AMIEN
Oleh : Linda
Al-Husna
Cianjur, 21
Mei 2010
Namanya Amien.Anak lelaki
berusia 15 tahun.Kilitnya berwarna sawo matang.Tinggi kurus.Wajahnya cukup
manis dan pandai bergaul. Amien, siswa pindahan dari SMP Negeri di
Bogor.Menurut kabar Amien pindah kesekolah ini disebabkan kasus yang
menimpanya.Kasus yang menyebabkannya harus hengkang dari sekolah asalnya.Dan
SMP Kenang adalah pilihannya untuk menyelesaikan sisa kelas 3nya.Amien bukan
termasuk golongan orang kaya.Tapi pergaulannya menyebabkan gaya hidupnya
seperti orang kaya!
Kasus Amien ini menarik
perhatian Sarah.Guru bahasa Inggris yang masih muda dan menaruh perhatian
khusus pada kasus-kasus pergaulan anak muda saat ini. Sarah berniat mempelajari
latar belakang Amien dengan caranya sendiri.Pertama datang kesekolah ini, Amien
datang bersama orang tuanya.Didepan bapak kepala sekoah Amien tampak seperti
anak pendiam dan penurut.Sebelum pak kepala sekolah menerima Amien sebagai
salah satu siswanya di SMP Kenanga yang dipimpinnya.Terlebih dulu pak kepala
sekolah mewanti-wanti agar Amien bersedia mengikuti tata tertib
disekolahnya.Jika tidak, ia terancam dikeluarkan lagi dari sekolah ini.
Bagi Sarah ini tugas baru yang
menyenangkan, yang akan mengasah kemampuannya dalam hal membantu orang lain
dalam mengeluarkan yang terbaik dari dalam dirinya.Dengan mengandalkan
pengetahuan Psycologi yang pernah dipelajarinya dari buku-buku para ahli
Psicologi terkenal baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.Serta tentu
saja dengan memohon pertolongan Allah swt.
Sarah mulai membuka data-data
tentang Amien, latar belakang keluarganya dan kasus yang telah
menimpanya.Narkoba! Amien sudah terjerumus dalam pergaulan yang merugikan
dirinya sendiri.Bahkan lambat laun tingkah lakunya telah merugikan orang
lain.Menurut teman sekelasnya,Amien telah menjual beberapa celana jeansnya
bahkan milik temannya sendiri hanya untuk mendapatkan beberapa butir tablet
ectasy yang akan membawanya terbang kealam mimpi.Kemarahan teman-temannya
membuat Amien dikeroyok sampai babak belur.Mau tak mau ia harus angkat kaki
dari sekolahnya. Sebab teman-temannya mengancam, jika Amien masih bersekolah
disana keselamatannya tidak akan terjamin. Dan disekolah ini, dihadapan bapak
kepala sekolah Amien berjanji akan mengikuti tata tertib sekolah dan
melaksanakan kegiatan belajar sebagaimana seharusnya seperti siswa yang
lainnya.’Semoga janji itu tulus eluar dari hati, jika kamu benar-benar ingin
berubah’ batin Saran berharap.
“Bu, Amien tidur!” teriak Yudi
yang duduk dibangku paling belakan disamping Amien.Sarah sedang menerangkan
Present Continous Tense lansung berpaling ketempat duduk Amien.Yudi benar,
dilihatnya Amien sedang menelungkupkan kepalanya.Kedua tangannya menjadi alas
kepalanya.Sebetulnya Sarah tahu dari tadi Amien sedang tidur.Tapi ia berniat
menegurnya nanti setelah pelajaran usai.Teriakan Yudilah yang membuat ia harus
menegur Amien saat itu juga.
“Min, banguuuun! Teriak Duyeh,
sang ketua kelas diikuti suara yang lain. Yudi mengguncang-guncang tubuh
Amien.Amien mengangkat kepalanya, dikucek-kuceknya kedua matanya yang merah
“Ngantuk Bu!” suara Amien berat sekali “Huuuuu…!!!” sambut suara seisi kelas
“Kamu gadang lagi Min?” Tanya Sarah dengan lembut.Amien menganggukkan kepalanya
“Ibu kan sudah bilang, anak seusia kamu jangan terlalu banyak
bergadang.Akibatnya jadi seperti ini.Kamu jadi tidak konsentrasi belajar “
Sarah menegaskan suaranya.Amien mengedip-ngedipkan kedua matanya menahan rasa
kantuknya.”Sekarang kamu datang kesekolah mau apa?” lanjut Sarah “Mau
tidur,Bu!” jawab Amien acuh tak acuh “Huuu…kalau mau tidur mah tidak usah pakai
seragam dong jang!” sungut Nani siswi terpandai dikelas ini “Kalau mau tidur
dirumah saja!” timpal Iwan “Yee…sekarang kan ada pelajaran Bu Sarah!” Balas
Amien.Serentak anak-anak yang lain memonyongkan mulutnya.Sebel.”Ya sudah,Amien,
nanti ibu mau bicara sekarang kita lanjutkan pelajaran!” Sarah kembali
menerangkan.
“Coba sekarang ceritakan pada
ibu, apa yang sudah kamu lakukan tadi malam?” Tanya Sarah diruang kantor
sewaktu istirahat. “Eueu, anu bu, teman-teman kost saya tadi malam ngajak main
catur.Lagi pula waktu itu saya tidak bisa tidur bu!” Amien meremas-remas kedua
tangannya “Kenapa?” Tanya Sarah penasaran “Eueu itu bu, ingat terus kepada
ibu!” snyum tipis tersungging dari bibir tipisnya. Sarah mendongak kaget.Tidak
disangka Amien akan mengatakan kalimat seperti itu.
Beberapa minggu ini, setelah
kedatangan Amien.Sarah memang memberi perhatian khusus kepadanya.Tidak lain
untuk mengorek dan mempelajari latar belakang kasus yang menimpanya.Sarah
sering mengajak Amien ngobrol saat istirahat atau pulang sekolah sesekali
bercanda dengannya layaknya seorang teman.Amien memang pandai bergaul.Bahkan
terhadap gurunya sendiri pun Amien dapat menyesuaikan diri dan
menyenangkan.Sarah sangat menikmati pergaulannya dengan AmienSekaligus, sedikit
demi sedikit Sarah dapat memahami kenapa Amien dapat berlaku demikian.
“Bu, perhatian yang ibu berikan
kepada saya sungguh, sangat berarti bagi saya.Maukah ibu terus memberikannya
kepada saya?” pinta Amien,kedua matanya mulai berkaca “Sebetulnya saya sudah
ingin lepas dari obat-obat terlarang itu.Tapi setiap saya gelisah, saya tidak
dapat menahannya! Teman sekost saya memiliki beberapa butir.Saya minta
kepadanya dengan jaminan jam tangan saya.Habis mau bagaimana lagi, saya tidak
tahan,Bu…!” Tangis pilu pun membuncah.Sarah mendengarkan cerita Amien dengan
seksama ‘Duh, sakit rasanya hati ini, Ya Allah, apa yang harus saya lakukan?’
batin Sarah menggiris “Kamu suka sholat?” Sarah menatap wajah Amien dengan
lekat.Amien menggelengkan kepalanya.”Kalau begitu, cobalah kamu belajar
sholat.Mintalah pada Allah agar kamu diberi kekuatan untuk berhenti dari
obat-obat terlarang itu!” tutur Sarah member saran dengan hati-hati dan
berharap Amien dapat mengerti dan melakukan sarannya.Amien manggut-manggut
“Baik Bu…Bu, I love you!” Amien menatap wajah Sarah tak berkedip.Setelah
memanggutkan kepalanya Amien berlalu dari hadapannya.
Sudah hampir sebulan Amien tidak
kelihatan.Tidak hadir dikelas, ditempat kostnya pun tak ada.Duyeh sang ketua
kelas, mencari informasi tentang amien atas permintaan Sarah.Dengan siapa saja
selama ini Amien bergaul, dan apa yang sudah terjadi pada diri Amien hingga ia
menghilang begitu saja???
Sampai suatu hari,Duyeh dan Yudi
menghadap sarah diruang kantor pada waktu jam pertama akan dimulai.”Bu, kemarin
kami datang ketempat kostnya Amien dan menanyakan perihal Amien kepada ibu
kostnya.Katanya Amien pulang kerumah orang tuanya di Bogor.Sampai sekarang
belum pulang juga!” Duyeh berhenti sejenakKemudian mengambil nafas dalam-dalam
‘Yud, kamu saja yang cerita!” serunya kemudian.Yudi menggelengkan kepalanya
“Kamu saja!” jawab Yudi “Ada apa?” Sarah semakin penasaran “Apa yang terjadi
pada diri Amien?” tiba-tiba rasa khawatir merayapi perasaannya.
“Begini bu, menurut Andi, teman
sekostnya Amin kabur dari tempat itu!” Duyeh menghela nafasnya “ Katanya Amien
menjual jaket dan sepatu milik Bono, anak SMK yang kost disana juga.Terus
celana jeans milik Ramli dan jam tangan milik Encep tentu saja mereka marah
karena barang-barang itu sudah ada ditangan Akoy, Akoy itu anak yang suka
mengedarkan dan menjual obat-obatan terlarang itu” Duyeh mengatur nafasnya
Sementara dada Sarah berdebar-debar semakin kencang “Anak-anak dikostnya itu
mengeroyok Amien sampai babak belur.Setelah itu Amien pergi bilang ke ibu
kostnya sih mau pulang ke Bogor, tapi sampai sekarang dia belum pulang juga!”
Duyeh menghempaskan nafasnya.Kening Sarah mengkerut.Dibayangkannya wajah manis
milik Amien yang tengah babak belur seperti yang diceritakan Duyeh baru
saja.Astaghfirullah….Ugh! Sarah merasakan nyeri didadanya dan merasa tidak kuat
lagi membayangkan keadaan Amien yang memprihatinkan “Amien, semoga Allah
mengampunimu!” pekik Sarah dalam hati.Ada sesal menggumpal didadanya karena apa
yang sedang dipelajarinya belum usai.Tugasnya masih setengah berjalan.Tapi
Amien sudah meninggalkannya…..****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar