JANJI SUNYI
Oleh : Linda
Al-Husna
Cianjur, 27
Juli 2010
Entah apa yang ada dalam pikiran
kang Dery, sehingga ia menjatuhkan pilihannya kepadaku untuk menjadi pendamping
dalam hidupnya.Beberapa kali dalam perbincangan selalu itu yang
dikatakannya.Bahwa ia siap menjalani hubungan ini bersamaku, syukur-syukur
sampai nanti masuk kepelaminan.Aku sangat senang mendengar janjinya yang penuh
dengan keyakinan.Sepertinya, kang Dery benar-benar sangat berminat padaku untuk
dijadikannya sebagai istrinya.Baik, aku menerima perkataannya dengan antusias.Mulai
sekarang aku memperlakukan kang Dery bukan sebagai orang lain melainkan sebagai
calon pasangan hidupku. Meski kang Dery meminta waktu untuk melihat apakah aku
bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaannya atau tidak, tetap janji
itu selalu diucapkannya dengan pasti.Lalu, aku harus mengkhawatirkan apa?
Pertemuan pertama dengan kang
Dery setelah menyatakan minatnya untuk menjadi pacarku, agak sedikit
gerogi.Binar-binar cinta terlihat dari matanya yang sendu, aku pun demikian.Setiap
pembicaraan selalu diselingi tawa yang menyenangkan.Kang Dery hari ini lebih
menarik dibanding hari-hari sebelumnya.Yang sedikit serius dan sinis dalam
mengomentari fenomena-fenomena yang terjadi disekitar lingkungan.Tapi itulah
kang Dery dengan kekuatan analisanya yang selalu tepat menjadikan aku menaruh
perhatian padanya.Aku seperti dihipnotis untuk mengikuti semua inginnya.Dan
dengan kesadaranku, aku bersedia melakukan hal itu untuknya!
Dari seringnya melakukan
perbincangan itulah, kang Dery hari ini menjadi lebih berani, mencubit pipiku
dan menggenggam tanganku.Biasanya aku tidak suka diperlakukan seperti ini oleh
lelaki manapun.Rasa terhina selalu membayangiku.Tapi kali ini tidak! Aku
membiarkan tangan kang Dery menggenggam tanganku dan meremas jari-jarinya.Sesekali
kang Dery mengatakan kalimat pujian kepadaku ‘Betapa cantiknya aku, atau hari
ini kamu baik sekali!’ adalah kalimat-kalimat yang membuncahkan perasaanku.Aku
sangat senang dibuatnya.Kang Dery barangkali benar-benar mencintaiku!
Tanpa terasa waktu terus berjalan,
sebulan sudah aku menjalin hubungan dengan Kang Dery. Setiap kali aku bertemu
dengannya, tak ada kekuasaanku untuk menolak kemauannya.Menghabiskan waktu
bersamanya menjadi kegiatan yang menyenangkan.Berbicara panjang lebar sambil melakukan
ini dan itu.Pandai sekali kang Dery memainkan perasaanku yang saat itu sangat
mengharapkan seorang lelaki segera menikahiku.Prilaku kang Dery menunjukkan
itu.Aku sangat senang dan mulai percaya padanya, bahwa kang Dery akan segera
menikahiku!
Ternyata, apa yang ada dalam
pikiranku berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran kang Dery.Lain dulu lain
sekarang! Kang Dery mulai melunturkan keyakinannya.Janji akan segera menikahiku
yang kutangkap begitu pastinya, sekarang mulai pupus.Kang Dery mulai mengajukan
beberapa alasan agar aku tidak selalu membahas soal pernikahan yang menurutnya
mulai membosankannya.Lagi pula, menurutnya, saat ini masih ada proyek yang
harus dikerjakannya.Sebelum proyek itu selesai ia belum akan memiliki uang
untuk meminang siapa pun yang akan dijadikan istrinya, yaitu aku!
Awalnya, aku memaklumi alasan
kang Dery dengan perkataannya yang demikian. Namun, setelah berkali-kali ia
mengatakannya, bahkan terakhir dengan intonasi yang terhentak seolah-olah ia
hendak lebih menegaskan lagi perkataanya.Aku jadi termangu! Betapa kang Dery
tega memperlakukan aku begitu! Memberi janji akan menikahiku lalu melakukan
hubungan seperti yang dilakukan pasangan suami istri dan sekarang menarik
kembali semua janji-janjinya! Ya, ampun….Apa yang harus kulakukan? Diusia yang
transisi ini, usia seharusnya aku sudah menikah dan memiliki anak, sebuah tragedi
malah menimpaku, menghancurkan harga diri dan harapanku! Mau dikemanakan wajah
ini? Siapa yang mau menolongku dari rasa Maluku? Kepada Tuhan yang selalu
melihat perbuatanku, kepada orang tua yang tidak tahu aku sudah tercemar oleh
seorang lelaki yang tak pernah dikenalinya! Lalu aku harus bagaimana???
Sejak itu, aku tidak mau lagi
bertemu dengan kang Dery! Kang Dery sudah menghancurkan harapanku dan
membohongiku dengan kejamnya.Sudah jelas ia berjanji akan menikahiku, tapi
secepat itu janjinya terlupakan.Teganya kang Dery! Ya sudah, kuputuskan saja
hubungannya, perasaannya dan angan-angannya untuk masuk kepelaminan.Sekarang
aku mau membersihkan diri dari semua kotoran yang diberikannya
padaku.Barangkali ini salahku juga, terlalu mudah mempercayai
perkataannya.Janji-janjinya dan bayangan yang diberikannya padaku.Kang
Dery,,,huh!!!
Aku jadi banyak memohon kepada
Tuhan agar diberi petunjuk yang benar dalam memilih pasangan hidup.Berharap
tidak ada lagi tipu menipu dalam usaha menuju kepelaminan.Bersama siapa pun dan
dimana pun.Aku tidak ingin mengalami hal ini lagi, cukuplah kang Dery saja yang
menipuku dan mengecewakanku dengan sebenar-benar kekecewaan! Untuk itulah, aku
mau memperbaiki diri, baik prilaku dan cara berpikirku yang ingin mudah
mendapatkan sesuatu.Kendati itu harus mengorbankan diri sampai menuju
kehancuran.Aku tidak mau itu terjadi lagi!
Sekarang aku sudah tidak
berhubungan dengan kang Dery lagi, setelah kejadian itu aku jadi lebih banyak
menghitung kesalahanku dari pada kebaikanku.Aku jadi takut, seandainya aku
meninggalkan dunia ini dalam keadaan menghinakan diri dihadapan-Nya? Dengan
penyesalan-penyesalan yang tak seharusnya kutanggung! Satu demi satu kuhitung
kesalahanku dan waktuku habis karenanya.Sebuah kegiatan yang jarang kulakukan
dimasa sebelum terjadinya kesalahan itu.Aku jadi banyak melihat diri dari pada
melihat kesalahan orang lain.Sebuah kejadian yang berhasil mengalihkan
perhatianku pada ‘gajah’ yang ada dipelupuk mataku dan kulupakan kuman yang ada
disebrang pulau.Itu lebih menentramkan perasaanku saat ini.Aku baru mengerti,
bahwa tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan orang lain jika
kesalahan-kesalahan itu masih melekat pada diri kita.Siapa yang lebih baik
diantara kita????
Tidak ada komentar:
Posting Komentar