Jumat, 08 November 2013

Cerpen Linda Novlinda 2010



SUAMI BERSAMA
Oeh: Linda Al-Husna
Cianjur, 11 Juni 2010

                Aku bukanlah satu-satunya wanita yang dinikahinya.Masih ada tiga wanita lain yang bernasib sama denganku.Mendapatkan seorang pengusaha muda yang sukses dan terkaya dikotaku.Aku wanita keempat yang dinikahinya.Sebelumnya ada tiga wanita yang usianya tak jauh berbeda denganku.Tentu saja dengan latar belakang yang berbeda.Aku bersedia dinikahinya, karena menurut suamiku dalam ajaran islam seorang lelaki dapat menikahi lebih dari satu wanita, maksimal empat.Ya, aku tahu itu tertera dalam Qur’an Surat Annisa ayat 3 ‘Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap ( hak-hak ) perempuan yatim ( bilamana kamu mengawininya ),maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat! Kemudian jika kamu tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.’Dengan modal pengetahuan inilah, suamiku yang seorang pengusaha muda dan sukses itu bersedia mengamalkan firman Allah yang satu ini.Dengan segala pertimbangan dan pemikiran yang matang, maka aku pun bersedia dinikahinya.
                Aku ditempatkan dikotaku, ketiga wanita lainnya ditempatkan diposisi tempat usahanya.Istri pertama tinggal di Jakarta, istri kedua, tinggal di Bogor, istri ke tiga tinggal di Garut dan aku tinggal di Bandung. Sejak aku menikah sampai saat ini, dikaruniai 2 anak, tidak ada masalah yang berarti, jadwal kunjungan suamiku selalu tepat.Barangkali ia sudah memperhitungkannya secara matang.Usaha suamiku untuk meredakan emosi para istri sangat kentara.Dengan sikapnya yang tenang dan lembut sedikitnya selalu berhasil menggagalkan setiap letupan emosi dari istri-istrinya.Ya, termasuk aku.Bukan aku tak pernah merasa cemburu, ketika suamiku, menghadiri undangan penting dari relasi usahanya, yang diajak adalah wanita yang paling cantik diantara kami.Tak heran jika istri pertamanya yang paling sering merajuk pada suamiku.Kurang adillah, kurang perhatianlah…dsb.Aku tahu hal ini, dari sumbernya langsung,istri pertamanya.Sesekali ia menelponku dan membicarakan kegiatan suami kita bersama dengan istri kedua atau ketiga yang dianggap paling sering diajak ketempat-tempat umum.Aku hanya mendengarkan saja, setiap kemarahan yang dimuntahkannya padaku.Aku juga merasakan hal yang sama,tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.Ini adalah kesepakatan dan kesediaan.Jadi aku tidak bisa menunjukkan emosiku didepan suami.Kecuali memuntahkannya melalui tulisan.
                Istri pertamanya tak kurang cantiknya, hanya saja ia punya pekerjaan yang disukai dan digelutinya.Dimasyarakat ia sudah cukup terkenal melalui pekerjaannya ini. Emosinya cukup stabil, tapi jika sedikit saja dari haknya yang tidak dipenuhi, ia akan datang padaku dan menceritakan kekesalannya pada suami kita bersama.Benar, aku juga pasti akan demikian, sekuat-kuatnya wanita jika tidak ditopang oleh suami akan lemah juga! Sebagai sesama wanita, aku ingin membantu menguatkan tapi posisi kami bersebrangan.Aku hanya bisa berkata ‘ya, sabar mba….’ Kalau sudah begitu, ia menyudahi pembicaraanya.Aku sendiri bingung pada diri sendiri, aku dipilihnya sebagai teman curhatnya ketimbang istri kedua atau ketiga yang lebih sering dikunjungi  suami dari pada aku atau istri pertamanya.Barangkali ini, soal kecocokan saja, dan aku mulai menikmati hal ini.Ya, aku jadi merasa punya teman senasib!
                Istri kedua, cantik dan memikat,kemampuannya merayu membuatnya sering dikunjungi.Malah kadang sesekali suamiku melupakan kunjungannya kepada salah satu istrinya, hanya untuk tinggal dirumah istri keduanya.Aku tidak tahu pelet apa yang digunakannya hingga kecenderungan itu berpihak padanya.Sebagai istri keempat aku tidak berani menanyakan hal ini, kukira ini adalah urusan suamiku yang jika minta dijelaskan khawatir pembicaraan berujung pada perceraian.Terlalu sensitif untuk dibahas.
                Istri ketiga, juga cantik, lebih suka tinggal dirumah dan pasrah.Sifat menurutnya sangat terlihat dan menyenangkan suami.Tak jarang sikap itu ditunjukkannya kepada kami,wanita-wanita yang usianya diatasnya.Memang memicu kecemburuan kami, tapi menurutku, disinilah letak ujian wanita-wanita beriman.Siapa yang paling pandai mengendalikan dirinya, dia pasti akan berhasil menikmati hidupnya dengan damai! Maka tak heran jika kami pulang dari tempat pertemuan keluarga, kami membawa cerita masing-masing.Istri  kedua dan  ketiga yang paling sering dibicarakan.
                Aku wanita yang terakhir dinikahinya, sebagai istri keempat, aku harus menghormati istri-istri suamiku,yang telah lebih dulu dinikahinya.Itu pesan suamiku, dalam sebuah kesepakatan sebelum kami menikah.Aku bersedia, aku menyanggupi permintaannya.Lagi pula aku sudah mempelajari beberapa kasus seperti ini.Sekarang giliran aku mengalaminya langsung pada persoalan poligami.Dengan pengetahuanku, aku mempelajari perasaanku sendiri, apa yang diinginkannya,apa yang ingin dihindarinya, apa yang ditakuti atau dibencinya.Lima tahun berumah tangga, dikaruniai dua anak, selama ini aku berhasil mengeluarkan gejolak-gejolak emosi diri.Yang tiap hari selalu berkecamuk membisikkan perasaan yang tidak rasional.Untung daya pikirku cukup kuat untuk menentukan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan! Karenanya tidak semua bisikan hati mesti kuturuti seperti adanya.Otak sensorikku berfungsi mensensor semuanya.
                Selama lima tahun ini, jadwal kunjunganku selalu dipenuhi,ya sesekali ada bolosnya juga.Tapi suamiku selalu memberi tahu, jika ia tidak bisa mengunjungiku hari itu.Dengan alasan yang meyakinkan,aku mempercayainya begitu saja.Aku merasa tidak ada masalah diantara kami.Sampai suatu hari, pukul 20.00 wib, aku sedang menulis beberapa artikel yang akan kumasukkan dalam koran lokal, suara telpon berdering.Kuangkat dan….”De, bapak ada? “ Tanya suara disebrang.Aku sudah hapal suara ini, suara istri pertama suamiku.”Tidak, mba! “ jawabku seadanya.” Lho, bukannya ini, jadwal kunjunganmu? “ tanyanya.Oya, aku lupa, seharusnya suamiku datang sore ini.Tapi tidak ada.” Ya, tapi tidak datang mba! Mungkin ada keperluan yang lain? “ sangkaku sedikit bingung. “ Kalau begitu benar….” Suara disebrang terdengar datar.” Benar apa mba? “ tanyaku penasaran. “ Dia pergi sama istri kedua ke pulau Bali, bilangnya mau ada tamu dari luar negeri yang diterima oleh perusahaannya di pulau Bali.” Kata istri pertama setengah memberitakan dengan kemarahan yang tertahan.” Mba tahu dari mana? “ tanyaku. “ Ya, tadi bapak sendiri yang bilang melalui telpon…kupikir ade yang diajak kesana? “ katanya, aku menggelengkan kepala “ Tidak mba “ jawabku.Telpon ditutup.Dengan perasaan bimbang aku kembali kemeja tulisku.Menambahkan beberapa kalimat yang perlu kutambahkan.Tapi beberapa kalimat dalam pikiranku berputar-putar menguncangkan perasaanku.’Jadi bapak ke Bali bersama istri kedua ? ya, hari ini kan giliranku ! Mengapa bukannya mengajak aku?’ belum sempat terjawab pertanyaan dikepalaku seputar suamiku, tiba-tiba suara telepon berdering lagi.Dengan enggan aku bangkit dari tempat dudukku dan mengangkat gagang telepon. “ Ya, hallo ! “ kataku  dengan kepala sedikit pusing. “ Bu, malam ini bapak tidak bisa pulang ke Bandung, malam ini bapak ada pertemuan di Bali jadi maaf ya….Ibu bisa memaafkan bapak kan? “ suara disebrang berbicara cepat.Suara-suara dibelakangnya pun nampak sibuk, satu diantaranya suara wanita.” Memangnya bapak bersama siapa sekarang?” tanyaku ingin tahu siapa tahu mendapat jawaban sejujur-jujurnya. “ Oya, maaf, bapak mengajak istri kedua,karena sesuatu dan lain hal….semoga ibu memakluminya! “ jawab suamiku seadanya.” O, ya sudah…silahkan saja! “ jawabku.Suamiku tidak bertanya, apakah aku ikhlas atau tidak, yang dikatakannya hanya permintaan maaf yang menyakitkan! Aku sangat berterimakasih untuk kejujurannya, meminta izin untuk ketidak hadirannya malam ini dirumahku.Sebelum aku menjelaskan betapa rindunya aku padanya.Setelah beberapa hari ini aku tak dapat menemuinya,begitu juga sebaliknya.Kali ini, aku telan lagi rasa rinduku, yang kutuangkan dalam artikel-artikelku.
                Kegiatan menulis artikel kuhentikan, telpon dari suamiku benar-benar membuat buntu pikiranku.Memang, aku tadi tenggelam dengan tulisan-tulisanku yang membuat aku lupa jadwal kunjungan suamiku.Aku menulis, karena aku sedang merasa kosong, rindu pada suamiku.Kukira aku tidak keliru, mengharapkan kehadirannya pada jadwal bagianku.Tapi rupanya suamiku pergi bersama istri yang lain.Yang kian hari makin terasa tohokannya menikam perasaanku.Pantas saja istri pertama begitu berapi-api mengawasi setiap jadwal bapak.Entah apa yang ada dalam benaknya dengan pengawasan sedemikian itu.Dan malam ini, suamiku telah berhasil membuatku cemburu! Aku harus berlatih melawan perasaan ini.Untuk kedua anakku, ketegarannya harus kutunjukkan agar tidak mengacaukan infrasturktur yang sudah kubangun.Aku ingin menangis, melepaskan keresahan yang bergemuruh didadaku.Aku ingin marah, betapa mudahnya bapak menentukan dengan siapa ia pergi.Kendati itu harus mengorbankan jadwal kunjungannya denganku.
                Aku sudah pertimbangkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini, karenanya aku belajar banyak hal dari orang-orang sekitarku.Tapi mengalaminya langsung menjadi berbeda dengan hanya sekedar mempelajarinya saja.Aku merasakan desir halus mengikuti aliran darahku.Bersamaan dengan mengalirnya air mataku.Biarlah kukeluarkan saja kesedihan ini, sampai habis.Sampai tak bersisa, besok, aku harus menyediakan diri menemani anak-anak melakukan kegiatan seperti biasanya.’Bukankah aku sudah terbiasa? Bukankah aku sudah mengatakan kesediaanku dengan segala kemungkinan ini? Bukankah anakku masih butuh perhatian? Terus kenapa aku jadi cengeng begini?’
                Setelah semua air mata kukeluarkan dan kusapukan wajahku dengan sapu tangan suamiku.Tiba-tiba ketegaranku muncul kembali.Aku tidak punya alasan untuk memprotes apa pun keputusan suamiku.Apa lagi mengatakan tidak ikhlas! Bapak sudah tahu apa yang dibutuhkannya, baik bagi dirinya sendiri atau pun bagi perusahaannya.Selagi semua kebutuhan para istri dapat dipenuhinya, seharusnya semua berjalan baik-baik saja.Tapi lain halnya dengan soal perasaan.Bapak memiliki kecenderungan dalam membagi perhatian.Ya, seharusnya aku dapat bersikap seperti istri pertama,yang sibuk dengan pekerjaannya tapi aku masih terlalu dini untuk mengimbanginya.Lagi pula pekerjaanku tidak terlalu memakan banyak waktu, aku masih punya banyak waktu luang untuk anak-anakku dan suamiku, jika ia datang padaku.Aku tidak berani meminta jadwal tambahan dalam waktu kunjungan suamiku.Kesibukan bapak diJakarta dan kota-kota lainnya mengurungku untuk tidak melakukannya.Aku hanya minta diberi kekuatan untuk masalah yang sedang kualami ini, yang kutahu Tuhan sedang menguji imanku dengan masalah ini.Masalah terberat bagi wanita yang dipoligami.Dan aku sedang menerjuninya, menikmati suami bersama !!!!
                                               
                                                ******************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar