang
didapatinya. Didepanku dan May, dosen itu menjelaskan bagian-bagian mana yang
aku lebih unggul dari jawabannya.May menyatakan mengerti, tapi sikapnya padaku
tak ramah.Aku hanya bisa menelan ludah melihat sikap May demikian.Itulah May
yang selalu ingin tampil sempurna.
“Ray, aku jadi kasihan pada
May!” kataku sambil melirik Raya yang sedari tadi mendengar ceritaku tentang
May “Kasihan bagaimana?” Tanya Raya penasaran “Minggu yang lalu, aku
kerumahnya.Tidur ditempatnya.Disana May menceritakan padaku kenapa ia harus
melakukan ini.Kamu mau tahu kenapa?” tanyaku.Raya menganggukkan kepalanya.”Ayahnya
seorang tokoh masyarakat dilingkungannya ia seorang yang terhormat sekaligus
gila hormat.Makanya ayahnya menginginkan May untuk selalu menjadi menjadi orang
yang dibanggakan, sebab terhadap kakak May ayahnya sudah kehilangan harapan
itu.May adalah putri bungsunya yang sangat diharapkan menjadi kebanggaannya
dalam bidang apa pun!” Aku menarik nafas dalam, sebelum akhirnya kehembuskan
lagi perlahan-lahan. “Tapi, tidak harus pakai cara kotor begitu kan Sih?” Tanya
Raya.Aku hanya memagut.Beruntung memiliki sahabat yang sudah dapat menilai cara
mana yang harus ditempuh untuk mendapatkan kesempurnaan bagi diri sendiri
maupun bagi orang lain dan pandangannya. “May sedang berusaha menyenangkan hati
ayahnya.May tampaknya belum tahu cara menyenangkan yang dibenarkan
agama.Barangkali kita harus lebih bisa memakluminya!” jawabku lirih.Raya
menganggukkan kepalanya.”Ya, walaupun kadang sikapnya keterlaluan!” Raya
mendengus sambil membuka majalah Islami langgananku edisi terbaru.Tiba-tiba
Raya menunjuk sebuah tulisan “Hei Sih, lihat artikel ini, sepertinya menarik
sesuai dengan pembicaraan kita baru saja ‘Menjadi Pribadi Yang Menyenangkan’”
Raya membaca kalimat demi kalimat dalam artikel itu.Aku melongok sebentar. Oya,
aku sudah baca artikel itu! Ya, memang sesuai dengan pembicaraanku dengan Raya
baru saja.Dari artikel itu dijelaskan kiat-kiat memiliki pribadi yang
menyenangkan tanpa harus ada yang dikorbankan!
Usai membaca artikel itu Raya
langsung memberi usul “Sih, bagaimana kalau majalah ini dipinjamkan saja pada
May, biar dia baca isi artikel ini.Siapa tahu usai baca artikel ini dia
mendapatkan petunjuk.Menjadi Pribadi Yang Menyenangkan!” Raya masih memegang
majalah itu.Aku hanya menganggukkan kepala.Setuju!
Dan sore itu, May datang lagi
ketempat kostku.Aku baru saja menyelesaikan sholat asharku diakhiri dengan
beberepa potong do’a yang kupanjatkan pada Tuhanku.Ketika May mengetuk pintu
beberapa kali.Masih menggunakan mukena, kubuka pintu depan.Kulihat May sedang
berdiri didepannya menghadap kearahku. “Apa aku mengganggumu, Sih?” May masuk
keruang kostku dan duduk disamping rak bukuku. “Tidak, aku baru selesai
sholat!” kataku sambil membuka mukena dan merapikannya.May mengamati wajahku
yang sembab “ Sih, kamu habis menangis ya?” May mulai menyelidikiku.Kuusap
wajahku dengan kedua telapak tanganku.Tangis dalam doa ini tak bisa kuhindarkan
dari pengamatan May.Aku hanya mesem sedikit “Ya, barusan habis berdoa!” jawabku
“Sih, kamu berdoa apa saja? Sampai harus menangis begitu?” Tanya May datar.
“Ya, apa saja yang membuat resah atau sakit perasaanku, semuanya kulaporkan
pada Tuhanku.Allah kan maha mendengar dan selalu bersedia mendengar rintihan
hamba-hamaba-Nya yang merintih kepada-Nya.Itu saja!”
“Begitu ya? Terus tadi kamu
melaporkan apa?” May tampaknya penasaran dengan tangisanku ini.Dikelas aku
memang tak pernah menunjukkan kelemahanku seperti ini.Tapi disini May sudah
melihat kelemahanku, menangis! “Cukuplah aku dan Tuhanku yang tahu apa yan
sedang kurisaukan saat ini!” jawabku seadanya.Aku tak mau May mengetahui
aduanku ini.Bagaimana jika aduanku ini tentang sikapnya yang kadang menyulitkanku?
“Sih, aku ingin seperti
kamu.Bisa mengadukan semua hal kepada Allah.Kamu tahu…selama ini, aku juga
bermasalah dengan diriku sendiri.Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan
dalam hidupku ini.Kadang merasa putus asa tidak bisa membahagiakan ayahku
setiap saat.Aku harus bangun tidur dini hari dan membuka pelajaran agar aku
bisa mendapatkan nilai terbaik.Apa kamu pikir ini tidak melelahkan?” May mulai
mengadukan masalahnya padaku.Wajah putihnya berubah kemerah-merahan.Dari bola
matanya muncul genangan air mata yang berusaha ditahannya agar tak jatuh.Aku
hanya bisa diam menyimak kisah dibalik prestasi May.Tiba-tiba aku teringat
artikel yang pernah dibaca Raya beberapa hari yang lalu.Aku menghadapkan tubuh
kearah rak dan mencari majalah langgananku edisi terbaru.Aku menunjukkan
majalah itu pada May “Cob baca majalah ini! Siapa tahu majalah ini akan
mengajarkanmu sesuatu yang sedang kamu butuhkan!” ujarku sambil menyodorkan
majalah itu.May menerimanya.Satu dau butir air mata jatuh dikedua
pipinya.”Sih,aku banyak salah ya sama kamu?” Tanya May tiba-tiba.Aku
termangu.Sesaat kugelengkan kepalaku “Kalau pun ada, aku sudah memaafkannya!”
jawabku.Seandainya May tahu seberapa sering aku menangis karena sikapnya? Ah,
sudahlah…
Pagi ini, udara cerah.Arus lalu lintas berjalan seperti
biasanya.Tiba digerbang kampus kulangkahkan kakiku menuju kelas.Ada rasa
bahagia bersama sejuknya udara pagi ini.Membuat raut muka menjadi mudah
menyebarkan seulas senyum kepada semua orang yang kujumpai.Dipintu kelas, Raya
langsung menghampiriku.Memberondongku dengan berbagai pertanyaan “Eh, bagaimana
dengan si May? Sudah datang ketempat kamu lagi belum? Bagaimana ceritanya?”
Raya memboyongku menuju tempat dudukku.Setelah merapikan tas, aku duduk
disebelah Raya.Siap menceritakan apa yang terjadi pada May kemarin sore.
“Kemarin, dia datang lagi
ketempatku waktu itu aku baru selesai sholat ashar” kataku mulai bercerita “Dia
melihatku habis menangis.Dia jadi cerita macam-macam.Aku dengarkan saja curahan
hatinya.Buntutnya, aku berikan dia artikel yang kamu tunjukkan waktu itu”
lanjutku.Raya menyimak ceritaku dengan seksama “Hasilnya seperti apa ya?” Tanya
Raya penasaran?” Aku menggelengkan kepala ‘Mana aku tahu, aku juga belum
bertemu lagi dengan May’
Tiba-tiba seorang perempuan
berbusana muslimah menghampiriku dengan Raya “Hai, Asih, terimakasih ya untuk
majalahnya!” kata perempuan itu seraya menyodorkan sebuah majalah.Aku dan Raya
terkesima dengan pemandangan baru dihadapan kami.Kuawasi raut wajahnya,
suaranya aku kenal.Tapi, siapakah perempuan berbusana muslimah yang berdiri
didepan aku dan Raya ini? Sesaat menimbang kemudian hampir bersamaan suaraku dan
suara Raya berteriak “May!” May tersenyum, dari kedua matanya muncul cairan
bening yang sedang ditahannya.Aku langsung merangkul bahunya dan memeluknya
erat-erat “Maafkan aku, Asih!” kata May dalam pelukanku.****