Cianjur, 12 September 2010
Oleh: Linda Al-Husna
Seharusnya aku tidak usah ‘gede
rasa’ waktu dia menyapaku, menyebut namaku begitu jelasnya terdengar
ditelingaku.Bukankah hal itu sudah
menjadi kebiasaannya, jika mau berkenalan dengan seseorang dia melakukan hal
itu, menyebut nama lawan bicaranya dengan jelas.Terus kenapa aku yang
kebingungan sendiri? Seharusnya rasaku tak sebuncah ini,bukankah aku juga
sering berkenalan dengan lelaki tampan dan baik hati.Tapi rasaku tak
semelambung ini? Ada apa dengannya?
Tadi, aku hanya sedikit
mewawancarainya, tentang perkembangan karirnya didunia hiburan.Sebagai seorang
pewarta,aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan umum yang ingin diketahui publik.
Tapi dia malah menyebut namaku dan menatapku begitu lama.Seolah-olah dia sedang
berusaha mengingatkan sesuatu yang berkaitan denganku.Apa mungkin aku mirip
seseorang yang pernah dicintainya? Atau …Seperti dia waktu itu, aku segera
menepiskan bayang-bayang yang belum jelas kebenarannya.Hanya soal kekahawatiran
yang masih tersamar.
Yang membuatku bingung,adalah
dia langsung menyebut namaku begitu mantap dan seperti ingin mengatakan sesuatu
yang segera ditepisnya sendiri.Barangkali dia masih ragu dengan apa yang ingin
dikatakannya padaku.Dia seperti sudah mengenalku dengan baik.Tapi, keadaan
tidak memungkinkan baginya untuk mengatakan sesuatu yang membuatnya segera
mengalihkan pembicaraan kepada yang lain.Aku hanya satu diantara para pencari
berita yang ingin meliput sisi lain kehidupannya.Disampingku beberapa orang
yang mempunyai profesi sama denganku tengah berebut mencari kesempatan yang
lebih baik untuk menyempurnakan bahan tulisannya.Suasana berebutan seperti itu
tak memungkinkannya untuk bertanya balik kepada pewarta seperti aku.Untunglah,
dia masih sempat mengajukan permintaannya untuk bertemu denganku besok sore.Ditempat
yang sudah dijanjikan.Di Café miliknya diselatan kota Jakarta.
Tidak sulit baginya untuk
meminta jadwal pertemuan dengan para pencari berita yang sangat berminat pada intrik-intrik
kehidupannya sebagai seorang selebritis.Termasuk aku, yang membutuhkan
informasi lengkap tentang kehidupannya untuk kutuliskan dalam catatan harianku disebuah
situs diinternet.Aku merasa tersanjung ketika dia meminta waktu khusus untuk
bertemu denganku.Kesempatan ini akan kugunakan sebaik-baiknya agar aku
mendapatkan apa yang harus kudapatkan darinya.Barangkali dia pun menginginkan
hal yang sama.Ingin membicarakan sesuatu denganku secara pribadi.Dan malam ini
, aku akan mempersiapkan beberapa pertanyaan yang akan kuajukan padanya besok
sore.Sungguh, seperti kejatuhan durian runtuh! Karena itulah rasaku menjadi
buncah dan melambung, seperti melayang-layang diudara bertemu dengan seorang
selebritis yang sedang menjadi idola anak muda saat ini. Aku jadi tidak sabar
menunggu peristiwa itu, peristiwa yang tidak semua pewarta mendapatkan
kesempatan yang sama denganku.Maksudku, saat ini adalah bagianku mendapatkan
kesempatan emas dari seorang selebritis.Dan aku harus mampu menguasai
perasaanku, jika tidak, bagaimana jadinya, caraku mengajukan
pertanyaan-pertanyaan dengan perasaan demikian? Ah, sudahlah, baiknya aku
istritahat, beberapa pertanyaan sudah kusiapkan dan aku harus menenangkan
pikiran dan perasaanku.Sebelum bertempur mengahadapi serangan balik
darinya.Memangnya dia mau membicarakan apa denganku ya? Kita lihat saja besok
sore!
Waktu yang sudah dijanjikan pun
tiba.Aku berangkat ke tempat itu sesuai kesepakatan.Baru kali ini aku memasuki
sebuah café yang didalamnya sangat berisik bagi telingaku.Barangkali karena aku
lebih suka suasana hening dan damai.Yang menyebabkan aku merasa tidak nyaman
lama-lama berada ditempat seperti ini.Tapi, aku sudah terlanjur janji padanya
untuk datang dan bertemu ditempat ini.Aku duduk disebuah kursi, seorang
karyawan mengatakan sebentar lagi dia akan datang, dia masih berada dalam
perjalanan menuju ketempat ini.Untuk profesiku, aku rela menunggunya sampai dia
datang.
Satu jam aku menunggu, dia baru
menampakkan batang hidungnya. Dan menghampiriku seraya mengulurkan sebelah
tangannya, menyalamiku “Hai, Mira sudah lama menunggu Ya?” Tanyanya dengan nada
sedikit merasa bersalah.Aku menyambut uluran tangannya.”Baru satu jam koq!”
jawabku dengan tenang.Dia mempersilahkanku duduk kembali dan dia duduk
dihadapanku.Tangan kanannya menjatuhkan sebungkus rokok dari saku kemejanya,
dari saku celananya dia mengeluarkan korek api.Dia lalu menyalakan satu batang
rokok yang langsung dihisapnya didepanku tanpa rasa bersalah.Meskipun
sebelumnya dia meminta izin padaku untuk melakukannya.Aku tidak keberatan, apa
hakku melarang kebiasaan orang lain?
“Mira, rasanya aku sudah
mengenalmu.Entah dengan kamu yang masih ingat aku atau tidak?” katanya
mengawali pembicaraan.”Kamu masih tinggal dikota kecil itu kan?” tanyanya
membuyarkan pikiranku yang sedang berusaha mencerna perkataannya.”Ya, aku masih
tinggal disana, tapi apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya?” aku masih
bingung dengan pernyataannya.”Tentu saja aku sangat mengenalmu! Meskipun waktu
itu usia kita masih sangat muda!” Dia menceritakan kisah dirinya yang pernah
tinggal dikota tempat tinggalku saat ini. Dia juga menyebutkan nama bapak, ibu
dan kakak-kakakku.Dia seperti dukun saja yang mengenal keluargaku dengan
lengkapnya.Padahal selama ini, yang kutahu kehidupannya terlihat sangat
ekslusif.Dan sebagian masyarakat dinegeri ini sudah mengenalnya sebagai
selebritis.
“Coba Mira, tolong diingat lagi
waktu kamu masih duduk diTaman Kanak-kanak.Kita selalu bermain bersama setiap
hari.Ditanah lapang yang kita cintai.Atau dipinggir danau dibelakan rumahmu.Aku
tidak pernah melupakannya sampai saat ini!” Dia menarik nafasnya dalam-dalam
dan aku mengingat-ingat masa yang ditunjukkannya padaku.”Ya, waktu itu aku
punya teman dekat, usianya beberapa tahun diatasku.Selain sebagai teman dia
juga sudah seperti pengasuhku saja.Dan aku sudah kehilangan kabar tentang
dia.Berada dimana sekarang dan keadaannya seperti apa? Aku sama sekali tidak
tahu? Aku selalu memanggilnya dengan nama’DEDE’ nama kesayangannya untuk
kusebutkan setiap aku ingin bermain dengannya! Ya, waktu itu sangat
menyenangkan!”aku mencoba mengomentari suasana yang dipintanya untuk kuingat
sedetil-detilnya.”Ya, itulah aku, Dede yang sering kau ajak bermain ditanah
lapang atau dipinggir danau dibelakang rumahmu! Dede itu namaku waktu aku masih
duduk dibangku SD, dan aku sangat senang kau menyebutnya begitu!” dia menyudahi
perkataannya.Dan tinggallah aku yang termangu menyimak pengakuannya.Apa benar,
selebritis didepanku ini adalah teman dekatku waktu masih kecil? Kenapa dia mau
mengakui itu?Atau mengaku-ngaku seorang yang paling mengenalku dengan baik
melebihi ibu bapakku sendiri.Bukankah aku wartawan yang belum terkenal? Apa
keuntungannya dengan pengakuan yang dilakukannya? Tapi, jika benar dia adalah
“Dede’ yang kukenal dulu….Ya Tuhan, aku bertemu lagi dengan Dede!!!!!*****
***********

Tidak ada komentar:
Posting Komentar