Rabu, 20 November 2013

Cerpen 1 Linda Novlinda 2010



REMAJA BINGUNG
Oleh: Linda Al-Husna
Cianjur 13 Juni 2010

                Hal yang paling aku suka melakukannya setiap sore adalah duduk ditepi lapang sambil mengamati  pemandangan sekitar atau membaca buku.Kegiatan ini sudah sering kulakukan yang akhirnya menjadi kebiasaan.Jika dalam seminggu aku tidak duduk ditepi lapang  didekat rumahku, aku merasa ada sesuatu yang hilang.Ya, kegiatan ini telah berubah menjadi kebutuhan.Setiap sore setiap anak keluar rumah dan bermain bersama dilapang.Bermacam-macam permainan dilakukan.Sampai lapang yang seluas ini mendadak menjadi terasa sempit!
                Seperti sore ini, aku duduk ditepi lapang, disampingku pohon setengah badan berdiri menopang badanku.Seperti biasa pula, kali ini aku membaca buku kesukaanku, yang baru kupinjam dari perpustakaan daerah ditempatku.Kunikmati suasana sore yang semarak, bersama anak-anak semua umur, dan cuaca yang mendukung.Sesekali terdengar teriakan beberapa anak-anak lelaki, atau suara ketawa ketiwi dari anak perempuan.Semua mengalun begitu saja.Anehnya suara-suara itu sama sekali tidak mengganggu kegiatan membacaku.Aku larut dalam cerita yang sedang kunikmati.
                Sedang asyik membaca, seorang anak lelaki remaja duduk disampingku.Keringat mengucur dari wajah dan sekujur tubuhnya.Ia nampak lelah sekali.Sambil kedua tangannya menyapu kedua siku tangannya.Aku melihatnya sebentar.Anak itu dari kampung sebelah.Ia sering sekali bemain bola ditanah lapang ini setiap sore.Bahkan kalau mungkin sudah jadi pemain inti dalam grupnya.Sesekali ia meneriaki temannya yang masih main di tengah lapang.Teriakannya keras dan kencang.Telingaku hampir pecah.Sekali lagi aku melihat kepadanya.”Kenapa berhenti main bolanya?” tanyaku, seolah tak tertanggu oleh teriakannya.”Gantian teh!” katanya.Rupanya ia sedang kebagian ganti pemain.Aku mengangguk.Mau kubaca lagi buku yang kupegang ini, rasanya terlanjur malas.Aku jadi ikut memperhatikan permainan bola, yang kali ini diisi oleh anak-anak kampung sebelah.
                Permainan berlangsung seru sekali.Aku turut meneriaki para pemain bola yang lincah dan semangat.Anak disebelahku pun demikian.Sampai beberapa saat tak ada suara,khusuk dengan permainan didepan kami.Sesekali anak itu mengepalkan tinjunya dan mengutuk dirinya sendiri.Aku terharu melihat kesungguhannya menikmati pertandingan sore ini.Semangat perjuangannya yang tak seperti aku ketika seusianya.Semangat untuk memenangkan pertandingan,semangat untuk maju kedepan dan bertarung.Terlintas dalam hati kekagumanku kepadanya.Kekaguman seorang yang lebih tua kepada yang lebih muda.Aku ingin bertanya sesuatu tapi kekhusukanya mengurungku melakukannya.” Ayo, bud, hajar terus!!!! “ teriaknya sekali lagi.Semangatnya tak lentur oleh kelelahan para pemain yang dijagokannya.” Lempar kekiri terus…terus..terus!!!! “ Anak itu berdiri memberi semangat.Aku melihat kearah wajahnya dengan mengangkat kepala.Anak ini, tipe remaja yang menggairahkan dalam hidupnya.Anak yang tak pernah merasa bosan dengan waktu yang dimilikinya.Diusianya yang masih belia ini, seharusnya ada orang yang membantu membimbingnya menemukan diri dan kemampuannya.Aku tidak meragukan perhatiannya kepada bidang ini, sepak bola! Begitu sangat antusias dan punya potensi untuk menjadi seorang pemain professional.Tapi aku tidak tahu nasibnya akan seperti apa, jika potensi ini tidak dikelola dengan baik secara proporsional.
                Anak itu duduk kembali, tinggi kami jadi sejajar.” Berapa usiamu dik?” tanyaku setelah kesempatan itu kudapatkan.”19 tahun teh !” jawabnya.”Baru lulus sekolah ya?” tanyaku kemudian.Anak itu menoleh padaku dan mengangguk.”Dilanjutkan?” aku menatap wajahnya.Ia mengeleng.”Kerja?” sekali lagi ia menggelengkan kepalanya.”Lalu?” tanyaku semakin penasaran.” Mungkin nganggur!!!” jawabnya datar.Aku menganggukkan kepalaku.Mengerti kemana arah kalimatnya.Kampung disebelahku memang bukan komplek elit atau komplek pemikir.Mereka penduduk dengan pendapatan standard.Yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer saja.”Kamu suka sepak bola ya?” tanyaku “ wah, kalau itu sih jangan ditanya lagi teh!!!!” katanya sumringah.”Berapa kali latihan dalam seminggu?” “ Dua kali teh, hari jumat dan minggu!” jawabnya lagi.” Ada minat sekolah sepak bola?” tanyaku ingin tahu “Kalau ada yang membiayai sih saya mau teh!” jawabnya singkat dan polos.” Katanya kalau sekolah sepak bola harus punya pengetahuan keterampilan dasar tentang sepak bola ya?” kucoba berspekulasi dengan dunia persepak bolaan         “ Katanya sih begitu, makanya kami sering main bola dan mengikuti setiap pertandingan tiap tahun di Kabupaten.Itu salah satu cara kami untuk menunjukkan bahwa kami ada!!!” kali ini dia yang menjelaskan.”Begitu ya? Kalau gitu kamu tidak nganggur dong…maksudku kamu punya sesuatu untuk dikerjakan? Menjadi pemain sepak bola misalnya?” tanyaku.Anak itu tersenyum sedikit barangkali mau mengakui begitulah adanya.Selepas keluar dari sekolah menengah atas ia dan teman-temannya melakukan latihan-latihan.Meskipun tidak formal.Ya,seperti sore ini disini,dilapang yang tak pernah sepi ini.
                Adzan maghrib berkumandang, aku harus meninggalkan tanah lapang yang menyenangkan.Senang sekali, sore ini aku mendapatkan sedikit informasi tentang dunia sepak bola.Ternyata anak-anak kampung sebelah cukup kreatif, dengan latihan yang dilakukan secara terus menerus tanpa berpikir apakah mereka dibayar atau tidak.Pembelajaran mereka tetap berlangsung. Ya, walau pada akhirnya mereka harus memikirkan dari mana mereka mendapatkan makan? Atau keahlian apa yang harus mereka dapatkan selain sepak bola?
                Usai sholat maghrib, kurenungkan kembali perkataan anak lelaki yang kutemui dilapang tadi.Diusianya yang belia, dia tahu harus berbuat apa? Walau pun awalnya hanya sebagai kesenangan.Lalu beberapa pertandingan diikutinya.Semangat bermain bola semakin terlihat dan dikondisikan menjadi sebuah profesi yang menyenangkan dan berpeluang.Apa pun bisa dilakukan.Jadi, tidak ada alasan untuk menganggur.Dibayar atau tidak pekerjaan itu sangat banyak.Dari yang terkecil sampai yang terbesar.Dari yang bersifat pribadi sampai bersifat umum.Apa pun bisa dilakukan jika ada kemauan yang kuat.’Benar juga apa yang dikatakan anak lelaki itu.Dia tidak ada minat melanjutkan sekolahnya dengan alasan keuangan atau tak ada perhatian.Yang disukainya hanya bermain sepak bola dimana-mana.Perlahan-lahan timnya mendapat undangan persahabatan dilain tempat, itu artinya, ia sudah menjadi bagian dari tim dan terbawa oleh timnya kedunia sepak bola yang disukainya.Jadi, apa yang harus dipusingkan dengan masa depan yang sudah dimulai sedini mungkin? Harus merisaukan apa?’
Ya, itu masalahku diusiaku 19 tahun.Usai lepas dari sekolah menengah aku tidak tahu harus berbuat apa.Bahkan profesi yang ingin kugeluti saja aku tak tahu.Jujur saja aku kalah memulai dari anak itu.Kalah menempatkan diri pada porsi seharusnya.Kupikir, tamat dari sekolah ini aku bisa bekerja tapi rupanya kenyataannya tidak demikian.Entah pola pikirku yang keliru entah apa yang dipelajari berbeda dengan kenyataannya.Ijazahku hanya kusimpan saja sebagai kenangan.Sampai akhirnya baru kuketahui apa yang ingin kulakukan dan kenyamananku melakukan sebuah profesi.Menulis juga sebuah profesi,jadi seperti anak itu aku mulai menerjuni profesi ini dengan sunguh-sungguh.Hanya bedanya, aku baru memulai sementara anak itu jauh sebelum mengenal bahwa sepak bola juga bisa menjadi sebuah profesi yang berpeluang.Makanya, diusia yang belia nampak sekali penguasaan diri dan aturan permainannya.Hal itulah yang kukagumi darinya.Dari pembawaan dirinya memimpin pasukannya.Pasukan sepak bola yang awalnya tak beruang.
Esoknya, habis mandi sore aku duduk lagi ditanah lapang.Kuharap anak yang kemarin berbicara denganku datang lagi.Dan bisa bicara lebih dalam tentang sepak bola dan angan-angannya,tepatnya prospeknya.Kugenggam buku yang kemarin belum selesai kubaca.Pukul 16.00 wib,lapang masih sepi, biasanya orang-orang mulai berdatangan.Kali ini tidak! Hanya beberapa anak kecil bermain sepeda mengelilingi lapang. ‘Barangkali belum datang, biar kutunggu saja!’ batinku berharap sambil melihat kesekitar lapang yang masih luas.
Lima halaman buku sudah kubaca namun orang-orang atau anak-anak remaja itu belum juga bertambah.Yang bermain masih anak-anak disekitar rumahku.Sementara orang yang kuharapkan belum nampak.’Kemana mereka? Apa hari ini tidak latihan main bola?’ hatiku sedikit gusar.Khawatir anak-anak dari kampung sebelah itu benar-benar tidak datang,artinya aku tidak akan bertemu dengan anak lelaki itu.Anak yang menyenangkan!
Pukul 17.00 wib, seorang anak lelaki tanggung masuk ketanah lapang,ia menerbangkan layang-layang ditengah-tengah lapang.Sampai layangan itu melayang diudara dengan keseimbangan yang mapan.Dengan rasa penasaran yang tinggi,kuhampiri anak lelaki tanggung itu.Yang sedang asik memperhatikan layangannya.”Hai dik, kamu tahu tidak anak-anak kampung sebelah koq tidak main bola lagi disini ya?” tanyaku yang kemudian ikut memperhatikan keseimbangan layangannya.” Ya tahu teh, mereka sekarang sedang bertanding di kecamatan memperebutkan piala bupati.Melawan para pemain bola dari kecamatan lainnya.Doakan mereka ya teh, semoga dapat piala bergilir!!!” katanya seraya tangannya tak lepas memegang tali yang tersambung ke layangannya.Ehmmm, aku memanggut “Terimakasih ya dik!” kutinggalkan anak lelaki tanggung itu.Aku kembali ketempat asalku menghabiskan beberapa halaman yang tersisa.
Sambil membaca, pikiranku melayang ke rombongan pasukan anak-anak kampung sebelah.Dengan semangatnya yang membara, sedang mempertontonkan dirinya di arena pertandingan.Itu yang terpenting dalam sebuah pencarian jati diri.’Memperlihatkan kemampuan diri didepan umum,kemudian orang lain menilai apakah seseorang itu termasuk orang yang berbakat atau tidak!’ Aku mengagumi usaha mereka, tanpa rasa yang berlebihan mereka terus bermain,bermain dan bermain.
                                                                **********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar