MAWAR TERCEMAR
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 17 Juli 2010
Naik kekelas tiga sekolah menengah atas.Pakaian
seragamku,kusempurnakan.Jika tahun lalu aku masih menggunakan rok pendek,
sekarang dengan kain putih menutup kepalaku, kemeja lengan panjang dan rok
panjang pula. Dengan pakaian seperti ini, aku merasa menjadi pribadiku
sendiri.Tanpa harus mengikuti sebuah mode yang sedang trendy.Aku menjadi tampil
lebih apa adanya, seperti seorang pembelajar yang ingin tahu dan percaya diri. Ditahun
ini, menurut wali kelas, majalah dinding harus diserahkan kepada kelas
dua.Sedangkan kelas tiga diorientasikan pada ujian akhir nasional. Meskipun
baru seminggu duduk dikelas tiga, namun ada rasa bahwa aku-mungkin juga yang
lainnya, merasa menjadi senior yang cukup berpengalaman.Dengan mengelola
majalah dinding setahun itu, telah memberi pelajaran tentang bagaimana
mengelola sebuah media massa.Meskipun masih dilingkungan sekolah.Kelas bahasa
memang terkenal dengan majalah dindingnya!
Waktu terus berjalan sampai minggu kedua,sebagian
besar guru belum masuk kekelas.Dengan berita ada yang sedang penataran, sedang
sakit atau kesibukan lainnya.Suasana dikelas menjadi tak beraturan.Anak lelaki
memilih duduk-duduk diteras kelas sambil menyanyikan beberapa lagu Iwan fals. Dedy
yang memainkan gitarnya. Sementara anak perempuan lebih suka duduk-duduk
dibangku sambil membicarakan aneka bahan pembicaraan.Atau menuliskan sesuatu.
Aku sudah tidak bicara dengan Fay, entahlah, sejak
peristiwa mading tahun lalu.Dan pembicaraan yang tak menyenangkan dibelakang
kelas itu.Fay, tak pernah menggodaku lagi.Bahkan menyapa pun tidak.Syukurlah,
barangkali Fay sudah kena getahnya.Sekarang aku bisa berteman dengan leluasa,
dengan siapa saja baik anak lelaki atau pun anak perempuan.Tanpa harus ada ikatan
apa pun.Teman tetap teman!
Kali ini, Iwan yang sedang melakukan pendekatan.Iwan
selalu ada setiap aku membutuhkan teman bicara.Membicarakan ini dan itu yang
tak ada ujungnya.Iwan memang menyenangkan! Sesekali aku duduk dibangku belakang
bersamanya.Menjadi bagian dari kelompok belajar pelajaran antropologi,
berdiskusi dsb.Dalam masa kebosanan ini, dimana beberapa guru tidak masuk dan
beberapa jam pelajaran kosong begitu saja.Iwan mengisi waktuku dengan
asyik.Tidak hanya denganku, dengan beberapa teman yang lain pun demikian.Aku
memilih Iwan ketika dengan tidak sengaja aku memasuki ruang kepala sekolah dan
melaporkan beberapa guru tidak masuk selama dua minggu ini.Bapak kepala sekolah
menanggapi laporanku.Beberapa guru yang dimaksud dihadirkan keruangannya.Pak
Dudi, guru geografi, Pak Nanang guru agama, dan Pak Dudun guru sastraku yang
baru.Ketiga guru itu diminta jawabannya atas laporanku.Mereka menjawab dengan
alasannya masing-masing.Sambil sesekali menatap kearahku.Aku tak berani
mengangkat muka.Demi Tuhan, bukan aku ingin menghancurkan reputasi mereka
didepan kepala sekolah.Aku hanya bertanya, mengapa di kelas kami guru-guru ini
tak masuk? Sedangkan menurut kelas lain, mereka ada dan mengajar seperti
biasanya.Hal inilah yang kupertanyakan pada bapak kepala sekolah.Apa aku salah?
Usai pembicaraan yang tak kuduga itu, aku langsung
lari kekelasku dengan perasaan berkecamuk.Antara bingung, senang dan
bimbang.Bagaimana nanti guru-guru itu menegurku? Telah berani melaporkan mereka
ke kepala sekolah? Masuk keruang kelas,aku melihat Iwan duduk dibangkunya,
bangku sebelahnya kebetulan sedang kosong. Aku lari menghampirinya. “Iwan!” jeritku
sambil duduk disebelahnya.Kedua tangan kuletakkan diwajahku.Iwan menyambutku
sebelah tangannyya meraih pundakku.”Ada apa?” tanyanya sambil menepuk-nepuk
punggungku berusaha menenangkanku yang sedang gelisah.Aku menelungkupkan wajah
beralaskan kedua tanganku.Aku mengatur nafas sejenak dan Iwan masih menunggu
jawabanku.” Aku baru masuk ruang kepala sekolah, aku melaporkan beberapa guru
yang tidak hadir selama dua minggu ini, Iwan, tolong aku, aku melihat pak Dudun
marah padaku!” kuangkatkan wajahku dan kutundukkan lagi.Air mata bercucuran
dari kedua mataku.Betapa takutnya aku, bagaimana jika aku mendapatkan skor dari
pak Dudun? Beberapa anak lelaki menyorakiku.Menuduhku so, ideal, so aktif dan
mencaciku dengan kata-kata mereka. Untunglah Iwan menenangkanku.Meyakinkanku,
bahwa ia akan mendampingiku selama jam pelajaran pak Dudun yang setelah istirah
ini bagian jam pelajarannya.”Ya, sudah, tenang saja.Aku disini untukmu! Kalau
ada apa-apa kita hadapi bersama, ok?” katanya. Dengan senyumnya yang
menyenangkan.Aku mengangguk, berterimakasih padanya telah bersedia menemaniku
dalam kebingungan ini.Perasaanku sedikit tenang dan lebih siap menghadapi pak Dudun
yang tadi terlihat marah.
Sejak kejadian itulah, Iwan jadi sering
mendekatiku.Diwaktu bersama ataupun diwaktu sendiri.Jika Fay, memiliki daya
pikat melalui gurauan-gurauannya.Iwan berbeda, ia lebih tenang, kalem dan
dituakan dikelas.Jika ada masalah, baik mengenai perorangan atau tentang
keadaan kelas.Iwanlah yang menjadi tokoh yang dimintai pendapatnya.Semua,
seolah mengakui dan menuruti setiap himbauannya.Ya, Iwan memang lebih dewasa
dari yang lainnya.Aku mengakuinya!
Hari ini, kegiatan belajar berjalan sebagaimana
biasanya. Berdiskusi dan tukar pikiran adalah hal yang sudah biasa.Sampai bel
istirahat berbunyi.Semua bersorak, dengan sendirinya berhambur keluar bangku
dan menghilang.Beberapa diantaranya masih tinggal didalam kelas.Aku, Ina,
Pepey, Maman, dan Dayat pergi kekantin belakang kelas, mencari makanan yang
layak dimakan. Sudah selelsai mengurusi urusan perut, kami kembali lagi
kekelas. Sambil menunggu bel berikutnya, ada yang duduk di bangku depan kelas
dibawah pohon, ada yang duduk diteras sambil memainkan gitar dan bernyanyi
bersama.Ada juga yang berjalan hilir mudik kesana kemari.Aku duduk disamping
pintu, sambil mendengarkan para artis kelas menyanyikan lagu-lagu
protesnya.Lagu-lagi Iwan Fals, kesukaan mereka!
Tiba-tiba Iwan datang dan duduk dihadapanku.Tidak
bicara apa pun hanya duduk sambil memegang setangkai bunga mawar yang entah
dipetiknya dari mana? Karena Iwan tak bicara, aku pun demikian.Perhatianku
sedang focus pada syair-syair yang sedang dinyanyikan dengan semangatnya.Sesekali
tersenyum mendengar tempo dan notasinya yang tak beraturan.Tapi, syair itu
memang hebat! Dinyanyikan oleh siapa pun, tetap tak mengurangi keindahan isi
syairnya.Beberapa menit kemudian, Iwan seperti sedang menimbang-nimbang
sesuatu.Mungkin ingin mengatakan sesuatu? Kuberanikan diri menanyakannya “ Wan,
kamu kenapa?” tanyaku datar.Iwan tak menjawab pertanyaanku.Telapak tangannya
menggiling setangkai bunga mawar. Kemudian diberikannya padaku dan berlari
meninggalkanku yang tambah bingung.’Kenapa dia?’ batinku bertanya.Kuterima
setangkai bunga mawar darinya, sekilas bunga itu memang cantik, dengan warna
merah muda yang masih segar.Kucium bunga itu dan… “OOOOeeekkkk!!!” Bunga mawar
yang telah tercemar oleh asap rokok.”puh” aku nyaris muntah, teganya Iwan
memberiku bunga seperti ini!!!****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar