ANAK JALANAN
Oleh : Linda
Al-Husna
Cianjur, 26
Juli 2010
Aku sedang berada disebuah Mall
dikotaku.Hanya berjalan-jalan mencari sesuatu yang terbaru yang dipamerkan
disetiap toko.Sebuah keasyikan tersendiri, aku tidak ketinggalan informasi
barang yang tengah hangat dibicarakan.Sekedar mengetahuinya saja sudah
membuatku mengerti.Untuk apa barang itu dibuat? Dan bagaimana cara penggunaanya
yang tepat.Karena itulah, aku sering mengunjungi tempat ini, tempat sejumlah
barang dipamerkan dan dijual! Terutama toko buku.Aku bisa berlama-lama tinggal
didalamnya, mendata semua buku yang yang terpajang.Sampai mataku merasa lelah.
Tidak terasa waktu menunjukkan
pukul 11.10 wib, perutku sudah mulai berbunyi.Kurasa, ada baiknya kuikuti
kemauan perutku.Mengisinya dengan semangkok bakso atau apa saja! Aku berjalan
keluar menuju kantin diluar Mallku ini dan berhenti disebuah kafe tenda yang
bertuliskan ‘Bakso Ojo lali!’ dengan senang hati kumasuki kiosnya dan memesan
semangkok bakso.Sambil makan, sesekali mataku kulayangkan keluar tenda.Disudut
sana, aku melihat beberapa anak lelaki sedang berkumpul.Ada yang membawa
kecerek, ada yang membawa botol air mineral yang diisi pasir.Ada juga yang
memainkan gitar kecil! Yang lainnya bertangan kosong. Kuperhatikan mereka dari
jauh.Nampak mereka sedang asyik membicarakan sesuatu atau berlatih melagukan
sebuah syair. Rupanya, mereka anak-anak kecil yang sedang berusaha mencari
nafkah!!
Usai makan bakso, dan membayar
tagihannya.Aku langsung berjalan keluar tenda.Kali ini langkahku pasti, menuju
tempat dimana anak-anak itu duduk berkumpul.Aku ingin tahu, apa yang sedang
mereka kerjakan? Kusapa mereka dan bergabung kedalam kumpulannya. “ Hai,
adik-adik…boleh ibu ikut bergabung??? “ tanyaku sambil membelai tengkuk anak
yang paling kecil.Mereka langsung melihat kearahku sambil mengangguk dengan
bingung. “Boleh!” kata anak lelaki yang sedang main gitar kecil.Kusunggingkan
seulas senyum, bahagianya aku bisa diterima dalam himpunan mereka. “Sedang apa
kalian?” Tanyaku kemudian “ Sedang latihan main musik bu, kami mau mengamen!” jawab
seorang anak lelaki yang memegang botol air mineral yang berisi pasir.Aku
mengangguk, sebenarnya tanpa dijawab pun aku sudah tahu.” Ngamen dimana?”
tanyaku lagi “Ngamen disini saja, dikios-kios tenda yang ada didepan Mall ini!”
kali ini, anak lelaki yang memegang kecrek yang menjawab.”Oooo…eh, boleh tidak
ibu tahu nama kalian?” kuharap mereka bersedia menyebutkan namanya.Sejenak
mereka saling berpandangan.Barangkali untuk apa aku mengetahui nama-nama
mereka.”Ayolah, jangan takut! Ibu hanya ingin berteman dengan kalian saja koq!”
kataku meyakinkan.” Kamu,siapa namanya?” tanyaku kepada anak lelaki yang sedang
main gitar yang paling tua diantaranya. Anak lelaki itu melihat kearahku “
Ocad, bu!” katanya acuh tak acuh.Kepalanya ditundukkan lagi melihat kearah
gitar kesayangannya.”Berapa usiamu?” Tanyaku lagi “ 13 bu!” jawabnya lagi.Lalu
kutanya satu persatu anak yang sedang duduk disekitar Ocad.Ada Nano yang
usianya 10 tahun, ada Uli yang usianya 11 tahun, ada Momo yang usianya 9 tahun
dan Dede anak yang paling kecil diantara mereka berusia 7 tahun.Menurut mereka,
berkumpul disini, dibawah pohon disalah satu sudut tempat parkir Mall ini,
sudah dilakukannya dalam waktu hampir satu tahun. Mereka bermaksud mencari uang
dengan menyanyikan lagu-lagu yang sudah dihapalnya.Kemudian uang hasil mengamen
bersama itu dibagi-bagi setelah mereka membeli makanan untuk mengisi perut
mereka.Aku mendengarkan kisah mereka sampai selesai.Mereka lebih memilih
melakukan ini, ketimbang pergi kesekolah.Untuk anak-anak seperti mereka,
berpikir rasional adalah lebih utama ketimbang menghambur-hamburkan waktu
dengan duduk berjam-jam dibangku sekolah.Aku berusaha mengerti persoalan ini
dari sudut pandang mereka.Aku tidak bisa menyalahkannya.Itu yang mereka ingin
lakukan dan butuhkan!
Hanya kemudian, masalah ini
menjadi masalah nasional. Ketika anak-anak ini, berkeliaran ditengah jalan
menjadi bunga-bunga trotar yang tak menyenangkan hati dan pandangan. Dengan
meminta sedikit uang dari para pengguna jalan, dari para pengendara dan para
pejalan kaki. Memang ada yang dibuat jengkel dengan kenyataan ini.Tapi jika
ditinjau dari kebutuhan mereka, ini adalah cara cepat mengatasi masalah mereka
memenuhi kebutuhan hidup mereka.Sebelum ada orang yang peduli dengan nasib
mereka.Memperlakukan mereka sebagaimana seharusnya. Sekali lagi aku tidak bisa
menyalahkan!
Setelah ngobrol kesana-kemari,
tentu saja aku sangat berterimakasih atas waktu dan kesempatannya bahwa mereka
mau mengungkapkan satu sisi kenyataan anak manusia ditengah kota.Kukeluarkan
sedikit uang, untuk dibagikan kepada mereka.Momo langsung menyambut uluran
tanganku.Hanya lima lembar uang seribuan yang kusediakan untuk mereka.”Seorang
satu ya!” pintaku pada mereka.Momo membagikan uang itu kepada
teman-temannya.Wajahnya sumringah dan senyum yang mengembang saat selembar uang
seribuan sudah berada ditangannya.Demikian pula dengan Ocad, Nano, Uli dan
Dede.”Terimakasih bu!” Ocad menerima uangku yang langsung dimasukkannya kedalam
sakunya.Disusul Nano, Uli,Momo dan Dede.Aku hanya tersenyum melihat Dede
mengipas-ngipaskan bagiannya.Barangkali, dalam bayangannya, ‘aku sudah punya
jatah untuk makan nanti!’ terlihat sekali dari kedipan matanya yang lincah dan
menyenangkan.Entah mengapa aku juga jadi ikut merasakan kebahagiaan mereka,
dapat tertawa bersama mereka tanpa merasa ada beban yang berarti.Kendati kami
hanya duduk-duduk saja disalah satu sudut parkir Mall ini.Melihat lalu lalang
kendaraan didepan kami, yang kadang melihat kami kadang juga melenggang dengan
angkuhnya.Tapi itu tak menjadi masalah yang berarti, ketika kebahagiaan itu
sudah menjadi milik anak-anak ini dan aku turut ikut didalamnya.
Aku juga merasa ada kebahagiaan
lain yang menyertai perbincangan kami.Mungkin juga kami menertawakan sesuatu
yang berbeda.Aku dan anak-anak itu! Jika anak-anak itu bahagia sudah
mendapatkan jatah makannya.Aku, merasa bahagia telah terbuka satu katup yang
selama ini membentengi cara berpikirku.Sebuah hal yang sulit untuk disebutkan
secara definisi.Tapi bersama anak-anak ini, senyumku menjadi seadanya.Tanpa
rekayasa, tanpa dibuat-buat! Sungguh, aku sangat bahagia!!!!
Buat:
Anak-anak pengamen di Harimart tahun 2002, terimakasih sudah memberiku hari
yang menyenangkan!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar