Minggu, 06 September 2015

Cerpen Linda Al-Husna



DALAM SEBUAH HIMPUNAN
Oleh : Linda Al-Husna
Cianjur, 24 Juli 2010



 
   
        Aku bergabung dalam himpunan ini sekitar bulan agustus 2003.Sebuah lembaga pendidikan non formal yang masih sederhana.Yang baru berdiri belum lama dari semenjak kedatanganku.Aku bertemu orang-orang yang memiliki perhatian pada bidang ini. Bidang pendidikan yang dikemas versi kursus.Meski kami masih mentah dalam mengurusi lembaga ini.Tapi kami memiliki tekad, kemauan dan sedikit pengetahuan untuk diterapkan pada anak didik kami.Selebihnya, kami menyediakan waktu , tenaga, pikiran dan perasaan untuk mengabdi pada lembaga ini.
          Natsir, adalah orang pertama di lembaga ini. Usianya tidak terlalu jauh diatasku.Tapi cara berpikirnya sudah sangat luas, seluas pengalamannya mengembara kenegeri asing. Berbekal pengalaman itulah Natsir berani bespekulasi bersama teman-teman mengelola lembaga pendidikan bahasa asing ini. Karena itu pula Natsir dituakan. Konsep dasar yang digunakannya masih sangat sederhana, namun dapat dimengerti oleh kami sebagai bawahan yang siap bekerja untuk lembaga ini.Kami dibiasakan menggunakan istilah-istilah bahasa asing dalam menyapa seperti Mr. atau Miss, karena dengan begitu menurut Mr.Natsir-begitu aku memanggilnya, akan lebih memudahkan kita dalam melafalkan satu kata atau kalimat.Kami semua sepakat!
          Marwan, mahasiswa tingkat empat jurusan social  yang sebentar lagi menyelesaikan skripsinya.Juga turut menguatkan pertahanan rumah tangga lembaga ini.Cara berpikirnya yang cukup cermat dalam menganalisa satu masalah, membuatnya ditempatkan pada posisi penting sebagai ketua harian lembaga ini.Mr.Marwan, terjun bersama pengetahuan yang baru didapatinya dari kampus yang nyata sekali diterapkan dalam setiap pendekatan yang dilakukannya kepada anak-anak didik.Pembawaannya cukup supel dan berwibawa.Aku yang usianya diatasnya pun jadi iktu menghormati setiap apa yang dikatakannya.Karena itulah yang ditampilkannya kepadaku.
          Idang, seorang guru Sekolah Dasar yang juga turut bergabung dengan senang hati dilembaga ini.Tak dapat dipungkiri, bahwa minat dan hasratnya untuk mendidik dan melatih anak-anak didik sangat terlihat, meski dalam batas waktu yang disediakannya.Kami tidak keberatan, kehadiran Mr.Idang dilembaga ini cukup mewarnai. Berangkat dari suka sama suka kami bekerja dengan suka hati.
          Rama, mahasiswa semester dua jurusan bahasa asing, turut bergabung.Melalui Mr. Natsir, Rama dikenalkan pada kami.Menurutnya, Mr.Rama bersedia bergabung dilembaga ini untuk sekaligus mempelajari bahasa asing yang tengah digelutinya dilembaga formalnya.Kami tidak keberatan!
          Kemudian aku yang bergabung dilembaga ini, sama seperti teman-teman yang lain, maksud kesediaanku bergabung dilembaga ini, ingin menggunakan bahasa asing yang sudah pernah kupelajari.Katanya, dengan cara mengajarkannya akan lebih mudah menerapkan dan menggunakannya seperti seharusnya! Meski kosa kata bahasa asingku tidak terlalu banyak, tapi Mr.Natsir memakluminya.Dan mempersilahkan aku untuk mengajarkan struktur bahasa saja.Selebihnya biar yang lain yang menangani. Tentu saja, aku merasa sangat senang.Bekerja bersama teman-teman yang sama-sama ingin mendapatkan pengalaman baru, pengetahuan baru sekaligus mengelola sebuah lembaga pendidikan yang baru dirintis.Memang bukan hal yang mudah untuk menjalankannya.Jika tanpa tekad, usaha dan semangat kebersamaan.Yang dihadirkan dari kesadaran diri kita masing-masing.Mr. Natsir, mencoba memperkenalkan semua yang telibat dalam roda perjalanan kegiatan belajar mengajar dilembaga ini.
          Mr.Natsir, sangat mengakui bahwa kita memulai pekerjaan ini dari nol.Dengan aset yang sederhana pula. Dua local kelas, dua puluh kursi dan satu meja administrasi.Dengan aset sedemikian itu, kami sepakat, menjalankan lembaga pendidikan non formal ini dengan semangat.Apa pun yang terjadi, akan kami hadapi!
          Satu semester, kegiatan belajar mengajar berlangsung aman, tertib dan lancar. Sesekali terdengar keluhan dari anak didik, kami selalu sigap menghadapinya. Musyawarah adalah jalan keluar dari setiap mengatasi permasalahan yang muncul dalam perjalanannya.Belum masalah dari masing-masing pribadi, yang kadang keluar begitu saja dalam forum problem solving.Namun Mr.Natsir selalu dapat mengendalikan dan memecahkannya dengan baik. Sifat kepemimpinannya memang membanggakan.Karena itulah kami menuruti semua apa yang dikatakannya.Betapa indahnya bekerja bersama dengan senang hati.
          Sampai muncul satu kejadian.Dimana keharmonisan mulai terkikis oleh prasangka dan kesempitan mengambil keputusan. Mr.Natsir yang kita banggakan mulai manampakkan kekuasaannya didepan kami.Awalnya kami memang tidak keberatan mengikuti semua program yang ditawarkannya.Tapi, ketika sebuah program masih dalam proses penguatan, semantara Mr.Natsir setelah berbincang dengan seorang dosen kampus biru.Menjadi berubah berambisi, untuk segera mengembangkan sayap program-program yang baru dijalankan.
          Aku diminta untuk menyepakati pengembangan program ini.Tapi, aku tidak sanggup, aku sedang berkonsentrasi pada satu bidang yang sedang menjadi tanggung jawabku.Bidang publikasi! Dan aku baru saja memikirkan bagaimana cara memperdalam dan memperkaya bidang yang satu ini.Sementara, dengan anggunnya Mr.Natsir memintaku untuk bersedia menerimanya.Terus terang, aku tidak bisa bekerja lebih dari satu bidang. Tapi, aku merasa tidak enak dengan sikap baiknya yang sedikit memohon.
          Kawanku yang lain pun demikian, mempertanyakan, ada apa dengan Mr.Natsir yang tiba-tiba merubah konsep anggaran dasar rumah tangga lembaga ini begitu saja? Apa yang sudah merubah pemikirannya? Dosen itukah? Atau apa? Kami sangat tidak mengerti dengan perubahan ini. Karena ketidak mengertian inilah, kebersamaan yang sudah kami bangun  perlahan tapi pasti mulai menyusut, kami jadi saling mencurigai satu sama lain. Dan pengertian itu agak sulit kami temukan dalam waktu yang cepat dan tepat. Kami jadi memikirkan nasib kami masing-masing, jika didalam lembaga ini, nasib kami tidak menyenangkan, apa lagi yang bisa kami pertahankan?
          Akhirnya, kami membiarkan prasangka itu menguasai pikiran kami dan meninggalkan lembaga pendidikan yang sudah berjalan menginjak tahun kedua.Memang sangat disayangkan!!!!!

Special thank’s to : Anak-anak LPI tahun 2003-2004 Mr.Firmansyah, Mr.Irawan, Mr.Dadang, Mr.Ramdhan dan Almarhum Mr. Aquwa!!!! Miss you all!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar