Senin, 10 November 2014

Cerpen 2 Linda Novlinda



CERITA WAWA
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 22 Juli 2010


                Wawa sumringah, ketika ia menceritakan pengalamannya bersama teman kencannya.Aku hanya diam mendengar setiap kejadian yang diceritakannya padaku.Diusianya yang semuda itu, yang hanya terpaut lima tahun dibawahku.Wawa menjelma sebagai lelaki idaman dikampusnya.Wawa menyenangkan, memiliki banyak pengalaman untuk diceritakannya kepada siapa pun yang ditemuinya.Termasuk pengalamannya bersama Arimbi-teman kencannya yang baru.Ya, ini memang bukan pengalaman pertamanya ia mengencani perempuan.Aku sudah mendengarnya beberapa kali.Setiap cerita selalu beda tokoh yang diceritakannya.Kendati dalam cerita-ceritanya itu Wawa selalu tampil sebagai lelaki yang mengayomi perempuan yang sedang dipacarinya.
                Dalam hal tertentu aku menyukainya, menyukai sifat-sifat kelaki-lakiannya yang terbuka.Barangkali karena itu pula beberapa perempuan bersedia menjadi pacarnya.Ada yang dalam satu waktu beberapa pacar, ada pula yang mengalami bongkar pasang alias putus dengan yang satu, nyambung dengan yang lain.Cepat sekali Wawa mendapatkan teman perempuan.Yang kulihat teman laki-lakinya pun tak sedikit.Itulah hebatnya Wawa tidak pandang bulu dalam memilih teman.
                Hari ini, Wawa datang ketempat tinggalku.Seperti biasa setiap kedatangannya selalu membawa cerita. “ Teh, apa saya tidak mengganggu teteh? Hari ini, saya baru pulang dari dokter, sengaja mampir dulu kesini, ingin bertemu teteh!” katanya seraya mengeluarkan obat tablet yang dibungkus plastik khas dokter.Aku melihatnya satu bungkus plastik dari dokter dan satu lagi tanpa merek.” Oya, memangnya kamu sakit apa?” tanyaku baru tahu bahwa selama ini Wawa tengah mengidap penyakit dalam.” Kata dokter sih, radang paru-paru, tapi belum kronis koq!” katanya.Aku mengerti. Wawa masih memegang kedua bungkus plastic ditangannya.”Nah, ini obat dari dokter dan yang ini obat penenang!!!” katanya menunjukkan bungkus plastic yang kedua.Aku curiga, Wawa termasuk pemuda pengguna obat terlarang.Dan bungkus yang tanpa merek itu adalah obat penenang yang dimaksudnya.” Memangnya, obat itu dapat dari mana,Wa?” tanyaku, rasa ingin tahuku tiba-tiba muncul begitu saja.Wawa tampak terkesiap, demi mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba.Aku dapat menangkap rasa keterkejutannya tanpa dibuat-buat.” Dari teman!” suaranya dingin sekali “Aku sangat membutuhkannya teh, untuk mengatasi depresiku menghadapi banyak masalah!” jelasnya.” Masalah apa lagi?” tanyaku.Bukankah setiap Wawa punya masalah selalu diceritakannya padaku? Sedikit banyaknya aku selalu memberi saran buat mengatasi masalahnya.Jika saranku ini dilaksanakan, tentu Wawa tak perlu menggunakan obat itu untuk mengatasi masalahnya.Aku bersedia menemaninya, memecahkan masalah-masalahnya seputar pergaulannya yang sedikit bebas.Kecuali jika Wawa tidak melaksanakn saranku dan melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku.Maksudku tidak semua kejadian diceritakannya padaku.Sehingga dengan mudah kuberi saran yang kukira cukup mudah jika benar-benar mau keluar dari lingkaran masalah itu! Itulah yang sedikit kusayangkan dari Wawa.Pandai berkelit dan bicaranya kadang asal saja.
                “ Teteh kan tahu, aku baru putus dari si Emi, dia pacaran lagi sama temanku! Bayangkan Teh, temanku sendiri yang dijadikan pacarnya, kenapa bukan yang lain???”
Wawa mulai menceritakan masalahnya.” Terus si Wati sudah dua bulan ini menghilang, katanya disuruh orang tuanya kerja ke Batam! Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya!” Kubiarkan Wawa menceritakan masalahnya, sesekali wajahnya terlihat seperti mau mencurahkan air mata.Kudengarkan saja ceritanya.” Si Meta sedang ngambek kerena melihat aku sedang berjalan bersama Si Dena.Padahal itukan hanya teman sekampus.Waktu itu kita mau beli buku Mall, sampai sekarang si Meta belum mau bicara denganku…Bayangkan teh,kepalaku jadi pusing….!!!!” Wawa memegang kepalanya dengan kedua tangannya.Matanya terpejam membayangkan masalah yang ada didalam kepalanya.Aku jadi kasihan padanya.Seandainya aku dapat membantunya menyelesaikan masalah-masalahnya…Tapi itu tak mungkin, Wawa sendirilah yang seharusnya dapat menyelesaikan hubungan pertemannya dengan semua orang yang pernah menjadi teman-teman dekatnya! “Terus dengan Arimbi itu?” tanyaku masih bingung.”Nah, untunglah aku bertemu dengannya baru-baru ini.Dia yang menolongku untuk saat ini! Aku sedang ingin diperlakukan dengan baik oleh seseorang!” katanya.Aku menyimak kisahnya dan mencoba menghubungkannya dengan cerita-cerita lain sebelumnya.”Lho, memangnya teteh tidak memperlakukanmu dengan baik ya?” godaku mencairkan kebingungan Wawa yang semakin terlihat.”Itulah, makanya aku datang kemari teh…ingin mengeluarkan beban dikepalaku!!!” suaranya melemah.
                Itulah hari terakhir aku bertemu Wawa.Cerita-cerita yang sebenarnya membingungkan diri sendiri dan dibuat oleh sendiri.Beberapa kali kukatakan padanya.Coba kamu hadapi satu demi satu persoalanmu.Selesaikan sampai tuntas, sampai dirasa tak ada urusan lagi antara dia dan orang yang terlibat dalam masalahnya itu.Wawa memang selalu mengiyakan dan bersedia mau melaksanakan saran-saranku.Walau kenyataannya aku tidak tahu.Apakah Wawa benar-benar mengerti dengan masalah yang dibuatnya sendiri? Kalau tidak mengerti, bagaimana dia mau menyelesaikan masalahnya dengan baik? Sementara informasi yang kudapatkan barangkali tidak selengkapnya.Ya, itulah masalahnya, ada satu atau dua kejadian yang tak diceritakannya padaku.Dan itu sangat menentukan bagaimana caraku mengatasi masalah tersebut.Yang diketahui Wawa, berteman itu bersenang-senang versi pemuda sekarang pada umumnya.Jalan-jalan, nongkrong sampai pagi sambil disuguhi minuman-minuman keras atau obat-obat terlarang.Sungguh, sebuah kebiasaan yang menghambur-hamburkan waktu! Seandainya waktunya digunakan untuk yang lebih bermanfaat selain duduk-duduk tanpa ada artinya? Mungkin masalah itu tak seharusnya dihadapi pada usianya yang semuda itu. Kemampuannya berpoligami-walau pada level pacar, sudah diarunginya tanpa pengetahuan yang mumpuni.Sayang, sangat disayangkan! Ya, seandainya aku diberi kesempatan untuk dapat meluruskan kerangka berpikirnya…???


Buat:  Almarhum Aquwa dalam kenangan!!!! Semoga taubatnya diterima disisiNya!!! Amien.