Minggu, 03 November 2013

Cerpen 1 Linda Novlinda 2010

 

SARAN DARI SANG ISTRI
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 10 Juni 2010

Supri memang orang yang sibuk, setiap hari pergi ketempat kerja, pulangnya menjelang magrib.Selalu begitu setiap hari yang dijalaninya.Semua urusan rumah tangganya diserahkan penuh kepada istrinya, yang hanya semata wayang! Rumah tangganya baru berusia 10 tahun.Dikaruniai 2 anak, satu lelaki berusia 9 tahun, satu lagi perempuan berusia 7 tahun. Ibam dan imas kedua anaknya yang disayanginya. Karena itulah, Supri berani banting tulang untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup istri dan kedua anaknya! Semua dijalananinya dengan bahagia tanpa kekurangan suatu apa pun.Jika terjadi sedikit persoalan dalam rumah tangganya, Supri selalu dapat mengatasinya dengan baik.Sehingga roda rumah tangga berjalan segaimana seharusnya!
Tapi sudah seminggu ini, istrinya, Mimin, sedang sakit.Demam tinggi menyerang tubuhnya yang kian hari kian melemah.Otomatis, kegiatan dirumah tangganya mengalami sedikit hambatan! Supri dengan sisa tenaga yang ada berusaha mengatasinya.Pekerjaan yang biasa dilakukan oleh istrinya.Untunglah kedua anaknya sudah dapat diarahkan, hingga Supri tidak terlalu sulit untuk mengurusnya.Kecuali pekerjaan didapur, diruang makan dan ruang tengah! Kali ini Supri harus bangun lebih awal, usai sholat subuh ia langsung turun kedapur, memasak air nasi dan lauknya.Melayani istri dan anaknya, setelah itu baru ia mandi dan pergi kekantor, tempatnya mendulang rupiah!
Hari pertama Supri masih terlihat segar, setelah seminggu istrinya berbaring lemah.Perlahan kekuatannya memudar! Wajahnya jadi terlihat memucat.Kelelahan tersirat dari konsentrasinya yang mulai tak menaruh perhatian penuh pada pekerjaannya.Sampai bossnya menegurnya,karena ada beberapa laporan yang tidak pada tempatnya! Walhasil, Supri mengulang kembali laporan yang sudah dibuatnya dengan susah payah.Sebelum akhirnya diberikan lagi pada bossnya!
“ Kenapa Pak Supri?” Tanya Kawan disebelahnya.Supri melirik, baru menyadari bahwa Anto, rekan kerjanya sedang memperhatikannya.Supri menggelengkan kepalanya,”Mungkin kecapek-an!” desah Supri pandangannya masih menatap layar computer.” Capek kenapa, kita kan biasa kerja begini?” Anton mendesak, seolah tidak mau dikatakan tidak peduli! “Istri saya sakit, saya harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, dua anak saya, dan belum lagi, barusan si boss menegur saya! Katanya ada beberapa laporan yang tidak sesuai dengan catatannya…Huh!!!! “ Supri menghempaskan nafasnya.Jari-jarinya masih memainkan tuts-tuts di atas keyboard.Anton mendegus, manggut-manggut.”Oya, Istri Pak Supri sakit apa?” Tanya Anton lagi yang usianya lebih muda dari usianya.”Sakit demam..tapi sampai sekarang suhu tubuhnya belum turun juga,malah semakin naik! Rencananya hari ini mau dibawa kerumah sakit!”jawab Supri.”Iya dong, takut terjadi apa-apa? Memangnya Pak Supri harus mengerjakan apa oleh si boss? Biar saya yang mengerjakan!” Anton menawarkan bantuannya.Berarti ia sedang tidak terlalu sibuk,begitu pikir Supri “ Benar ton, kamu mau menolong saya?” Supri memalingkan wajahnya kearah anton.Anton mengangguk pasti.Supri menyerahkan urusan pekerjaannya kepada Anton.Dengan sigap Anton menerimanya.
Pukul 12 siang, waktu jam makan siang,Supri minta izin pulang.Dengan uang dikantong untuk membayar rumah sakit, Supri segera membawa istrinya kerumah sakit.Kedua anaknya disuruh menunggu dirumah saja.Sampai dirumah sakit,istrinya terbaring tak berdaya. Supri sangat tidak tega melihat kelelahan diwajah istri yang sangat dicintainya.Ia berusaha meyakinkan istrinya, bahwa istirnya akan segera sembuh! Tak ada jawaban, kecuali suara-suara tak jelas menahan rasa sakit,akibat demam yang terlalu tinggi.Katanya dokter akan datang pukul 19.00 nanti malam.Sementara itu Supri membereskan semua kebutuhan istrinya selama dirumah sakit.
Pukul 19.00 malam, dokter datang dengan membawa berkas-berkas pasen yang diperiksanya.Dibelakangnya beberapa perawat mengikutinya.Sekarang giliran istri Supri yang diperiksa, dengan lembut dokter memeriksa tubuh istrinya.Tak lama kemudian, dokter mencatat sesuatu dalam kertas yang sedang dipegangnya.”Bapak, suaminya?” Tanya dokter kepada Supri.”Benar,pak!” jawab supri tandas.”Penyakit istri bapak adalah dehidrasi atau kekurangan cairan.Rupanya istri bapak, kurang minum!” kata dokter menjelaskan.Supri mendengarkan dengan seksama,kemudian menerima secarik kertas yang disodorkan dokter padanya.Kemudian dokter itu beranjak ke pasen yang lain disebelahnya.Supri melipat kertas yang tertera beberapa obat yang harus dibelinya diapotek terdekat dirumah sakit saat ini juga.
Supri menunggu istrinya siuman, sampai akhirnya,kedua mata istrinya terbuka dan saatnya Supri minta izin keluar.” Mi, abi beli dulu obat ya, sekalian pulang dulu…anak-anak belum dikasih uang jajan untuk besok! “ Kata Supri sambil menggenggam tangan kanan istrinya.Mimin, mengangguk lemah.”Cepat kembali ya,Bi!” pintanya.
Supri mengangguk, dan langsung berangkat menuju rumahnya.Ke apotek biar nanti saja sepulang dari rumahnya,pikirnya.Rasa rindu kepada kedua anaknya sudah tak tertahankan.Dalam keadaan seperti ini, kenapa ia merasa menyesal, telah lama-lama berada jauh dari anak dan istrinya.Maunya setiap waktu selalu bersama,tapi kalau keadaannya begitu, kita mau makan apa? Bahwa kita harus bisa makan dan memenuhi kebutuhan hidup itu sudah pasti.Karena itu,ia bekerja dari pagi sampai sore.Tak ada masalah, masih bisa bertemu istri dan kedua anaknya setiap usai sholat maghrib dan bercengkrama sekedarnya.Sampai anak-anaknya tertidur.Tapi malam ini, ia tidak bisa menemani mereka, istrinya lebih penting.Lagi pula anak tertuanya,ibam, sudah dapat diandalkan,menjaga adiknya sendiri.
Tiba dirumah, Supri menyerahkan tanggung jawab rumahnya kepada Ibam,walaupun untuk sementara.Besok, Ibam harus mengajak adiknya pergi kesekolah seperti biasanya.Bahwa malam ini, mereka tidak akan ditemani kedua orang tuanya. Ibam dan Imas mengerti apa yang dikatakan Supri,barangkali karena setiap hari uminya selalu memberi nasehat kepada keduanya usai sholat maghrib.Terlintas rasa bangga kepada kedua anaknya, yang begitu mudah diberi pengertian dalam keadaan darurat. Setelah selesai urusan dengan kedua anaknya, Supri berangkat lagi kerumah sakit.
Sebelum sampai diruang istrinya menginap, Supri mampir dulu di sebuah apotek, membeli beberapa botol infus dan beberpa jenis obat.Selesai membayar, ia langsung menuju tempat pembaringan istrinya.Ditemuinya,Mimin,istrinya sedang tidur.Supri tidak berani membangunkannya.Ia menyimpan barang-barang yang dibelinya.Kemudian duduk mengahadap tubuh istrinya.Ditatapnya wajah istrinya lekat-lekat, dengus nafas dan denyut jantungnya.Supri sediit menahan nafasnya, betapa lelahnya wanita yang ada didepannya.Yang terbujur tak berdaya.Dipikirnya kegiatan sehari-harinya, antara kegiatanya dan kegiatan istrinya.Siapa yang lebih capek? Bukankah kita sudah melakukan seperti yang seharusnya? Dan kita merasa tidak ada masalah karenanya.Tapi sekarang Istrinya nampak lelah, lelah yang tak pernah diceritakannya pada suaminya sendiri.Supri mengingat kembali setiap kepulanganya dari kantor, ia selalu minta pada istrinya untuk tidak membicarakan yang aneh-aneh, sebab ia harus mempersiapkan tenaga dan konsentrasi untuk kerja besok.Selalu ia bilang begitu setiap istrinya mulai mengeluh.Supri selalu berhasil, menghiburnya dan menganggap bahwa itu bukan masalah.Bahwa istrinya harus kuat menjalankan roda rumah tangga bersamanya.Tapi rupanya, dalam batas tertentu, kekuatannya ambruk juga.Dan ia harus mengakui kelelahan istrinya melayani suami dan kedua putranya.Sampai ia terbaring disini, disebuah rumah sakit yang tidak disukainya.Supri menundukkan kepalanya.Berusaha memahami setiap perkataan istrinya disetiap pertemuan “Bi, bagaimana kalau kita gunakan jasa pembantu?” ucap istrinya.Namun demi penghematan dan lain sebagainya, Supri menolak dengan anggun.Dan masalah itu tak pernah tertuntaskan dengan baik.Sampai saat ini, sampai istrinya benar-benar lemah!
Mimin, membukakan kedua matanya, ia melihat Supri, suaminya sedang terpekur.Melihat kelelahan diwajah suaminya,yang sudah seminggu ini mengerjakan tugas ganda.Dikantor dan dirumahnya.Ada rasa bersalah melintas dihatinya.Ketidak mampuannya melayani suami saat ini, dalam keadaan seperti ini.Mimin mengusap kepala Supri, beberapa lama disentuhnya dengan penuh kasih sayang.Mungkinkan ada jalan keluar untuk kebuntuan rumah tangga ini.Mimin, merasa sudah lelah,bukan hanya melayani suaminya, tapi juga anak-anaknya yang semakin hari semakin membesar yang selalu minta ditemani belajar.Ia pun harus ikut belajar. Sementara suaminya, pulang dalam keadaan capek, dan mita dilayani.Terlalu banyak tuntuan baginya diposisinya sebagai ibu rumah tangga.Sementara kekekuatan untuk melayaninya sangat terbatas.’Adakah jalan keluarnya, Bi?’ bisik hatinya,Mimin tidak berani membangunkan suaminya.Tapi gerakan jemarinya membuat suaminya terbangun.”Umi, sudah bangun?” Tanya Supri seketika, dilihatnya jam tangannya.Waktu masih pukul 10 malam.Mimin tersenyum jemarinya masih mengusap-usap kepala Supri.”Umi, capek yah?” Tanya Supri,Mimin hanya mengangguk saja.” Bi, ada tidak jalan keluar, supaya rumah tangga kita tetap berjalan seimbang? “ tiba-tiba Mimin melontarkan sebuah pertanyaan yang membuatnya terkejut.”Jalan keluar apa?” Tanya Supri belum mengerti maksud pertanyaan istrinya.”Aku mau berbagi Abi dengan perempuan lain!” desis Mimin lemah tapi terdengar sangat tegas ditelinga Supri.”Apa? Apa maksud Umi?” Tanya Supri seperti disambar petir. “Aku mau berbagi Abi dengan perempuan lain yang halal dalam pandangan agama!” kata Mimin,matanya menerawang keatas.Melihat langit-langit atap rumah sakit yang menyesakkan perasaan Supri.
Tak ada jawaban dari Supri, suasana hening sesaat.”Jangan pikirkan itu dulu, yang penting umi sembuh dulu!” akhirnya Supri bersuara.”Itu masalahku Bi, Abi tak pernah mau mendengarnya!” kata Mimin sambil menyimpan tangannya diatas perutnya.”Belum terpikirkan!” kata Supri dengan ketus.Mimin melihat wajah suaminya, yang sudah tidak asing lagi baginya.Caranya mengungkapkan kebahagiaan,kemarahan,kekecewaan dan hasrat tersembunyi.Saat ini, ia melihatnya diwajah Supri,mengharapkan seseorang melayaninya dengan sempurna setiap kepulanganya dari kantor.Dan Mimin sangat menyadari, hal itu tidak akan didapatkan darinya, yang sudah merasa puas sudah melayani suaminya,selama 10 tahun ini.” Aku tidak apa-apa koq, aku hanya minta waktu jeda saja! Abi tak perlu berpikir macam-macam, aku ikhlas koq.Aku hanya capek saja! Katanya tubuh juga butuh istirahat?? “ Kata Mimin, sambil tersenyum.Supri melihatnya sebagai senyum yang getir.Tapi ini kenyataan yang harus dihadapi rumah tangganya bersama Mimin diusia rumah tangganya yang ke 10 tahun..Mimin capek,itu kenyataan! Bahwa Ia juga ingin dilayani,itu juga kenyataan! Lalu Mimin, istri tercintanya memberi saran yang tidak pernah terlintas dalam bayanganya.Supri tipe lelaki setia pada pasangan.Semua orang tahu dan menghormati itu.Lantas sekarang, apakah Supri harus mengikuti saran dari sang istri? Itulah kegalauan yang selama ini, tidak dianggapnya sesuatu yang penting.Ia lebih suka bekerja dari pada memikirkan hal-hal demikian.Rupanya Tuhan memberi batas pada kesediaan makhlukNya untuk melakukan kebaikan.Setiap batas merupakan ujian iman bagi para pemiliknya.
**********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar