Minggu, 14 September 2014

Cerpen Linda Al-Husna 2010



MAWAR TERCEMAR
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 17 Juli 2010

                Naik kekelas tiga sekolah menengah atas.Pakaian seragamku,kusempurnakan.Jika tahun lalu aku masih menggunakan rok pendek, sekarang dengan kain putih menutup kepalaku, kemeja lengan panjang dan rok panjang pula. Dengan pakaian seperti ini, aku merasa menjadi pribadiku sendiri.Tanpa harus mengikuti sebuah mode yang sedang trendy.Aku menjadi tampil lebih apa adanya, seperti seorang pembelajar yang ingin tahu dan percaya diri. Ditahun ini, menurut wali kelas, majalah dinding harus diserahkan kepada kelas dua.Sedangkan kelas tiga diorientasikan pada ujian akhir nasional. Meskipun baru seminggu duduk dikelas tiga, namun ada rasa bahwa aku-mungkin juga yang lainnya, merasa menjadi senior yang cukup berpengalaman.Dengan mengelola majalah dinding setahun itu, telah memberi pelajaran tentang bagaimana mengelola sebuah media massa.Meskipun masih dilingkungan sekolah.Kelas bahasa memang terkenal dengan majalah dindingnya!
                Waktu terus berjalan sampai minggu kedua,sebagian besar guru belum masuk kekelas.Dengan berita ada yang sedang penataran, sedang sakit atau kesibukan lainnya.Suasana dikelas menjadi tak beraturan.Anak lelaki memilih duduk-duduk diteras kelas sambil menyanyikan beberapa lagu Iwan fals. Dedy yang memainkan gitarnya. Sementara anak perempuan lebih suka duduk-duduk dibangku sambil membicarakan aneka bahan pembicaraan.Atau menuliskan sesuatu.
                Aku sudah tidak bicara dengan Fay, entahlah, sejak peristiwa mading tahun lalu.Dan pembicaraan yang tak menyenangkan dibelakang kelas itu.Fay, tak pernah menggodaku lagi.Bahkan menyapa pun tidak.Syukurlah, barangkali Fay sudah kena getahnya.Sekarang aku bisa berteman dengan leluasa, dengan siapa saja baik anak lelaki atau pun anak perempuan.Tanpa harus ada ikatan apa pun.Teman tetap teman!
                Kali ini, Iwan yang sedang melakukan pendekatan.Iwan selalu ada setiap aku membutuhkan teman bicara.Membicarakan ini dan itu yang tak ada ujungnya.Iwan memang menyenangkan! Sesekali aku duduk dibangku belakang bersamanya.Menjadi bagian dari kelompok belajar pelajaran antropologi, berdiskusi dsb.Dalam masa kebosanan ini, dimana beberapa guru tidak masuk dan beberapa jam pelajaran kosong begitu saja.Iwan mengisi waktuku dengan asyik.Tidak hanya denganku, dengan beberapa teman yang lain pun demikian.Aku memilih Iwan ketika dengan tidak sengaja aku memasuki ruang kepala sekolah dan melaporkan beberapa guru tidak masuk selama dua minggu ini.Bapak kepala sekolah menanggapi laporanku.Beberapa guru yang dimaksud dihadirkan keruangannya.Pak Dudi, guru geografi, Pak Nanang guru agama, dan Pak Dudun guru sastraku yang baru.Ketiga guru itu diminta jawabannya atas laporanku.Mereka menjawab dengan alasannya masing-masing.Sambil sesekali menatap kearahku.Aku tak berani mengangkat muka.Demi Tuhan, bukan aku ingin menghancurkan reputasi mereka didepan kepala sekolah.Aku hanya bertanya, mengapa di kelas kami guru-guru ini tak masuk? Sedangkan menurut kelas lain, mereka ada dan mengajar seperti biasanya.Hal inilah yang kupertanyakan pada bapak kepala sekolah.Apa aku salah?
                Usai pembicaraan yang tak kuduga itu, aku langsung lari kekelasku dengan perasaan berkecamuk.Antara bingung, senang dan bimbang.Bagaimana nanti guru-guru itu menegurku? Telah berani melaporkan mereka ke kepala sekolah? Masuk keruang kelas,aku melihat Iwan duduk dibangkunya, bangku sebelahnya kebetulan sedang kosong. Aku lari menghampirinya. “Iwan!” jeritku sambil duduk disebelahnya.Kedua tangan kuletakkan diwajahku.Iwan menyambutku sebelah tangannyya meraih pundakku.”Ada apa?” tanyanya sambil menepuk-nepuk punggungku berusaha menenangkanku yang sedang gelisah.Aku menelungkupkan wajah beralaskan kedua tanganku.Aku mengatur nafas sejenak dan Iwan masih menunggu jawabanku.” Aku baru masuk ruang kepala sekolah, aku melaporkan beberapa guru yang tidak hadir selama dua minggu ini, Iwan, tolong aku, aku melihat pak Dudun marah padaku!” kuangkatkan wajahku dan kutundukkan lagi.Air mata bercucuran dari kedua mataku.Betapa takutnya aku, bagaimana jika aku mendapatkan skor dari pak Dudun? Beberapa anak lelaki menyorakiku.Menuduhku so, ideal, so aktif dan mencaciku dengan kata-kata mereka. Untunglah Iwan menenangkanku.Meyakinkanku, bahwa ia akan mendampingiku selama jam pelajaran pak Dudun yang setelah istirah ini bagian jam pelajarannya.”Ya, sudah, tenang saja.Aku disini untukmu! Kalau ada apa-apa kita hadapi bersama, ok?” katanya. Dengan senyumnya yang menyenangkan.Aku mengangguk, berterimakasih padanya telah bersedia menemaniku dalam kebingungan ini.Perasaanku sedikit tenang dan lebih siap menghadapi pak Dudun yang tadi terlihat marah.
                Sejak kejadian itulah, Iwan jadi sering mendekatiku.Diwaktu bersama ataupun diwaktu sendiri.Jika Fay, memiliki daya pikat melalui gurauan-gurauannya.Iwan berbeda, ia lebih tenang, kalem dan dituakan dikelas.Jika ada masalah, baik mengenai perorangan atau tentang keadaan kelas.Iwanlah yang menjadi tokoh yang dimintai pendapatnya.Semua, seolah mengakui dan menuruti setiap himbauannya.Ya, Iwan memang lebih dewasa dari yang lainnya.Aku mengakuinya!
                Hari ini, kegiatan belajar berjalan sebagaimana biasanya. Berdiskusi dan tukar pikiran adalah hal yang sudah biasa.Sampai bel istirahat berbunyi.Semua bersorak, dengan sendirinya berhambur keluar bangku dan menghilang.Beberapa diantaranya masih tinggal didalam kelas.Aku, Ina, Pepey, Maman, dan Dayat pergi kekantin belakang kelas, mencari makanan yang layak dimakan. Sudah selelsai mengurusi urusan perut, kami kembali lagi kekelas. Sambil menunggu bel berikutnya, ada yang duduk di bangku depan kelas dibawah pohon, ada yang duduk diteras sambil memainkan gitar dan bernyanyi bersama.Ada juga yang berjalan hilir mudik kesana kemari.Aku duduk disamping pintu, sambil mendengarkan para artis kelas menyanyikan lagu-lagu protesnya.Lagu-lagi Iwan Fals, kesukaan mereka!
                Tiba-tiba Iwan datang dan duduk dihadapanku.Tidak bicara apa pun hanya duduk sambil memegang setangkai bunga mawar yang entah dipetiknya dari mana? Karena Iwan tak bicara, aku pun demikian.Perhatianku sedang focus pada syair-syair yang sedang dinyanyikan dengan semangatnya.Sesekali tersenyum mendengar tempo dan notasinya yang tak beraturan.Tapi, syair itu memang hebat! Dinyanyikan oleh siapa pun, tetap tak mengurangi keindahan isi syairnya.Beberapa menit kemudian, Iwan seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.Mungkin ingin mengatakan sesuatu? Kuberanikan diri menanyakannya “ Wan, kamu kenapa?” tanyaku datar.Iwan tak menjawab pertanyaanku.Telapak tangannya menggiling setangkai bunga mawar. Kemudian diberikannya padaku dan berlari meninggalkanku yang tambah bingung.’Kenapa dia?’ batinku bertanya.Kuterima setangkai bunga mawar darinya, sekilas bunga itu memang cantik, dengan warna merah muda yang masih segar.Kucium bunga itu dan… “OOOOeeekkkk!!!” Bunga mawar yang telah tercemar oleh asap rokok.”puh” aku nyaris muntah, teganya Iwan memberiku bunga seperti ini!!!****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar