Rabu, 30 April 2014

Cerpen Linda Novlinda 2010



LELAKI HIKMAH ( 2 )
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 24 Desember 2009

                Aku masih berada didepan cermin.Waktu menunjukkan pukul 20.30 wib.Seulas senyum tersungging dari bibirku.Bayangan masa lalu itu tak jarang mengusik pikiranku.Kadang membuat senyum sendiri kadang merasa sedih kehilangan semua kisah terindah yang pernah kujalani bersama teman-teman.Aku tidak tahu dengan pendapat mereka.apakah mereka juga merasakan hal yang sama denganku atau tidak? Aku hanya berharap, mereka dalam keadaan baik-baik saja.Dimana pun mereka berada.Sedang bersama siapa pun.20 tahun setelah kelulusan Madrasah Ibtidaiyyah, jarang sekali kita bertemu muka atau bercengkrama seperti dulu, seperti waktu masih berada dalam satu atap.Jika bertemu pun hanya basa basi, sekedarnya saja.Tidak lebih. Padahal ada saat dimana aku, entah yang lain-ingin melanjutkan kebersamaan itu.Biar jarak memisahkan, toh, silaturahim tak harus terhenti sampai disitu.Aku tidak tahu apa yang menjadikannya demikian?
                Selama ini, prasangkaku ada pada kegiatan kita yang baru, teman baru, wawasan baru.Tapi apakah itu sebuah alasan yang tepat untuk kita jadikan ketidak pedulian satu sama lain? Sekarang aku meragukannya! Kupastikan bahwa alasan-alasan itu tidak cukup kuat untuk saling melupakan.Dan aku yang pertama harus memulainya.Menemui mereka satu persatu yang tercatat dalam absensi yang kuingat! Bukan apa-apa, karena aku ingin tahu keadaan mereka sekarang.Seberapa besar hasrat mereka untuk kembali bersilaturahim? Ya, sepertinya ini kegiatan yang memalukan.Tapi itu bukan apa-apa,sekali lagi bukan apa-apa! Meski yang tergambar dalam benak kita tentang prilaku kita pada waktu itu adalah prilaku-prilaku konyol yang memalukan.Dan itu sering membuatku tersenyum sendiri!
                Itu pula yang terjadi pada Lino beberapa hari yang lalu.Untuk sesaat, sebelum kita membicarakan ini dan itu, kita mentertawakan sesuatu yang sudah lama kita lupakan.Dan aku tahu Lino pun merindukannya, sama seperti aku!
                                                                **********

                Setiap ulangan catur wulan, pada saat pembagian raport.Biasanya selalu diadakan acara perpisahan ( samen ). Setiap siswa dari tiap kelas diharuskan menunjukkan kreativitas seninya.Entah menari, bernyanyi, baca teks pidato atau puisi.Semua ada dalam acara perayaan kenaikan kelas.Dikelasku, anak lelaki tak ada yang menaruh perhatian dalam bidang ini.Hanya anak perempuan yang sibuk membicarakan persembahan apa yang akan ditampilkan pada acara samen nanti?
                Rida menggandeng aku,Kina, Sefi dan Leni menarikan sebuah lagu hit waktu itu.Rida mengusulkan untuk berlatih disekolah saja.Dari pagi, kalau perlu dilanjutkan sampai sore.Mengingat waktu menuju hari-H sangat singkat.Aku dan semua teman yang terlibat menyetujui.Pada pekan bebas,waktu kita gunakan untuk berlatih menari.Dimulai hari ini, hari senin, hari pertama pekan bebas!
                Pukul 07.30 wib, aku tiba dikelas.Kelas setengah kosong, sebagian anak bermain diluar kelas “Hei, Salma, kamu sudah siap belum?” Tanya Rida dalam himpunannya.Kina,Sefi dan Leni mengelilinginya. “Aku belum tahu gerakannya!’ kataku sambil duduk disamping Rida yang menghadap Kina. “jangan khawatir Rida sudah menyiapkannya!’ kata Sefi “kapan latihannya bisa dimulai?” tanyaku lagi. “Nih, aku sudah bawa tapenya! Kita bisa langsung latihan sekarang!” usul Kina sambil menunjuk tape kecil yang dibawanya dari rumahnya. Rida mengeluarkan kaset yang baru dibelinya.Memasangkannya pada tape Kina.Keluarlah music dari tape memecah kesunyian ruang kelas 3.kami semua mendengarkannya sampai tuntas.Rida memutar ulang lagunya sampai lagu itu siap kembali.Rida memetakan gerakan-gerakan yang sudah didapatinya kemudian music dinyalakan.Rida menari mengikuti alunan music sementara kami menyimak apa yang diajarkan Rida “ Kalau begitu, bagaimana kalu kita langsung berbaris? Aku sama Sefi didepan, Leni ditengah, Kina dan Salma berdiri dibelakang!” Rida mulai mengatur barisan, kami semua menurut dan mengikuti gerakan-gerakannya.
                Beberapa kali lagu berputar.Kami agak kesulitan mengikuti gerakan Rida.Jika Rida tidak sabar menunjukkan gerakan-gerakannya.Baru lagu ke-5 aku dan Kina mulai bisa menangkap gerakannya.Hanya kecepatannya yang belum dapat disesuaikan.Sedang menikmati latihan menari yang ditonton oleh sebagian teman yang lain.Tiba-tiba segerombolan anak lelaki datang.Dan seperti biasa membuat kegaduhan dengan suara-suaranya yang hamper memekakkan telinga.Suara music hamper tertandingi, konsentrasi kami jadi buyar!
                Inu datang menghampiri Rida “Lagi apa kalian disini?” tanyanya ingin tahu tapi seperti tak peduli.Sementara anak-anak yang lain duduk menempati bangkunya masing-masing.Lino terakhir datang.Ia hanya berdiri menatap kamii berdiri formasi 5.Raut wajahnya datar, ditunjukkannya pada kami.Seandainya boleh, ingin rasanya aku membuang ludah didepannya! Tapi aku tak biasa begitu.Aku hanya membuang muka tak mau melihat mukanya. “Kalau beitu sudah dulu saja latihannya, tidak enak banyak orang begini?” sungutku tiba-tiba jadi sebel.Apa mungkin karena melihat wajah kejam Lino semangat berlatihku mendadak habis? Aku menghampiri tempat dudukku.Lino menghampiri Rida dan berkata-kata.Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan,aku tidak peduli! Semuanya jadi kacau! Terlebih Wawan melemparkan sebuah gulungan plastic berisi batu ketengah kerumunan yang langsung ditangkap Lino dan teman-temannya yang lain.Maka terjadilah permainan sepak plastic yang tak beraturan.Kami, kaum perempuan harus mengalah menenpi menempati bangku kami masing-masing.
                “Eh, kapan kita latihan lagi?’ Rida bertanya padaku, Sefi,Kina dan Leni.Dalam kebisingan seperti ini,Rida masih bisa menunjukkan semangat dan gairah berlatihnya.Senyumnya terkembang dan rona wajahnya menyenangkan. “Tidak tahu, terserah kapan maunya?” Sefi menyerahkan pada kesepakatan. “Bagaimana kalau nanti siang jam 14.00 wib, disini lagi.Biar gampang menjangkaunya?” usul Rida lagi.Karena tak ada pilihan lain, kami sepakat dengan usul Rida.Nanti siang kami harus datang lagi ketempat ini.
                Pukul 13.30 wib, Rida mampir dirumahku sebelum akhirnya kami berjalan menuju sekolah.Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat.Aku dan Rida sudah biasa melakukannya setiap pulang sekolah. “Eh, Sal, bagaimana kalau kita mampir dulu dirumah Anti, siapa tahu Anti mau ikut kita kesekolah!” Usul Rida dengan sumringah.Sebenarnya aku bimbang menerima usul Rida, soalnya rumah Anti berada dibelakang rumah Lino didepannya rumah Zeni dan Igun. Tapi, demi melihat semangat Rida,kusetujui ajakannya.Entah ada apa lagi dengan Rida.Siang ini nampak senang sekali.Beberapa kali ia menyebut nama Lino taspi pendengaranku tak begitu jelas.Ada apa dengan Lino,ingin menanyakannya lebih jelas lagi tapi keinginan itu urung sudah karena cerita Rida mengalir terus seperti air sungai.
                Tiba disebah gang dimana untuk sampai kerumah Anti harus melewati rumah Lino.Perasaanku jadi tak menentu.Sebenarnya aku tidak punya urusan apa pun dengannya.Kenapa debarannya harus sekencang ini? Semoga Rida tidak membaca perasaanku.Rida menghentikan ceritanya ketika kami persis lewat didepan rumah Lino.Aku ingin tahu, jantung Rida apakah sama seperti aku? Kenyataannya, Rida pun seperti sedang berusaha mengendalikan perasaannya.Lebih baik, aku diam saja!
                “Anti…Anti!” aku dan Rida memanggil Anti didepan rumahnya.Seorang anak lelaki muncul dari balik jendela kayu “Anti sedang dirumah Lino!” katanya sambil menarik kembali kepalanya masuk. Aku dan Rida saling berpandangan ‘Jadi kita harus kerumah Lino?’ batinku “Ya sudah, kita kerumah Lino saja!” kata Rida seraya menarik lenganku menuju pintu belakang rumah Lino. Untunglah Anti baru keluar dari rumah Lino sebelum aku dan Rida memanggilnya. “Eh, ada apa kalian kesini?” Tanya Anti sambil  membawa piring ditangannya. “Ti, kita mau kesekolah, mau latihan nari, kamu mau ikut tidak?” jawab Rida balik bertanya. Anti terdiam pandangannya melihat kearahku “Ikut yuk, biar tambah rame!” tegasku “Eeehhmm, sepertinya tidak bisa! Aku lagi sibuk nih, mau membuat kue bersama ibuku!” katanya dengan penuh penyesalan ”Maaf ya!” katanya sekali lagi. Rida dan aku mengangguk bersama-sama.”Ti, memangnya Lino ada dirumah?” Tiba-tiba Rida mengajuka pertanyaan diluar dugaanku “Ya, ada tuh didalam sedang makan!” jawab Anti “Apa perlu kupanggil? Kalian mau ketemu Lino ya? “ Tanya anti.”Tunggu sebentar, aku simpan piring ini dulu.Baru kupanggil Lino!” Anti berjalan menuju rumahnya.Tak lama kembali lagi dengan tangan kosong. “Lino, ada yang mencari tuh!” teriak Anti dilubang pintu belakang.Aku tidak yakin Lino akan menampakkan diri kalau pun ya, kita mau bicara apa dengannya? Jadi ingin tahu, kepentingan Rida kepada Lino saat ini.
                Sesosok wajah muncul dari lubang pintu.Wajah tak asing lagi bagi aku dan Rida.Lino melihat kearah kami.Wajahnya menunjukkan setengah terkejut.”Siapa Ti?” Anti menunjuk kearah kami.Aku bisa membaca keterkejutan diwajah Lino.Rida menyebut nama Lino dengan senang. “Lino!” katanya setengah berteriak “Mau apa kalian kesini?” tanyanya sedikit diiringi senyum khas Lino.Aku tidak berani melihat wajah Lino,kualihkan perhatianku pada Rida.Biar Rida saja yang bicara. “Kita mau kesekolah, mau latihan nari, kamu mau ikut?” Tanya Rida setengah berharap. “Mau apa? Tidak ah!” jawab Lino tegas dan jelas.Begitu aku mendengarnya legalah perasaanku.Kenapa Rida mau mengajak anak ini? “Ya sudah!” Rida mengalah.Aku dan Rida pamit berangkat kesekolah.
                                                                ********
                Setelah seminggu berlatih terus menerus sampai aku,Rida,Kina,Sefi dan Leni dapat bergerak mengikuti irama secara serempak.Akhirnya, hari yang ditentukan pun tiba.Hari pembagian raport yang sebelumnya akan ada persembahan penampilan dari setiap kelas.Grupku sudah siap tampil, dengan pakaian yang pantas sesuai jenis music kami pilih, sedikit bermake-up dan rambut yang ditata berbeda dari biasanya.Teman-teman sekelasku menyambutnya dengan antusias.Seolah-olah berkata, inilah grup perwakilan kelas kami.Anak-anak lelaki nampak acuh-acuh saja, walau pun mereka mengikuti keseluruhan acara persembahan siswa sampai tuntas.
                Ditengah acara, grupku diminta siap-siap untuk tampil setelah penampilan dari kelas 4 selesai.Setelah itu giliran penampilan kelasku.Maka bergulirlah tarian yang diciptakan Rida.kami bergerak mengikuti alunan musik. Disana, diantara para penonton, aku melihat Lino sedang berdiri paling depan melihat penampilan kami.Mungkin aku terlalu percaya diri, bahwa Lino tepatnya sedang melihat kearahku.Kupalingkan saja pandanganku.Aku tidak boleh kehilangan keseimbangan dan konsentrasi.Sampai lagu berakhir dan kami harus meninggalkan panggung. Lino masih berdiri disana.Tidak bergerak sedikit pun. Ya sudah, Lino sudah melihat penampilan kami.Anehnya, pandangannya dingin dan tak senakal biasanya.Suaranya pun rendah, bicara dengan teman sebelahnya pun demikian.Tak ada tanda-tanda jika Lino adalah anak yang paling nakal dan galak dikelasku.’Bisa juga jadi anak baik,huh!’ sungutku dalam hati.’Seandainya, dia mau sedikit saja berbaik hati padaku….!!!!’
                Usai semua acara digelar, semua siswa diminta mengikuti guru kelasnya kekelasnya masing-masing.Disana akan dibagikan buku raport yang sangat ditunggu-tunggu semua siswa.Aku dan semua anak kelas 3 sudah berada diruang kelas.Bu Tiah siap membagikan raport sambil memberi pengumuman jadwal libur panjang.Kurang lebih satu bulan, kami tidak akan berada disekolah.Artinya, selama itu, aku tidak akan bertemu Lino…..!!!????!!!
                Buku raport dibagikan, semua gembira menyambut libur panjang.aku juga seharusnya begitu hanya ada sedikit ganjalan yang terselip didalam perasaanku.’Betapa aku akan merindukan Lino….!!!!’

                                                                                *******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar