CERITA WAWA
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 22 Juli 2010
Wawa sumringah, ketika ia menceritakan pengalamannya
bersama teman kencannya.Aku hanya diam mendengar setiap kejadian yang
diceritakannya padaku.Diusianya yang semuda itu, yang hanya terpaut lima tahun
dibawahku.Wawa menjelma sebagai lelaki idaman dikampusnya.Wawa menyenangkan,
memiliki banyak pengalaman untuk diceritakannya kepada siapa pun yang
ditemuinya.Termasuk pengalamannya bersama Arimbi-teman kencannya yang baru.Ya,
ini memang bukan pengalaman pertamanya ia mengencani perempuan.Aku sudah
mendengarnya beberapa kali.Setiap cerita selalu beda tokoh yang
diceritakannya.Kendati dalam cerita-ceritanya itu Wawa selalu tampil sebagai
lelaki yang mengayomi perempuan yang sedang dipacarinya.
Dalam hal tertentu aku menyukainya, menyukai
sifat-sifat kelaki-lakiannya yang terbuka.Barangkali karena itu pula beberapa
perempuan bersedia menjadi pacarnya.Ada yang dalam satu waktu beberapa pacar,
ada pula yang mengalami bongkar pasang alias putus dengan yang satu, nyambung
dengan yang lain.Cepat sekali Wawa mendapatkan teman perempuan.Yang kulihat
teman laki-lakinya pun tak sedikit.Itulah hebatnya Wawa tidak pandang bulu
dalam memilih teman.
Hari ini, Wawa datang ketempat tinggalku.Seperti
biasa setiap kedatangannya selalu membawa cerita. “ Teh, apa saya tidak
mengganggu teteh? Hari ini, saya baru pulang dari dokter, sengaja mampir dulu
kesini, ingin bertemu teteh!” katanya seraya mengeluarkan obat tablet yang
dibungkus plastik khas dokter.Aku melihatnya satu bungkus plastik dari dokter
dan satu lagi tanpa merek.” Oya, memangnya kamu sakit apa?” tanyaku baru tahu
bahwa selama ini Wawa tengah mengidap penyakit dalam.” Kata dokter sih, radang
paru-paru, tapi belum kronis koq!” katanya.Aku mengerti. Wawa masih memegang
kedua bungkus plastic ditangannya.”Nah, ini obat dari dokter dan yang ini obat
penenang!!!” katanya menunjukkan bungkus plastic yang kedua.Aku curiga, Wawa
termasuk pemuda pengguna obat terlarang.Dan bungkus yang tanpa merek itu adalah
obat penenang yang dimaksudnya.” Memangnya, obat itu dapat dari mana,Wa?”
tanyaku, rasa ingin tahuku tiba-tiba muncul begitu saja.Wawa tampak terkesiap,
demi mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba.Aku dapat menangkap rasa
keterkejutannya tanpa dibuat-buat.” Dari teman!” suaranya dingin sekali “Aku
sangat membutuhkannya teh, untuk mengatasi depresiku menghadapi banyak
masalah!” jelasnya.” Masalah apa lagi?” tanyaku.Bukankah setiap Wawa punya
masalah selalu diceritakannya padaku? Sedikit banyaknya aku selalu memberi
saran buat mengatasi masalahnya.Jika saranku ini dilaksanakan, tentu Wawa tak
perlu menggunakan obat itu untuk mengatasi masalahnya.Aku bersedia menemaninya,
memecahkan masalah-masalahnya seputar pergaulannya yang sedikit bebas.Kecuali
jika Wawa tidak melaksanakn saranku dan melakukan sesuatu tanpa
sepengetahuanku.Maksudku tidak semua kejadian diceritakannya padaku.Sehingga
dengan mudah kuberi saran yang kukira cukup mudah jika benar-benar mau keluar
dari lingkaran masalah itu! Itulah yang sedikit kusayangkan dari Wawa.Pandai
berkelit dan bicaranya kadang asal saja.
“ Teteh kan tahu, aku baru putus dari si Emi, dia
pacaran lagi sama temanku! Bayangkan Teh, temanku sendiri yang dijadikan
pacarnya, kenapa bukan yang lain???”
Wawa mulai menceritakan
masalahnya.” Terus si Wati sudah dua bulan ini menghilang, katanya disuruh
orang tuanya kerja ke Batam! Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya!” Kubiarkan
Wawa menceritakan masalahnya, sesekali wajahnya terlihat seperti mau
mencurahkan air mata.Kudengarkan saja ceritanya.” Si Meta sedang ngambek kerena
melihat aku sedang berjalan bersama Si Dena.Padahal itukan hanya teman
sekampus.Waktu itu kita mau beli buku Mall, sampai sekarang si Meta belum mau
bicara denganku…Bayangkan teh,kepalaku jadi pusing….!!!!” Wawa memegang
kepalanya dengan kedua tangannya.Matanya terpejam membayangkan masalah yang ada
didalam kepalanya.Aku jadi kasihan padanya.Seandainya aku dapat membantunya
menyelesaikan masalah-masalahnya…Tapi itu tak mungkin, Wawa sendirilah yang
seharusnya dapat menyelesaikan hubungan pertemannya dengan semua orang yang
pernah menjadi teman-teman dekatnya! “Terus dengan Arimbi itu?” tanyaku masih
bingung.”Nah, untunglah aku bertemu dengannya baru-baru ini.Dia yang menolongku
untuk saat ini! Aku sedang ingin diperlakukan dengan baik oleh seseorang!”
katanya.Aku menyimak kisahnya dan mencoba menghubungkannya dengan cerita-cerita
lain sebelumnya.”Lho, memangnya teteh tidak memperlakukanmu dengan baik ya?”
godaku mencairkan kebingungan Wawa yang semakin terlihat.”Itulah, makanya aku
datang kemari teh…ingin mengeluarkan beban dikepalaku!!!” suaranya melemah.
Itulah hari terakhir aku bertemu Wawa.Cerita-cerita
yang sebenarnya membingungkan diri sendiri dan dibuat oleh sendiri.Beberapa
kali kukatakan padanya.Coba kamu hadapi satu demi satu persoalanmu.Selesaikan
sampai tuntas, sampai dirasa tak ada urusan lagi antara dia dan orang yang
terlibat dalam masalahnya itu.Wawa memang selalu mengiyakan dan bersedia mau
melaksanakan saran-saranku.Walau kenyataannya aku tidak tahu.Apakah Wawa
benar-benar mengerti dengan masalah yang dibuatnya sendiri? Kalau tidak
mengerti, bagaimana dia mau menyelesaikan masalahnya dengan baik? Sementara
informasi yang kudapatkan barangkali tidak selengkapnya.Ya, itulah masalahnya,
ada satu atau dua kejadian yang tak diceritakannya padaku.Dan itu sangat
menentukan bagaimana caraku mengatasi masalah tersebut.Yang diketahui Wawa,
berteman itu bersenang-senang versi pemuda sekarang pada umumnya.Jalan-jalan,
nongkrong sampai pagi sambil disuguhi minuman-minuman keras atau obat-obat
terlarang.Sungguh, sebuah kebiasaan yang menghambur-hamburkan waktu! Seandainya
waktunya digunakan untuk yang lebih bermanfaat selain duduk-duduk tanpa ada
artinya? Mungkin masalah itu tak seharusnya dihadapi pada usianya yang semuda
itu. Kemampuannya berpoligami-walau pada level pacar, sudah diarunginya tanpa
pengetahuan yang mumpuni.Sayang, sangat disayangkan! Ya, seandainya aku diberi
kesempatan untuk dapat meluruskan kerangka berpikirnya…???
Buat: Almarhum Aquwa dalam kenangan!!!! Semoga
taubatnya diterima disisiNya!!! Amien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar