SARAN DARI SANG ISTRI
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 10 Juni 2010
Supri
memang orang yang sibuk, setiap hari pergi ketempat kerja, pulangnya
menjelang magrib.Selalu begitu setiap hari yang dijalaninya.Semua urusan
rumah tangganya diserahkan penuh kepada istrinya, yang hanya semata
wayang! Rumah tangganya baru berusia 10 tahun.Dikaruniai 2 anak, satu
lelaki berusia 9 tahun, satu lagi perempuan berusia 7 tahun. Ibam dan
imas kedua anaknya yang disayanginya. Karena itulah, Supri berani
banting tulang untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup istri
dan kedua anaknya! Semua dijalananinya dengan bahagia tanpa kekurangan
suatu apa pun.Jika terjadi sedikit persoalan dalam rumah tangganya,
Supri selalu dapat mengatasinya dengan baik.Sehingga roda rumah tangga
berjalan segaimana seharusnya!
Tapi sudah seminggu ini, istrinya,
Mimin, sedang sakit.Demam tinggi menyerang tubuhnya yang kian hari kian
melemah.Otomatis, kegiatan dirumah tangganya mengalami sedikit hambatan!
Supri dengan sisa tenaga yang ada berusaha mengatasinya.Pekerjaan yang
biasa dilakukan oleh istrinya.Untunglah kedua anaknya sudah dapat
diarahkan, hingga Supri tidak terlalu sulit untuk mengurusnya.Kecuali
pekerjaan didapur, diruang makan dan ruang tengah! Kali ini Supri harus
bangun lebih awal, usai sholat subuh ia langsung turun kedapur, memasak
air nasi dan lauknya.Melayani istri dan anaknya, setelah itu baru ia
mandi dan pergi kekantor, tempatnya mendulang rupiah!
Hari pertama
Supri masih terlihat segar, setelah seminggu istrinya berbaring
lemah.Perlahan kekuatannya memudar! Wajahnya jadi terlihat
memucat.Kelelahan tersirat dari konsentrasinya yang mulai tak menaruh
perhatian penuh pada pekerjaannya.Sampai bossnya menegurnya,karena ada
beberapa laporan yang tidak pada tempatnya! Walhasil, Supri mengulang
kembali laporan yang sudah dibuatnya dengan susah payah.Sebelum akhirnya
diberikan lagi pada bossnya!
“ Kenapa Pak Supri?” Tanya Kawan
disebelahnya.Supri melirik, baru menyadari bahwa Anto, rekan kerjanya
sedang memperhatikannya.Supri menggelengkan kepalanya,”Mungkin
kecapek-an!” desah Supri pandangannya masih menatap layar computer.”
Capek kenapa, kita kan biasa kerja begini?” Anton mendesak, seolah tidak
mau dikatakan tidak peduli! “Istri saya sakit, saya harus mengerjakan
semua pekerjaan rumah tangga, dua anak saya, dan belum lagi, barusan si
boss menegur saya! Katanya ada beberapa laporan yang tidak sesuai dengan
catatannya…Huh!!!! “ Supri menghempaskan nafasnya.Jari-jarinya masih
memainkan tuts-tuts di atas keyboard.Anton mendegus,
manggut-manggut.”Oya, Istri Pak Supri sakit apa?” Tanya Anton lagi yang
usianya lebih muda dari usianya.”Sakit demam..tapi sampai sekarang suhu
tubuhnya belum turun juga,malah semakin naik! Rencananya hari ini mau
dibawa kerumah sakit!”jawab Supri.”Iya dong, takut terjadi apa-apa?
Memangnya Pak Supri harus mengerjakan apa oleh si boss? Biar saya yang
mengerjakan!” Anton menawarkan bantuannya.Berarti ia sedang tidak
terlalu sibuk,begitu pikir Supri “ Benar ton, kamu mau menolong saya?”
Supri memalingkan wajahnya kearah anton.Anton mengangguk pasti.Supri
menyerahkan urusan pekerjaannya kepada Anton.Dengan sigap Anton
menerimanya.
Pukul 12 siang, waktu jam makan siang,Supri minta
izin pulang.Dengan uang dikantong untuk membayar rumah sakit, Supri
segera membawa istrinya kerumah sakit.Kedua anaknya disuruh menunggu
dirumah saja.Sampai dirumah sakit,istrinya terbaring tak berdaya. Supri
sangat tidak tega melihat kelelahan diwajah istri yang sangat
dicintainya.Ia berusaha meyakinkan istrinya, bahwa istirnya akan segera
sembuh! Tak ada jawaban, kecuali suara-suara tak jelas menahan rasa
sakit,akibat demam yang terlalu tinggi.Katanya dokter akan datang pukul
19.00 nanti malam.Sementara itu Supri membereskan semua kebutuhan
istrinya selama dirumah sakit.
Pukul 19.00 malam, dokter datang
dengan membawa berkas-berkas pasen yang diperiksanya.Dibelakangnya
beberapa perawat mengikutinya.Sekarang giliran istri Supri yang
diperiksa, dengan lembut dokter memeriksa tubuh istrinya.Tak lama
kemudian, dokter mencatat sesuatu dalam kertas yang sedang
dipegangnya.”Bapak, suaminya?” Tanya dokter kepada Supri.”Benar,pak!”
jawab supri tandas.”Penyakit istri bapak adalah dehidrasi atau
kekurangan cairan.Rupanya istri bapak, kurang minum!” kata dokter
menjelaskan.Supri mendengarkan dengan seksama,kemudian menerima secarik
kertas yang disodorkan dokter padanya.Kemudian dokter itu beranjak ke
pasen yang lain disebelahnya.Supri melipat kertas yang tertera beberapa
obat yang harus dibelinya diapotek terdekat dirumah sakit saat ini juga.
Supri
menunggu istrinya siuman, sampai akhirnya,kedua mata istrinya terbuka
dan saatnya Supri minta izin keluar.” Mi, abi beli dulu obat ya,
sekalian pulang dulu…anak-anak belum dikasih uang jajan untuk besok! “
Kata Supri sambil menggenggam tangan kanan istrinya.Mimin, mengangguk
lemah.”Cepat kembali ya,Bi!” pintanya.
Supri mengangguk, dan
langsung berangkat menuju rumahnya.Ke apotek biar nanti saja sepulang
dari rumahnya,pikirnya.Rasa rindu kepada kedua anaknya sudah tak
tertahankan.Dalam keadaan seperti ini, kenapa ia merasa menyesal, telah
lama-lama berada jauh dari anak dan istrinya.Maunya setiap waktu selalu
bersama,tapi kalau keadaannya begitu, kita mau makan apa? Bahwa kita
harus bisa makan dan memenuhi kebutuhan hidup itu sudah pasti.Karena
itu,ia bekerja dari pagi sampai sore.Tak ada masalah, masih bisa bertemu
istri dan kedua anaknya setiap usai sholat maghrib dan bercengkrama
sekedarnya.Sampai anak-anaknya tertidur.Tapi malam ini, ia tidak bisa
menemani mereka, istrinya lebih penting.Lagi pula anak tertuanya,ibam,
sudah dapat diandalkan,menjaga adiknya sendiri.
Tiba dirumah,
Supri menyerahkan tanggung jawab rumahnya kepada Ibam,walaupun untuk
sementara.Besok, Ibam harus mengajak adiknya pergi kesekolah seperti
biasanya.Bahwa malam ini, mereka tidak akan ditemani kedua orang tuanya.
Ibam dan Imas mengerti apa yang dikatakan Supri,barangkali karena
setiap hari uminya selalu memberi nasehat kepada keduanya usai sholat
maghrib.Terlintas rasa bangga kepada kedua anaknya, yang begitu mudah
diberi pengertian dalam keadaan darurat. Setelah selesai urusan dengan
kedua anaknya, Supri berangkat lagi kerumah sakit.
Sebelum sampai
diruang istrinya menginap, Supri mampir dulu di sebuah apotek, membeli
beberapa botol infus dan beberpa jenis obat.Selesai membayar, ia
langsung menuju tempat pembaringan istrinya.Ditemuinya,Mimin,istrinya
sedang tidur.Supri tidak berani membangunkannya.Ia menyimpan
barang-barang yang dibelinya.Kemudian duduk mengahadap tubuh
istrinya.Ditatapnya wajah istrinya lekat-lekat, dengus nafas dan denyut
jantungnya.Supri sediit menahan nafasnya, betapa lelahnya wanita yang
ada didepannya.Yang terbujur tak berdaya.Dipikirnya kegiatan
sehari-harinya, antara kegiatanya dan kegiatan istrinya.Siapa yang lebih
capek? Bukankah kita sudah melakukan seperti yang seharusnya? Dan kita
merasa tidak ada masalah karenanya.Tapi sekarang Istrinya nampak lelah,
lelah yang tak pernah diceritakannya pada suaminya sendiri.Supri
mengingat kembali setiap kepulanganya dari kantor, ia selalu minta pada
istrinya untuk tidak membicarakan yang aneh-aneh, sebab ia harus
mempersiapkan tenaga dan konsentrasi untuk kerja besok.Selalu ia bilang
begitu setiap istrinya mulai mengeluh.Supri selalu berhasil,
menghiburnya dan menganggap bahwa itu bukan masalah.Bahwa istrinya harus
kuat menjalankan roda rumah tangga bersamanya.Tapi rupanya, dalam batas
tertentu, kekuatannya ambruk juga.Dan ia harus mengakui kelelahan
istrinya melayani suami dan kedua putranya.Sampai ia terbaring disini,
disebuah rumah sakit yang tidak disukainya.Supri menundukkan
kepalanya.Berusaha memahami setiap perkataan istrinya disetiap pertemuan
“Bi, bagaimana kalau kita gunakan jasa pembantu?” ucap istrinya.Namun
demi penghematan dan lain sebagainya, Supri menolak dengan anggun.Dan
masalah itu tak pernah tertuntaskan dengan baik.Sampai saat ini, sampai
istrinya benar-benar lemah!
Mimin, membukakan kedua matanya, ia
melihat Supri, suaminya sedang terpekur.Melihat kelelahan diwajah
suaminya,yang sudah seminggu ini mengerjakan tugas ganda.Dikantor dan
dirumahnya.Ada rasa bersalah melintas dihatinya.Ketidak mampuannya
melayani suami saat ini, dalam keadaan seperti ini.Mimin mengusap kepala
Supri, beberapa lama disentuhnya dengan penuh kasih sayang.Mungkinkan
ada jalan keluar untuk kebuntuan rumah tangga ini.Mimin, merasa sudah
lelah,bukan hanya melayani suaminya, tapi juga anak-anaknya yang semakin
hari semakin membesar yang selalu minta ditemani belajar.Ia pun harus
ikut belajar. Sementara suaminya, pulang dalam keadaan capek, dan mita
dilayani.Terlalu banyak tuntuan baginya diposisinya sebagai ibu rumah
tangga.Sementara kekekuatan untuk melayaninya sangat terbatas.’Adakah
jalan keluarnya, Bi?’ bisik hatinya,Mimin tidak berani membangunkan
suaminya.Tapi gerakan jemarinya membuat suaminya terbangun.”Umi, sudah
bangun?” Tanya Supri seketika, dilihatnya jam tangannya.Waktu masih
pukul 10 malam.Mimin tersenyum jemarinya masih mengusap-usap kepala
Supri.”Umi, capek yah?” Tanya Supri,Mimin hanya mengangguk saja.” Bi,
ada tidak jalan keluar, supaya rumah tangga kita tetap berjalan
seimbang? “ tiba-tiba Mimin melontarkan sebuah pertanyaan yang
membuatnya terkejut.”Jalan keluar apa?” Tanya Supri belum mengerti
maksud pertanyaan istrinya.”Aku mau berbagi Abi dengan perempuan lain!”
desis Mimin lemah tapi terdengar sangat tegas ditelinga Supri.”Apa? Apa
maksud Umi?” Tanya Supri seperti disambar petir. “Aku mau berbagi Abi
dengan perempuan lain yang halal dalam pandangan agama!” kata
Mimin,matanya menerawang keatas.Melihat langit-langit atap rumah sakit
yang menyesakkan perasaan Supri.
Tak ada jawaban dari Supri,
suasana hening sesaat.”Jangan pikirkan itu dulu, yang penting umi sembuh
dulu!” akhirnya Supri bersuara.”Itu masalahku Bi, Abi tak pernah mau
mendengarnya!” kata Mimin sambil menyimpan tangannya diatas
perutnya.”Belum terpikirkan!” kata Supri dengan ketus.Mimin melihat
wajah suaminya, yang sudah tidak asing lagi baginya.Caranya
mengungkapkan kebahagiaan,kemarahan,kekecewaan dan hasrat
tersembunyi.Saat ini, ia melihatnya diwajah Supri,mengharapkan seseorang
melayaninya dengan sempurna setiap kepulanganya dari kantor.Dan Mimin
sangat menyadari, hal itu tidak akan didapatkan darinya, yang sudah
merasa puas sudah melayani suaminya,selama 10 tahun ini.” Aku tidak
apa-apa koq, aku hanya minta waktu jeda saja! Abi tak perlu berpikir
macam-macam, aku ikhlas koq.Aku hanya capek saja! Katanya tubuh juga
butuh istirahat?? “ Kata Mimin, sambil tersenyum.Supri melihatnya
sebagai senyum yang getir.Tapi ini kenyataan yang harus dihadapi rumah
tangganya bersama Mimin diusia rumah tangganya yang ke 10 tahun..Mimin
capek,itu kenyataan! Bahwa Ia juga ingin dilayani,itu juga kenyataan!
Lalu Mimin, istri tercintanya memberi saran yang tidak pernah terlintas
dalam bayanganya.Supri tipe lelaki setia pada pasangan.Semua orang tahu
dan menghormati itu.Lantas sekarang, apakah Supri harus mengikuti saran
dari sang istri? Itulah kegalauan yang selama ini, tidak dianggapnya
sesuatu yang penting.Ia lebih suka bekerja dari pada memikirkan hal-hal
demikian.Rupanya Tuhan memberi batas pada kesediaan makhlukNya untuk
melakukan kebaikan.Setiap batas merupakan ujian iman bagi para
pemiliknya.
**********

Tidak ada komentar:
Posting Komentar