Senin, 09 Oktober 2017

Cerpen Linda Al-Husna 2010


AKU INGIN MEMANGGILNYA ‘DEDE’
Cianjur, 12 September 2010
Oleh: Linda Al-Husna

                Seharusnya aku tidak usah ‘gede rasa’ waktu dia menyapaku, menyebut namaku begitu jelasnya terdengar ditelingaku.Bukankah hal  itu sudah menjadi kebiasaannya, jika mau berkenalan dengan seseorang dia melakukan hal itu, menyebut nama lawan bicaranya dengan jelas.Terus kenapa aku yang kebingungan sendiri? Seharusnya rasaku tak sebuncah ini,bukankah aku juga sering berkenalan dengan lelaki tampan dan baik hati.Tapi rasaku tak semelambung ini? Ada apa dengannya?
                Tadi, aku hanya sedikit mewawancarainya, tentang perkembangan karirnya didunia hiburan.Sebagai seorang pewarta,aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan umum yang ingin diketahui publik. Tapi dia malah menyebut namaku dan menatapku begitu lama.Seolah-olah dia sedang berusaha mengingatkan sesuatu yang berkaitan denganku.Apa mungkin aku mirip seseorang yang pernah dicintainya? Atau …Seperti dia waktu itu, aku segera menepiskan bayang-bayang yang belum jelas kebenarannya.Hanya soal kekahawatiran yang masih tersamar.
                Yang membuatku bingung,adalah dia langsung menyebut namaku begitu mantap dan seperti ingin mengatakan sesuatu yang segera ditepisnya sendiri.Barangkali dia masih ragu dengan apa yang ingin dikatakannya padaku.Dia seperti sudah mengenalku dengan baik.Tapi, keadaan tidak memungkinkan baginya untuk mengatakan sesuatu yang membuatnya segera mengalihkan pembicaraan kepada yang lain.Aku hanya satu diantara para pencari berita yang ingin meliput sisi lain kehidupannya.Disampingku beberapa orang yang mempunyai profesi sama denganku tengah berebut mencari kesempatan yang lebih baik untuk menyempurnakan bahan tulisannya.Suasana berebutan seperti itu tak memungkinkannya untuk bertanya balik kepada pewarta seperti aku.Untunglah, dia masih sempat mengajukan permintaannya untuk bertemu denganku besok sore.Ditempat yang sudah dijanjikan.Di Café miliknya diselatan kota Jakarta.
                Tidak sulit baginya untuk meminta jadwal pertemuan dengan para pencari berita yang sangat berminat pada intrik-intrik kehidupannya sebagai seorang selebritis.Termasuk aku, yang membutuhkan informasi lengkap tentang kehidupannya untuk kutuliskan dalam catatan harianku disebuah situs diinternet.Aku merasa tersanjung ketika dia meminta waktu khusus untuk bertemu denganku.Kesempatan ini akan kugunakan sebaik-baiknya agar aku mendapatkan apa yang harus kudapatkan darinya.Barangkali dia pun menginginkan hal yang sama.Ingin membicarakan sesuatu denganku secara pribadi.Dan malam ini , aku akan mempersiapkan beberapa pertanyaan yang akan kuajukan padanya besok sore.Sungguh, seperti kejatuhan durian runtuh! Karena itulah rasaku menjadi buncah dan melambung, seperti melayang-layang diudara bertemu dengan seorang selebritis yang sedang menjadi idola anak muda saat ini. Aku jadi tidak sabar menunggu peristiwa itu, peristiwa yang tidak semua pewarta mendapatkan kesempatan yang sama denganku.Maksudku, saat ini adalah bagianku mendapatkan kesempatan emas dari seorang selebritis.Dan aku harus mampu menguasai perasaanku, jika tidak, bagaimana jadinya, caraku mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan perasaan demikian? Ah, sudahlah, baiknya aku istritahat, beberapa pertanyaan sudah kusiapkan dan aku harus menenangkan pikiran dan perasaanku.Sebelum bertempur mengahadapi serangan balik darinya.Memangnya dia mau membicarakan apa denganku ya? Kita lihat saja besok sore!
                Waktu yang sudah dijanjikan pun tiba.Aku berangkat ke tempat itu sesuai kesepakatan.Baru kali ini aku memasuki sebuah café yang didalamnya sangat berisik bagi telingaku.Barangkali karena aku lebih suka suasana hening dan damai.Yang menyebabkan aku merasa tidak nyaman lama-lama berada ditempat seperti ini.Tapi, aku sudah terlanjur janji padanya untuk datang dan bertemu ditempat ini.Aku duduk disebuah kursi, seorang karyawan mengatakan sebentar lagi dia akan datang, dia masih berada dalam perjalanan menuju ketempat ini.Untuk profesiku, aku rela menunggunya sampai dia datang.
                Satu jam aku menunggu, dia baru menampakkan batang hidungnya. Dan menghampiriku seraya mengulurkan sebelah tangannya, menyalamiku “Hai, Mira sudah lama menunggu Ya?” Tanyanya dengan nada sedikit merasa bersalah.Aku menyambut uluran tangannya.”Baru satu jam koq!” jawabku dengan tenang.Dia mempersilahkanku duduk kembali dan dia duduk dihadapanku.Tangan kanannya menjatuhkan sebungkus rokok dari saku kemejanya, dari saku celananya dia mengeluarkan korek api.Dia lalu menyalakan satu batang rokok yang langsung dihisapnya didepanku tanpa rasa bersalah.Meskipun sebelumnya dia meminta izin padaku untuk melakukannya.Aku tidak keberatan, apa hakku melarang kebiasaan orang lain?
                “Mira, rasanya aku sudah mengenalmu.Entah dengan kamu yang masih ingat aku atau tidak?” katanya mengawali pembicaraan.”Kamu masih tinggal dikota kecil itu kan?” tanyanya membuyarkan pikiranku yang sedang berusaha mencerna perkataannya.”Ya, aku masih tinggal disana, tapi apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya?” aku masih bingung dengan pernyataannya.”Tentu saja aku sangat mengenalmu! Meskipun waktu itu usia kita masih sangat muda!” Dia menceritakan kisah dirinya yang pernah tinggal dikota tempat tinggalku saat ini. Dia juga menyebutkan nama bapak, ibu dan kakak-kakakku.Dia seperti dukun saja yang mengenal keluargaku dengan lengkapnya.Padahal selama ini, yang kutahu kehidupannya terlihat sangat ekslusif.Dan sebagian masyarakat dinegeri ini sudah mengenalnya sebagai selebritis.
                “Coba Mira, tolong diingat lagi waktu kamu masih duduk diTaman Kanak-kanak.Kita selalu bermain bersama setiap hari.Ditanah lapang yang kita cintai.Atau dipinggir danau dibelakan rumahmu.Aku tidak pernah melupakannya sampai saat ini!” Dia menarik nafasnya dalam-dalam dan aku mengingat-ingat masa yang ditunjukkannya padaku.”Ya, waktu itu aku punya teman dekat, usianya beberapa tahun diatasku.Selain sebagai teman dia juga sudah seperti pengasuhku saja.Dan aku sudah kehilangan kabar tentang dia.Berada dimana sekarang dan keadaannya seperti apa? Aku sama sekali tidak tahu? Aku selalu memanggilnya dengan nama’DEDE’ nama kesayangannya untuk kusebutkan setiap aku ingin bermain dengannya! Ya, waktu itu sangat menyenangkan!”aku mencoba mengomentari suasana yang dipintanya untuk kuingat sedetil-detilnya.”Ya, itulah aku, Dede yang sering kau ajak bermain ditanah lapang atau dipinggir danau dibelakang rumahmu! Dede itu namaku waktu aku masih duduk dibangku SD, dan aku sangat senang kau menyebutnya begitu!” dia menyudahi perkataannya.Dan tinggallah aku yang termangu menyimak pengakuannya.Apa benar, selebritis didepanku ini adalah teman dekatku waktu masih kecil? Kenapa dia mau mengakui itu?Atau mengaku-ngaku seorang yang paling mengenalku dengan baik melebihi ibu bapakku sendiri.Bukankah aku wartawan yang belum terkenal? Apa keuntungannya dengan pengakuan yang dilakukannya? Tapi, jika benar dia adalah “Dede’ yang kukenal dulu….Ya Tuhan, aku bertemu lagi dengan Dede!!!!!*****
               
                                                                ***********