Jumat, 18 Maret 2016

Cerpen Linda Novlinda 2010



AMIEN
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 21 Mei 2010



                Namanya Amien.Anak lelaki berusia 15 tahun.Kilitnya berwarna sawo matang.Tinggi kurus.Wajahnya cukup manis dan pandai bergaul. Amien, siswa pindahan dari SMP Negeri di Bogor.Menurut kabar Amien pindah kesekolah ini disebabkan kasus yang menimpanya.Kasus yang menyebabkannya harus hengkang dari sekolah asalnya.Dan SMP Kenang adalah pilihannya untuk menyelesaikan sisa kelas 3nya.Amien bukan termasuk golongan orang kaya.Tapi pergaulannya menyebabkan gaya hidupnya seperti orang kaya!
                Kasus Amien ini menarik perhatian Sarah.Guru bahasa Inggris yang masih muda dan menaruh perhatian khusus pada kasus-kasus pergaulan anak muda saat ini. Sarah berniat mempelajari latar belakang Amien dengan caranya sendiri.Pertama datang kesekolah ini, Amien datang bersama orang tuanya.Didepan bapak kepala sekoah Amien tampak seperti anak pendiam dan penurut.Sebelum pak kepala sekolah menerima Amien sebagai salah satu siswanya di SMP Kenanga yang dipimpinnya.Terlebih dulu pak kepala sekolah mewanti-wanti agar Amien bersedia mengikuti tata tertib disekolahnya.Jika tidak, ia terancam dikeluarkan lagi dari sekolah ini.
                Bagi Sarah ini tugas baru yang menyenangkan, yang akan mengasah kemampuannya dalam hal membantu orang lain dalam mengeluarkan yang terbaik dari dalam dirinya.Dengan mengandalkan pengetahuan Psycologi yang pernah dipelajarinya dari buku-buku para ahli Psicologi terkenal baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.Serta tentu saja dengan memohon pertolongan Allah swt.
                Sarah mulai membuka data-data tentang Amien, latar belakang keluarganya dan kasus yang telah menimpanya.Narkoba! Amien sudah terjerumus dalam pergaulan yang merugikan dirinya sendiri.Bahkan lambat laun tingkah lakunya telah merugikan orang lain.Menurut teman sekelasnya,Amien telah menjual beberapa celana jeansnya bahkan milik temannya sendiri hanya untuk mendapatkan beberapa butir tablet ectasy yang akan membawanya terbang kealam mimpi.Kemarahan teman-temannya membuat Amien dikeroyok sampai babak belur.Mau tak mau ia harus angkat kaki dari sekolahnya. Sebab teman-temannya mengancam, jika Amien masih bersekolah disana keselamatannya tidak akan terjamin. Dan disekolah ini, dihadapan bapak kepala sekolah Amien berjanji akan mengikuti tata tertib sekolah dan melaksanakan kegiatan belajar sebagaimana seharusnya seperti siswa yang lainnya.’Semoga janji itu tulus eluar dari hati, jika kamu benar-benar ingin berubah’ batin Saran berharap.
                “Bu, Amien tidur!” teriak Yudi yang duduk dibangku paling belakan disamping Amien.Sarah sedang menerangkan Present Continous Tense lansung berpaling ketempat duduk Amien.Yudi benar, dilihatnya Amien sedang menelungkupkan kepalanya.Kedua tangannya menjadi alas kepalanya.Sebetulnya Sarah tahu dari tadi Amien sedang tidur.Tapi ia berniat menegurnya nanti setelah pelajaran usai.Teriakan Yudilah yang membuat ia harus menegur Amien saat itu juga.
                “Min, banguuuun! Teriak Duyeh, sang ketua kelas diikuti suara yang lain. Yudi mengguncang-guncang tubuh Amien.Amien mengangkat kepalanya, dikucek-kuceknya kedua matanya yang merah “Ngantuk Bu!” suara Amien berat sekali “Huuuuu…!!!” sambut suara seisi kelas “Kamu gadang lagi Min?” Tanya Sarah dengan lembut.Amien menganggukkan kepalanya “Ibu kan sudah bilang, anak seusia kamu jangan terlalu banyak bergadang.Akibatnya jadi seperti ini.Kamu jadi tidak konsentrasi belajar “ Sarah menegaskan suaranya.Amien mengedip-ngedipkan kedua matanya menahan rasa kantuknya.”Sekarang kamu datang kesekolah mau apa?” lanjut Sarah “Mau tidur,Bu!” jawab Amien acuh tak acuh “Huuu…kalau mau tidur mah tidak usah pakai seragam dong jang!” sungut Nani siswi terpandai dikelas ini “Kalau mau tidur dirumah saja!” timpal Iwan “Yee…sekarang kan ada pelajaran Bu Sarah!” Balas Amien.Serentak anak-anak yang lain memonyongkan mulutnya.Sebel.”Ya sudah,Amien, nanti ibu mau bicara sekarang kita lanjutkan pelajaran!” Sarah kembali menerangkan.
                “Coba sekarang ceritakan pada ibu, apa yang sudah kamu lakukan tadi malam?” Tanya Sarah diruang kantor sewaktu istirahat. “Eueu, anu bu, teman-teman kost saya tadi malam ngajak main catur.Lagi pula waktu itu saya tidak bisa tidur bu!” Amien meremas-remas kedua tangannya “Kenapa?” Tanya Sarah penasaran “Eueu itu bu, ingat terus kepada ibu!” snyum tipis tersungging dari bibir tipisnya. Sarah mendongak kaget.Tidak disangka Amien akan mengatakan kalimat seperti itu.
                Beberapa minggu ini, setelah kedatangan Amien.Sarah memang memberi perhatian khusus kepadanya.Tidak lain untuk mengorek dan mempelajari latar belakang kasus yang menimpanya.Sarah sering mengajak Amien ngobrol saat istirahat atau pulang sekolah sesekali bercanda dengannya layaknya seorang teman.Amien memang pandai bergaul.Bahkan terhadap gurunya sendiri pun Amien dapat menyesuaikan diri dan menyenangkan.Sarah sangat menikmati pergaulannya dengan AmienSekaligus, sedikit demi sedikit Sarah dapat memahami kenapa Amien dapat berlaku demikian.
                “Bu, perhatian yang ibu berikan kepada saya sungguh, sangat berarti bagi saya.Maukah ibu terus memberikannya kepada saya?” pinta Amien,kedua matanya mulai berkaca “Sebetulnya saya sudah ingin lepas dari obat-obat terlarang itu.Tapi setiap saya gelisah, saya tidak dapat menahannya! Teman sekost saya memiliki beberapa butir.Saya minta kepadanya dengan jaminan jam tangan saya.Habis mau bagaimana lagi, saya tidak tahan,Bu…!” Tangis pilu pun membuncah.Sarah mendengarkan cerita Amien dengan seksama ‘Duh, sakit rasanya hati ini, Ya Allah, apa yang harus saya lakukan?’ batin Sarah menggiris “Kamu suka sholat?” Sarah menatap wajah Amien dengan lekat.Amien menggelengkan kepalanya.”Kalau begitu, cobalah kamu belajar sholat.Mintalah pada Allah agar kamu diberi kekuatan untuk berhenti dari obat-obat terlarang itu!” tutur Sarah member saran dengan hati-hati dan berharap Amien dapat mengerti dan melakukan sarannya.Amien manggut-manggut “Baik Bu…Bu, I love you!” Amien menatap wajah Sarah tak berkedip.Setelah memanggutkan kepalanya Amien berlalu dari hadapannya.
                Sudah hampir sebulan Amien tidak kelihatan.Tidak hadir dikelas, ditempat kostnya pun tak ada.Duyeh sang ketua kelas, mencari informasi tentang amien atas permintaan Sarah.Dengan siapa saja selama ini Amien bergaul, dan apa yang sudah terjadi pada diri Amien hingga ia menghilang begitu saja???
                Sampai suatu hari,Duyeh dan Yudi menghadap sarah diruang kantor pada waktu jam pertama akan dimulai.”Bu, kemarin kami datang ketempat kostnya Amien dan menanyakan perihal Amien kepada ibu kostnya.Katanya Amien pulang kerumah orang tuanya di Bogor.Sampai sekarang belum pulang juga!” Duyeh berhenti sejenakKemudian mengambil nafas dalam-dalam ‘Yud, kamu saja yang cerita!” serunya kemudian.Yudi menggelengkan kepalanya “Kamu saja!” jawab Yudi “Ada apa?” Sarah semakin penasaran “Apa yang terjadi pada diri Amien?” tiba-tiba rasa khawatir merayapi perasaannya.
                “Begini bu, menurut Andi, teman sekostnya Amin kabur dari tempat itu!” Duyeh menghela nafasnya “ Katanya Amien menjual jaket dan sepatu milik Bono, anak SMK yang kost disana juga.Terus celana jeans milik Ramli dan jam tangan milik Encep tentu saja mereka marah karena barang-barang itu sudah ada ditangan Akoy, Akoy itu anak yang suka mengedarkan dan menjual obat-obatan terlarang itu” Duyeh mengatur nafasnya Sementara dada Sarah berdebar-debar semakin kencang “Anak-anak dikostnya itu mengeroyok Amien sampai babak belur.Setelah itu Amien pergi bilang ke ibu kostnya sih mau pulang ke Bogor, tapi sampai sekarang dia belum pulang juga!” Duyeh menghempaskan nafasnya.Kening Sarah mengkerut.Dibayangkannya wajah manis milik Amien yang tengah babak belur seperti yang diceritakan Duyeh baru saja.Astaghfirullah….Ugh! Sarah merasakan nyeri didadanya dan merasa tidak kuat lagi membayangkan keadaan Amien yang memprihatinkan “Amien, semoga Allah mengampunimu!” pekik Sarah dalam hati.Ada sesal menggumpal didadanya karena apa yang sedang dipelajarinya belum usai.Tugasnya masih setengah berjalan.Tapi Amien sudah meninggalkannya…..****
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar