Rabu, 08 Oktober 2014

Cerpen 2 Linda Al-Husna 201



PONDOK HIJAU
Oleh : Linda al-Husna
Cianjur, 22 Juli 2010


                Menurut ilmu psycologi perkembangan, usia 20 tahun termasuk kedalam usia produktif. Dari mulai tenaga, pikiran dan gairah untuk menemukan sesuatu yang baru masih mendukung. Gairah itulah yang seharusnya kugunakan sebaik-baiknya. Hanya karena aku gagal masuk perguruan tinggi negeri, gairah itu lenyap, pikiran buntu dan putus asa! Aku ingin berteriak menyalahkan teman-teman yang tega meninggalkan aku.Atau bapak dan ibuku yang tidak mampu membiayai pendidikanku disekolah swasta! Tapi, haruskah itu kulakukan? Menyalahkan orang-orang yang jelas tak bersalah dengan keadaan ini? Kendati aku berusaha menguatkan diri, dalam beberapa bulan setelah pengumuman ujian masuk perguruan tinggi negeri diumuman.Aku benar-benar lumpuh! Tak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk melakukan kegiatan rutinku sendiri.
                Sudah tiga bulan aku mengurung diri dikamar.Bisa keluar rumah kalau ada keperluan yang sangat mendesak.Jika tidak aku tidak terlalu memaksakan diri untuk berkeliling-keliling kota seperti sebelumnya.Kesedihanku mulai berkurang.Ibu memberiku beberapa buku yang harus kupelajari.Buku-buku sejarah peninggalan kakekku.Buku tarikh Muhammad saw karya H Munawar Kholil, meski bukunya sudah usang tapi aku masih dapat membacanya dengan jelas.Betapa perjalanan seorang nabi terakhir itu tidak mulus. Dari caranya menganalisa sosio-antopologi dan bagaimana cara berkawan yang baik, kepada orang yang sebaya, orang yang usianya diatas dan dibawahnya.Bagaimana cara Muhammad saw mendapatkan kalimat petunjuk untuk disebarkan kepada masyarakatnya yang kental dengan keyakinan dan penyembahannya kepada Dewa Latta dan Uzza. Dan bagaimana pula kepribadiannya untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat.Dalam hal ini, sebuah kepribadian yang terbentuk dari sejak dilahirkannya sampai meninggalnya.Meski demikian, tidak semua masyarakat dapat menerima keyakinannya, yang diturunkan malaikat Jibril dari Tuhannya.
                Aku sangat tersentuh oleh kisahnya.Oleh perjalanan hidupnya yang bergelombang.Sebelum mendapat petunjuk,Muhammad adalah seorang pemuda biasa yang pandai bergaul.Setelah mendapat petunjuk, ia berubah menjadi seorang yang penyabar,pemaaf dan rendah hati.Dimana sifat-sifat itu didapatinya dari kejadian-kejadian kecil sampai besar yang tidak menyenangkan hatinya.Muhammad orang yang baik, semua mengakuinya.Tapi tidak semua orang dapat menyikapi seruannya dengan baik.Aneka kemarahan ditunjukkan mereka kepadanya.Hal itulah yang sangat menggugah kembali semangatku saat ini.
                Aku masih bersyukur, aku belum sepahit penderitaan Nabi Muhammad saw.Yang tiba-tiba banyak menginspirasi pikiran buntuku.Aku jadi memikirkan kenyataan saat ini.Tentang aku, keberadaanku dan lingkungan sekitarku.Kepedulianku hidup kembali.Memang masih sulit untuk memikirkan hal ini seorang diri.Aku harus mencari kelompok pengkajian masalah ini.Aku ingin yang lebih realistis dengan pesan yang tersirat dan yang tersurat dalam kisah-kisahnya.Seseorang harus memberitahuku, dimana tempat orang-orang sedang menjalankan prinsip-prinsip ini.Aku ingin menjadi bagian dari mereka, menjadi bagian dari pengusung jalan kebaikan.Sebagai amal sholeh yang seharusnya dilakukan ketika kita mulai masuk usia baligh yang guruku menyebutnya Mukallaf ( Orang yang terkena hukuman jika melakukan kesalahan )
                Aku sedang berada disebuah rumah diperbukitan.Orang-orang menyebut rumah ini dengan sebutan ‘Pondok Hijau’ sebuah rumah yang digunakan sekelompok orang untuk mengadakan pengkajian rutin keagamaan.Aku diajak oleh seseorang yang baru kukenal.Melalui orang ini, aku terlibat didalamnya. Kelompok kecilku hanya terdiri dari perempuan saja.Namun sesekali pengkajian dilakukan secara umum, kaum laki-laki dan perempuan disatukan.Menyenangkan sekali, ketika dapat dipertemukan dengan orang-orang yang sefaham denganku.Pikiranku mulai terbuka.Aku tidak menjadi diriku yang tiga bulan yang lalu merasa putus asa dan tersisih. Kesadaranku untuk berbuat sesuatu  bangkit lagi.Terutama setelah aku bertemu dengan saudara laki-laki yang dengan pemahamannya turut juga menguatkan anggapan pribadiku tentang cara menerapkan dan menyebarkan prinsip.Aku mulai menemukan kembali gairah pencarian rasa ingin tahu yang makin hari makin menggila.
                Dia bernama Abdul Ghani, pemilik pondok ini yang memfasilitasi semua kebutuhan kegiatan kajian rutin.Dari peralatan pengajaran sampai konsumsi.Dia orangnya menyenangkan, supel dan cerdas dalam mengkritisi suatu masalah.Baik masalah prinsip maupun masalah teknis.Aku suka berbincang dengannya. Walau usianya sebaya denganku tapi wawasannya jauh lebih luas dariku.Aku sering dibuat termangu oleh istilah-istilah yang diusungnya.Menakjubkan! karena itulah, aku jadi banyak menemukan pengetahuan baru lengkap dengan definisinya.
                Entah bagaimana pula dengan seringnya melakukan perbincangan itu, jujur saja menimbulkan rasa aneh melintas dalam perasaanku.Pikiranku mulai kacau.Konsentrasiku menjadi buyar.Aku dengan pengetahuan keagamaanku yang merasa yakin dengan batas-batas antara yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan.Tentu saja merasa bimbang dengan keadaan ini.Niatku datangan ke pondok hijau kini sedikit demi sedikit mulai tercemari virus-virus syahwat.Aku jadi lebih merindukan Abdul Ghani ketimbang merindukan hal lainnya.Kukira bukan hanya aku saja merasakan hal ini, beberapa jamaah perempuan lainnya pun, kudengar mengalami perasaan seperti ini. Tadinya, aku tidak terlalu menanggapi kejadian-kejadian kecil seperti ini.Yang menurut logikaku, justru hal-hal seperti inilah yang akan melumpuhkan semangat kita untuk terus mempertahankan kegiatan-kegiatan keagamaan kita.Kita jadi membicarakan masalah-masalah cengeng, yang sering kita dengar dari remaja pada umumnya.Tapi ini kenyataan.Aku mengalami sendiri.Dan anehnya, aku merasa harus bertarung dengan perasaan ini.Mengendalikannya sedemikian rupa agar tidak merusak niatku berkunjung ke pondok hijau tempat kita berkumpul.
                Dia, Abdul Ghani memang tidak pernah membicarakan yang mengarah pada hubungan istimewa.Tapi perhatiannya, sungguh, sanggup membuat beberapa saudara perempuan menjadi GR ( gede rasa ) termasuk aku.Kali ini, aku sedang teruji menyikapi perasaan yang membuncah begitu bertemu denganya.Haruskah itu terjadi? Haruskah aku mengatakannya  bahwa aku mulai menyukainya? Haruskah kuputuskan rasa ini kemudian meninggalkan Abdul Ghani begitu saja?
                Tuhan, apa yang harus kulakukan dengan keyakinanku ini? Aku merasa sedang menghadapi sebuah benturan yang dahsyat! Antara bergelut dengan pengetahuan dan bergelut dengan perasaan. Abdul Ghani menjadi batu sandunganku saat ini! Tuhan, bukakanlah kepadaku petunjukMu!*****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar