SUAMI BERSAMA
Oeh: Linda Al-Husna
Cianjur, 11 Juni 2010
Aku bukanlah satu-satunya wanita yang
dinikahinya.Masih ada tiga wanita lain yang bernasib sama denganku.Mendapatkan
seorang pengusaha muda yang sukses dan terkaya dikotaku.Aku wanita keempat yang
dinikahinya.Sebelumnya ada tiga wanita yang usianya tak jauh berbeda
denganku.Tentu saja dengan latar belakang yang berbeda.Aku bersedia
dinikahinya, karena menurut suamiku dalam ajaran islam seorang lelaki dapat
menikahi lebih dari satu wanita, maksimal empat.Ya, aku tahu itu tertera dalam
Qur’an Surat Annisa ayat 3 ‘Dan jika kamu
takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap ( hak-hak ) perempuan yatim (
bilamana kamu mengawininya ),maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu
senangi, dua, tiga atau empat! Kemudian jika kamu tidak akan dapat berlaku
adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.Yang
demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.’Dengan modal
pengetahuan inilah, suamiku yang seorang pengusaha muda dan sukses itu bersedia
mengamalkan firman Allah yang satu ini.Dengan segala pertimbangan dan pemikiran
yang matang, maka aku pun bersedia dinikahinya.
Aku ditempatkan dikotaku, ketiga wanita lainnya
ditempatkan diposisi tempat usahanya.Istri pertama tinggal di Jakarta, istri
kedua, tinggal di Bogor, istri ke tiga tinggal di Garut dan aku tinggal di
Bandung. Sejak aku menikah sampai saat ini, dikaruniai 2 anak, tidak ada
masalah yang berarti, jadwal kunjungan suamiku selalu tepat.Barangkali ia sudah
memperhitungkannya secara matang.Usaha suamiku untuk meredakan emosi para istri
sangat kentara.Dengan sikapnya yang tenang dan lembut sedikitnya selalu
berhasil menggagalkan setiap letupan emosi dari istri-istrinya.Ya, termasuk
aku.Bukan aku tak pernah merasa cemburu, ketika suamiku, menghadiri undangan
penting dari relasi usahanya, yang diajak adalah wanita yang paling cantik
diantara kami.Tak heran jika istri pertamanya yang paling sering merajuk pada
suamiku.Kurang adillah, kurang perhatianlah…dsb.Aku tahu hal ini, dari
sumbernya langsung,istri pertamanya.Sesekali ia menelponku dan membicarakan
kegiatan suami kita bersama dengan istri kedua atau ketiga yang dianggap paling
sering diajak ketempat-tempat umum.Aku hanya mendengarkan saja, setiap
kemarahan yang dimuntahkannya padaku.Aku juga merasakan hal yang sama,tapi aku
tak bisa berbuat apa-apa.Ini adalah kesepakatan dan kesediaan.Jadi aku tidak
bisa menunjukkan emosiku didepan suami.Kecuali memuntahkannya melalui tulisan.
Istri pertamanya tak kurang cantiknya, hanya saja ia
punya pekerjaan yang disukai dan digelutinya.Dimasyarakat ia sudah cukup
terkenal melalui pekerjaannya ini. Emosinya cukup stabil, tapi jika sedikit
saja dari haknya yang tidak dipenuhi, ia akan datang padaku dan menceritakan
kekesalannya pada suami kita bersama.Benar, aku juga pasti akan demikian,
sekuat-kuatnya wanita jika tidak ditopang oleh suami akan lemah juga! Sebagai
sesama wanita, aku ingin membantu menguatkan tapi posisi kami bersebrangan.Aku
hanya bisa berkata ‘ya, sabar mba….’ Kalau sudah begitu, ia menyudahi
pembicaraanya.Aku sendiri bingung pada diri sendiri, aku dipilihnya sebagai
teman curhatnya ketimbang istri kedua atau ketiga yang lebih sering dikunjungi suami dari pada aku atau istri pertamanya.Barangkali
ini, soal kecocokan saja, dan aku mulai menikmati hal ini.Ya, aku jadi merasa
punya teman senasib!
Istri kedua, cantik dan memikat,kemampuannya merayu
membuatnya sering dikunjungi.Malah kadang sesekali suamiku melupakan
kunjungannya kepada salah satu istrinya, hanya untuk tinggal dirumah istri
keduanya.Aku tidak tahu pelet apa yang digunakannya hingga kecenderungan itu
berpihak padanya.Sebagai istri keempat aku tidak berani menanyakan hal ini,
kukira ini adalah urusan suamiku yang jika minta dijelaskan khawatir
pembicaraan berujung pada perceraian.Terlalu sensitif untuk dibahas.
Istri ketiga, juga cantik, lebih suka tinggal dirumah
dan pasrah.Sifat menurutnya sangat terlihat dan menyenangkan suami.Tak jarang
sikap itu ditunjukkannya kepada kami,wanita-wanita yang usianya
diatasnya.Memang memicu kecemburuan kami, tapi menurutku, disinilah letak ujian
wanita-wanita beriman.Siapa yang paling pandai mengendalikan dirinya, dia pasti
akan berhasil menikmati hidupnya dengan damai! Maka tak heran jika kami pulang
dari tempat pertemuan keluarga, kami membawa cerita masing-masing.Istri kedua dan
ketiga yang paling sering dibicarakan.
Aku wanita yang terakhir dinikahinya, sebagai istri
keempat, aku harus menghormati istri-istri suamiku,yang telah lebih dulu
dinikahinya.Itu pesan suamiku, dalam sebuah kesepakatan sebelum kami
menikah.Aku bersedia, aku menyanggupi permintaannya.Lagi pula aku sudah
mempelajari beberapa kasus seperti ini.Sekarang giliran aku mengalaminya
langsung pada persoalan poligami.Dengan pengetahuanku, aku mempelajari
perasaanku sendiri, apa yang diinginkannya,apa yang ingin dihindarinya, apa
yang ditakuti atau dibencinya.Lima tahun berumah tangga, dikaruniai dua anak,
selama ini aku berhasil mengeluarkan gejolak-gejolak emosi diri.Yang tiap hari
selalu berkecamuk membisikkan perasaan yang tidak rasional.Untung daya pikirku
cukup kuat untuk menentukan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh
dilakukan! Karenanya tidak semua bisikan hati mesti kuturuti seperti
adanya.Otak sensorikku berfungsi mensensor semuanya.
Selama lima tahun ini, jadwal kunjunganku selalu
dipenuhi,ya sesekali ada bolosnya juga.Tapi suamiku selalu memberi tahu, jika
ia tidak bisa mengunjungiku hari itu.Dengan alasan yang meyakinkan,aku
mempercayainya begitu saja.Aku merasa tidak ada masalah diantara kami.Sampai
suatu hari, pukul 20.00 wib, aku sedang menulis beberapa artikel yang akan
kumasukkan dalam koran lokal, suara telpon berdering.Kuangkat dan….”De, bapak
ada? “ Tanya suara disebrang.Aku sudah hapal suara ini, suara istri pertama
suamiku.”Tidak, mba! “ jawabku seadanya.” Lho, bukannya ini, jadwal
kunjunganmu? “ tanyanya.Oya, aku lupa, seharusnya suamiku datang sore ini.Tapi
tidak ada.” Ya, tapi tidak datang mba! Mungkin ada keperluan yang lain? “
sangkaku sedikit bingung. “ Kalau begitu benar….” Suara disebrang terdengar
datar.” Benar apa mba? “ tanyaku penasaran. “ Dia pergi sama istri kedua ke
pulau Bali, bilangnya mau ada tamu dari luar negeri yang diterima oleh
perusahaannya di pulau Bali.” Kata istri pertama setengah memberitakan dengan
kemarahan yang tertahan.” Mba tahu dari mana? “ tanyaku. “ Ya, tadi bapak
sendiri yang bilang melalui telpon…kupikir ade yang diajak kesana? “ katanya,
aku menggelengkan kepala “ Tidak mba “ jawabku.Telpon ditutup.Dengan perasaan
bimbang aku kembali kemeja tulisku.Menambahkan beberapa kalimat yang perlu
kutambahkan.Tapi beberapa kalimat dalam pikiranku berputar-putar menguncangkan
perasaanku.’Jadi bapak ke Bali bersama istri kedua ? ya, hari ini kan giliranku
! Mengapa bukannya mengajak aku?’ belum sempat terjawab pertanyaan dikepalaku
seputar suamiku, tiba-tiba suara telepon berdering lagi.Dengan enggan aku
bangkit dari tempat dudukku dan mengangkat gagang telepon. “ Ya, hallo ! “
kataku dengan kepala sedikit pusing. “
Bu, malam ini bapak tidak bisa pulang ke Bandung, malam ini bapak ada pertemuan
di Bali jadi maaf ya….Ibu bisa memaafkan bapak kan? “ suara disebrang berbicara
cepat.Suara-suara dibelakangnya pun nampak sibuk, satu diantaranya suara
wanita.” Memangnya bapak bersama siapa sekarang?” tanyaku ingin tahu siapa tahu
mendapat jawaban sejujur-jujurnya. “ Oya, maaf, bapak mengajak istri kedua,karena
sesuatu dan lain hal….semoga ibu memakluminya! “ jawab suamiku seadanya.” O, ya
sudah…silahkan saja! “ jawabku.Suamiku tidak bertanya, apakah aku ikhlas atau
tidak, yang dikatakannya hanya permintaan maaf yang menyakitkan! Aku sangat
berterimakasih untuk kejujurannya, meminta izin untuk ketidak hadirannya malam
ini dirumahku.Sebelum aku menjelaskan betapa rindunya aku padanya.Setelah
beberapa hari ini aku tak dapat menemuinya,begitu juga sebaliknya.Kali ini, aku
telan lagi rasa rinduku, yang kutuangkan dalam artikel-artikelku.
Kegiatan menulis artikel kuhentikan, telpon dari
suamiku benar-benar membuat buntu pikiranku.Memang, aku tadi tenggelam dengan
tulisan-tulisanku yang membuat aku lupa jadwal kunjungan suamiku.Aku menulis,
karena aku sedang merasa kosong, rindu pada suamiku.Kukira aku tidak keliru,
mengharapkan kehadirannya pada jadwal bagianku.Tapi rupanya suamiku pergi
bersama istri yang lain.Yang kian hari makin terasa tohokannya menikam
perasaanku.Pantas saja istri pertama begitu berapi-api mengawasi setiap jadwal
bapak.Entah apa yang ada dalam benaknya dengan pengawasan sedemikian itu.Dan malam
ini, suamiku telah berhasil membuatku cemburu! Aku harus berlatih melawan
perasaan ini.Untuk kedua anakku, ketegarannya harus kutunjukkan agar tidak mengacaukan
infrasturktur yang sudah kubangun.Aku ingin menangis, melepaskan keresahan yang
bergemuruh didadaku.Aku ingin marah, betapa mudahnya bapak menentukan dengan
siapa ia pergi.Kendati itu harus mengorbankan jadwal kunjungannya denganku.
Aku sudah pertimbangkan kemungkinan-kemungkinan
seperti ini, karenanya aku belajar banyak hal dari orang-orang sekitarku.Tapi
mengalaminya langsung menjadi berbeda dengan hanya sekedar mempelajarinya
saja.Aku merasakan desir halus mengikuti aliran darahku.Bersamaan dengan
mengalirnya air mataku.Biarlah kukeluarkan saja kesedihan ini, sampai
habis.Sampai tak bersisa, besok, aku harus menyediakan diri menemani anak-anak
melakukan kegiatan seperti biasanya.’Bukankah aku sudah terbiasa? Bukankah aku
sudah mengatakan kesediaanku dengan segala kemungkinan ini? Bukankah anakku
masih butuh perhatian? Terus kenapa aku jadi cengeng begini?’
Setelah semua air mata kukeluarkan dan kusapukan
wajahku dengan sapu tangan suamiku.Tiba-tiba ketegaranku muncul kembali.Aku
tidak punya alasan untuk memprotes apa pun keputusan suamiku.Apa lagi
mengatakan tidak ikhlas! Bapak sudah tahu apa yang dibutuhkannya, baik bagi
dirinya sendiri atau pun bagi perusahaannya.Selagi semua kebutuhan para istri
dapat dipenuhinya, seharusnya semua berjalan baik-baik saja.Tapi lain halnya
dengan soal perasaan.Bapak memiliki kecenderungan dalam membagi perhatian.Ya,
seharusnya aku dapat bersikap seperti istri pertama,yang sibuk dengan
pekerjaannya tapi aku masih terlalu dini untuk mengimbanginya.Lagi pula pekerjaanku
tidak terlalu memakan banyak waktu, aku masih punya banyak waktu luang untuk
anak-anakku dan suamiku, jika ia datang padaku.Aku tidak berani meminta jadwal
tambahan dalam waktu kunjungan suamiku.Kesibukan bapak diJakarta dan kota-kota
lainnya mengurungku untuk tidak melakukannya.Aku hanya minta diberi kekuatan
untuk masalah yang sedang kualami ini, yang kutahu Tuhan sedang menguji imanku
dengan masalah ini.Masalah terberat bagi wanita yang dipoligami.Dan aku sedang
menerjuninya, menikmati suami bersama !!!!
******************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar