LELAKI HIKMAH ( 2 )
Oleh
: Linda Al-Husna
Cianjur,
24 Desember 2009
Aku masih berada didepan cermin.Waktu menunjukkan
pukul 20.30 wib.Seulas senyum tersungging dari bibirku.Bayangan masa lalu itu
tak jarang mengusik pikiranku.Kadang membuat senyum sendiri kadang merasa sedih
kehilangan semua kisah terindah yang pernah kujalani bersama teman-teman.Aku
tidak tahu dengan pendapat mereka.apakah mereka juga merasakan hal yang sama
denganku atau tidak? Aku hanya berharap, mereka dalam keadaan baik-baik
saja.Dimana pun mereka berada.Sedang bersama siapa pun.20 tahun setelah
kelulusan Madrasah Ibtidaiyyah, jarang sekali kita bertemu muka atau
bercengkrama seperti dulu, seperti waktu masih berada dalam satu atap.Jika
bertemu pun hanya basa basi, sekedarnya saja.Tidak lebih. Padahal ada saat
dimana aku, entah yang lain-ingin melanjutkan kebersamaan itu.Biar jarak
memisahkan, toh, silaturahim tak harus terhenti sampai disitu.Aku tidak tahu
apa yang menjadikannya demikian?
Selama ini, prasangkaku ada pada kegiatan kita yang
baru, teman baru, wawasan baru.Tapi apakah itu sebuah alasan yang tepat untuk
kita jadikan ketidak pedulian satu sama lain? Sekarang aku meragukannya!
Kupastikan bahwa alasan-alasan itu tidak cukup kuat untuk saling melupakan.Dan
aku yang pertama harus memulainya.Menemui mereka satu persatu yang tercatat
dalam absensi yang kuingat! Bukan apa-apa, karena aku ingin tahu keadaan mereka
sekarang.Seberapa besar hasrat mereka untuk kembali bersilaturahim? Ya,
sepertinya ini kegiatan yang memalukan.Tapi itu bukan apa-apa,sekali lagi bukan
apa-apa! Meski yang tergambar dalam benak kita tentang prilaku kita pada waktu
itu adalah prilaku-prilaku konyol yang memalukan.Dan itu sering membuatku
tersenyum sendiri!
Itu pula yang terjadi pada Lino beberapa hari yang
lalu.Untuk sesaat, sebelum kita membicarakan ini dan itu, kita mentertawakan
sesuatu yang sudah lama kita lupakan.Dan aku tahu Lino pun merindukannya, sama
seperti aku!
**********
Setiap ulangan catur wulan, pada saat pembagian
raport.Biasanya selalu diadakan acara perpisahan ( samen ). Setiap siswa dari
tiap kelas diharuskan menunjukkan kreativitas seninya.Entah menari, bernyanyi,
baca teks pidato atau puisi.Semua ada dalam acara perayaan kenaikan kelas.Dikelasku,
anak lelaki tak ada yang menaruh perhatian dalam bidang ini.Hanya anak
perempuan yang sibuk membicarakan persembahan apa yang akan ditampilkan pada
acara samen nanti?
Rida menggandeng aku,Kina, Sefi dan Leni menarikan
sebuah lagu hit waktu itu.Rida mengusulkan untuk berlatih disekolah saja.Dari
pagi, kalau perlu dilanjutkan sampai sore.Mengingat waktu menuju hari-H sangat
singkat.Aku dan semua teman yang terlibat menyetujui.Pada pekan bebas,waktu kita
gunakan untuk berlatih menari.Dimulai hari ini, hari senin, hari pertama pekan
bebas!
Pukul 07.30 wib, aku tiba dikelas.Kelas setengah
kosong, sebagian anak bermain diluar kelas “Hei, Salma, kamu sudah siap belum?”
Tanya Rida dalam himpunannya.Kina,Sefi dan Leni mengelilinginya. “Aku belum
tahu gerakannya!’ kataku sambil duduk disamping Rida yang menghadap Kina.
“jangan khawatir Rida sudah menyiapkannya!’ kata Sefi “kapan latihannya bisa
dimulai?” tanyaku lagi. “Nih, aku sudah bawa tapenya! Kita bisa langsung
latihan sekarang!” usul Kina sambil menunjuk tape kecil yang dibawanya dari
rumahnya. Rida mengeluarkan kaset yang baru dibelinya.Memasangkannya pada tape
Kina.Keluarlah music dari tape memecah kesunyian ruang kelas 3.kami semua
mendengarkannya sampai tuntas.Rida memutar ulang lagunya sampai lagu itu siap
kembali.Rida memetakan gerakan-gerakan yang sudah didapatinya kemudian music
dinyalakan.Rida menari mengikuti alunan music sementara kami menyimak apa yang
diajarkan Rida “ Kalau begitu, bagaimana kalu kita langsung berbaris? Aku sama
Sefi didepan, Leni ditengah, Kina dan Salma berdiri dibelakang!” Rida mulai
mengatur barisan, kami semua menurut dan mengikuti gerakan-gerakannya.
Beberapa kali lagu berputar.Kami agak kesulitan
mengikuti gerakan Rida.Jika Rida tidak sabar menunjukkan
gerakan-gerakannya.Baru lagu ke-5 aku dan Kina mulai bisa menangkap
gerakannya.Hanya kecepatannya yang belum dapat disesuaikan.Sedang menikmati
latihan menari yang ditonton oleh sebagian teman yang lain.Tiba-tiba
segerombolan anak lelaki datang.Dan seperti biasa membuat kegaduhan dengan
suara-suaranya yang hamper memekakkan telinga.Suara music hamper tertandingi,
konsentrasi kami jadi buyar!
Inu datang menghampiri Rida “Lagi apa kalian disini?”
tanyanya ingin tahu tapi seperti tak peduli.Sementara anak-anak yang lain duduk
menempati bangkunya masing-masing.Lino terakhir datang.Ia hanya berdiri menatap
kamii berdiri formasi 5.Raut wajahnya datar, ditunjukkannya pada
kami.Seandainya boleh, ingin rasanya aku membuang ludah didepannya! Tapi aku
tak biasa begitu.Aku hanya membuang muka tak mau melihat mukanya. “Kalau beitu
sudah dulu saja latihannya, tidak enak banyak orang begini?” sungutku tiba-tiba
jadi sebel.Apa mungkin karena melihat wajah kejam Lino semangat berlatihku
mendadak habis? Aku menghampiri tempat dudukku.Lino menghampiri Rida dan
berkata-kata.Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan,aku tidak peduli!
Semuanya jadi kacau! Terlebih Wawan melemparkan sebuah gulungan plastic berisi
batu ketengah kerumunan yang langsung ditangkap Lino dan teman-temannya yang
lain.Maka terjadilah permainan sepak plastic yang tak beraturan.Kami, kaum
perempuan harus mengalah menenpi menempati bangku kami masing-masing.
“Eh, kapan kita latihan lagi?’ Rida bertanya padaku,
Sefi,Kina dan Leni.Dalam kebisingan seperti ini,Rida masih bisa menunjukkan
semangat dan gairah berlatihnya.Senyumnya terkembang dan rona wajahnya
menyenangkan. “Tidak tahu, terserah kapan maunya?” Sefi menyerahkan pada
kesepakatan. “Bagaimana kalau nanti siang jam 14.00 wib, disini lagi.Biar
gampang menjangkaunya?” usul Rida lagi.Karena tak ada pilihan lain, kami
sepakat dengan usul Rida.Nanti siang kami harus datang lagi ketempat ini.
Pukul 13.30 wib, Rida mampir dirumahku sebelum
akhirnya kami berjalan menuju sekolah.Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi juga
tidak terlalu dekat.Aku dan Rida sudah biasa melakukannya setiap pulang
sekolah. “Eh, Sal, bagaimana kalau kita mampir dulu dirumah Anti, siapa tahu
Anti mau ikut kita kesekolah!” Usul Rida dengan sumringah.Sebenarnya aku
bimbang menerima usul Rida, soalnya rumah Anti berada dibelakang rumah Lino
didepannya rumah Zeni dan Igun. Tapi, demi melihat semangat Rida,kusetujui
ajakannya.Entah ada apa lagi dengan Rida.Siang ini nampak senang sekali.Beberapa
kali ia menyebut nama Lino taspi pendengaranku tak begitu jelas.Ada apa dengan
Lino,ingin menanyakannya lebih jelas lagi tapi keinginan itu urung sudah karena
cerita Rida mengalir terus seperti air sungai.
Tiba disebah gang dimana untuk sampai kerumah Anti
harus melewati rumah Lino.Perasaanku jadi tak menentu.Sebenarnya aku tidak
punya urusan apa pun dengannya.Kenapa debarannya harus sekencang ini? Semoga
Rida tidak membaca perasaanku.Rida menghentikan ceritanya ketika kami persis
lewat didepan rumah Lino.Aku ingin tahu, jantung Rida apakah sama seperti aku?
Kenyataannya, Rida pun seperti sedang berusaha mengendalikan perasaannya.Lebih
baik, aku diam saja!
“Anti…Anti!” aku dan Rida memanggil Anti didepan
rumahnya.Seorang anak lelaki muncul dari balik jendela kayu “Anti sedang
dirumah Lino!” katanya sambil menarik kembali kepalanya masuk. Aku dan Rida
saling berpandangan ‘Jadi kita harus kerumah Lino?’ batinku “Ya sudah, kita
kerumah Lino saja!” kata Rida seraya menarik lenganku menuju pintu belakang
rumah Lino. Untunglah Anti baru keluar dari rumah Lino sebelum aku dan Rida
memanggilnya. “Eh, ada apa kalian kesini?” Tanya Anti sambil membawa piring ditangannya. “Ti, kita mau
kesekolah, mau latihan nari, kamu mau ikut tidak?” jawab Rida balik bertanya.
Anti terdiam pandangannya melihat kearahku “Ikut yuk, biar tambah rame!”
tegasku “Eeehhmm, sepertinya tidak bisa! Aku lagi sibuk nih, mau membuat kue
bersama ibuku!” katanya dengan penuh penyesalan ”Maaf ya!” katanya sekali lagi.
Rida dan aku mengangguk bersama-sama.”Ti, memangnya Lino ada dirumah?”
Tiba-tiba Rida mengajuka pertanyaan diluar dugaanku “Ya, ada tuh didalam sedang
makan!” jawab Anti “Apa perlu kupanggil? Kalian mau ketemu Lino ya? “ Tanya
anti.”Tunggu sebentar, aku simpan piring ini dulu.Baru kupanggil Lino!” Anti
berjalan menuju rumahnya.Tak lama kembali lagi dengan tangan kosong. “Lino, ada
yang mencari tuh!” teriak Anti dilubang pintu belakang.Aku tidak yakin Lino
akan menampakkan diri kalau pun ya, kita mau bicara apa dengannya? Jadi ingin
tahu, kepentingan Rida kepada Lino saat ini.
Sesosok wajah muncul dari lubang pintu.Wajah tak asing
lagi bagi aku dan Rida.Lino melihat kearah kami.Wajahnya menunjukkan setengah
terkejut.”Siapa Ti?” Anti menunjuk kearah kami.Aku bisa membaca keterkejutan
diwajah Lino.Rida menyebut nama Lino dengan senang. “Lino!” katanya setengah
berteriak “Mau apa kalian kesini?” tanyanya sedikit diiringi senyum khas
Lino.Aku tidak berani melihat wajah Lino,kualihkan perhatianku pada Rida.Biar
Rida saja yang bicara. “Kita mau kesekolah, mau latihan nari, kamu mau ikut?”
Tanya Rida setengah berharap. “Mau apa? Tidak ah!” jawab Lino tegas dan
jelas.Begitu aku mendengarnya legalah perasaanku.Kenapa Rida mau mengajak anak
ini? “Ya sudah!” Rida mengalah.Aku dan Rida pamit berangkat kesekolah.
********
Setelah seminggu berlatih terus menerus sampai
aku,Rida,Kina,Sefi dan Leni dapat bergerak mengikuti irama secara
serempak.Akhirnya, hari yang ditentukan pun tiba.Hari pembagian raport yang
sebelumnya akan ada persembahan penampilan dari setiap kelas.Grupku sudah siap
tampil, dengan pakaian yang pantas sesuai jenis music kami pilih, sedikit
bermake-up dan rambut yang ditata berbeda dari biasanya.Teman-teman sekelasku
menyambutnya dengan antusias.Seolah-olah berkata, inilah grup perwakilan kelas
kami.Anak-anak lelaki nampak acuh-acuh saja, walau pun mereka mengikuti
keseluruhan acara persembahan siswa sampai tuntas.
Ditengah acara, grupku diminta siap-siap untuk tampil
setelah penampilan dari kelas 4 selesai.Setelah itu giliran penampilan
kelasku.Maka bergulirlah tarian yang diciptakan Rida.kami bergerak mengikuti
alunan musik. Disana, diantara para penonton, aku melihat Lino sedang berdiri
paling depan melihat penampilan kami.Mungkin aku terlalu percaya diri, bahwa Lino
tepatnya sedang melihat kearahku.Kupalingkan saja pandanganku.Aku tidak boleh
kehilangan keseimbangan dan konsentrasi.Sampai lagu berakhir dan kami harus
meninggalkan panggung. Lino masih berdiri disana.Tidak bergerak sedikit pun. Ya
sudah, Lino sudah melihat penampilan kami.Anehnya, pandangannya dingin dan tak
senakal biasanya.Suaranya pun rendah, bicara dengan teman sebelahnya pun
demikian.Tak ada tanda-tanda jika Lino adalah anak yang paling nakal dan galak
dikelasku.’Bisa juga jadi anak baik,huh!’ sungutku dalam hati.’Seandainya, dia
mau sedikit saja berbaik hati padaku….!!!!’
Usai semua acara digelar, semua siswa diminta
mengikuti guru kelasnya kekelasnya masing-masing.Disana akan dibagikan buku
raport yang sangat ditunggu-tunggu semua siswa.Aku dan semua anak kelas 3 sudah
berada diruang kelas.Bu Tiah siap membagikan raport sambil memberi pengumuman
jadwal libur panjang.Kurang lebih satu bulan, kami tidak akan berada
disekolah.Artinya, selama itu, aku tidak akan bertemu Lino…..!!!????!!!
Buku raport dibagikan, semua gembira menyambut libur
panjang.aku juga seharusnya begitu hanya ada sedikit ganjalan yang terselip
didalam perasaanku.’Betapa aku akan merindukan Lino….!!!!’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar