DALAM SEBUAH HIMPUNAN
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 24 Juli 2010
| | | |
Natsir,
adalah orang pertama di lembaga ini. Usianya tidak terlalu jauh diatasku.Tapi
cara berpikirnya sudah sangat luas, seluas pengalamannya mengembara kenegeri
asing. Berbekal pengalaman itulah Natsir berani bespekulasi bersama teman-teman
mengelola lembaga pendidikan bahasa asing ini. Karena itu pula Natsir dituakan.
Konsep dasar yang digunakannya masih sangat sederhana, namun dapat dimengerti
oleh kami sebagai bawahan yang siap bekerja untuk lembaga ini.Kami dibiasakan
menggunakan istilah-istilah bahasa asing dalam menyapa seperti Mr. atau Miss,
karena dengan begitu menurut Mr.Natsir-begitu aku memanggilnya, akan lebih
memudahkan kita dalam melafalkan satu kata atau kalimat.Kami semua sepakat!
Marwan,
mahasiswa tingkat empat jurusan social
yang sebentar lagi menyelesaikan skripsinya.Juga turut menguatkan
pertahanan rumah tangga lembaga ini.Cara berpikirnya yang cukup cermat dalam
menganalisa satu masalah, membuatnya ditempatkan pada posisi penting sebagai
ketua harian lembaga ini.Mr.Marwan, terjun bersama pengetahuan yang baru
didapatinya dari kampus yang nyata sekali diterapkan dalam setiap pendekatan yang
dilakukannya kepada anak-anak didik.Pembawaannya cukup supel dan berwibawa.Aku
yang usianya diatasnya pun jadi iktu menghormati setiap apa yang
dikatakannya.Karena itulah yang ditampilkannya kepadaku.
Idang,
seorang guru Sekolah Dasar yang juga turut bergabung dengan senang hati
dilembaga ini.Tak dapat dipungkiri, bahwa minat dan hasratnya untuk mendidik
dan melatih anak-anak didik sangat terlihat, meski dalam batas waktu yang
disediakannya.Kami tidak keberatan, kehadiran Mr.Idang dilembaga ini cukup mewarnai.
Berangkat dari suka sama suka kami bekerja dengan suka hati.
Rama,
mahasiswa semester dua jurusan bahasa asing, turut bergabung.Melalui Mr.
Natsir, Rama dikenalkan pada kami.Menurutnya, Mr.Rama bersedia bergabung
dilembaga ini untuk sekaligus mempelajari bahasa asing yang tengah digelutinya
dilembaga formalnya.Kami tidak keberatan!
Kemudian
aku yang bergabung dilembaga ini, sama seperti teman-teman yang lain, maksud
kesediaanku bergabung dilembaga ini, ingin menggunakan bahasa asing yang sudah
pernah kupelajari.Katanya, dengan cara mengajarkannya akan lebih mudah
menerapkan dan menggunakannya seperti seharusnya! Meski kosa kata bahasa
asingku tidak terlalu banyak, tapi Mr.Natsir memakluminya.Dan mempersilahkan
aku untuk mengajarkan struktur bahasa saja.Selebihnya biar yang lain yang
menangani. Tentu saja, aku merasa sangat senang.Bekerja bersama teman-teman
yang sama-sama ingin mendapatkan pengalaman baru, pengetahuan baru sekaligus
mengelola sebuah lembaga pendidikan yang baru dirintis.Memang bukan hal yang
mudah untuk menjalankannya.Jika tanpa tekad, usaha dan semangat
kebersamaan.Yang dihadirkan dari kesadaran diri kita masing-masing.Mr. Natsir,
mencoba memperkenalkan semua yang telibat dalam roda perjalanan kegiatan
belajar mengajar dilembaga ini.
Mr.Natsir,
sangat mengakui bahwa kita memulai pekerjaan ini dari nol.Dengan aset yang
sederhana pula. Dua local kelas, dua puluh kursi dan satu meja
administrasi.Dengan aset sedemikian itu, kami sepakat, menjalankan lembaga
pendidikan non formal ini dengan semangat.Apa pun yang terjadi, akan kami
hadapi!
Satu
semester, kegiatan belajar mengajar berlangsung aman, tertib dan lancar.
Sesekali terdengar keluhan dari anak didik, kami selalu sigap menghadapinya.
Musyawarah adalah jalan keluar dari setiap mengatasi permasalahan yang muncul
dalam perjalanannya.Belum masalah dari masing-masing pribadi, yang kadang
keluar begitu saja dalam forum problem solving.Namun Mr.Natsir selalu dapat
mengendalikan dan memecahkannya dengan baik. Sifat kepemimpinannya memang
membanggakan.Karena itulah kami menuruti semua apa yang dikatakannya.Betapa
indahnya bekerja bersama dengan senang hati.
Sampai
muncul satu kejadian.Dimana keharmonisan mulai terkikis oleh prasangka dan
kesempitan mengambil keputusan. Mr.Natsir yang kita banggakan mulai manampakkan
kekuasaannya didepan kami.Awalnya kami memang tidak keberatan mengikuti semua
program yang ditawarkannya.Tapi, ketika sebuah program masih dalam proses
penguatan, semantara Mr.Natsir setelah berbincang dengan seorang dosen kampus
biru.Menjadi berubah berambisi, untuk segera mengembangkan sayap
program-program yang baru dijalankan.
Aku
diminta untuk menyepakati pengembangan program ini.Tapi, aku tidak sanggup, aku
sedang berkonsentrasi pada satu bidang yang sedang menjadi tanggung
jawabku.Bidang publikasi! Dan aku baru saja memikirkan bagaimana cara
memperdalam dan memperkaya bidang yang satu ini.Sementara, dengan anggunnya
Mr.Natsir memintaku untuk bersedia menerimanya.Terus terang, aku tidak bisa
bekerja lebih dari satu bidang. Tapi, aku merasa tidak enak dengan sikap
baiknya yang sedikit memohon.
Kawanku
yang lain pun demikian, mempertanyakan, ada apa dengan Mr.Natsir yang tiba-tiba
merubah konsep anggaran dasar rumah tangga lembaga ini begitu saja? Apa yang
sudah merubah pemikirannya? Dosen itukah? Atau apa? Kami sangat tidak mengerti
dengan perubahan ini. Karena ketidak mengertian inilah, kebersamaan yang sudah
kami bangun perlahan tapi pasti mulai
menyusut, kami jadi saling mencurigai satu sama lain. Dan pengertian itu agak
sulit kami temukan dalam waktu yang cepat dan tepat. Kami jadi memikirkan nasib
kami masing-masing, jika didalam lembaga ini, nasib kami tidak menyenangkan,
apa lagi yang bisa kami pertahankan?
Akhirnya,
kami membiarkan prasangka itu menguasai pikiran kami dan meninggalkan lembaga
pendidikan yang sudah berjalan menginjak tahun kedua.Memang sangat
disayangkan!!!!!
Special thank’s to : Anak-anak LPI tahun
2003-2004 Mr.Firmansyah, Mr.Irawan, Mr.Dadang, Mr.Ramdhan dan Almarhum Mr.
Aquwa!!!! Miss you all!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar