Minggu, 17 April 2016

Cerpen 2 Linda Al-Husna



MENGHADANG BADAI
Cianjur, 11 Oktober 2008
Oleh: Linda Al-Husna

                Gemblung berdiri mematung dibibir pantai.Matahari didepannya setengah terbit menyemaikan warna kuning kemerah-merahan.Gemblung tak bergeming.Meskipun hentakkan-hentakkan gelombang kecil menerpa kedua kakinya yang telanjang.Burung-burung berterbangan diatas hamparan laut yang bergelombang.Gemblung menunggu bapakknya kembali dari pelayarannya mencari ikan.
                Setelah keberangkatan bapaknya dan beberapa nelayan yang lain kemarin sore.Hati ibu Gemblung diliputi kecemasan, entah mengapa perasaannya tidak menentu, ditambah angin besar dan hujan yang tak tertahankan diluar.”Bagaimana keadaan bapak dengan cuaca buruk begini?” sahut ibu Gemblung menjelang tengah malam.Hujan masih turun deras, sesekali terdengar gelegar Guntur memecah kesunyian malam.
                Gemblung jadi ikut cemas, melihat cuaca seperti ini, air laut akan cepat mengalami pasang dan membuat gelombang ombak yang besar-besar karena dorongan angin yang besar. Gemblum berusaha memejamkan kedua matanya meskipun perasaannya sama seperti ibunya khawatir akan kepergian bapaknya.Dari mulut ibunya, Gemblung tahu bahwa ibunya sedang memanjatkan do’a untuk keselamatan bapaknya dan nelayan yang lainnya.Pelan-pelan Gemblung pun mengucapkan sebaris do’a untuk keselamatan mereka.”Ya Allah, lindungilah bapaku dan semua nelayan yang sedang mencari ikan dilaut!” Berulang-ulang baris kalimat itu dibacanya sampai Gemblung tertidur lelap.
                Pagi-pagi sekali, usai sholat subuh Gemblung pergi kepantai, dimana perahu-perahu selalu ditambatkan sepulan mencari ikan.Pantai masih besih.Belum ada satu perahupun yang bertengger dibibir pantai.Gemblung berjalan bolak-balik menghitung setiap langkah.Sampai hitungan ke 50 Gemblung balik lagi ketempat semula.Begitulah yang dilakukannya beberapa saat, sampai akhirnya ia berdiri mematung menatap matahari didepannya.
                Cuaca pagi ini kembali normal.Hujan sudah tumpah kemarin malam tanpa meninggalkan bekas.Langit cerah tanpa sedikit pun awan melapisinya.Perlahan matahari mulai naik tapi Gemblung masih berdiri ditempatnya.Orang-orang mulai berdatangan satu persatu.Sama seperti Gemblung yang menantikan bapaknya mengail ikan dilaut.
“Hei, Gemblung! Kamu sudah berapa lama berdiri disini?” sapa seorang anak lelaki sebayanya.”Dari pagi sekali, selepas bedug subuh!” jawab Gemblung menoleh kearah suara.
                “Semalam cuaca amat buruk, aku khawatir dengan mereka!” sahut sianak lelaki tadi yang bernama Somad, teman sepermainan Gemblung.Gemblung mengangguk setuju. “Itulah,Mad, kenapa pagi sekali aku datang kesini! Aku ingin segera mengetahui keadaan mereka!” Gemblung kembali menikmati pemandangan didepannya, hamparan laut yang luas, diujungnya matahari menampakkan diri setengah lingkaran dengan warna kuning kemerah-merahan.
                Somad berdiri disampingnya.Turut menyaksikan pemandangan laut dipagi hari.Dalam hati keduanya mengakui ‘betapa indahnya ciptaan Tuhan!’ Matahari mulai bergerak, pantai semakin ramai dipenuhi anak-anak dan ibu-ibu mereka untuk menyambut kedatangan bapak dan suami mereka.Suasan pantai mulai hiruk pikuk.Ada anak yang turun langsung kepantai, berenang hingga beberapa meter dari bibir pantai.Setelah itu kembali kepantai.Begitulah yang mereka lakukan berulang-ulang.Sementara para ibu hanya menunggu didaratan.Gemblung belum ingin mandi, ia lebih suka menunggu bapaknya dan hasil tangkapannya.Biasanya ikan-ikan yang ditangkap bapaknya dan teman-temannya besar-besar.Tapi entah dengan sekarang, setelah semalaman hujan angin begitu besar Gemblung sama sekali tidak dapat membayangkan beberpa perahu yang berisi puluhan nelayan menghadapi hujan dan angin seperti semalam.Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan mereka?
                Tidak hanay Gemblung yang mencemaskan mereka.Semua tetangga yang bapak atau abangnya berangkat melaut mencemaskan mereka.Sebab angin semalam benar-benar besar!!!
                “Blung, ayo balap renang!” teriak Wowo diantara anak-anak lain.Gemblung menggelengkan kepala,kerisauannya mengalahkan kesenangannya balap renang seperti yang biasa dilakukan bersama teman-temannya.Somad juga bertahan.Ia pun tak menunjukkan minatnya untuk berenang.Disamping kirinya sudah berdiri Eko, Gani dan Lastri.Mereka berdiri berjajar membentuk pagar betis.Tujuan mereka sama, menunggu kepulangan bapak-bapaknya!
                Pukul 10.00 wib pagi menjelang siang, belum ada tanda-tanda kepulangan barang satu sampanpun.Orang-orang yang menunggu mulai gelisah.Yang ditunggu belum datang juga.Anak-anak yang berenang sudah naik kedaratan dilanjutkan dengan bermain kucing-kucingan diatas daratan.Suasan pantai masih ramai dalam kegelisahan.Gemblung tenggelam dalam pikirannya sendiri.Ia naik kedarat dan diikuti Somad, Eko, Gani dan Lastri.Yang duduk membentuk setengah lingkaran.Tidak ada yang banyak bicara, pandangan mereka terpaku kearah laut sejauh mata memandang.Berharap dari ujung pandangan mereka muncul yang selama ini mereka tunggu.
Pukul 12.00 wib tengah hari, matahari tepat berada diatas kepala.Sebagian orang sudah meninggalkan pantai kembali kerumahnya masing-masing.Gemblung dan teman-temannya masih duduk dibawah sebatang pohon besar yang rindang.Air laut mulai surut, gelombang-gelombang kecil menerpa batu-batu karang dipinggir pantai.
                “Gemblung, pulang dulu nak!” teriak ibu Gemblung dari balik punggung Gemblung.Gemblung menoleh kearah suara ibunya “Makan dulu nak!” sahut ibunya sambil melambaikan sebelah tangannya.Gemblung nampak enggan meninggalkan tempat duduknya namun bersama kawannya mereka sepakat  akan kembali lagi ketempat itu setelah makan dan sholat dhuhur. Kelima anak itu berhamburan menuju rumahnya masing-masing.Gemblung masuk kerumah panggung berdinding bilik dan beratap serabut.Ibunya sedang berada didapur ketika Gemblung menghampirinya.
                “Makan sama apa bu?” Tanya Gemblung sambil duduk bersila dihadapannya sebakul nasi  dan lauk pauk yang sudah siap saji “Wow, ada sambal!” teriak Gemblung, air liurnya hampir saja meleleh kalau tak segera ditahan lidahnya.
                “Ayo, makan dulu, dari tadi kamu belum makan!” ujar ibunya seraya menyiduk sesendok nasi dari bakul dan diberikannya kepada Gemblung “Iya, bu! Karena menunggu bapak, aku hampir lupa makan!” jawab Gemblung “Semoga tidak terjadi apa-apa dengan bapakmu!” ibu Gemblung menyiduk nasi untuknya.Makanlah kedua anak beranak itu dengan perasaan harap-harap cemas.
                Satu jam kemudian Gemblung sudah berlari menuju pohon tempatnya berteduh dipinggir pantai.Ia duduk sendiri sambil menunggu teman-temannya datang.Disebarkannya pandangannya kesetiap sudut ujung laut.Tapi perahu-perahu itu belum tampak juga.Matahari sudah turun sepenggalahan.Panasnya sudah tak terlalu menyengat.Satu persatu teman-teman Gemblung bergabung bersamanya, melanjutkan masa-masa penantiannya.Lama-kelamaan pantai kembali dipenuhi orang-orang yang bermain-main,yang berenang aatau sekedar berdiri menghadap laut.Pantai kembali ramai, tapi perahu belum datang juga.Gemblung semakin gelisah ‘apa yang terjadi dengan bapak? Ya Allah selamatkanlah bapakku!’ pinta Gemblung dalam hati.Kegelisahan juga tampak pada Somad, Eko, Gani dan Lastri serta orang-orang yang berdiri menunggu sanak familinya melaut.
                Pukul 14.30 wib dari kejauhan sebuah titik kecil bergerak perlahan-lahan.Gemblung mengucek-ngucek kedua matanya, inginmemastikan bahwa titik itu sedang bergerak kearahnya.Ternyata orang-orang pun melihatnya.Mereka yakin itu perahu nelayan. Setelah lama menunggu, benarlah bahwa itu adalah salah satu perahu nelayan mereka yang kembali.Orang-orang bersorak kegirangan “Woooi, mereka kembali!” teriak seorang lelaki muda.Tanpa diperintah orang-orang langsung menghampiri bibir pantai untuk menyambut perahu itu.
                Termasuk Gemblung, Somad,Eko,Gani dan Lastri.Merka berlari secepat-cepatnya menuju bibir pantai. “Benar itu mereka!”  Teriak Somad sambil berlari. Merka harus menunggu beberapa saat untuk dapat memastikan perahu siapakah yang datang? Gemblung berharap semoga itu perahu yang ditumpangi bapaknya.Perahu mulai mendarat, sebuah tali dilemparkan kesauh tiang.Satu persatu para nelayan itu turun disambut keluarganya masing-masing.Benar ini perahu yang ditumpangi bapaknya,namun kemana ia? Gemblung bertanya sendiri dalam hatinya.Soalnya bapaknya pergi bersama bapaknya Somad,Eko,Gani dan Lastri dan mereka sudah turun dari perahu.Sementara bapaknya Gemblung belum terlihat.Gemblung lantas menghampiri pak Sulaiman, bapaknya Somad “Pak, bagaimana bapak saya apakah ia selamat?” Tanya Gemblung hampir terbata.”Ya, bapakmu masih ada didalam masih mengurus ikan-ikannya!” sahut pak Sulaiman yang segera memeluk anak dan istrinya.
                Gemblung segera menaiki perahu dengan lincahnya.Didapatinya bapaknya sedang memasukkan ikan-ikan kedalam jaring-jaring.”Bapak!” teriak Gemblung,lelaki setengah baya didepannya mengangkat wajahnya “Untunglah bapak selamat, kami sangat mencemaskan bapak!” Gemblung membantu bapaknya mengurus ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan “Alhamdulillah, bapak masih diselamatkan oleh Allah, badai semalam memang besar, perahu ini pun hampir tenggelam.Untung saja kita cepat-cepat mengeluarkan air laut yang masuk!” cerita bapaknya mengenai kisah semalam ditengah laut menghadapi hujan badai yang cukup besar. “Bapak juga mohon perlindungan kepada Allah, agar bisa pulang dengan selamat!”sahut bapaknya sambil memindahkan satu jarring ikan.”Tapi, apa pun kejadiannya yan terserah kepada Allah saja mau diapakan nasib bapakmu dan semua teman bapak ini, ternyata, kamu lihat sendiri bukan, bapak baik-baik saja!” Tanya bapaknya sambil mendelik kearah Gemblung.Gemblung terpana.Pengalaman bapaknya begitu dahsyat.Namun ia dapat mengatasinya dengan perasaan tenang. “ayo, bawa ikan-ikan ini, kita jual kepada pak Doris, sisanya berikan untuk ibumu!” suara bapak Gemblung mengagetkan lamunannya.Gemblung bergegas membawa satu jarring ikan untuk dijual kepada tengkulak ikan didekat pantai.Gemblung melangkah dengan dengan perasaan lega, bapaknya sudah kembali, bapaknya selamat menghadapi badai, bapaknya memang seorang pelaut!!!! *****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar