Kamis, 11 Januari 2018

Cerpen Linda Al-Husna 2010

GHIROH
( KERJA SEORANG PEMBEBAS )
Cianjur, 04 Oktober 2008
Oleh: Linda Al-Husna



 
“Mar, apakah kau pernah merasakan seperti aku sekarang ini?” Fifi duduk sambil memeluk kedua lututnya, wajahnya tertunduk diantara lutut dan tubuhnya “Memangnya kau merasakan apa?” Marni duduk didepannya sambil menggenggam sebuah buku.”Aku merasa pikiranku buntu.Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan? Perasaanku selalu cepat berubah.Aku jadi bingung sendiri.Mana yang harus kulakukan lebih dulu?” Masih dengan wajah tertunduk Fifi mencurahkan perasaannya kepada Marni. “Apa kau sedang menghadapi masalah?” Tanya Marni.Fifi mengangkat kepalanya dan kedua bahunya.”Entahlah, aku merasa sedang tidak punya masalah, aku…aku….!” Fifi tidak melanjutkan kalimatnya.Gurat-gurat kebingungan masih nyata terlintas diwajahnya “Barangkali kau hanya sedang merasa bosan?” Marni menebak inti masalahnya. Tak ada jawaban.Fifi tenggelam dalam lamunannya. “Fi, istirahatlah, kau sedang membutuhkan waktu untuk meresapi perasaanmu! Nanti kalau sudah mulai jernih, kau bisa ceritakan semuanya padaku, aku siap mendengarnya!” Marni berusaha meyakinkan Fifi bahwa ia bersedia menyediakan waktu baginya. Sebab dengan siapa lagi Fifi mau mencurahkan perasaannya selain dengannya, teman dekatnya ditempat kost ini.
          Pukul 10 malam Fifi terbangun dari tempat tidurnya, ia menarik nafas panjang kemudian membuangnya seketika. Dilihatnya Marni masih membaca buku yang dari tadi dipegangnya.Fifi bangkit, mengucek-ngucek kedua matanya dan merapikan rambutnya yang acak-acakan dengan jari-jari tangannya. Marni melirik kearah Fifi “Sudah bangunFi? Apa kau sudah merasa lebih baik?” Tanya Marni .Fifi menganggukkan kepala “Ya!” jawab Fifi masih duduk diatas tempat tidurnya. “Bagaimana apa kau masih merasa seperti tadi? Atau kau sudah menemukan apa masalahmu? Ceritakanlah?” Marni menutup bukunya setelah diberi tanda pada halaman terakhir yang dibacanya.Kemudian bersiap mendengar cerita Fifi.
          “Mar, aku kehilangan ghiroh ( semangat )!” Fifi memandang kearah Marni “Kau benar, kehilangan ghiroh membuatku jadi merasa bosan! Sementara kau tahu, kita ini harus melakukan ini dan itu, begitu banyak pekerjaan yang harus kita lakukan, tiba-tiba ghiroh itu lenyap entah kemana?” Fifi terdiam sejenak.Pikirannya berputar-putar kemasa-masa sebelum kehilangan ghirohnya “Aku jadi tidak ingin memikirkan pekerjaan itu!” Fifi memeluk kedua lututnya “Hidup ini jadi seperti robot, harus melakukan ini dan itu terus menerus, begitu danbegitu saja hampir setiap hari! Awalnya aku semangat tapi entahlah sekarang!” Fifi menjatuhkan kepalanya diatas kedua lututnya. “Kau hanya butuh waktu untuk menyenangkan dirimu sendiri!” usul Marni, Fifi mendongak menatap wajah Marni lekat-lekat. “Memangnya kau tahu, apa yang bisa membuatku senang?” tukas Fifi “Ya, tidak tahu, tapi kebanyakan orang akan mengalihkan perhatian dulu untuk sementara sebelum akhirnya kembali kepekerjaan rutinnya! Dan biasanya pula itu bisa mengembalikan semangatnya!” Kata Marni dengan tenang tanpa dibuat-buat. “O, begitu ya??” Fifi menopang dagunya diatas kedua lututnya. “ Siapa pun yang melakukan aktivitas dakwah, sebisa mungkin harus dapat menjaga ghiroh itu, agar tetap stabil.Kalaupun harus terjatuh tidak lama-lama.Segera bangkit dan mengembalikan semangat seperti sebelumnya!”
          “ Mar, apa kau juga pernah merasakan seperti ini? Merasa lelah, bosan dan buntu yang kata orang ini disebut sebagai ‘Futhur’(kehilangan semangat).Apa kau juga pernah merasakannya Mar?” Tanya Fifi kemudian “Ya, aku juga pernah merasakan seperti itu, dulu bahkan mungkin sering! Sekarang aku sudah tahu bagaimana cara mensiasatinya, kalau perasaan-perasaan seperti itu datang menghampiri!” Marni diam sejenak kemudian melanjutkan “ Apa kau ingin tahu apa yang kulakukan?” Tanya Marni.Fifi segera menganggukkan kepalanya “Kau suka melihat aku membaca atau menulis kan? Nah itu salah satu cara untuk membunuh rasa bosan.Membaca buku-buku menarik, kemudian menuliskannya kembali.Perlahan-lahan itu memberi pupuk kepada perasaan kita yang sedang hampa.Kekosongan perasaan itu harus diisi dengan pupuk yang baik,jika tidak, tidak akan merubah rasa kebosanan itu atau bahkan memperburuk keadaannya.Lintasan-lintasan pikiran yang datang dan pergi dari mana dan entah kemana, kadang-kadang kedengaran tidak rasional, diluar jangkauan batas akal sehat kita.Jika iman kita tidak kuat, kecenderungan depresi itu kemungkinan besar akan terjadi!”
          Fifi mendengarkan tiap-tiap kata yang disampaikan Marni kepadanya.Kata-katanya tepat sasaran.Tepat menuju wilayah yang menjadi kebimbangannya. “Begitu ya caramu membunuh rasa bosan!” guman Fifi seolah bicara pada dirinya sendiri.”Kalau dengan membaca dan menulis masih belum hilang juga rasa bosanku, aku berjalan-jalan kepasar.Entahlah, aku merasa pasar memberiku banyak pelajaran ya banyak hal yang menarik dan unik disana.Aku senang berada didalamnya, ada kesenangan tersendiri dan itu cukup ampuh untuk membunuh rasa bosan!” Fifi manggut-manggut tanpa bicara merenungkan apa yang dikatakan Marni,karena dihatinya pengalaman Marni sedikit demi sedikit memberi inspirasi baru baginya yang sedang menghadapi jalan buntu. “Fi, kalau kita mengerti betul hakikat dakwah dan orang yang berdakwah, kau bisa saksikan sendiri kisah-kisah orang-orang sebelum kita ketika menjalankan kegiatan dakwahnya.Hanya bedanya, dulu fasilitas hidup mereka sangat sederhana,sekarang segalanya serba mudah, bahkan kata orang dunia bisa ada dalam genggaman! Ponsel misalnya atau internet, semua dapat dijangkau dengan mudah! Nah kemudahan-kemudahan seperti ini, cenderung membuat orang menjadi malas, tidak mengandalkan potensi dirinya secara efektif dan optimal, setidaknya begitulah penilaianku!”
“Lantas, apakah ada hal lain selain menghilangkan rasa bosan?” Tanya Fifi kali Fifi menunjukkan kesungguhannya.”Ya,  tidak langsung dirasakan sih, tapi setidaknya aku sudah memulai suatu pekerjaan dan aku belajar mencintai pekerjaan itu.Jika tidak ada rasa cinta, pekerjaan itu jadi terasa membosankan.Aku juga tidak tahu kenapa?”
“Kamu benar Marni, itulah yangsedang kurasakan saat ini!” guman Fifi.”Hey, apa kau tidak mencintai pekerjaan dakwah?” tiba-tiba Marni mengajukan pertanyaan.Fifi terkesiap “Bukan begitu, aku merasa terlalu banyak orang yang harus kudakwahi sementara pengetahuanku masih terbatas!” ujar Fifi yang hampir dibuat kaget oleh pertanyaan Marni.
          “Kalau begitu, cara berdakwahnya dirubah, bukan dengan menggurui tapi dengan member contoh.Kau menuntut apa dari orang lain.Maka hadirkan dulu pada prilakumu! Selama ini,yang ada dalam benak kita tentang dakwah adalah memperbaiki orang lain, sementara diri kita sendiri terabaikan! Dari sinilah kita sering terjebak rasa bosan, menganggap diri lebih baik dari orang lain.Hanya karena kita mendapat informasi agama lebih dulu dan itu sangat-sangat membosankan!” Marni menggelengkan kepalanya “Ternyata hal itu tidak berlaku dalam menerapkan ilmu agama.Dalam ilmu yang lain mungkin masih bisa terjadi.Siapa yang lebih dulu menemukan sebuah teori dia dapat berbangga dengan dirinya sendiri.Tapi dalam berdakwah kerendahan hati itu benar-benar harus dijaga sebaik-baiknya.Jika tidak, mudah saja bagi allah menguji keihklasan si Pendakwah terhadap apa yang dikatakannya.Jika si pendakwah selalu protes dengan kenyataan ini maka disanalah Allah dapat menilai seberapa besar keihklasan kita menjalankan kegiatan itu?” Suasana menjadi hening, hanya terdengar detak jarum jam berjalan dari satu titik ketitik yang lain.Marni membiarkan Fifi mencerna apa yang dikatakannya dalam keheningan dan kejernihan pikirannya.”Jadi, jika kita tersenyum dalam menghadapi kelapangan, apakah kita masih mampu tersenyum dalam menghadapi kesulitan?” Fifi melongo.Kata-kata Marni mengalir  bagai pedang yang menghujam pikirannya.
          “Subhanallah Marni, kau sudah mendapatkan ilmunya! Dari mana kau mendapatkannya?” Fifi tak tahan dengan rasa ingin tahunya “Kau kan tahu, aku suka baca buku!” kilah Marni “Tapi, cara kau menceritakannya kembali berbeda dengan yang lain!” timpal Fifi “Ah, kurasa banyak orang yang melakukan seperti ini, membaca dan menulis itu biasa kan?” Marni berusaha menangkis sanjungan Fifi, jika dimasukkan kedalam hati, maka hatinya akan merasa dan berbunga-bunga, tidak mustahil si Riya akan datang menyelip kelubuk hatinya “Marni,tapi kamu beda!” Fifi menegaskan “Sudah ah, jangan berlebihan.Aku hanya belajar dari pengalaman orang lain yang disesuaikan dengan pengetahuan dan pengalamanku,hasilnya seperti apa, aku sendiri belum tahu!” Jelas Marni.Seandainya lampu dikamarnya menyala penuh, pasti Fifi akan melihat wajahnya merona kemerah-merahan.”Marni, kamu berbakat jadi penulis!”
“Aku sedang merancangnya!”
“Marni, terimakasih, sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan besok! Kau memang seorang penulis sekaligus seorang pembebas! Terimakasih Marni!!!”

          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar